Mag-log inGaji Zevanya Camila sebagai seorang pegawai kelab malam nyatanya tidak mencukupi untuk membiayai pengobatan ibunya. Dia terpaksa mengambil keputusan berat, yaitu dengan menjual keperawanannya. Namun, kegamangan dirasakan Anya ketika dia melihat seorang pria tualah yang akan dia layani. Dia pun nekat kabur, dan bertemu dengan Davanka Abisheva Gunadhya yang menolongnya. Sayangnya, ada harga yang harus Anya bayar untuk pertolongan yang diberikan Davanka. Apakah itu? Dan apakah Anya sanggup membayarnya?
view moreBab 1 : Anak Haram
"Apakah dia anak itu?" tanya seorang wanita pada Rania, "bukankah dulu aku sudah memintamu untuk menggugurkannya?"Rania tertawa lalu berkata, "sudah, tapi sepertinya dia terlalu kuat. Mungkin untuk menunjukkan bahwa dia bisa melindungi ibunya dari orang-orang jahat yang ingin membunuh mereka dulu, dan sialnya mereka adalah ayah dan tante dari anak itu."Rahang wanita di sebelah Rania mengeras, ia benar-benar emosi melihat anak yang di bawa mantan sahabatnya ke wilayahnya begitu mirip dengan kakaknya, "jangan pernah macam-macam, kalau sampai karir kakakku hancur, aku tidak akan memaafkanmu!" ancam wanita itu pada Rania."Lucu sekali, bukankah di sini aku adalah korban? Tapi mengapa kalian bersikap seolah aku adalah tersangka?" Rania mengatur emosinya, "kalau malam itu kamu tidak memberiku obat sialan itu, semua itu tidak akan terjadi. Kakakmu yang tega merenggut masa depanku, menitipkan benihnya di rahimku. Menjanjikan sebuah tanggung jawab tapi malah menikah dengan orang lain, lalu mengancam akan menggagalkan pernikahan kakakku kalau aku membuka suara. Tapi mengapa sekarang aku yang seolah berbuat jahat pada kalian?""Kamu sudah hidup bahagia di luar sana, mengapa harus kembali ke sini?""Jangan lupa, ini juga tanah kelahiranku. Ada keluargaku di sini. Kenapa itu jadi masalah buatmu?""Apa sebenarnya yang kamu rencanakan, kamu ingin balas dendam?" ucap wanita itu berapi-api."Balas dendam? Sejahat apa kamu dulu, hingga takut aku akan balas dendam. Apa begitu susah untuk meminta maaf?" ujar Rania tanpa meninggikan suaranya.Wanita itu adalah Sinta, sahabat Rania, dulu. Mereka dulu begitu akrab hingga tidak terpisahkan, Sinta pula yang membuat Rania bisa berpacaran dengan Andra, kakak Sinta. Suatu malam saat ulang tahun Sinta, ia mengajak Rania, Andra dan sedikit teman mereka untuk merayakan ulang tahun Sinta. Rania sempat menolak tapi Sinta terus memaksa."Wanita seperti kamu memang pantas mendapat nasib buruk. Kamu yang lebih dulu merebut orang yang kucintai. Aku hanya membalas sakit hatiku," ujar Sinta ketus."Apa kita bisa mengatur perasaan orang. Aku dulu begitu baik padamu. Menolak lelaki yang dengan gencar mengejarku. Namun, ternyata kamu begitu kejam. Andai waktu bisa diputar, aku akan memilih menerimanya dan hidup bahagia dengannya. Tanpa peduli perasaan sahabat yang tega merusak masa depanku.""Pergi dari sini secepatnya!" Lagi-lagi Sinta mengancam Rania."Mengapa kamu harus takut? Bukankah setiap perbuatan ada karmanya, entah itu baik atau buruk."Ini bukan mau Rania, sejujurnya ia tidak mau kembali ke tempat ini. Selama empat belas tahun ia meninggalkan tempat ini, jika bukan karena ibunya sakit dan sang kakak merengek memintanya pulang, ia tidak akan menginjakkan kakinya di sini.Baru kemarin ia datang, tapi semua orang sudah heboh dengan kehadirannya. Bagaimana tidak, Rania datang dengan seorang anak remaja dengan paras yang begitu mirip kepala desa mereka. Kasak kusuk mulai terdengar, ada yang bilang Rania begitu membenci Andra saat ia hamil dulu, makanya anaknya bisa semirip itu. Ada pula yang mengatakan anak itu memang anak Andra sang kepala desa.Tahun ini Andra akan maju ke dunia politik, ia akan mencalonkan diri sebagai anggota DPR. Hal itu pulalah yang membuat langkah Sinta sampai di rumah ibu Rania, ingin menemui mantan sahabatnya dan menutup kemungkinan buruk. Jangan sampai karena kehadiran Rania dan anaknya, membuat pencalonan sang kakak menjadi gagal."Kakakku sudah bahagia dengan keluarganya, jangan sampai impiannya menjadi anggota dewan gagal hanya karena kamu membawa anak haram itu. Pergi dari sini, aku akan memberi berapa pun uang yang kamu minta," ucap Sinta."Seratus miliyar," ujar Rania."Gila kamu!" hardik Sinta."Bukankah tadi kamu menyatakan berapa pun? Lalu kenapa kamu terkejut. Membesarkan anak seorang diri, hingga dia bisa sebesar itu. Kamu kira itu murah? Aku yakin, uang bukanlah hal yang sulit untuk kalian," ucap Rania dengan senyum miring tercetak di sudut bibirnya."Seratus miliyar itu tidak sedikit. Itu tidak sepadan dengan anak haram yang kamu lahirkan. Lagian, dia hanya akan membuat kamu malu.""Aku kira kamu udah menjadi orang baik yang datang ke sini karena mengunjungi teman yang sedang kesusahan, ternyata kamu masih selicik dulu," ujar Rania, " dia memang anak haram, tidak perlu pengakuan siapa pun. Jadi kamu nggak perlu takut, dia nggak akan pernah datang pada Kakakmu," lanjutnya."Siapa yang menjamin kalau Kakakku akan baik-baik saja sementara kamu tetap berada di sini? Wajahnya begitu mirip dengan Kakakku, semua orang pasti akan curiga." Sinta mulai frustasi, hal ini tidak pernah ia duga."Bukankah dulu kalian yang merencanakan semuanya? Mengapa sekarang harus takut? Aku bisa menjamin kalau dia tidak akan mendatangi Kakakmu. Peringatkan saja pada Kakakmu untuk tidak mencari tau atau mendekati anakku." Rania masih sangat ingat kemarin Andra sudah berani memperhatikan anaknya saat mereka tidak sengaja bertemu.Sinta berdiri dengan kesal. Ini bukan seperti yang ia bayangkan. Ia mengira Rania masihlah selemah dulu. Sinta pikir, Rania hidup menderita bersama anak haramnya. Akan dengan mudah mengusir Rania dengan uang. Namun, nyatanya Rania sudah banyak berubah. Ia kini seperti punya kekuatan yang tidak dimiliki Sinta."Aku akan mengawasimu!" Sinta pergi tanpa permisi.Sinta datang ke rumah Ibu Rania setelah mendengar banyak gosip tentang anak Rania yang begitu mirip dengan Kakaknya. Ia terkejut saat melihatnya sendiri.Ancaman Sinta untuk menggugurkan kandungan itu, ternyata diabaikan oleh Rania. Sinta merasa Rania memang menantangnya.Sementara Rania mengira Sinta akan meminta maaf karena masa lalu mereka, tapi ternyata Sinta tetaplah Sinta yang tidak punya hati."Tadi siapa, Bun?" Revan, anak Rania mendekat pada Ibunya setelah bermain dengan sepupunya. Anak remaja itu tumbuh dengan cepat, kini tingginya sudah melebihi sang Ibu dan parasnya sungguh tampan."Temen Bunda. Kamu abis main apa?""Main bola di lapangan sebelah SD. Banyak temennya Mas Riki juga di sana," jawab Revan."Bunda dulu juga suka main di sana, tapi di sebelahnya lapangan. Di sana dulu ada kebun buah. Kebun itu punya teman Bunda, jadi kami sering petik buah yang lagi musim di sana," ungkap Rania mengenang masa lalu."Yang mana, Bun? Tadi pas Revan ke sana, di sebelah itu adanya malah toko besar gitu.""Masak, sih? Berarti udah dijual sama yang punya. Terakhir Bunda di sini, kebun itu masih ada," ujar Rania."Seru ya main di sini, Bun. Revan suka. Liburannya bisa ditambah nggak?" Revan begitu bahagia mempunyai keluarga dan teman baru."Nanti kalau liburan lagi," jawab Rania."Bun, tadi aku ketemu bapak-bapak yang wajahnya mirip banget sama aku, apa dia saudara kita?"Matahari terbenam di atas horizon, memancarkan warna keemasan yang indah di langit Hawai. Di tepi pantai yang tenang, Davanka dan Zevanya berjalan beriringan, tangan mereka saling menggenggam erat. Di depan mereka, Aksara dan Ashera sedang bermain dengan gembira di pasir, membangun istana pasir dan tertawa riang. Davanka tersenyum menatap ke arah Aksara dan Ashera, sambil mengeratkan genggaman tangannya. âBy, lihat betapa bahagianya mereka. Abang rasa mereka enggak akan pernah melupakan liburan ini.â Zevanya mengangguk, matanya menatap putra dan putrinya penuh cinta. âLiburan ini memang sempurna. Terima kasih karena telah memilih tempat yang indah ini, Abang.â Davanka tersenyum, menatap laut dengan mata penuh kebahagiaan. âKakek selalu mengatakan kalau tempat ini adalah tempat terbaik untuk menciptakan kenangan keluarga. Abang ingin anak-anak kita tumbuh dengan kenangan indah seperti ini.â Aksara berlari mendekat, ekspresi di wajahnya penuh semangat. âAyah, B
Di sebuah rumah sakit bersalin yang mewah nyaman, Davanka berjalan mondar-mandir di koridor seperti ayam jago yang kebingungan. Wajahnya pucat, tangan kanan memegang ponsel, tangan kiri mengacung gelas kopi yang isinya sudah habis sejak sejam lalu.Dari dalam kamar bersalin, suara Zevanya terdengar berteriak-teriak, membuat Davanka berkeringat lebih banyak daripada saat jogging pagi.âAbang! Kalau kamu cuma mau mondar-mandir, sini gantikan Anya dulu!â teriak Zevanya dengan nada bercampur emosi dan kesakitan.âGantikan? Gantikan apa, Anya? Abang enggak mungkin melahirkan untuk kamu, sayang âŚ,â jawab Davanka gugup sambil setengah membuka pintu.Zevanya menatapnya dengan mata menyala. âYa kalau enggak bisa bantu melahirkan, minimal kasih Anya semangat! Abang itu suami atau figuran sih di sini?ââSemangat, sayang! Kamu pasti bisa!â seru Davanka, setengah meloncat sambil mengepalkan tangan seperti cheerleader yang salah tempat.âAbang, serius! Duduk di sini, pegang tangan Anya! Kalau Anya
Jam sudah menunjukkan pukul dua pagi ketika suara aneh terdengar dari kamar tidur. Suara itu datang dari sisi tempat tidur, tempat di mana Zevanya biasa tertidur dengan tenang. Namun malam ini, situasinya berbeda.Zevanya tiba-tiba terbangun, matanya yang bulat terbelalak seperti baru tersadar dari mimpi buruk. Dengan suara terengah-engah, dia menoleh ke arah suaminya, Davanka, yang sedang terbaring di sampingnya."Abang ...." Zevanya bergumam dengan wajah setengah bingung. "Anya ngidam."Davanka mengerutkan kening, mengira istrinya hanya terjaga karena mimpi. "Ngidam? Anya, ini âkan sudah hampir jam tiga pagi, kamu yakin?"Zevanya duduk, memegangi perutnya yang mulai membesar, matanya tetap terjaga. "Iya, Anya ngidam banget, Abang ⌠Anya pengen makan ... nasi goreng dengan buah durian!" Suaranya penuh dengan keyakinan, seolah itu adalah hal yang paling masuk akal di dunia ini.Davanka terdiam sejenak, mencoba mencerna permintaan itu. "Nasi goreng ... durian
âAksaraaaa âŚ.â Bunda Arshavina memanggil dengan suara mendayu dari arah pintu utama. Aksara langsung berlarian menuju ke sana tanpa menggunakan celana. âEh ⌠ke mana celananya?â Ayah Kama bertanya. âAbis pipis.â Aksara memberitahu sembari menepuk bokong. âIiiih belum sunat.â Bunda menunjuk bagian bawah Aksara yang langsung ditutupi bocah laki-laki itu sembari cekikikan. âAksaraaaa, pakai celana dulu!â Zevanya berseru dari dalam rumah. âEh ⌠Ayah ⌠Bunda.â Zevanya baru menyadari kedatangan kedua mertuanya dan langsung menyalami mereka. âAbang pakai celana dulu ya,â kata Zevanya tapi Aksara malah lari ke dalam gendongan sang kakek. âAduuuuh, cucu kakek sudah berat.â âKakek! Abang enggak mau pakai celana.â Aksara meronta-ronta dalam gendongan sang kakek saat bundanya berusaha memakaikan celana. âAyo pakai dulu celananya atau nanti Nenek sunat? Mana gunting? Mana gunting?â Bunda Arshavina pura-pura mencari gunting. âEnggak mau!â Aksara menjerit sambil terta
Davanka lupa mengganti mode hening ke bunyi di ponselnya usai bertemu klien di meeting room sebuah hotel.Selama hampir lima jam lamanya Davanka ditemani sekertaris barunya melakukan pertemuan dengan klien dari Korea untuk menjalin kerjasama bisnis.Tapi tidak sia-sia karena Dav
Bunda curiga ketika Davanka datang sendirian ke rumahnya.Beliau juga tidak bertanya kenapa Zevanya tidak ikut karena masih berakting untuk memberi pelajaran kepada Davanka dan Zevanya.Davanka menarik kursi makan, tidak ada yang menyambut hangat kedatangannya.Pria itu masih mendapat
Sebelum seluruh Negri mengetahui siapa Zevanya dari mulut-mulut orang yang akan mengatakan kebohonganâZevanya lebih dulu memberitahu kebenarannya melalui sebuah karya yang dipersembahkan oleh seorang penulis terkenal.Dan Zevanya tidak mengira kalau dampaknya sampai bisa seluar biasa ini.Yang pertama
âApa kabar Anya? Perut kamu besar banget.â Adalah Noah yang menyambut Zevanya duluan.Terakhir kali dia bertemu Noah saat ditonjok oleh Davanka di Malaysia sebelum mereka pulang ke Indonesia.âBaik ⌠iya nih, sebentar lagi melahirkan.â Zevanya mengusap perutnya.âKamu berdua aja? Enggak sama Dava?â Itu


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Mga Ratings
RebyuMore