Chapter: Bagian 66Lampu-lampu gantung kristal memancarkan cahaya keemasan yang hangat, memantul di atas meja kaca yang tertata rapi dengan peralatan makan perak yang berkilau.Alunan musik klasik ber-tempo lambat bergema halus, melingkupi suasana restoran fine dining yang terletak di lantai atas sebuah hotel bintang lima tersebut.Freya yang mengenakan gaun malam kasual berwarna pekat hanya bisa berdiri membeku sejenak, matanya membola menyapu interior kemewahan di sekelilingnya."Gideon..." panggil Freya pelan saat mereka berdua sudah menduduki kursi masing-masing. "Kamu terlalu berlebihan bawa aku ke sini. Ini restoran mewah banget!"Gideon yang duduk di hadapan Freya terkekeh renyah. Pria itu merapikan kemejanya sedikit, menatap Freya dengan binar mata yang teramat ramah."Berlebihan gimana?" sahut Gideon santai seraya membuka buku menu bersampul kulit tebal."Restoran ini biasa saja kok, Frey. Cuma karena pilihan makanannya enak-enak dan suasananya tenang, makanya aku mau ajak kamu ke sini."Freya
Last Updated: 2026-10-04
Chapter: Bagian 65Pertanyaan dan peringatan keras dari Karin tadi pagi rupanya terus berputar di dalam kepala Freya seperti kaset rusak.Namun, alih-alih terus larut dalam kecemasan soal status hubungannya dengan Nathan, Freya memilih melarikan diri pada kesibukannya.Siang itu, Freya sudah kembali ke studio FK Atelier.Mengenakan setelan blazer kasual berwarna krem yang elegan, ia sibuk memeriksa draf sketsa terbaru di meja kerjanya.Suasana studio melati itu cukup tenang, hanya terdengar suara gesekan pensil di atas kertas dan denting mesin jahit dari ruangan belakang.Tuk... tuk... tuk...Suara langkah kaki sepatu kulit yang mantap dan tegas bergema dari arah pintu masuk.Freya menengadah, mengira itu adalah salah satu klien atau kurir pengirim bahan kain.Namun, begitu pandangannya jatuh pada sosok pria jangkung yang berdiri di ambang pintu, jari-jemari Freya yang memegang pensil seketika membeku.Pria itu mengenakan kemeja putih yang digulung hingga siku, dipadukan dengan celana bahan hitam yang a
Last Updated: 2026-10-04
Chapter: Bagian 64"Gitu, ya?" tanya Freya pura-pura polos, lalu memiringkan kepalanya sedikit seraya menyuap potongan buah dengan ekspresi tanpa dosa.Karin seketika memutar bola matanya malas, lalu menghembuskan napas jengkel melihat kelakuan sahabatnya yang mendadak amnesia.Ia pun memajukan tubuhnya ke meja makan, menopang dagunya dengan kedua tangan seraya menatap Freya dengan pendar mata penuh selidik."Gitu ya, gitu ya! Gak usah sok lugu deh lo!" cerceh Karin gemas."Udah deh, jujur sama gue. Kalian berdua tuh sebenarnya udah mulai 'resmi' sejak kapan, sih? Jangan bilang sejak dia balik dari Jerman kemarin?"Freya kembali membisu. Gerakan tangannya yang hendak menyendok sup ayam mendadak terhenti di udara.Ia pun meletakkan sendoknya kembali ke dalam mangkuk, menghembuskan napas pelan lalu menatap Karin dengan raut wajah yang berubah agak bimbang."Kita... kita gak punya status apa-apa, Rin," aku Freya lirih, suaranya terdengar datar namun menyimpan kebingungan yang mendalam. "Hubungan kita tuh c
Last Updated: 2026-10-03
Chapter: Bagian 63Pagi harinya, sinar matahari hangat menerobos melalu celah gorden kamar, menyiram permukaan tempat tidur yang masih berantakan.Freya yang baru saja mengumpulkan kesadarannya perlahan meraba-raba area kasur di sebelahnya dengan mata terpejam.Jemari lentiknya hanya menyentuh sprei dingin yang kosong tanpa ada kehangatan tubuh Nathan di sana.Freya membuka matanya perlahan. Kosong. Nathan benar-benar sudah tidak ada di sampingnya.Kening Freya berkerut halus.Namun saat pandangannya bergulir ke meja nakas di samping ranjang, matanya menangkap selembar sticky notes berwarna kuning yang tertempel rapi di bawah sebuah gelas berisi air putih.Freya mendudukkan tubuhnya yang lemas, meraih kertas kecil itu lalu membacanya:‘Pagi, Frey. Maaf banget saya harus berangkat subuh-subuh begini karena ada panggilan kerjaan mendadak di luar kota selama beberapa hari. ‘Saya gak tega bangunin kamu yang tertidur lelap banget semalam. Tolong jaga kesehatan kamu baik-baik selama saya gak ada ya. Jangan t
Last Updated: 2026-10-03
