Share

Bab 4

Author: Toyusa
last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-13 16:07:59

Mira baru saja memejamkan mata ketika pintu kamarnya berderit. Ia memikirkan perkataan Bi Sumi tadi. Masalahnya, ia kesini bukan untuk menggoda majikannya. Tapi…

Krek!

Itu bukan ketukan, melainkan suara kayu yang didorong.

Brata Yuda berdiri di sana. Wajahnya yang biasanya tegas kini tampak kehilangan nyawa– pucat pasi dengan mata yang sayu.

Ia berpegangan pada kusen pintu, buku-buku jarinya memutih, napasnya tersengal seolah setiap hirupan oksigen terasa menyakitkan.

"Ndoro?" Mira bangkit. Rasa kantuknya lenyap seketika berganti dengan kewaspadaan.

"Kepalaku..." Brata meringis sambil memejamkan mata. "Pusing sekali, Mira. Seperti ada palu yang menghantam kepalaku terus-menerus. Aku tidak bisa tidur... badanku rasanya seperti bongkahan batu."

Mira segera mendekat, lalu mengangkat tangannya untuk menyentuh dahi Brata. Begitu kulit mereka bersentuhan, ia langsung merasakan panas yang tidak wajar. 

Demam pria itu begitu tinggi hingga telapak tangannya seolah ikut terbakar. Alisnya pun berkerut cemas.

"Ndoro demam. Biar saya panggilkan Bi Sumi atau–"

“Bi Sumi sudah pulang. Tolong–" potong Brata cepat. Suaranya parau, nyaris seperti permohonan. 

Ia melangkah masuk lalu menutup pintu dengan dorongan pelan. "Cukup kerokin aku saja. Tolong, Mir... punggungku rasanya kaku sekali."

"Tapi kenapa harus di sini, Ndoro?"

Brata menghembuskan napas berat sambil menunjuk ke arah kamar utama. "Di sana ada istriku. Berisik sekali. Aku cuma ingin tenang sebentar. Tolong aku."

Tanpa menunggu jawaban, Brata duduk di pinggir ranjang kecil Mira. Dengan gerakan lemah ia melepaskan kemejanya hingga punggung bidangnya tersingkap di bawah cahaya lampu yang temaram.

Mira mengambil minyak urut dan sekeping koin, lalu duduk tepat di belakangnya. Saat ujung koin menyentuh kulit Brata yang panas, otot-otot di bahunya yang semula kaku perlahan mulai mengendur. 

Goresan demi goresan meninggalkan semburat merah di sepanjang punggungnya, sementara Mira mengerok dengan hati-hati, menjaga agar tekanannya tidak menambah rasa sakit yang sudah ia rasakan. 

Seiring setiap usapan yang menyusuri kulitnya, ketegangan di tubuh Brata perlahan mencair. Nyeri yang sejak tadi menghantam kepala hingga sekujur tubuhnya pun berangsur mereda, membuatnya tanpa sadar memejamkan mata dan menikmati kelegaan yang sudah lama tidak ia rasakan.

Tanpa benar-benar sadar, tangan Brata bergerak ke belakang mencari sesuatu untuk berpegangan. Jemarinya justru menemukan pergelangan tangan Mira.

Ia menggenggamnya pelan, seolah sentuhan itu mampu menahan tubuhnya agar tidak semakin limbung.

Mira menghentikan gerakannya.

"Ndoro?"

Brata tidak menjawab. Dalam keadaan setengah sadar karena demam, ia justru sedikit menarik tangan Mira hingga jarak mereka nyaris tak tersisa. Kepalanya yang berat hampir bersandar ke arah gadis itu, seolah tubuhnya secara naluriah mencari rasa nyaman yang sudah terlalu lama tidak ia rasakan.

"Ndoro?" panggil Mira sekali lagi dengan nada bingung.

Suara itu seketika menyadarkan Brata. Matanya terbuka perlahan, lalu pandangannya jatuh pada tangannya yang masih menggenggam pergelangan Mira. 

Wajahnya langsung berubah. Napasnya tercekat. Dengan tergesa ia melepaskan genggaman itu dan mundur satu langkah.

​"Maaf…" ucapnya lirih. "Aku tidak bermaksud."

