Princessa Cesilia, seorang gadis berparas cantik berusia 17 tahun, berniat untuk membalas dendam pada keluarga papa kandungnya atas penderitaan yang dialami oleh mamanya di masa lalu.Selain membalas dendam kepada keluarga papanya. Cessa juga harus mencari tahu orang yang telah mencelakai ayah angkatnya hingga meninggal.Cessa dipertemukan dengan Damian Argantara di sekolah barunya. Cinta pun tumbuh perlahan-lahan dalam hati Cessa.Namun, cinta itu berubah menjadi kebencian setelah mengetahui siapa Damian sebenarnya.Bagaimana kelanjutan kisahnya? Bisakah Cessa menyelesaikan ambisinya seorang diri?
Lihat lebih banyakSuara di dapur terdengar nyaring karena Tiara tengah memasak untuk makan siangnya dan anak-anak. Sang suami yang bernama Rian, tengah dinas ke kantor pusat yang ada di Jakarta. Meninggalkan Tiara bersama tiga anak mereka yang masih kecil. Sudah satu minggu berlalu sejak Rian pergi. Suaminya tidak pernah menelepon. Hanya membalas pesan jika Tiara yang mengirim pesan lebih dulu.
Suara bel yang berbunyi nyaring membuat Tiara segera mematikan kompor. Kebetulan masakannya sudah matang. Tinggal menyajikan di meja makan. Jarum jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Dia berjalan melewati kedua anaknya yang tengah bermain di ruang tengah. Sedang si sulung masih berada di sekolah.
Rambut panjangnya yang dikuncir asal ke belakang sedikit berantakan. Tiara mencuci tangan lalu mengusapnya asal pada daster yang sudah lusuh. Ia berjalan menuju pintu depan. “Tunggu sebentar.”
Pintu perlahan terbuka menampilkan Rian yang sudah pulang. Senyum Tiara mengembang, hendak menyalami tangan suaminya. Namun tubuhnya membeku saat ia melihat wanita lain tengah bergelayut manja di lengan suamianya. Dada tiara berdegup kencang. Batinnya terus bertanya siapa wanita itu. Tangannya yang gemetar memegang pintu.
“Ayo masuk dulu.” Rian berjalan bersama wanita itu melewati Tiara yang masih terpaku dibalik pintu.
“Bawa anak-anak masuk kamar. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.” Perintah Rian santai.
Tiara ingin berteriak sekarang juga. Kenapa suaminya bisa dengan mudah membawa wanita lain masuk ke rumah mereka. Namun saat ingat tentang anak-anak, Tiara berusaha meredam amarahnya.
“Astaghfirullah.” Bibir Tiara bergetar mengucap kalimat istighfar. Dia tidak ingin terlihat marah di depan anak-anaknya. Ibu dari tiga anak itu tidak ingin anak-anak melihatnya pertengkaran orang tua mereka. Perlahan dia menutup pintu, berjalan menuju ruang tengah dimana Rian dan wanita itu duduk.
“Buatkan teh manis untuk kami setelah membawa anak-anak ke kamar,” ucap Rian santai. Mata Tiara tidak lepas dari wanita yang masih bergelayut manja di lengan suaminya.
Dia memperhatikan wanita cantik dengan mekap tebal. Rambut ikalnya menjuntai di bahu. Gaun yang ia pakai sebatas paha, memperlihatkan kaki indahnya. Belum lagi tubuh wanita itu sangat seksi. Tanpa sadar Tiara membandingkan penampilannya dengan wanita itu.
Badannya kurus kering karena kelelahan mengurus rumah besar dan tiga anak yang masih kecil. Kulitnya tidak semulus dulu. Apalagi bagian perut yang sudah melar setelah hamil dan melahirkan tiga kali. Banyak bintik di wajahnya yang menutupi sedikit kecantikan di masa muda.
“Kamu dengar atau nggak sih Ra?” bentak Rian marah melihat Tiara yang masih berdiri di tempatnya.
“Siapa wanita itu Mas?” bisik Tiara menahan tangis. Ia sakit hati melihat Rian terang-terangan bermesraan dengan wanita lain di rumah ini.
“Jangan banyak tanya. Aku akan memberi tahumu nanti.” Rian menoleh pada wanita itu lagi.
Tiara terpaksa menuruti perintah Rian karena tidak ingin membuat anak-anaknya takut. Setelah membawa kedua anaknya di kamar si sulung yang ada di lantai dua, Tiara turun lagi ke bawah. Dia masuk ke dapur yang merangkap sebagai ruang makan. Menyiapkan teh hangat yang diminta Rian.