Chapter: Bagian 62Mendengar bisikan serak Nathan tepat di daun telinganya, tubuh Freya seketika menyengat panas.Namun, alih-alih pasrah pasif seperti biasanya, sebuah kilat keberanian dan gairah liar mendadak menyala di balik iris mata indah wanita itu.Sensasi demam yang sudah menguap berganti menjadi dorongan dominasi yang mendesak di dalam dadanya.Tanpa peringatan, Freya meletakkan kedua telapak tangannya di dada bidang Nathan.Dengan satu hentakan kuat yang presisi, Freya mendorong tubuh tegap pria itu hingga telentang di atas kasur, lalu dalam selapis detik ia melangkahkan kakinya dan menunggangi pinggul Nathan.Srrsk!Selimut tebal terlempar kasar ke ujung tempat tidur.Freya duduk tegak di atas perut memadat milik Nathan, membiarkan rambut panjangnya yang agak berantakan terurai jatuh memagari wajahnya.Nathan sempat tersentak, membelalakkan matanya terkejut melihat perubahan posisi yang teramat mendadak ini.Pria itu menengadah, menatap Freya dari bawah dengan sebelah alis terangkat dan senyu
Last Updated: 2026-10-02
Chapter: Bagian 61Pukul sebelas malam, kamar tidur utama di apartemen Freya begitu hening dan hangat.Pendar lampu tidur berwarna kuning temaram memantulkan bayangan dua insan yang terbaring berhadapan di atas kasur empuk.Suhu tubuh Freya sudah berangsur turun, menyisakan hawa hangat yang nyaman di balik selimut tebal.Nathan terbaring miring, bertumpu pada sebelah tangannya untuk menopang kepala, sementara tangan yang lain sibuk mengelus pelan helai rambut Freya yang halus.Wajah tegap pria itu tampak rileks, bebas dari ekspresi dingin yang biasa ia pasang di depan khalayak."Frey," panggil Nathan pelan, suara basnya terdengar begitu seksi di tengah keheningan malam.Freya mendongak sedikit, lalu menatap iris mata pekat yang berada hanya beberapa senti di depan wajahnya. "Kenapa, Nath?"Nathan berdiam sejenak, meneliti tiap inci wajah wanita di hadapannya sebelum akhirnya bertanya, "Tiga tahun kemarin, waktu saya masih berkarier di luar negeri, gimana perjuangan kamu ngebangun FK Atelier dari nol?"F
Last Updated: 2026-10-02
Chapter: Bagian 9: Dua Goodie Bag BesarPagi harinya, jam dinding di kamar menunjukkan pukul enam tepat.Bella terbangun lebih dulu, merapikan kemeja putih oversized yang membalut tubuhnya, lalu melangkah pelan menuju dapur."Aku harus menyiapkan sarapan, setidaknya ini yang bisa kubuat sebelum berangkat," gumam Bella pada dirinya sendiri di depan kompor.Jemarinya bergerak lincah mengocok telur dan memotong beberapa lembar roti tawar yang ditemukannya di kulkas.Aroma harum mentega perlahan memenuhi area dapur penthouse yang serba mewah itu.Di tengah kegiatannya membalik telur, Bella sesekali menoleh ke arah lorong kamar Daren."Kenapa pria itu belum juga keluar dari kamarnya, ya?" batin Bella heran seraya mematikan kompor.Namun, dugaan Bella salah besar.Suara denting pintu utama apartemen yang terbuka spontan membuat Bella menoleh kaget.Daren melangkah masuk dari luar, masih mengenakan pakaian olahraga serba hitam dengan peluh tipis di pelipisnya.Tangan kanannya menenteng dua buah goodie bag berukuran cukup besar ber
Last Updated: 2026-08-19
Chapter: Bab 8: Sesuatu yang TerjadiBella menelan ludah, lalu melangkah keluar dari mobil dengan ragu-ragu.Daren langsung menyambar pergelangan tangan Bella dan menuntunnya menuju lift pribadi gedung apartemen tersebut.Dinding kaca lift memantulkan bayangan mereka berdua yang berdiri sangat berdampingan."Dokter, ini tidak ada di dalam draf perjanjian kerja sama kita," protes Bella pelan.Daren menekan tombol lantai paling atas tanpa menoleh. "Ada poin klausul keamanan di sana.""Tapi tinggal satu atap dengan Dokter itu..." Bella menghentikan kalimatnya, bingung mencari kata yang tepat."Itu adalah cara terbaik untuk memastikan kamu tidak melarikan diri atau diseret oleh suamimu lagi," potong Daren.Pintu lift denting terbuka mengarahkan mereka langsung ke dalam penthouse yang sangat luas dan elegan.Aroma kayu cendana dan dominasi warna abu-abu langsung menyambut indra penciuman Bella.Daren melepas jas dokternya dan meletakkannya dengan santai di atas sofa kulit hitam."Kamar tidurmu ada di sebelah kiri," tunjuk Dar
Last Updated: 2026-08-18
