LOGINSemua orang mengenal Adrian sebagai pria sempurna, tampan, kaya, lembut, dan suami idaman yang tak pernah menyakiti siapa pun. Namun, hanya Alya, istrinya, yang mengetahui bahwa di balik senyum hangat itu tersembunyi sosok manipulatif dan kejam yang mampu menghancurkan hidup orang lain tanpa meninggalkan jejak. Pernikahan mereka berubah menjadi penjara, sementara setiap usaha Alya untuk melarikan diri selalu digagalkan. Saat rahasia kelam masa lalu Adrian mulai terungkap, Alya sadar dirinya bukan korban pertama. Kini ia harus memilih bertahan di sisi monster berwajah malaikat atau mempertaruhkan nyawanya demi mengungkap kebenaran sebelum semuanya terlambat.
View More"Selamat ya! Kalian pasangan paling serasi yang pernah kulihat!" seru salah seorang
Lampu kristal memantulkan cahaya hangat, membuat gaun putih yang dikenakan Alya berkilau seperti salju. Senyum mengembang di bibir para tamu, sementara kamera terus menangkap setiap Suara tepuk tangan memenuhi aula hotel. Adrian tersenyum ramah. "Terima kasih. Doakan kami selalu bahagia." Nada suaranya lembut penuh ketulusan. Ia menggenggam tangan Alya dengan hangat, bahkan sesekali membelai punggung tangannya. Dari luar, siapa pun akan iri melihat perhatian yang diberikan pria itu kepada istrinya. Alya ikut tersenyum, senyum yang dipaksakan. Ia sudah terlalu lelah untuk membedakan mana kebahagiaan dan mana sandiwara. Sejak pertama kali mengenal Adrian dua tahun lalu, pria itu selalu tampil sempurna. Tidak pernah terlambat, tidak pernah berkata kasar, murah senyum, penyayang kepada orang tua, bahkan gemar berdonasi ke panti asuhan. Semua orang memujanya, termasuk Alya. Ia jatuh cinta kepada sosok yang diyakininya sebagai pria terbaik di dunia, Tetapi semuanya berubah setelah mereka resmi menikah. Malam pertama yang seharusnya dipenuhi rasa bahagia justru menjadi awal dari mimpi buruk. Pesta akhirnya selesai menjelang tengah malam. Adrian dan Alya meninggalkan hotel mewah tempat pernikahan mereka. Mobil hitam mewah melaju meninggalkan hotel menuju rumah megah milik Adrian yang berada di kawasan elite. Selama perjalanan, Adrian tetap tersenyum. "Capek?" tanyanya. Alya mengangguk pelan. "Sedikit." Pria itu mengusap rambut istrinya dengan lembut. "Kamu pasti lelah berdiri seharian." Kalimatnya terdengar begitu perhatian, tapi entah mengapa, Alya merasa dadanya sesak. Sejak beberapa hari terakhir, ia sering menangkap tatapan Adrian yang sulit dijelaskan. Katapan yang dingin dan kosong. Seolah bukan milik manusia yang sama dengan pria yang kini duduk di sampingnya. Setelah menempuh perjalanan beberapa menit,mobil berhenti di depan sebuah mansion megah berpagar tinggi. Gerbang otomatis terbuka perlahan. Begitu mobil masuk, gerbang kembali tertutup rapat. Entah kenapa, suara gerbang yang mengunci membuat bulu kuduk Alya berdiri. Mereka turun dari mobil dan Puluhan pelayan berbaris memberi hormat. "Selamat datang, Tuan Adrian. Selamat datang, Nyonya." Adrian mengangguk sambil tersenyum. "Terima kasih. Kalian boleh beristirahat." Pelayan-pelayan itu segera pergi. Tak lama kemudian, rumah besar itu menjadi sunyi dan Hanya tersisa Adrian dan Alya. Pria itu masih tersenyum, tetapi ketika pintu utama tertutup. Senyumnya perlahan menghilang begitu saja. Wajahnya berubah datar, tatapannya dingin, dan membuat Alya terdiam. "Mas?" Tak ada jawaban. Adrian melepaskan jasnya, lalu meletakkannya di atas sofa tanpa sepatah kata pun. Keheningan terasa begitu menyesakkan dan Alya mencoba tersenyum. "Ada yang salah?" tanya Alya sedikit pelan. Adrian akhirnya menoleh dengan Tatapannya yang tajam. "Kau tersenyum pada pria itu." Jantung Alya berdegup lebih cepat. "Siapa?" tanya Alya "Pria yang memberimu hadiah tadi," jawab Adrian datar. Alya mencoba mengingat. "Oh... teman kantorku?" Adrian perlahan mendekat dengan langkah yang pelan. "Dia menatapmu terlalu lama." "Itu hanya ucapan selamat," "Tidak!" Adrian menjawab dengan tenang tetapi mematikan. Nada suaranya tetap tenang. Justru terlalu tenang. "Itu bukan sekadar ucapan selamat," lanjut Adrian lagi. Alya mulai gugup. "Mas... kamu salah paham." Brak! Tiba-tiba Adrian membanting vas bunga ke lantai dan berbuat nya pecah berkeping-keping. Alya tersentak hingga mundur beberapa langkah, Tapi yang membuatnya semakin takut bukanlah vas yang pecah, Melainkan ekspresi Adrian. Pria itu masih tampak tenang. Tidak marah. Tidak berteriak. Bahkan napasnya tetap stabil. "Aku tidak suka dibohongi," ucap Adrian lembut. Air mata Alya mulai menggenang. "Aku benar-benar tidak melakukan apa pun," jawab Alya dengan suara bergetar. Adrian menatapnya selama beberapa detik, lalu tersenyum sama senyuman nya yang ada di pesta pernikahan nya tadi. "Aku bercanda." Adrian tertawa kecil. "Kamu lucu sekali kalau takut," kata Adrian dengan suara dibuat sepenuhnya dipenuhi humor. Alya membeku. Apa... semua ini hanya candaan? Adrian memeluknya. "Maaf ya." Tangannya mengusap punggung Alya dengan lembut. "Aku hanya ingin melihat reaksimu," ucap Adrian sangat lembut. Alya menghela napas. Mungkin benar, Adrian memang hanya bercanda. Ia berusaha menghapus rasa takut yang mulai tumbuh di dalam hatinya, tetapi jauh di lubuk hatinya, sesuatu terasa tidak benar. Hari-hari berikutnya berjalan aneh, Adrian tetap menjadi suami sempurna di depan semua orang. Ia mengantar Alya bekerja, menjemputnya setiap sore, membawakan bunga, memasakkan sarapan, Buat semua orang langsung iri kepada Alya. "Aku mau punya suami kayak Mas Adrian," ucap salah satu teman kantor Alya. "Kamu beruntung banget," ucapnya lagi. "Aku belum pernah lihat laki-laki sebaik dia." Alya hanya tersenyum, menanggapi ucapan teman-teman satu kantor nya. *** Suatu malam Alya menerima pesan dari teman kuliahnya. "Besok kita reuni, ya." Alya tersenyum kecil, sudah lama ia tidak bertemu sahabat-sahabatnya. Saat sedang membalas pesan, Adrian datang membawa segelas susu hangat. "Buat siapa kamu senyum?" "Teman kuliah." "Boleh lihat?" Tanpa menunggu jawaban dari Alya, Adrian mengambil ponsel Alya, dan membaca seluruh isi percakapan, Satu per satu. Alya merasa tidak nyaman. "Itu privasiku!" seru Alya. Adrian masih tersenyum. "Dalam rumah tangga tidak ada privasi," jawab Adrian. "Aku cuma ngobrol biasa," lanjut Alya lagi. "Aku tahu," ucap Adrian sambil tersenyum. Ia mengembalikan ponsel itu. "Besok kamu tidak usah datang,"ucap nya lagi. "Lho?" Alya kaget dengan larangan Adrian tersebut. "Aku tidak suka." "Tapi mereka sahabatku." "Aku bilang tidak." ucap Adrian dengan suara tetap lembut, tetapi mengandung perintah yang tak bisa dibantah. Alya mencoba tersenyum. "Aku cuma dua jam." Adrian memegang dagunya perlahan, tatapan mata mereka bertemu. "Alya." "Iya?" "Jangan pernah membuatku mengulang perkataanku." Untuk pertama kalinya, Alya benar-benar merasa takut kepada suaminya sendiri. *** Keesokan paginya Adrian kembali menjadi pria sempurna, ia mencium kening Alya sebelum berangkat kerja. "Jangan lupa sarapan," ucap Adrian. "Iya," jawab Alya. "Aku sayang kamu," ucap Adrian terdengar tulus Namun setelah pintu tertutup, Alya langsung terduduk di sofa, dengan tangan bergemetar. Alya merasa hidup bersama dua orang yang berbeda, yang satu adalah malaikat dan yang satu nya monster. *** Sore harinya bel rumah berbunyi. Seorang kurir datang membawa paket kecil. "Untuk Nyonya Alya," ucap kurir tersebut. Alya menandatangani penerimaan lalu membuka paket itu, isinya sebuah gelang persahabatan dari teman kuliahnya dan secarik kartu. "Kami merindukanmu. Semoga lain kali kamu bisa datang." Isi dalam kartu tersebut. Alya tersenyum haru, tetapi senyuman nya langsung hilang saat mendengar suara langkah kaki terdengar dari belakang. Ternyata Adrian sudah pulang dari kantor dan mata nya langsung memandang kearah gelang persahabatan itu. "Siapa yang mengirim?" tanya Adrian. "Teman,"jawab Alya. "Oh," kata Adrian lagi dengan nada biasa tapi terdengar seram. Adrian mengambil gelang yang dipegang oleh Alya, membuat Alya langsung berusaha meraihnya kembali. "Itu punyaku!" seru Alya. Adrian tersenyum, Kemudian, lalu tanpa rasa kasihan dia mematahkan gelang itu menjadi dua hingga manik-manik berhamburan ke lantai. Alya membelalakkan matanya dengan sangat lebar. "Kenapa kamu lakukan itu?!" tanya Alya dengan suara sedikit berteriak. "Aku tidak suka barang pemberian pria lain!" jawab Adrian ketus. "Itu hadiah dari teman-teman. Bahkan ada perempuan juga," jawab Alya. "Tetap saja_" "Mas!" seru Alya setelah memotong ucapan Adrian. Adrian menatap Alya dengan tatapan mata datar tanpa emosi sama sekali. "Lain kali, buang sebelum aku yang membuangnya." Setelah berkata demikian, ia berjalan ke lantai atas seolah tidak terjadi apa-apa, sedangkan Alya berlutut memungut manik-manik yang berserakan. Air mata Alya mulai luras seketika, ia tidak mengerti mengapa Adrian melakukan hal itu. Di mana pria lembut yang dulu dikenalnya? Ke mana perginya Adrian yang selalu tersenyum hangat? Atau... Apakah pria itu memang tidak pernah ada? Saat Alya masih larut dalam tangisnya, layar ponselnya menyala. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal. "Kalau kau ingin tetap hidup... segeralah tinggalkan suamimu." Raut wajah Alya seketika memucat dan Jantungnya berdegup keras. Alya perlahan membuka pesan dari nomor anonim itu dengan tangan bergetar. "Siapa kamu?" Tak ada balasan setelah Alya mengirim kan pesan itu. Beberapa detik kemudian, nomor itu sudah tidak bisa dihubungi. Di lantai atas, terdengar suara pintu kamar terbuka perlahan. Langkah kaki Adrian bergema menuruni tangga. Alya buru-buru menghapus pesan itu dan menggenggam ponselnya erat. Entah mengapa, untuk pertama kalinya sejak menikah, ia merasa bahwa pria yang sedang berjalan menghampirinya bukan sekadar suami yang posesif. Melainkan seseorang yang menyimpan rahasia besar, rahasia yang mungkin akan merenggut nyawanya jika ia berusaha mengungkapnya, dan tanpa disadari Alya, dari balik senyum lembut yang kembali menghiasi wajah Adrian, sepasang mata dingin terus mengawasinya seolah mengetahui setiap ketakutan yang mulai tumbuh di dalam hati sang istri.“Jadi semua ini berawal dariku?” tanya Adrian sambil menatap sistem yang menampilkan identitas dirinya dari kehidupan pertama. “Benar,” jawab Sang Penghapus. “Kau menciptakan sistem itu untuk memastikan tidak ada seorang pun yang dapat menentukan jalan hidupmu.” Adrian terdiam. Ia menatap Pedang Sang Penjaga di tangannya, lalu memandang Aryan yang masih berjuang mempertahankan kesadarannya dari Penguasa Ketiga. “Ayah, apakah kau mengetahui semua ini sejak awal?” tanya Adrian. “Tidak semuanya,” jawab Aryan dengan suara berat. “Aku hanya mengetahui bahwa kau meminta sistem itu disembunyikan sampai kau menemukan kembali dirimu sendiri.” Adrian mengepalkan tangan. “Berarti aku memang sengaja menghapus ingatanku,” ujar Adrian. “Benar,” jawab Sang Penghapus. “Kau meminta kepadaku untuk menghapus seluruh kehidupan pertamamu.” Adrian memejamkan mata. Potongan-potongan ingatan berputar di dalam pikirannya. Dirinya sebagai Penguasa Pertama. Dunia purba. Penguasa Kelima yang pernah