Dengan tangan gemetar Tiara menahan amarahnya. Dia bisa menebak jika wanita itu ada hubungan dengan suaminya. Namun kenapa Rian harus membawanya pulang ke rumah ini setelah empat tahun ini Rian bersikap acuh?
“Astaghfirullah. Jangan bilang kalau wanita itu adalah selingkuhan Mas Rian.” Tiara meremas dasternya gugup. Tidak pernah terlintas dalam benaknya jika Rian akan berselingkuh. Meski hubungan mereka sangat hambar.
“Maaf kamar mandinya ada dimana ya?” Suara wanita itu terdengar ringan di telinganya. Tiara segera mengusap air mata lalu menoleh.
Mereka bertatapan secara langsung. Tangannya menunjuk ke kanan. Lidahnya terlalu kelu untuk menjawab. Wanita itu tersenyum lalu berkata, “Terima kasih.”
Tiara berpegangan ke meja. Ia duduk di kursi. Kakinya seperti tidak menapak tanah. Perasaan bingung, sedih, marah bercampur satu. “Kenapa aku merasa kisahku hari ini seperti novel online yang selalu kubaca?”
Helaan nafasnya terdengar berat. Tiara mengepalkan tangannya. “Aku tidak boleh lemah seperti ini.” Setelah berkata seperti itu, Tiara membawa nampan berisi dua gelas teh hangat ke ruang tamu.
Rian sibuk bermain ponsel. Dia menoleh sekilas lalu kembali fokus pada ponselnya. Berbeda saat wanita itu yang datang, Rian tersenyum manis lalu membuka lengannya. Mereka kembali berperlukan seperti tadi. Tidak mempedulikan Tiara sama sekali. Seolah Tiara adalah sosok yang kasat mata.
Tiara mengepalkan tangannya. Dia tidak bisa lagi berdiam diri seperti ini. Rian harus menjelaskan siapa wanita itu. Selingkuhan atau istri mudanya? Tidak mungkin hubungan mereka seromantis ini jika dia hanya kerabat Rian.
“Siapa dia Mas? Kenapa kamu membawanya ke rumah kita?”
Rian tidak merespon pertanyaan Tiara. Dia masih fokus bicara pada Dina hingga wanita itu menepuk lengan Rian lalu berkata,”Istrimu bertanya Mas.”
Baru setelah itu Rian menoleh. Dengan wajah datar Rian berkata, “Oh ya, kalian belum berkenalan. Aku lupa kalau kau juga ada disini.”
Seperti ada pisau tajam yang menikam hati Tiara. Setega itu Rian bicara seolah dirinya tidak berarti. Tiara berusaha menahan tangis. Dia menghela nafas pelan agar air mata yang masih menggenang tidak turun ke pipi.
“Perkenalkan namanya Dina. Aku akan menikahinya agar bisa mendapat anak laki-laki. Kau juga tidak akan terlalu lelah melayaniku lagi.”
Kepala Tiara seperti berputar. Dunianya terasa runtuh. Dia ingin pingsan saat ini juga. Tiara juga ingin meyakini bahwa semua ini hanya mimpi. Tangannya terus mencubit paha yang terasa sakit. Nyatanya semua yang Tiara alami bukanlah mimpi semata. Tangis Tiara tidak terbendung lagi. Pria itu terang-terangan memperkenalkan selingkuhannya. Bahkan Rian dengan berani berkata pada Tiara bahwa dia akan menikah lagi.
“Apa Ayah dan Ibu sudah tahu?” Tiara meremas kedua tangannya. Takut jika mertua yang sudah ia anggap sebagai orang tua sendiri berada di pihak anak mereka. Biasanya mertua akan membela anak mereka dan menyalahkan menantu.
Ekspresi Rian berubah saat Tiara menyinggung orang tuanya. Dia tidak langsung menjawab pertanyaan Tiara. Rian melirik Dina yang sudah berwajah keruh. Pandangan Rian beralih pada Tiara lagi. “Ayah dan Ibu tidak perlu tahu. Kau harus merahasiakan pernikahanku dan Dina.”
“Kenapa? Kalau orang tuamu tidak setuju, maka kau harus membujuknya maka aku akan setuju kau menikah lagi.” Tiara memanfaatkan kesempatan ini agar Rian membatalkan niatnya.
Sebagai seorang wanita Tiara tidak ingin dimadu. Dia tidak sekuat itu melihat suaminya bermesraan dengan wanita lain. Apalagi harus berbagi hati dan raga. Bagi Tiara, biarlah hubungan mereka masih hambar. Tiara akan berusaha membuat Rian jatuh cinta lagi padanya. Asal sang suami membatalkan pernikahannya dengan Dina.
