author-banner
Ziva
Ziva
Author

Novels by Ziva

Dosenku, Sayangku

Dosenku, Sayangku

Bagi Liora, bertingkah nekat dan dicap "cegil" di kampus hanyalah topeng untuk menutupi luka dari keluarganya yang hampa kasih sayang. Sampai akhirnya, ia membentur Mahen—dosen muda dingin yang ternyata menyimpan trauma masa lalu serupa. Pertemuan dua jiwa kesepian ini melahirkan romansa rahasia yang intens. Mahen menjadi pelindung bagi kerapuhan Liora, dan Liora menjadi kehangatan yang meruntuhkan tembok es Mahen.Namun, kebahagiaan mereka runtuh saat rencana perjodohan Mahen mencuat, disusul sabotase kampus yang memfitnah hubungan mereka demi menghancurkan karier sang dosen. Sadar kehadirannya membawa kehancuran, Liora mengambil keputusan ekstrem. Gadis yang dulunya berisik dan ugal-ugalan itu mendadak berubah menjadi sosok yang pendiam, dingin, dan menarik diri. Liora memilih mengubur romansanya hidup-hidup dan merelakan Mahen dengan wanita lain, demi memastikan pria yang teramat dicintainya itu tetap aman.
Read
Chapter: Bab 7 | Kebenaran yang Tertunda
Pintu ruang rawat Liora terbuka kasar. Bu Saraswati masuk lebih dulu dengan dagu terangkat, disusul oleh Aidan yang tampak gelisah, dan Pak Dirgantara yang melangkah penuh wibawa tiruan. Di belakang mereka, jajaran rektorat universitas berbaris rapi, dipimpin oleh seorang pria paruh baya berkacamata tebal dengan ekspresi sedingin es. Tepat saat itu, kelopak mata Liora bergetar. Ia baru saja sadar dari pingsannya. Kepalanya masih berdenyut nyeri, namun atmosfer tegang di dalam ruangan langsung menusuk kesadarannya. Liora menggerakkan jemarinya, meraih pergelangan tangan Mahen yang berdiri di sisi ranjangnya, lalu menggenggamnya dengan sangat erat. Dingin telapak tangan Liora beradu dengan kehangatan kulit Mahen. Mahen tidak menjauh. Ia justru membiarkan jemari lentik itu bertaut di tangannya, memberikan kekuatan lewat remasan halus yang tak terlihat oleh orang lain. Tatapan Mahen tetap lurus, tenang, dan mematikan ke arah rombongan yang baru datang. Pak Hendrawan maju satu lan
Last Updated: 2026-07-09
Chapter: Bab 6 | Detak Lemah di Tengah Amarah
Melihat Liora tumbang, Mahen kehilangan seluruh nalar dinginnya. Persetan dengan mata tajam Bu Saraswati dan tatapan sombong Pak Dirgantara. Mahen langsung melesat maju, mengabaikan jarak dua meter yang sejak tadi dia jaga. Pria itu berlutut di lantai granit, tangannya yang kokoh langsung menyusup ke balik tengkuk dan lutut Liora, mengangkat tubuh gadis itu yang terasa begitu ringan ke dalam dekapannya. "Mahen! Apa-apaan kamu?! Turunkan dia!" Clarissa menjerit histeris. Wajahnya seketika pias melihat pemandangan di depannya. "Jangan gila, Mahen! Di depan ibuku, di depan donatur... kamu mau menghancurkan masa depan kita di Berlin hanya demi menyentuh perempuan ini?!" Mahen tidak mengindahkan teriakan itu. Cengkeraman tangan Clarissa di lengannya terasa tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan debaran jantung Liora yang melemah di dalam dekapannya. "Lepaskan, Clarissa," desis Mahen, suaranya begitu rendah dan menekan hingga membuat Clarissa tersentak mundur satu langkah.
Last Updated: 2026-07-08
Chapter: Bab 5 | Logika yang Patah
Pukul 07.30 pagi. Koridor lantai dua Fakultas Teknik Arsitektur sudah ramai oleh mahasiswa tingkat akhir yang mengantre giliran mengumpulkan berkas seleksi Berlin. Ketegangan di dekat papan pengumuman digital terasa sedikit memanas sejak sebuah unggahan anonim muncul di grup angkatan subuh tadi. Isinya hanya foto Liora yang sedang berdiri di depan meja Mahen sore lalu, namun narasi di bawahnya sengaja memicu gunjingan tentang keaslian nilai B+ yang didapat Liora dalam waktu semalam. Nadia dan Naufal berdiri di dekat mading, sengaja mengobrol agak keras untuk mengalihkan perhatian orang-orang yang mulai berbisik-bisik. "Minggir sebentar, Nadia, Naufal. Jangan menghalangi jalan, aku mau lewat," cetus Kania Maharani. Rival abadi Liora sejak semester satu itu membawa map portofolio tebal bersampul kulit imitasi. Sebagai mahasiswa dengan IPK tertinggi di kelas, Kania merasa posisinya di atas angin pagi ini. "Oh, jadi ini alasan kenapa nilai maket Liora bisa melesat jadi B+ dalam