Chapter: Bagian 7: Tinggal DengannyaBella segera memundurkan kepalanya, lalu menarik diri dengan napas terengah-engah dari ciuman mendadak itu.'Pria ini benar-benar gila!' keluh Bella dalam hatinya sembari melirik ke arah Daren yang masih melingkarkan tangannya di pinggangnya itu. Jantungnya berdebar keras menahan ketakutan yang membakar dadanya.Ia lalu melirik cemas pada Clara yang masih berdiri kaku dengan mata membelalak lebar."Daren! Kamu sudah gila, hah?!" jerit Nyonya Maharani seraya memukul tepi meja makan kristal itu.Daren tidak melepaskan genggaman tangannya pada jemari Bella yang dingin.Ia justru menatap satu per satu orang di meja makan itu dengan raut wajah yang sepenuhnya tenang."Apa selama ini kalian pernah melihatku bercanda soal pilihanku?" tanya Daren dengan intonasi rendah dan tajam.Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Prof. Subroto maupun Nyonya Maharani.Mereka hanya diam membisu, melemparkan tatapan mematikan yang dipenuhi amarah mendalam kepada Bella.Di sudut meja, Bella dapat melihat
Last Updated: 2026-08-18
Chapter: Bagian 6: Butuh Pembuktian?Aroma parfum mahal dan denting halus gelas kristal menyambut langkah Bella saat ia melewati pintu ganda aula makan kediaman utama keluarga Arkanata.Gaun malam berlengan panjang berwarna biru gelap pilihan tim Daren melekat pas di tubuhnya, menutupi memar di lengan yang mulai memudar.Namun, balutan kemewahan itu tak mampu mengikis rasa canggung yang merayap di dada.Di sampingnya, Daren berjalan dengan postur tegap.Pria itu mengenakan setelan jas hitam kaku.Saat memasuki ruangan, Daren melingkarkan jemarinya di pinggang Bella, sentuhan yang terukur dan dingin, persis seperti yang tertulis dalam pasal sandiwara profesional mereka.Bella sempat tersentak, tetapi memaksakan diri untuk tetap tenang. Wajah Daren di sampingnya tetap datar, menyalurkan tekanan tak kasat mata agar Bella tak merusak peran."Ingat, Bella," bisik Daren sangat pelan, mendekatkan bibirnya ke telinga Bella di tengah keriuhan musik klasik. "Cukup berdiri di sampingku, jawab seperlunya, dan biarkan aku yang mengen
Last Updated: 2026-07-19
Chapter: Bagian 5: Kontrak PerjanjianTiga hari setelah insiden di lorong VIP, kehidupan Bella di Rumah Sakit Arkanata Utama berjalan dalam ritme yang teratur namun penuh tekanan.Di bawah penanganan tim hukum keluarga Arkanata, para penagih utang tidak lagi meneror ponselnya. Namun, bayang-bayang Dimas yang sewaktu-waktu bisa nekat masih membayangi pikirannya.Pagi itu, sebelum jam visite dimulai, Daren memanggil Bella ke ruang kerja privatnya.Tidak ada berkas medis atau tablet data pasien di atas meja mahoni pria itu.Hanya ada dua jilid dokumen tebal bertulisan Perjanjian Kerjasama Khusus yang dijilid rapi dengan sampul hitam.Daren duduk di balik mejanya, menyandarkan punggung dengan gestur yang tenang namun memancarkan dominasi mutlak. Sepasang mata hitamnya menatap Bella yang berdiri di seberang meja."Duduk, Bella," perintah Daren datar.Bella menarik kursi kayu berukir itu dan duduk dengan gerakan canggung. Jemarinya tertaut rapat di pangkuannya. "Ada laporan riset yang salah, Dokter?""Ini bukan tentang riset,"
Last Updated: 2026-07-19
Chapter: Bagian 4: Langkah Tegas DarenSeluruh darah di tubuh Bella seolah mengalir turun ke kaki. Wajahnya yang semula agak berseri pasca-penanganan darurat pasien kini berubah pucat pasi."Siapa pria itu?" tanya Daren datar."Dokter... saya mohon maaf. Saya akan menyelesaikannya di luar," bisik Bella panik.Tanpa menunggu jawaban Daren, Bella setengah berlari keluar dari kamar 402 menuju lorong utama.Di depan meja perawat, Dimas berdiri dengan pakaian kusam dan mata merah yang liar.Dua orang satpam rumah sakit tampak mencoba menahannya, tapi Dimas terus mengamuk, sembari menepis tangan petugas security."Dimas! Berhenti!" seru Bella dengan suara parau.Kemudian menghampiri suaminya dan mencoba menarik lengan pria itu menjauh dari kerumunan staf medis yang mulai berbisik-bisik. "Ini rumah sakit, Dimas! Jangan bikin keributan di sini!"Dimas berbalik cepat, kemudian menyambar pergelangan tangan Bella dan mencengkeramnya begitu kuat hingga Bella meringis menahan sakit."Akhirnya keluar juga kamu!" bentak Dimas tepat di de
Last Updated: 2026-07-17