“Jangan coba-coba melawan. Kalau aku bilang jangan cerita pada orang tuaku, kau harus menurut. Ingat Tiara. Statusmu adalah istri. Kau harus patuh dan menuruti semua perintahku. Seharusnya kau tahu hal itu karena rutin ikut kajian.” Sikap egois Rian kembali. Dia tidak ingin dilawan.
“Lalu, apa aku harus menuruti permintaanmu untuk dimadu? Alasanmu terlalu aneh Mas. Saat kita masih pacaran, kau sendiri yang mengatakan bahwa tidak perlu punya anak sepasang, laki-laki dan perempuan. Apapun jenis kelaminnya harus kita syukuri karena sudah diberi keturunan. Sekarang kau bilang ingin poligami hanya karena ingin punya anak laki-laki?” Nafas Tiara terengah. Baru kali ini dia melawan Rian setelah selama ini hanya diam. Mereka hanya berdebat saat Rian mulai berubah. Setelah itu, Tiara selalu mengalah.
“Memang itu alasannya. Saat kau hamil dua kali, tidak masalah bagiku punya dua anak perempuan. Namun saat kau hamil untuk yang ketiga kalinya, aku ingin punya anak laki-laki seperti teman-temanku.”
“Kau tidak pernah mengatakannya? Kita masih muda. Aku bisa melepas KB lalu program hamil agar bisa punya anak laki-laki.” Mata Tiara menatap Rian penuh luka. Perlahan pandanganya beralih pada tangan Rian yang sudah bersembunyi dibalik punggung.
Tiara memperhatikan ekspresi Rian yang bingung. Dia tidak bisa membalas perkataan Tiara. Rian menghela nafas berat lalu berkata, “Kau pasti tidak mau jika aku minta program hamil lagi. Mengurus tiga anak saja sudah membuatmu mengeluh. Apalagi kalau harus hamil lalu mengurus satu bayi lagi.”
“Itu karena kau berubah. Aku mengeluh empat tahun lalu karena kau tidak memberi perhatian lagi pada anak-anak. Setelah kita bertengkar hebat, aku tidak pernah mengeluh. Lagipula kau tidak mengatakan keinginanmu setelah si bungsu lahir. Jika kau mengatakan ingin program punya anak laki-laki aku tidak akan memakai KB.”
“Kau hanya terlalu manja. Dulu Ibu juga bisa mengurus rumah besar dan dua anaknya sendiri. Harusnya kau bisa mencontoh Ibu.”
“Jangan bandingkan aku dengan Ibu. Ayahmu adalah suami yang baik dan pengertian. Awalnya kau juga seperti itu. Namun sikapmu berubah empat tahun lalu. Selama ini aku selalu bertanya apa salahku sampai membuat sikapmu berubah Mas. Dulu aku minta jawaban agar bisa memperbaiki diri. Katakan kalau aku adalah salah padamu. Jangan berubah sampai bersikap acuh pada anak-anak kita.”
Bagi Tiara, tidak masalah jika Rian mengabaikannya dan anak-anak. Asal tidak selingkuh, melakukan KDRT atau pelit pada anak istri. Nyatanya selama ini Rian tetap memberikan nafkah yang besar untuk Tiara. Kecuali asisten rumah tangga atau baby sitter karena Rian tidak ingin anak-anaknya diasuh orang lain. Dulu Rian berjanji akan membantunya dalam urusan rumah dan anak karena suami istri harus saling melengkapi. Setelah sikap Rian berubah, dia tidak mau memberi asisten rumah tangga karena ingin Tiara melayaninya sendiri.
“Lebih baik kita berpisah. Aku tidak ingin dimadu,” kata itu meluncur juga dari bibir Tiara.
“Tidak boleh. Aku tidak ingin berpisah denganmu. Kau harus setuju agar aku tidak terus pacaran dengan Dina. Anggap saja kau menghalalkan hubungan kami.”
“Keputusanku sudah bulat. Hari ini juga aku akan pergi bersama anak-anak. Setelah keluar, aku akan menjemput si sulung di sekolah.” Tiara berdiri. Keputusannya untuk berpisah dengan Rian sudah mantap.
Saat Tiara hendak naik ke lantai dua, Rian sudah lebih dulu berlari naik ke atas. Tiara dapat mendengar suara pintu yang terkunci. Perasaannya jadi tidak enak. Tiara segera berlari menyusul Rian. Disana sang suami berdiri di depan kamar anak sulung mereka.
