Home / Romansa / Dosenku, Sayangku / Bab 5 | Logika yang Patah

Share

Bab 5 | Logika yang Patah

Author: Ziva
last update publish date: 2026-07-06 12:01:40

Pukul 07.30 pagi. Koridor lantai dua Fakultas Teknik Arsitektur sudah ramai oleh mahasiswa tingkat akhir yang mengantre giliran mengumpulkan berkas seleksi Berlin.

Ketegangan di dekat papan pengumuman digital terasa sedikit memanas sejak sebuah unggahan anonim muncul di grup angkatan subuh tadi.

Isinya hanya foto Liora yang sedang berdiri di depan meja Mahen sore lalu, namun narasi di bawahnya sengaja memicu gunjingan tentang keaslian nilai B+ yang didapat Liora dalam waktu semalam.

Nadia dan Naufal berdiri di dekat mading, sengaja mengobrol agak keras untuk mengalihkan perhatian orang-orang yang mulai berbisik-bisik.

"Minggir sebentar, Nadia, Naufal. Jangan menghalangi jalan, aku mau lewat," cetus Kania Maharani. Rival abadi Liora sejak semester satu itu membawa map portofolio tebal bersampul kulit imitasi. Sebagai mahasiswa dengan IPK tertinggi di kelas, Kania merasa posisinya di atas angin pagi ini.

"Oh, jadi ini alasan kenapa nilai maket Liora bisa melesat jadi B+ dalam semalam?" Kania tersenyum sinis saat melewati mereka.

"Pantas saja berkas yang aku kerjakan berminggu-minggu harus tertahan di ruang administrasi. Ternyata ada mahasiswa yang punya jalur khusus di ruang kerja dosen penguji."

"Jaga bicaramu ya, Kania!" Nadia maju selangkah.

"Kamu tidak tahu apa-apa soal bagaimana Liora begadang semalaman untuk memperbaiki struktur maket itu!"

"Perjuangan memperbaiki maket atau hal lain?" sahut Kania memprovokasi.

"Eh ayam-ayam copot, copot!" Tiba-tiba sebuah pekikan nyaring memotong perdebatan panas itu.

Bu Indri, dosen senior mata kuliah Estetika Bentuk, berjalan terburu-buru menenteng tumpukan lembar kuis sambil hampir menabrak Naufal. Karena terkejut melihat kerumunan mahasiswa, latah Bu Indri langsung keluar.

"Aduh gusti, copot jantung copot! Eh, kalian ini pagi-pagi sudah berkumpul seperti antrean sembako! Bubar-bubar! Eh ayam bertelur bubar!" seru Bu Indri sambil membetulkan posisi sanggulnya yang agak miring akibat terlonjak kaget.

Nadia buru-buru mengambil alih situasi untuk meredam Kania.

"Ini loh, Bu Indri. Kania dan anak-anak lain malah membuat rumor tidak benar di depan ruang prodi."

"Kania! Kamu ini mahasiswa teladan kok malah sibuk mengurusi urusan orang lain! Eh, gosip-gosip digosok makin sip, eh bukan! Maksud saya, jangan menyebar berita yang belum jelas verifikasinya! Nanti nilai kamu saya kurangi baru tahu rasa!" Bu Indri menutup mulutnya sendiri karena latahnya yang hampir ke mana-mana.

Mahasiswa di koridor langsung berusaha menahan tawa melihat dosen senior itu berwajah memerah. Kania mendengus kesal, melirik jam tangan mahalnya.

"Saya tidak bergosip, Bu. Saya hanya mau menyerahkan berkas portofolio ini ke ruang Ketua Program Studi. Kebetulan jam delapan nanti kan ada rapat peninjauan berkas internal untuk Berlin."

"Ih itu anak, sombongnya minta ampun! Eh ampun-ampun copot!" Bu Indri kembali latah saat Naufal mendadak bergerak cepat menangkap tumpukan kertas kuis Bu Indri yang nyaris merosot jatuh.