Last Updated: 2026-07-06
Chapter: Bab 4 | Batas Jarak yang Dipaksa
Clarissa mencengkeram lengan kemeja abu-abu Mahen dengan sisa seluruh tenaganya. "Mahen, dengerin aku! Kamu mau ke mana?!" Clarissa setengah berteriak, napasnya memburu di dalam kabin mobil yang mendadak terasa begitu sempit dan menyesakkan. "Lihat keluar! Itu Aidan Dirgantara! Kamu tahu betul siapa ayahnya, kan? Satu laporan dari dia ke dewan penyantun, posisi kamu sebagai kandidat beasiswa Berlin bisa hangus dalam semalam!" Suara klakson dari deretan mobil di belakang mereka semakin bersahutan, menciptakan polifoni yang memekakkan telinga. Namun, Mahen seolah tuli terhadap semua kebisingan itu. Sepasang matanya yang biasa sedingin es kini menyala oleh letupan emosi yang asing, terkunci rapat pada punggung Liora yang mulai menjauh di dekat gerbang, dan figur Aidan yang masih mematung dengan rahang mengatup rapat. "Dia merendahkan profesi ini, Clarissa. Dia mengintimidasi mahasiswaku di area kampus," desis Mahen. "Mahasiswamu atau perempuan yang mulai mengacaukan isi kepal
Last Updated: 2026-07-06
Chapter: Bab 3 | Gemuruh Dalam Diam
"Sedang apa kamu berdiri di situ, Liora?" suara Bu Saraswati memecah keheningan ruangan. Ada nada dingin yang begitu kentara. Langkah kakinya yang mantap bergaung di atas lantai granit, mendekati tempat Liora mematung. Liora tersentak kecil. Dia buru-buru menegakkan punggung, berusaha menetralkan ekspresi wajahnya yang sempat syok. "S-selamat sore, Bu Saras. Saya baru saja menyerahkan draf revisi maket kepada Pak Mahen." Bu Saraswati tidak langsung merespons. Sepasang matanya yang tajam di balik bingkai kacamata mahal itu melirik sekilas ke arah meja bundar di sudut ruangan—tepat ke arah map cokelat beasiswa Berlin yang sedikit terbuka— sebelum akhirnya mengunci pandangannya pada Liora. "Jika seluruh urusan akademik mu hari ini sudah selesai, silakan keluar," ujar Bu Saraswati sembari berjalan melewati Liora begitu saja demi menghampiri meja kerja Mahen. "Area meja ini berisi dokumen penting universitas. Mahasiswa tidak seharusnya berdiri diam dan menatap berkas yang buka
Last Updated: 2026-07-05
Chapter: Bab 2 | Investigasi Dan Intuisi
Liora berdiri mematung di balik pilar koridor fakultas. Matanya lurus menatap ke arah tempat parkir dosen. Sebelum membukakan pintu mobil, Mahen menghentikan langkahnya. Liora menajamkan pendengarannya, memanfaatkan keheningan koridor sore itu untuk mencuri dengar percakapan mereka. "Kamu tidak perlu repot-repot membawakan kopi ke kelasku, Clarissa," ujar Mahen. Suaranya terdengar jauh lebih lembut dibanding saat mengajar, meski sisa-sisa nada kakunya tetap ada. Clarissa tersenyum manis, membetulkan letak tas kulitnya di pundak. "Aku tidak repot, Mahen. Lagipula, Ibu yang memintaku untuk memastikan kamu tidak melewatkan makan siang lagi karena sibuk mengurus draf maket mahasiswa." Mahen menghela napas pendek, namun sebuah lengkungan senyum tipis terukir di wajahnya. "Sampaikan terima kasihku pada Bu Saras. Tapi lain kali, fokus saja pada persiapan materi mengujimu." "Aku selalu fokus, Mahen. Termasuk fokus membantumu menyelesaikan urusan dokumen berkas kita ke Berlin," ba
Last Updated: 2026-07-05
You may also like
Sentuhan Cinta
Sentuhan Cinta
Romansa · Miracle
86.0K views
My Hot Husband is My Dangerous
My Hot Husband is My Dangerous
Romansa · Mrs Dream Writer
85.9K views
Dicintai Kakak Ipar
Dicintai Kakak Ipar
Romansa · Makhchuena Asma
85.7K views
Mendadak Kaya Usai Bercerai
Mendadak Kaya Usai Bercerai
Romansa · Galuh Arum
85.3K views
Istri Kesayangan Mafia
Istri Kesayangan Mafia
Romansa · Erna Azura
85.2K views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status