“Silahkan kalau kau ingin pergi, tapi jangan bawa anak-anak. Kupastikan kau tidak bisa bertemu dengan anak-anak lagi, Tiara. Hak asuh mereka pasti jatuh padaku.”
Cessa membuka pintu ruangan tempat ayahnya dirawat. Bau obat-obatan begitu pekat hinggap di penciumannya. Suasana kamar itu sunyi. Hanya terdengar suara alat pendeteksi detak jantung.Perlahan Cessa mendekat ke arah pria paruh baya yang terbaring lemah di atas ranjang. Matanya tertutup rapat. Di tubuh pria itu terpasang berbagai alat medis."Ayah." Cessa berucap lirih.Napasnya terasa sesak melihat kondisi Langit saat ini. Air mata itu kembali luruh membasahi wajahnya."Bangun, Yah. Jangan lama-lama tidurnya. Cessa takut sendirian."Hening. Tak ada yang menjawab perkataan Cessa. Hanya suara elektrokardiogram yang terdengar nyaring, juga suara isaknya yang tertahan.Seorang dokter muda masuk ditemani seorang perawat. Mereka memeriksa kondisi Langit saat ini."Dokter, apa ayah saya akan bangun? Apa ayah akan sembuh?" tanya Cessa dengan suar
"Cessa masuk dulu, ya, Yah." Gadis manis itu meraih tangan kekar sang ayah dan mendaratkan kecupan pada punggung tangannya.Langit mengangguk, mengusap puncak kepala Cessa lembut sebelum puterinya itu masuk ke dalam sekolahnya. Lamat, manik mata tajam itu menatap wajah sang gadis lembut. "Belajar yang rajin," ucapnya kemudian.
Cessa tertegun beberapa saat ketika tangannya digenggam Damian. Ia bahkan mengerjapkan matanya beberapa kali, ada getaran aneh yang menjalar ke hatinya.Damian mengulum senyumnya melihat ekspresi Cessa saat ini. Ia mengambil alih garpu dari tangan gadis itu, yang masih hanyut dalam pikirannya."Ayo buka mulutmu!" seruan itu menyadarkan Cessa dari pikirannya. Ia menatap heran kepada Damian yang bersiap memasukan makanan ke dalam mulutnya."Aku enggak lapar," tolak Cessa, ia memalingkan wajahnya ke samping membuat lelaki beriris hitam itu berdecak pelan."Jangan menolak! Ayo cepat makan! Atau kamu mau tetap di sini berdua sama aku?" Damian memperlihatkan senyum menyebalkan bagi Cessa. Gadis itu menggeram menahan kekesalannya kepada Damian."Aku bisa makan sendiri, kok!" Cessa hendak mengambil alih garpu dari tangan Damian, tetapi lelaki itu segera menjauhkan tangannya. Ia bersikera
"Hallo, Non Cessa! Maaf bapak tidak bisa jemput Non Cessa ke sekolah. Mobilnya tiba-tiba mogok! Ini sekarang bapak ada di bengkel,"Cessa mendengus pelan mendengar suara pak Tomo yang mengatakan tidak bisa menjemputnya.
Cessa hendak pergi ke toilet. Gadis itu berjalan melewati koridor tanpa ditemani Amel. Temannya itu mungkin saat ini sedang berada di kantin.Dari kejauhan samar-samar Cessa mendengar suara alunan musik yang mulai menarik perhatiannya. Ia menghentikan langkahnya sejenak, lalu berbalik untuk mencari sumber suara. Gadis itu mengurungkan niatnya untuk pergi ke toilet.
Damian tiba di Kafe Melati tempat yang sudah disepakati untuk bertemu dan mengerjakan tugas kelompok fisika bersama anggota yang lainnya. Siapa lagi kalau bukan dua sahabatnya Dimas dan Dika, Amel dan ... Cessa.Sebuah keberuntungan baginya karena kali ini guru fisikanya menjadikan Cessa sebagai salah satu anggota dalam kelompoknya. Waktu tiga bulan terasa cukup lama bagi Damian, agar bisa dekat dengan gadis yang berhasil meruntuhkan gunung es di hatinya.Ya, walau Damian belum mengutarakan perasaannya kepada Cessa.Namun dengan hubungannya lebih akrab dari sebelumnya saja, Damian sudah bersyukur. Bila mengingat begitu acuh dan dinginnya sikap yang diperlihatkan Cessa kepadanya.Damian memicingkan matanya menatap tiga orang yang dikenalinya. Lalu melangkahkan kakinya untuk menghampiri meja mereka. "Di mana Cessa? Kenapa kalian hanya bertiga?" tanya Damian. Ia melihat ke sekeliling mencari gadis yang
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Komen