"Terima kasih, Naufal. Sudah, kalian... eh, Liora mana? Kok belum kelihatan? Bilang ke Liora, kalau ke ruang prodi nanti lewat tangga belakang saja ya. Di depan ruang Bu Saraswati sudah ada ayahnya Aidan!"

Nadia dan Naufal saling berpandangan.

Tepat pukul 07.45, Liora akhirnya tiba di koridor lantai empat lewat tangga darurat belakang.

Suasana di depan Ruang Rapat Senat terasa sangat formal dan dingin. Mahen berdiri tegak di dekat pembatas koridor. Setelan kemeja hitamnya yang rapi berpadu dengan wajahnya yang datar, seolah rumor yang beredar sejak pagi tadi sama sekali tidak mengusik ketenangannya.

Di sampingnya, Clarissa berdiri dengan tangan bersedekap, menatap lurus ke arah pintu ruangan. Di sisi lain lorong, Aidan Dirgantara berdiri mendampingi seorang pria paruh baya bersetelan jas rapi—ayahnya, Pak Dirgantara. Kehadiran beliau di kampus pagi ini jelas merupakan bentuk tekanan birokrasi halus agar yayasan ikut memegang kendali atas siapa saja mahasiswa yang berhak lolos ke Jerman.

Kania berdiri tidak jauh di belakang mereka, memeluk dokumennya dengan senyum miring yang tertahan.

"Selamat pagi, Pak Mahen," sapa Aidan dengan nada yang sangat santun namun penuh sindiran.

"Bagaimana tidur Anda semalam? Kuharap Anda sudah menyiapkan argumen yang bagus untuk rapat peninjauan nilai jam delapan ini."

Mahen tidak membalas sapaan provokatif itu. Pandangannya yang sedingin es tetap lurus ke depan. Bertindak terlalu agresif atau melabrak Aidan karena chat itu secara emosional di depan umum justru akan membenarkan narasi fitnah tentang adanya kedekatan khusus dengan Liora yang tidak profesional.

"Selamat pagi, Pak Dirgantara," ujar Mahen.

"Saya tidak menyangka pihak yayasan mengalokasikan waktu untuk menghadiri rapat pleno peninjauan draf mahasiswa sepagi ini."

"Saya hanya ingin memastikan bahwa akreditasi internasional prodi ini tetap terjaga, Mahen," sahut Pak Dirgantara dengan suara berat yang berwibawa.

"Unggahan di grup mahasiswa pagi ini menunjukkan adanya inkonsistensi dalam penilaian maket. Bagaimana mungkin seorang mahasiswa yang hampir tidak lulus, tiba-kira mendapat nilai B+ hanya dalam waktu dua puluh empat jam? Kita tidak bisa membiarkan ada celah subjektivitas dalam seleksi Berlin."

Liora melangkah mendekat dengan jemari yang mencengkeram erat tali ranselnya. Nadia dan Naufal langsung mengambil posisi di sisi kiri Liora, membentuk barisan pelindung yang siap pasang badan.

"Nilai itu murni hasil kerja keras Liora, Pak!" seru Nadia, mencoba membela sahabatnya dengan nada sesopan mungkin namun tegas.

"Liora merevisi strukturnya dari nol."

"Opini antarmahasiswa tidak bisa dijadikan parameter validasi di dalam ruang rapat prodi, Nadia," timpal Kania dari barisannya dengan nada datar yang dingin.

"Biar komite akademik yang memeriksa ulang keasliannya." Sebelum suasana semakin canggung, pintu Ruang Rapat terbuka.

Bu Saraswati melangkah keluar dengan raut wajah yang luar biasa formal. "Mahen, Clarissa, Pak Dirgantara... silakan masuk. Rapat peninjauan berkas akan segera dimulai."

"Tunggu sebentar, Bu Saraswati," Mahen menyela. Pria itu membuka tabung dokumen arsitektur yang dibawanya, lalu mengeluarkan selembar cetakan kertas berisi kode data digital.

Mahen menatap langsung ke arah Aidan.