“Siapa pencipta Kehendak Bebasku?” tanya Adrian sambil menatap Sang Penghapus. Sang Penghapus terdiam cukup lama. “Namanya tidak pernah dicatat dalam sejarah,” jawab Sang Penghapus. Adrian menggenggam Pedang Sang Penjaga. “Kalau begitu, bagaimana kau bisa mengenalnya?” tanya Adrian. “Karena aku pernah berdiri di hadapannya,” jawab Sang Penghapus. Adrian menatapnya tajam. “Dan apa yang dia inginkan dariku?” tanya Adrian. Sang Penghapus menarik napas panjang. “Dia ingin melihat apakah kau mampu memilih tanpa dipengaruhi takdir,” jawabnya. Adrian terdiam. “Jadi semua ini adalah ujian?” tanya Adrian. “Tidak sepenuhnya,” jawab Sang Penghapus. “Kehidupanmu memang memiliki rancangan, tetapi keputusanmu selalu berada di tanganmu.” Adrian menatap tangannya sendiri. “Kalau begitu, siapa yang menciptakan sistem di dalam tubuhku?” tanya Adrian. Sang Penghapus tidak menjawab. Penguasa Ketiga yang masih menguasai sebagian tubuh Aryan akhirnya berbicara. “Bukan sistem yang menciptak
“Jadi kau memang pernah mencoba membunuhku?” tanya Adrian sambil menatap bayangan masa lalunya. Penguasa Ketiga tersenyum dari dalam tubuh Aryan. “Tidak sesederhana itu,” jawab Penguasa Ketiga. Adrian menggenggam Pedang Sang Penjaga. “Kalau begitu, jelaskan,” ujar Adrian. Bayangan di hadapan Adrian semakin jelas. Dirinya yang masih menjadi Penguasa Pertama berdiri di sebuah aula kuno. Di hadapannya, Penguasa Ketiga memegang senjata berwarna hitam yang diarahkan tepat ke dadanya. “Aku memberimu satu kesempatan terakhir,” ujar Penguasa Ketiga dalam ingatan itu. “Aku sudah menentukan pilihanku,” jawab Adrian muda. “Kau akan meninggalkan dunia purba?” tanya Penguasa Ketiga. “Aku akan meninggalkan kalian,” jawab Adrian muda. Adrian menatap adegan tersebut dengan dada berdebar. “Kenapa aku harus pergi?” tanya Adrian sekarang. Penguasa Ketiga menatapnya. “Karena kau menemukan sesuatu yang tidak seharusnya kau temukan,” jawab Penguasa Ketiga. “Apa yang kutemukan?” tanya Adrian.
“Jadi kau yang pertama kali mengajariku menggunakan inti purba?” tanya Adrian sambil menatap mata merah Aryan. “Benar,” jawab Penguasa Ketiga melalui tubuh Aryan. “Dulu kau adalah murid yang paling sulit dikendalikan.” Adrian mengangkat Pedang Sang Penjaga. “Aku tidak pernah menjadi milik siapa pun,” jawab Adrian tegas. Penguasa Ketiga tertawa pelan. “Bahkan setelah kehilangan seluruh ingatan, sifatmu tetap sama,” ujar Penguasa Ketiga. Adrian menyipitkan mata. “Kalau kau guruku, kenapa kau membiarkan aku menjadi manusia?” tanya Adrian. “Karena itu bukan pilihanku,” jawab Penguasa Ketiga. “Kau sendiri yang memaksa dunia purba melepaskanmu.” Adrian terdiam. “Jelaskan,” perintah Adrian. Penguasa Ketiga mengangkat tangan Aryan. “Ketika kau masih menjadi Penguasa Pertama, kau menemukan kebenaran tentang inti purba,” ujar Penguasa Ketiga. “Kau mengetahui bahwa para penguasa menggunakan inti tersebut untuk mempertahankan kehidupan mereka.” Adrian menatap kosong. “Lalu aku menol












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews