MasukMira baru saja memejamkan mata ketika pintu kamarnya berderit. Ia memikirkan perkataan Bi Sumi tadi. Masalahnya, ia kesini bukan untuk menggoda majikannya. Tapi…
Krek!
Itu bukan ketukan, melainkan suara kayu yang didorong.
Brata Yuda berdiri di sana. Wajahnya yang biasanya tegas kini tampak kehilangan nyawa– pucat pasi dengan mata yang sayu.
Ia berpegangan pada kusen pintu, buku-buku jarinya memutih, napasnya tersengal seolah setiap hirupan oksigen terasa menyakitkan.
"Ndoro?" Mira bangkit. Rasa kantuknya lenyap seketika berganti dengan kewaspadaan.
"Kepalaku..." Brata meringis sambil memejamkan mata. "Pusing sekali, Mira. Seperti ada palu yang menghantam kepalaku terus-menerus. Aku tidak bisa tidur... badanku rasanya seperti bongkahan batu."
Mira segera mendekat, lalu mengangkat tangannya untuk menyentuh dahi Brata. Begitu kulit mereka bersentuhan, ia langsung merasakan panas yang tidak wajar.
Demam pria itu begitu tinggi hingga telapak tangannya seolah ikut terbakar. Alisnya pun berkerut cemas.
"Ndoro demam. Biar saya panggilkan Bi Sumi atau–"
“Bi Sumi sudah pulang. Tolong–" potong Brata cepat. Suaranya parau, nyaris seperti permohonan.
Ia melangkah masuk lalu menutup pintu dengan dorongan pelan. "Cukup kerokin aku saja. Tolong, Mir... punggungku rasanya kaku sekali."
"Tapi kenapa harus di sini, Ndoro?"
Brata menghembuskan napas berat sambil menunjuk ke arah kamar utama. "Di sana ada istriku. Berisik sekali. Aku cuma ingin tenang sebentar. Tolong aku."
Tanpa menunggu jawaban, Brata duduk di pinggir ranjang kecil Mira. Dengan gerakan lemah ia melepaskan kemejanya hingga punggung bidangnya tersingkap di bawah cahaya lampu yang temaram.
Mira mengambil minyak urut dan sekeping koin, lalu duduk tepat di belakangnya. Saat ujung koin menyentuh kulit Brata yang panas, otot-otot di bahunya yang semula kaku perlahan mulai mengendur.
Goresan demi goresan meninggalkan semburat merah di sepanjang punggungnya, sementara Mira mengerok dengan hati-hati, menjaga agar tekanannya tidak menambah rasa sakit yang sudah ia rasakan.
Seiring setiap usapan yang menyusuri kulitnya, ketegangan di tubuh Brata perlahan mencair. Nyeri yang sejak tadi menghantam kepala hingga sekujur tubuhnya pun berangsur mereda, membuatnya tanpa sadar memejamkan mata dan menikmati kelegaan yang sudah lama tidak ia rasakan.
Tanpa benar-benar sadar, tangan Brata bergerak ke belakang mencari sesuatu untuk berpegangan. Jemarinya justru menemukan pergelangan tangan Mira.
Ia menggenggamnya pelan, seolah sentuhan itu mampu menahan tubuhnya agar tidak semakin limbung.
Mira menghentikan gerakannya.
"Ndoro?"
Brata tidak menjawab. Dalam keadaan setengah sadar karena demam, ia justru sedikit menarik tangan Mira hingga jarak mereka nyaris tak tersisa. Kepalanya yang berat hampir bersandar ke arah gadis itu, seolah tubuhnya secara naluriah mencari rasa nyaman yang sudah terlalu lama tidak ia rasakan.
"Ndoro?" panggil Mira sekali lagi dengan nada bingung.
Suara itu seketika menyadarkan Brata. Matanya terbuka perlahan, lalu pandangannya jatuh pada tangannya yang masih menggenggam pergelangan Mira.
Wajahnya langsung berubah. Kesadaran menghantamnya lebih keras daripada rasa sakit di kepalanya.
Apa yang hampir ia lakukan?
Napasnya tercekat. Dengan tergesa ia melepaskan genggaman itu dan mundur satu langkah.
"Maaf…" ucapnya lirih. "Aku tidak bermaksud."
Ia mengusap wajahnya kasar, berusaha mengusir kekacauan di dalam kepalanya. Hanya karena merasa nyaman sesaat, ia hampir melupakan batas yang selama ini selalu ia jaga.
"Aku benar-benar minta maaf, Mir."
Belum sempat Mira menjawab, suara Ratna tiba-tiba menggema dari kamar utama.
"MAS BRATA! MASSS!! AKU MINTA AIR! LAMA SEKALI SIH!!"
Brata memejamkan mata sesaat. Rahangnya mengeras menahan begitu banyak hal yang berputar di dalam benaknya.
Tanpa berani menatap Mira lagi, ia segera mengenakan kembali kemejanya dan bergegas keluar menuju kamar utama.
Pintu kembali tertutup.
Mira tetap duduk di tepi ranjang sambil menatap pintu itu beberapa saat.
Majikannya… kasihan.
Kokok ayam jantan dari kejauhan membelah kabut pagi. Di ruang makan, keheningan yang mencekam menyelimuti meja, hanya suara denting sendok yang beradu dengan porselen yang terdengar.Ratna duduk di kursi rodanya, wajahnya tampak pucat pasi dengan perban tipis di dahinya, akibat benturan kemarin. Tatapannya kosong, namun setiap kali ia melirik ke arah Mira yang sedang menyajikan sarapan, matanya akan menyipit tajam seperti silet yang siap mengiris.Brata sendiri lebih banyak diam. Pria itu menyembunyikan tangannya di bawah meja, jemarinya terus bergerak gelisah. Ia tampak seperti seseorang yang sedang menyimpan rahasia besar di balik topeng ketegasannya."Mas," suara Ratna memecah keheningan, terdengar serak dan dingin. "Aku ingin pelayan ini dipecat hari ini juga."Tangan Mira yang sedang menuang air putih ke gelas Ratna sedikit bergetar. Ia sengaja menumpahkan beberapa tetes air ke taplak meja, lalu dengan wajah ketakutan, ia segera mengambil serbet untuk membersihkannya."Maaf,
"Mira! Buka pintunya!" suara itu berat dan berwibawa.Itu suara Brata.Mira buru-buru mengambil kemeja yang tadi ia buang ke lantai dan memakainya asal-asalan, bahkan tanpa mengancingkannya dengan benar. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia melompat dari ranjang dan membuka kunci pintu.Pintu terbuka. Brata berdiri di sana dengan wajah yang terlihat sangat kusut. Tatapan pria itu tajam, namun ada raut kecemasan yang mendalam di matanya. Pria itu langsung melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya dengan sekali dorongan."Ndoro? Ada apa? Nyonya... bagaimana?" tanya Mira, berusaha memasang wajah bingung dan sedikit ketakutan.Brata tidak menjawab. Pria itu menyapu pandangannya ke kamar yang sempit dan remang tersebut, lalu berhenti pada wajah Mira yang masih memerah dengan sisa-sisa gairah yang belum sepenuhnya sirna. Brata mendekat, memangkas jarak hingga mereka nyaris bersentuhan."Tadi itu... hampir saja," bisik Brata, suaranya parau dan sarat akan penyesalan yang
"B–Bi Sumi..." sahut Mira gugup, refleks menundukkan kepala."Aku tanya, dari mana saja kamu, Nduk?!" desak Bi Sumi, melangkah mendekat dengan raut wajah mengeras. "Nyonya Ratna mengamuk keliling rumah mencarimu sampai jatuh pingsan! Dan kamu... tiba-tiba muncul dari arah lorong depan dengan baju yang kusut seperti ini. Habis dari mana kamu, hah?!"Mira memaksakan bahunya bergetar, memanggil kembali air mata buatan yang selalu menjadi senjata utamanya."S-saya takut, Bi..." isak Mira, suaranya pecah dan bergetar hebat. "Waktu dengar Nyonya teriak-teriak memanggil nama saya... saya ketakutan. Saya ingat Nyonya mau menampar saya tadi pagi. Jadi... jadi saya lari ke gudang belakang, Bi. Saya sembunyi di balik tumpukan karung beras..."Bi Sumi memicingkan mata, tak percaya begitu saja. "Gudang belakang? Lalu kenapa kamu muncul dari arah lorong ruang kerja Ndoro Brata?""S-saya baru berani keluar setelah keadaan sepi, Bi. Saya memutar lewat lorong depan karena pintu belakang dikunci
"MIRA! KELUAR KAMU!" jeritan Ratna melengking, memantul di dinding ruangan.Amarah seolah mematikan seluruh saraf sakit di tubuhnya. Ratna bergerak liar di atas kursi rodanya, memutar kursi itu ke sana kemari untuk menyisir ruangan seperti orang kesetanan. Dengan napas memburu, ia menyibak tirai beludru tebal di dekat jendela secara kasar, menarik paksa pintu lemari arsip hingga engselnya berderit, lalu menendang tumpukan koran di sudut ruangan hingga berhamburan. "Keluar kamu, perempuan murahan! Aku tahu kamu sembunyi di ruangan ini! MIRA!!"Di bawah meja, Mira menekan punggungnya sejauh mungkin ke sudut gelap kolong tersebut. Ia mematung, bahkan tidak berani berkedip. Keringat dingin menetes perlahan dari pelipisnya. "Ratna, cukup! Hentikan kegilaan ini!" Brata melangkah cepat, berusaha mencengkram lengan istrinya untuk menghentikan kursi roda itu.Wajah pria itu pias, campur aduk antara panik setengah mati dan amarah yang memuncak. "Kamu benar-benar sudah kehilangan akal sehat
"Kenapa pintunya dikunci, Mas?!" bentak Ratna lagi.Terdengar suara berdecit yang menyayat hati– suara putaran roda kursi yang beradu dengan lantai kayu lorong. Ratna, dengan napas tersengal dan peluh yang membanjiri pelipisnya, memaksakan kedua tangannya memutar roda kursi roda itu sekuat tenaga. Kakinya yang lunglai dan tidak berdaya hanya terbalut selimut tipis, tampak menyedihkan sekaligus mengerikan karena rasa curiga yang terus membakarnya sejak pagi.Brata segera menempelkan telunjuk di bibirnya sendiri, matanya melotot memberi isyarat panik agar Mira sama sekali tidak mengeluarkan suara. Pria itu menahan napas, berharap istrinya kehabisan tenaga dan menyerah."Bi Sumi bilang kamu masuk ke sini dan belum keluar sama sekali!" seru Ratna dari balik pintu. Terdengar bunyi benturan kursi roda ke daun pintu kayu. "Aku tahu kamu ada di dalam, Mas! Buka pintunya!"Hening mencekam. Brata menahan napasnya, tidak berani bergerak satu inci pun. Ia berharap istrinya kehabisan tenaga dan
"Tidak, Ndoro! Tolong hentikan!"Tangan Mira mendadak bergerak cepat. Dengan tenaga yang tak terduga, gadis itu menahan kedua pergelangan tangan Brata dan mendorong dada bidang pria itu sekuat tenaga sebelum bibir mereka benar-benar menyatu.Mira buru-buru melompat turun dari meja kerja kayu jati itu, kakinya nyaris tak menapak sempurna. Tangannya yang bergetar hebat segera merapikan rok dan mengancingkan kembali kerah bajunya yang sudah berantakan. Ia mundur beberapa langkah, menjaga jarak sejauh mungkin hingga punggungnya menabrak rak buku."Mira... ada apa?" geram Brata frustasi. Napasnya masih berat, gairahnya yang sedang berada di puncak kini menggantung menyakitkan. "Kenapa berhenti? Bukankah kamu juga menikmatinya?""Tapi ini salah, Ndoro!" suara Mira bergetar, air mata buatan seketika menggenang di pelupuk matanya. "Saya memang miskin, saya butuh pekerjaan ini untuk hidup, tapi saya bukan perempuan gampangan! Bagaimana kalau Nyonya Ratna tahu? Beliau sudah sangat membenci s