"Sebelum kita membahas masalah subjektivitas nilai, saya rasa komite akademik perlu melihat log riwayat pengumpulan berkas digital mahasiswa. Sistem server fakultas mencatat bahwa berkas revisi maket milik Liora diunggah secara bertahap sejak pukul delapan malam hingga pukul empat pagi. Setiap perubahan elemen struktur terekam dengan jelas berdasarkan nomor identitas mahasiswanya."

Mahen menjeda kalimatnya, lalu menyerahkan lembar cetakan itu kepada Bu Saraswati.

"Sebaliknya, foto yang beredar di grup angkatan pagi ini memiliki metadata digital yang menunjukkan bahwa gambar tersebut diambil dari luar celah pintu menggunakan perangkat yang terhubung dengan akun Wi-Fi khusus milik Saudara Aidan Dirgantara. Mengambil gambar di area privat dosen tanpa izin dan menggunakannya untuk mempertanyakan integritas akademik adalah pelanggaran kode etik mahasiswa tingkat berat yang bisa berujung pada skorsing."

Wajah Aidan seketika berubah tegang, sementara Pak Dirgantara langsung menoleh ke arah putranya dengan tatapan mata yang mendadak tajam.

Aidan tidak menduga bahwa Mahen akan melacak asal-usul foto tersebut sampai ke akar sistem digital kampus secepat ini.

Namun, sebelum Bu Saraswati sempat membaca dokumen dari Mahen, Clarissa yang sejak tadi diam tiba-tiba melangkah maju ke depan ibunya.

Wajah perempuan itu tampak diliputi kecemasan yang mendalam akan posisi riset mereka yang terancam tertunda jika masalah ini melebar menjadi konflik internal prodi.

"Ibu, semua perdebatan tentang foto itu tidak akan mengubah fakta bahwa nama baik prodi ini sedang dipertanyakan di kalangan mahasiswa hari ini!" Clarissa berkata dengan suara yang sedikit meninggi.

"Berlin membutuhkan kandidat yang stabil secara akademis dan bebas dari segala bentuk gunjingan. Jika berkas Liora terus diperdebatkan, posisi kuota universitas kita bisa ditinjau ulang oleh pihak Jerman!"

Clarissa dengan gerakan tegas mengambil map portofolio dari tangan Kania dan menyerahkannya kepada Bu Saraswati.

"Ini portofolio Kania Maharani. Nilainya konsisten sejak semester satu dan berkasnya sudah diverifikasi penuh oleh tim saya. Demi kelancaran administrasi keberangkatan kita bulan depan, saya mengusulkan agar nama Liora Aghata dicoret dari daftar kandidat internal sekarang juga dan digantikan oleh Kania!"

"Clarissa, jaga batasan profesionalmu sebagai sesama dosen penguji," Mahen menggeram rendah.

"Saya justru sedang menjaga masa depan riset kita, Mahen! Kamu mengorbankan segalanya hanya untuk membela satu nilai mahasiswa!" Clarissa balas menekan, napasnya memburu.

Jam dinding besar di koridor lantai empat berdentang keras, Pukul 08.00 pagi.

Bu Saraswati mengetukkan jemarinya di atas kayu meja luar, lalu menatap Mahen dan Liora dengan pandangan yang teramat dingin dan mutlak.

"Rapat pleno ini ditunda," ujar Bu Saraswati dengan nada suara yang tidak menyisakan ruang untuk perdebatan.

"Namun, demi menjaga netralitas selama proses verifikasi log digital dan pemeriksaan ulang maket... berkas pendaftaran Berlin atas nama Liora Aghata secara resmi ditangguhkan, dan status mahasiswanya di kelas desain draf dinyatakan nonaktif sementara sampai batas waktu yang tidak ditentukan."

"Bu! Ini tidak adil! Verifikasinya kan sudah jelas dari Pak Mahen!" Naufal berteriak protes dari balik punggung Liora.

Kata-kata Bu Saraswati bagai hantaman telak yang merubuhkan seluruh sisa pertahanan Liora. Dunianya mendadak berputar hebat. Tubuh kecilnya lunglai sepenuhnya, merosot jatuh ke atas lantai granit dingin koridor.

