MasukGaji Zevanya Camila sebagai seorang pegawai kelab malam nyatanya tidak mencukupi untuk membiayai pengobatan ibunya. Dia terpaksa mengambil keputusan berat, yaitu dengan menjual keperawanannya. Namun, kegamangan dirasakan Anya ketika dia melihat seorang pria tualah yang akan dia layani. Dia pun nekat kabur, dan bertemu dengan Davanka Abisheva Gunadhya yang menolongnya. Sayangnya, ada harga yang harus Anya bayar untuk pertolongan yang diberikan Davanka. Apakah itu? Dan apakah Anya sanggup membayarnya?
Lihat lebih banyakMatahari terbenam di atas horizon, memancarkan warna keemasan yang indah di langit Hawai. Di tepi pantai yang tenang, Davanka dan Zevanya berjalan beriringan, tangan mereka saling menggenggam erat. Di depan mereka, Aksara dan Ashera sedang bermain dengan gembira di pasir, membangun istana pasir dan tertawa riang. Davanka tersenyum menatap ke arah Aksara dan Ashera, sambil mengeratkan genggaman tangannya. âBy, lihat betapa bahagianya mereka. Abang rasa mereka enggak akan pernah melupakan liburan ini.â Zevanya mengangguk, matanya menatap putra dan putrinya penuh cinta. âLiburan ini memang sempurna. Terima kasih karena telah memilih tempat yang indah ini, Abang.â Davanka tersenyum, menatap laut dengan mata penuh kebahagiaan. âKakek selalu mengatakan kalau tempat ini adalah tempat terbaik untuk menciptakan kenangan keluarga. Abang ingin anak-anak kita tumbuh dengan kenangan indah seperti ini.â Aksara berlari mendekat, ekspresi di wajahnya penuh semangat. âAyah, B
Di sebuah rumah sakit bersalin yang mewah nyaman, Davanka berjalan mondar-mandir di koridor seperti ayam jago yang kebingungan. Wajahnya pucat, tangan kanan memegang ponsel, tangan kiri mengacung gelas kopi yang isinya sudah habis sejak sejam lalu.Dari dalam kamar bersalin, suara Zevanya terdengar berteriak-teriak, membuat Davanka berkeringat lebih banyak daripada saat jogging pagi.âAbang! Kalau kamu cuma mau mondar-mandir, sini gantikan Anya dulu!â teriak Zevanya dengan nada bercampur emosi dan kesakitan.âGantikan? Gantikan apa, Anya? Abang enggak mungkin melahirkan untuk kamu, sayang âŚ,â jawab Davanka gugup sambil setengah membuka pintu.Zevanya menatapnya dengan mata menyala. âYa kalau enggak bisa bantu melahirkan, minimal kasih Anya semangat! Abang itu suami atau figuran sih di sini?ââSemangat, sayang! Kamu pasti bisa!â seru Davanka, setengah meloncat sambil mengepalkan tangan seperti cheerleader yang salah tempat.âAbang, serius! Duduk di sini, pegang tangan Anya! Kalau Anya
Jam sudah menunjukkan pukul dua pagi ketika suara aneh terdengar dari kamar tidur. Suara itu datang dari sisi tempat tidur, tempat di mana Zevanya biasa tertidur dengan tenang. Namun malam ini, situasinya berbeda.Zevanya tiba-tiba terbangun, matanya yang bulat terbelalak seperti baru tersadar dari mimpi buruk. Dengan suara terengah-engah, dia menoleh ke arah suaminya, Davanka, yang sedang terbaring di sampingnya."Abang ...." Zevanya bergumam dengan wajah setengah bingung. "Anya ngidam."Davanka mengerutkan kening, mengira istrinya hanya terjaga karena mimpi. "Ngidam? Anya, ini âkan sudah hampir jam tiga pagi, kamu yakin?"Zevanya duduk, memegangi perutnya yang mulai membesar, matanya tetap terjaga. "Iya, Anya ngidam banget, Abang ⌠Anya pengen makan ... nasi goreng dengan buah durian!" Suaranya penuh dengan keyakinan, seolah itu adalah hal yang paling masuk akal di dunia ini.Davanka terdiam sejenak, mencoba mencerna permintaan itu. "Nasi goreng ... durian
âAksaraaaa âŚ.â Bunda Arshavina memanggil dengan suara mendayu dari arah pintu utama. Aksara langsung berlarian menuju ke sana tanpa menggunakan celana. âEh ⌠ke mana celananya?â Ayah Kama bertanya. âAbis pipis.â Aksara memberitahu sembari menepuk bokong. âIiiih belum sunat.â Bunda menunjuk bagian bawah Aksara yang langsung ditutupi bocah laki-laki itu sembari cekikikan. âAksaraaaa, pakai celana dulu!â Zevanya berseru dari dalam rumah. âEh ⌠Ayah ⌠Bunda.â Zevanya baru menyadari kedatangan kedua mertuanya dan langsung menyalami mereka. âAbang pakai celana dulu ya,â kata Zevanya tapi Aksara malah lari ke dalam gendongan sang kakek. âAduuuuh, cucu kakek sudah berat.â âKakek! Abang enggak mau pakai celana.â Aksara meronta-ronta dalam gendongan sang kakek saat bundanya berusaha memakaikan celana. âAyo pakai dulu celananya atau nanti Nenek sunat? Mana gunting? Mana gunting?â Bunda Arshavina pura-pura mencari gunting. âEnggak mau!â Aksara menjerit sambil terta












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak