Suamiku Monster Berwajah Malaikat
Dark RomanceDewasaWanita KuatManipulatifObsesifCantikTawananCinta PalsuMelawan Takdir
Semua orang mengenal Adrian sebagai pria sempurna, tampan, kaya, lembut, dan suami idaman yang tak pernah menyakiti siapa pun. Namun, hanya Alya, istrinya, yang mengetahui bahwa di balik senyum hangat itu tersembunyi sosok manipulatif dan kejam yang mampu menghancurkan hidup orang lain tanpa meninggalkan jejak. Pernikahan mereka berubah menjadi penjara, sementara setiap usaha Alya untuk melarikan diri selalu digagalkan. Saat rahasia kelam masa lalu Adrian mulai terungkap, Alya sadar dirinya bukan korban pertama. Kini ia harus memilih bertahan di sisi monster berwajah malaikat atau mempertaruhkan nyawanya demi mengungkap kebenaran sebelum semuanya terlambat.
読む
Chapter: Bab 7: Masa Lalu Sang Monster"Sayang," sapa Adrian lembut. "Kau membuatku khawatir," lanjut Adrian dengan senyum tipis. Alya mengepalkan kedua tangannya sambil menatap pria itu penuh amarah. "Kamu memasang orang untuk mengikutiku?" tanya Alya tajam. Adrian menggeleng pelan. "Aku tidak perlu melakukan itu," jawab Adrian tenang. "Lalu bagaimana kamu tahu aku ada di sini?" desak Alya. Adrian melirik gelang pelacak yang melingkar di pergelangan kaki Alya. "Kau sendiri yang memberitahuku," jawab Adrian datar. Wajah Alya langsung memucat. Baru saat itu ia teringat bahwa gelang itu bukan sekadar alat untuk mencegahnya kabur, melainkan juga mengirimkan lokasi dirinya setiap saat. Maya segera melangkah maju dan berdiri di depan Alya. "Biarkan dia pergi, Adrian," pinta Maya tegas. Tatapan Adrian beralih kepadanya. "Aku sudah memperingatkanmu bertahun-tahun lalu agar tidak pernah muncul lagi," ujar Adrian dingin. "Aku tidak takut lagi," balas Maya. "Benarkah?" tanya Adrian sambil menyipitkan mata. Senyum ti
最終更新日: 2026-08-06
Chapter: Bab 6: Korban Pertama yang Masih Hidup"Mulai hari ini... dia juga akan belajar apa akibatnya jika mencoba mengambil sesuatu yang menjadi milikku," ucapan terakhir Adrian terus terngiang di telinganya. Kalimat itu bukan ancaman kosong, Alya sudah melihat sendiri bagaimana Adrian mampu menghancurkan hidup orang lain tanpa mengubah ekspresi wajahnya. Jika Dimas benar-benar dalam bahaya... semuanya terjadi karena dirinya. Keesokan paginya, Adrian kembali menjadi suami yang sempurna, ia menyiapkan sarapan, membawakan bunga mawar putih, bahkan meminta maaf karena Alya terjatuh saat mencoba memanjat tembok. "Aku seharusnya membuat pagar yang lebih aman," ujar Adrian. Kalimat itu membuat Alya menatapnya tidak percaya. "Aku jatuh karena satpammu menarik tangga," kata Alya. "Aku sudah menegur mereka," bales Adrian. "Kamu yang menyuruh mereka," ucap Alya. "Aku hanya ingin melindungimu," jawab Adrian. Jawaban itu membuat Alya kehilangan keinginan untuk berdebat. Bagi Adrian, semua tindakannya selalu benar d
最終更新日: 2026-08-05
Chapter: Bab 5: Tamu yang Mengetahui Kebenaran"Selamat pagi," sapa Adrian. Alya langsung menatapnya. "Kamu memasang alarm?" tanya Alya. "Bukan alarm," jawab Adrian singkat. "Lalu?" Alya bertanya. "Sensor," ucap Adrian lagi. Pria itu berjalan mendekat lalu berjongkok di hadapan Alya. "Kalau kau mencoba merusaknya, aku akan langsung mendapat pemberitahuan," kata Adrian. Alya menarik kakinya menjauh. "Kenapa kamu melakukan semua ini?" tanya Alya. "Agar kau tetap aman," balas Adrian tenang dan santai. "Aman dari siapa?" Alya bertanya. "Dunia," bales Adrian Jawaban itu membuat Alya ingin tertawa sekaligus menangis. Bagaimana mungkin dunia lebih berbahaya daripada pria yang berdiri di hadapannya? Di meja makan, suasana kembali terlihat sempurna, Adrian menuangkan jus jeruk ke gelas Alya. "Makan yang banyak," ucap Adrian lembut. Alya hanya memainkan sendoknya tanpa berniat menyentuh makanan di hadapannya. "Aku tidak lapar," jawab Alya pelan. "Kau harus makan," ucap Adrian dengan nada tegas