"LIORA!!!" Nadia menjerit panik, refleks menjatuhkan diri untuk menahan kepala sahabatnya agar tidak terbentur lantai. Liora pingsan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dosenku, Sayangku    Bab 15 | Pelukan Setelah Badai

    "Duduk kamu," perintah Papanya dingin, bahkan tanpa memandang wajah Liora yang pucat. Di atas meja kaca, sebuah tablet menyala menampilkan video Liora dan Pak Mahen tentang skandal yang sempat viral beberapa waktu lalu. "Mama tidak mau tahu ya, Liora. Hapus video itu sekarang juga atau suruh kampusmu bungkam!" cerocos Mamanya tanpa menanyakan kabar Liora sedikit pun. "Kamu tahu kan Papa baru saja dicalonkan jadi Direktur? Kalau nama baik keluarga kita hancur karena skandal murahan ini, karier Papa bisa habis!" Liora mengepalkan tangan kuat-kuat di sisi badannya. Rasa lelah setelah seharian menghadapi gunjingan di kampus langsung menguap, digantikan oleh rasa sesak yang menghimpit dadanya. Tidak ada pertanyaan "Kamu tidak apa-apa?" atau "Apakah berita itu benar?". Bagi kedua orang tuanya, Liora hanyalah sebuah aset yang tidak boleh mencoreng nama baik mereka. "Berita itu fitnah, Pa, Ma" suara Liora bergetar, menahan tangis yang mendesak keluar. "Papa tidak peduli itu fi

  • Dosenku, Sayangku    Bab 14 | Jeritan Hati Di Balik Senyuman

    Liora mendongak, menatap Mahen dengan binar mata berkaca-kaca yang sudah ia latih di depan cermin kosannya selama berhari-hari. "Tapi saya takut, Pak... Bagaimana kalau Clarissa nekat ngelakuin hal lain ke Bapak?" Liora memberanikan diri mengulurkan tangannya, meremas pelan lengan jas Mahen. "Saya... saya gak bisa lihat Bapak kenapa-napa karena belain saya." Mahen menatap tangan Liora di lengannya. Alih-alih menghindar, Mahen justru membalikkan telapak tangan besarnya, menggenggam jemari Liora dengan hangat untuk menenangkannya. Tindakan spontan Mahen itu membuat Liora harus sekuat tenaga menahan diri agar tidak berteriak histeris karena kesenangan. "Dia genggam tangan gue! Lu denger gak Clarissa? Cowok yang lu kejar-kejar sekarang lagi genggam tangan gue!" teriak Liora dalam hatinya yang dipenuhi obsesi. Mahen menghela napas panjang, menatap Liora dengan tatapan yang begitu dalam dan intens. Kehangatan dari genggaman tangannya perlahan menjalar, membuat detak jantung

  • Dosenku, Sayangku    Bab 13 | Riuh Penangkapan dan Jeratan Manis si Cegil

    Pintu ruang Dekan digedor keras dua kali sebelum akhirnya terbuka lebar. Tiga pria berpakaian batik dengan tanda pengenal KPK di leher mereka masuk, didampingi oleh dua personel kepolisian. "Selamat siang. Ibu Saraswati? Kami dari Komisi Pemberantasan Korupsi membawa surat perintah penggeledahan dan penahanan terkait dugaan tindak pidana pencucian uang dana hibah riset kementerian," ujar petugas di depan dengan tegas. Bu Saraswati ambruk di kursinya. Surat investasi yang sedari tadi dipegangnya terlepas, meluncur jatuh ke lantai. Di sudut ruangan, Clarissa menjerit histeris, mencoba menghalangi petugas yang mulai memasang borgol di pergelangan tangan ibunya. "Ini salah paham! Pak Mahen yang menjebak ibu saya! Tangkap dia juga! Dia ada skandal dengan salah satu mahasiswi!" teriak Clarissa frustrasi, menunjuk-nunjuk Mahen dengan telunjuk yang gemetar. Salah satu petugas menatap Clarissa dingin. "Urusan kode etik kampus bukan wewenang kami, Saudari. Tetapi dokumen aliran da

  • Dosenku, Sayangku    Bab 12 | Badai yang Mengintai

    Dua hari setelah insiden laboratorium, Liora terpaksa mengambil izin sakit. Mahen memanfaatkan waktu tersebut untuk bergerak cepat di balik layar. Di dalam ruang kerjanya yang terkunci, ia menatap surat rekomendasi pembatalan beasiswa Liora yang kini sudah diremasnya hingga lecek. Mahen tahu, Bu Saraswati tidak akan tinggal diam. Namun, Mahen tidak menyadari bahwa ancaman terbesar justru datang dari arah yang tidak terduga. Senin pagi yang cerah berubah menjadi neraka bagi Liora saat ia baru saja menginjakkan kaki di koridor fakultas. Bisik-bisik miring dan tatapan sinis menyambutnya dari setiap sudut. Nadia dan Naufal tiba-tiba berlari menghampirinya dengan wajah panik. Nadia langsung menyodorkan ponselnya. "Liora, gawat! Lihat ini! ada fotomu lagi yang sudah menyebar di grup angkatan" bisik Nadia dengan suara bergetar. Di layar ponsel, terpampang unggahan anonim di forum gosip utama kampus yang telah disukai ribuan mahasiswa. Foto itu sangat jernih: Mahen yang sedang m

  • Dosenku, Sayangku    Bab 11 | Perjanjian Hati

    Aroma cairan antiseptik menyerbuki ruang medis yang sunyi. Setelah dokter kampus selesai menjahit luka robek di lengan kanan Liora dan memberikannya obat penenang, gadis itu akhirnya tertidur pulas dengan wajah yang masih pucat. Mahen duduk di kursi kayu sebelah ranjang, matanya tidak lepas dari balutan perban putih di lengan Liora. Di dalam saku mantel dosennya, terselip selembar surat rekomendasi pembatalan beasiswa yang terpaksa ia cetak semalam demi meredam ancaman Bu Saraswati. Pikirannya carut-marut, didera rasa bersalah yang teramat dalam karena gadis di depannya ini baru saja mempertaruhkan nyawa demi melindunginya. BRAKK!!! Pintu ruang medis mendadak didorong terbuka dengan kasar. Nadia berlari masuk dengan wajah sembab penuh air mata, disusul oleh Naufal yang napasnya memburu lantaran mereka habis berlari sekencang mungkin dari gedung seberang begitu mendengar kabar ledakan di laboratorium kimia. "Liora!" tangis Nadia pecah saat melihat sahabatnya terbaring lemah.

  • Dosenku, Sayangku    Bab 10 | Runtuhnya Tembok Es

    Mahen menatap nanar layar ponselnya. Angka 19.31 berkedip kaku, seolah sedang menghitung mundur sisa-sisa napas dari perusahaan manufaktur yang telah dibangun ayahnya dengan darah dan keringat selama puluhan tahun. Bramantyo yang melihat putranya hanya diam membeku, kembali membentak dengan suaranya yang serak. "Tunggu apa lagi, Mahen?! Pergi sekarang atau kamu akan melihat Ayah mati serangan jantung malam ini juga karena ulahmu!"Mahen memejamkan mata sesaat. "Saya pergi, Yah," ucap Mahen rendah. Tanpa menunggu balasan dari ayahnya, Mahen langsung berbalik dan melangkah lebar keluar rumah. Tepat pukul 19.55, mobil Mahen berhenti di depan gerbang megah kediaman keluarga Bu Saraswati. Begitu pintu depan dibuka oleh pelayan, Mahen langsung diarahkan menuju ruang tamu utama. Di sana, Bu Saraswati sudah duduk dengan anggun di kursi sofa tunggal, sebuah pena mahal bermata emas sudah siap di jemarinya, tepat di atas tumpukan dokumen bermeterai yang bisa menghancurkan keluarga Adijaya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status