​Ia mengusap wajahnya kasar. Mira yang masih duduk di tepi ranjang hanya diam, namun matanya menangkap dengan jelas bagaimana sorot mata majikannya itu berubah. Ada sesuatu yang jauh lebih dalam dan membara di balik tatapan lelah itu, sesuatu yang buru-buru Brata sembunyikan dengan membuang muka.

​"Aku benar-benar minta maaf, Mir."

​Belum sempat Mira menjawab, suara Ratna tiba-tiba menggema dari kamar utama.

"MAS BRATA! MASSS!! AKU MINTA AIR! LAMA SEKALI SIH!!"

Brata memejamkan mata sesaat. Rahangnya mengeras menahan begitu banyak hal yang berputar di dalam benaknya. 

Tanpa berani menatap Mira lagi, ia segera mengenakan kembali kemejanya dan bergegas keluar menuju kamar utama.

Pintu kembali tertutup.

Mira tetap duduk di tepi ranjang sambil menatap pintu itu beberapa saat. 

Majikannya… kasihan.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Aduh Ndoro, Ini Sudah Berlebihan   Bab 118

    Di ruang kerjanya, Brata mengamuk membabi buta, menghancurkan segala benda yang ada di atas meja kerjanya hingga hingga berjatuhan dan berserakan di atas karpet. Tumpukan dokumen beterbangan, lampu baca terjungkal, bahkan laptop mahalnya ikut terhempas ketika tangannya menghantam meja dengan kasar. Napas Brata memburu, dadanya naik turun dengan keras, sampai akhirnya tubuhnya terasa kehilangan tenaga dan ia menjatuhkan diri ke kursi, lalu menenggelamkan wajah di kedua telapak tangannya. Namun, di tengah keputusasaan yang menggelapkan akal sehatnya, memori Brata kembali berputar pada detik-detik saat ia berdiri di depan brankas besi yang setengah terbuka itu. Ada sesuatu yang janggal. Di atas lantai safe house yang seharusnya berdebu dan lama tak tersentuh, ia melihat jejak basah sepatu bot dengan sol bergerigi, serta secercah abu cerutu langka yang baunya masih menguar tipis di udara. Haryo

  • Aduh Ndoro, Ini Sudah Berlebihan   Bab 117

    Satu jam kemudian, rumah itu kembali riuh oleh jeritan panik Ratna yang mengaku liontin berlian peninggalan ibunya hilang. Para pelayan segera berhamburan mencari ke berbagai sudut rumah, membuka laci, memeriksa kamar, bahkan menggeledah ruangan-ruangan yang jarang digunakan. Suasana rumah mendadak kacau, masing-masing orang sibuk mencari tanpa tahu di mana sebenarnya benda berharga itu terakhir kali terlihat. Tepat di tengah kekacauan tersebut, pintu utama mendadak didorong terbuka dengan kasar. Brata pulang dengan wajah merah padam dan napas memburu. Kemejanya kusut, rambutnya sedikit berantakan, sementara urat di pelipisnya menonjol jelas. Wajah pria itu menunjukkan bahwa sesuatu yang buruk baru saja terjadi. "Ada apa ini?!" bentak Brata begitu melihat para pelayan mondar-mandir tanpa arah. Ratna segera memutar kursi rodanya dan menghampiri sang suami. Wajahnya tampak panik, matanya berkaca-kaca, seolah benar-benar berada dalam keadaan terdesak. "Mass... liontin berlian penin

  • Aduh Ndoro, Ini Sudah Berlebihan   Bab 116

    Begitu Brata pergi, Ratna masih terpaku di kursi rodanya, pikirannya dipenuhi tuduhan yang baru saja dilontarkan suaminya sebelum berangkat mengecek langsung ke lokasi tersebut.Menjebaknya ke safe house yang diawasi polisi?Ratna sama sekali tidak mengerti dari mana tuduhan itu berasal. Ia memang menyimpan alamat tempat tersebut sebagai alat tawar, tetapi tidak pernah sedikit pun berniat mengirim Brata ke sana dengan tujuan mencelakakannya. Jika Brata sampai tertangkap polisi, rencananya untuk mendapatkan kembali saham perusahaan justru akan berantakan. Ia masih membutuhkan suaminya untuk menandatangani pengalihan saham itu.Untuk apa ia menghancurkan rencananya sendiri?Rahang Ratna mengeras. Satu kemungkinan mulai memenuhi pikirannya.Seseorang sudah membisikkan hal itu kepada Brata. Dan di rumah ini, hanya ada satu orang yang cukup dekat dengan suaminya sekaligus cukup pandai mempengaruhi pikirannya.Mira.Amarah dan rasa terhina bercampur jadi satu di dadanya. Ia difitnah atas se

  • Aduh Ndoro, Ini Sudah Berlebihan   Bab 115

    Keesokan harinya, Ratna duduk kaku di kursi rodanya dengan paspor bersampul hijau dan tumpukan dokumen usang peninggalan ayahnya di pangkuan. Matanya menatap tajam ke arah Brata yang baru saja keluar dari kamar tidurnya. Pria itu tampak sangat kacau– kantung matanya menghitam dan ia hanya mengenakan pakaian rumahan yang kusut"Aku sudah menelepon pengacara dan notaris kenalan Bapak," ucap Ratna tanpa basa-basi, suaranya terdengar mendesak. "Mereka bersedia datang ke rumah ini siang ini juga. Pengalihan saham bisa diproses menggunakan paspor ku sebagai pengganti KTP yang dicuri pelayan kesayanganmu itu. Siapkan dirimu, Mas. Waktu dari bank tinggal empat hari."Ratna mengira Brata akan menunjukkan kepanikan yang sama, tetapi pria itu justru terdiam. Matanya perlahan turun menatap paspor di pangkuan istrinya sebelum kembali terangkat dengan sorot yang jauh lebih dingin daripada yang Ratna duga. Brata kemudian berjalan mendekat dan berhenti tepat di hadapannya."Batalkan kedatangan merek

  • Aduh Ndoro, Ini Sudah Berlebihan   Bab 114

    ​"Aku tidak tahu, Mira," desah Brata dengan suara serak, menjatuhkan keningnya ke bahu gadis itu. Pria yang biasanya begitu tegas dan sulit digoyahkan itu kini terlihat lelah dan putus asa. "Bank hanya memberiku sisa waktu lima hari. Ratna tahu persis aku sedang dikejar dengan waktu. Dia terus mendesakku agar segera menandatangani akta pengalihan saham itu, atau dia tidak akan pernah memberikan kata sandinya. Kalau aku melewati batas lima hari ini... aku akan kehilangan rumah ini, sisa perusahaanku, semuanya."Di balik bahu Brata, tatapan Mira perlahan berubah. Otaknya segera bekerja menghitung kemungkinan yang ada. Lima hari bukan waktu yang panjang, tetapi cukup untuk menghancurkan rencana Ratna jika Brata bisa dibuat menunda keputusan. Kalau pria itu panik dan menyerahkan separuh sahamnya sekarang, Ratna akan kembali mendapatkan kendali atas perusahaan dan posisi Mira akan semakin sulit. Ia tidak boleh membiarkan hal itu terjadi. Sebelum Brata benar-benar mengambil keputusan, ia ha

  • Aduh Ndoro, Ini Sudah Berlebihan   Bab 113

    Dua hari berlalu seperti neraka bagi Brata. Batas waktu penyitaan dari pihak bank semakin dekat dan tekanan itu terus menghimpitnya dari segala arah.Di saat yang sama, Ratna dengan cerdik memanfaatkan keputusasaan itu dengan mengurung diri dikamar tamu, menolak memberikan kata sandi maupun lokasi harta rahasia Haryo sebelum Brata membaliknamakan separuh saham kepadanya.Namun, yang paling menguras kewarasan Brata selama empat puluh delapan jam terakhir bukanlah ancaman bank atau tuntutan Ratna. Melainkan diamnya Mira.Gadis itu masih berada di rumah, tetapi sikapnya berubah seolah-olah ia telah menjadi orang lain. Tidak ada lagi secangkir kopi hitam yang diam-diam tersaji di meja kerjanya setiap malam, tidak ada lagi sapaan lembut ketika ia berpapasan, bahkan pijatan ringan di pundak saat ia kelelahan di kursi pun tidak pernah diberikan lagi.Mira tetap menjalankan semua pekerjaannya seperti biasa, menyapu, mengepel, mencuci, dan menyiapkan kebutuhan rumah, tetapi semuanya dilakukan

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status