最終更新日: 2026-07-09
Chapter: Bab 4: Penjara Bernama Pernikahan"Apa yang kamu lakukan?" tanya Alya dengan suara bergetar. "Agar kita bisa bicara tanpa diganggu," kata Adrian. "Kunci itu... buka," pinta Alya. "Nanti." ucapnya. "Aku ingin keluar," ujar Alya meminta keluar dari ruang tersebut. Adrian menggeleng pelan. "Kamu sedang takut. Kalau sekarang kubuka pintunya, kamu akan lari," kata Adrian. "Aku memang ingin pergi!" seru Alya. Kalimat itu membuat senyum Adrian perlahan memudar. Ia berjalan mendekati salah satu foto Alya yang terpajang di dinding. Jemarinya mengusap bingkai foto itu dengan hati-hati, seperti sedang menyentuh benda paling berharga di dunia. "Kau tahu kapan aku pertama kali melihatmu?" tanya Adrian. Alya tidak menjawab. "Tiga tahun lalu," kata Adrian. Adrian tetap berbicara, seolah sedang mengenang kenangan indah. "Di sebuah toko buku kecil dekat kampus," ucap Adrian lagi. Alya mengernyit. Ia memang sering mengunjungi toko buku itu semasa kuliah. "Hari itu hujan deras. Semua orang sibu
最終更新日: 2026-07-08
Chapter: Bab 3 : Ruangan yang Tidak Boleh Dibuka"Pagi ini cuaca terlihat sangat tidak bersahabat, ya?" tanya Alya. "Memang, tapi tidak ada yang perlu dikhawatirkan, bukan?" jawab Adrian. "Aku hanya merasa sedikit cemas melihat langit semendung ini," kata Alya. "Apakah kecemasanmu itu hanya karena cuaca, Alya?" tanya Adrian. Udara terasa sejuk, tetapi pikirannya sama sekali tidak tenang, nama yang sempat muncul di layar ponsel Adrian terus menghantuinya. 𝘿𝙧. 𝙎𝙖𝙢𝙪𝙚𝙡 – 𝙍𝙪𝙢𝙖𝙝 𝙎𝙖𝙠𝙞𝙩 𝙅𝙞𝙬𝙖 𝘼𝙧𝙪𝙣𝙞𝙠𝙖. Mengapa suaminya berhubungan dengan seorang dokter rumah sakit jiwa? Apakah Adrian memiliki kerabat yang dirawat di sana Atau... Justru Adrian sendiri adalah pasien? Tidak mungkin. Di mata semua orang, Adrian adalah pria yang nyaris sempurna. Ia mengelola perusahaan besar dengan tenang, berbicara penuh wibawa, dan selalu mampu mengendalikan emosinya. Tapi bayangan Adrian yang membanting vas bunga, menghancurkan gelang persahabatan, hingga percakapan telepon misterius beberapa malam lalu membuat A
最終更新日: 2026-07-07
Chapter: Bab 2: Bayangan Dibalik Senyuman"Kalau kau ingin tetap hidup... segeralah tinggalkan suamimu." Pesan dari nomor tak dikenal terus berputar di kepala Alya Siapa yang mengirimnya? Bagaimana orang itu mengenal Adrian? Dan yang paling membuatnya takut, mengapa orang asing itu terdengar begitu yakin bahwa nyawanya berada dalam bahaya? "Alya." Adrian memanggil. Suara Adrian membuyarkan lamunan Alya, membuat Alya menoleh ke arah suaminya. Adrian berdiri beberapa langkah darinya, masih mengenakan setelan jas hitam yang rapi. Wajahnya kembali dihiasi senyum hangat yang begitu akrab di mata semua orang. "Kamu melamun?" Adrian bertanya. "Tidak... hanya sedikit lelah," jawab Alya. Adrian mendekat, lalu mengusap pipi Alya dengan lembut. "Kamu menangis?" tanya Adrian. Alya spontan menggeleng. "Tidak," jawab Alya. "Istriku tidak pandai berbohong," kata Adrian. Nada suaranya lembut, hampir seperti bisikan penuh kasih sayang. Namun setiap kata yang keluar dari bibirnya membuat tengkuk Alya terasa dingi
最終更新日: 2026-07-06