Babysitter Milik Sugar Daddy
Dulu, Sebastian Steel adalah pria yang paling kubenci. Kini, aku justru harus tinggal di rumahnya sebagai pengasuh putrinya.
Dengan nama yang bukan milikku, aku berusaha menjaga jarak dari pria dingin itu. Namun, semakin lama aku berada di sisinya, semakin sulit menyembunyikan siapa diriku sebenarnya.
Tatapan Sebastian berubah, sikapnya berubah, dan yang paling berbahaya … batas antara majikan dan pengasuh mulai menghilang.
Dia mengira aku hanya babysitter biasa. Padahal, ada alasan mengapa aku datang ke rumahnya. Jika Sebastian mengetahui kebenarannya, entah aku yang akan menghancurkannya, atau justru dia yang akan menghancurkan hatiku lebih dulu.
Baca
Chapter: Bab 7 Tirai Velvet dan Jebakan KertasRestoran L’Amour di kawasan SCBD memancarkan aura kemewahan yang tak tersentuh bagi kaum pekerja biasa. Lampu gantung kristal membiaskan cahaya keemasan di atas lantai pualam. Aku melangkah masuk dari pintu khusus VIP, menggenggam tangan kecil Ariesta. Pakaian pengasuhku yang berwarna biru navy sangat kontras dengan gaun malam sutra tanpa lengan milik Rebecca yang menjuntai arogan."Jaga jarakmu, Siska. Jangan sampai anak itu merusak karpet mahal ini, dan pastikan kau tidak terlihat oleh tamu penting," desis Rebecca saat kami berjalan menyusuri lorong berpanel kayu ek.Aku hanya menunduk patuh. Tamu penting yang kau bicarakan itu ayahku, Rebecca.Kami memasuki sebuah ruangan private luas yang disekat oleh pintu geser dari kayu berukir dan tirai velvet tebal. Sisi luar adalah meja makan panjang tempat negosiasi akan berlangsung, sementara sisi dalam adalah ruang tunggu nyaman yang kedap suara, kecuali jika kau membiarkan pintunya terbuka satu sentimeter, seperti yang baru saja kulakuka
Terakhir Diperbarui: 2026-09-10
Chapter: BAB 6 ALASAN DI UJUNG TANDUKUdara di lorong itu seolah tersedot habis. Sebastian berdiri hanya berjarak lima meter dariku, namun tatapan matanya yang setajam elang terasa menembus tengkorakku. Segelas air di tangannya memantulkan cahaya remang dari lampu dinding."Apa yang kamu lakukan di pintu samping pada jam seperti ini, Siska?" ulang Sebastian. Suara baritonnya rendah, bergetar dengan ancaman yang tidak ditutup-tutupi.Otakku, yang sudah ditempa oleh pendidikan bisnis paling keras dari Rudolf Fernandes, ayahku sendiri, berputar dalam hitungan milidetik. Aku tidak boleh terlihat panik. Sedikit saja kegugupan akan membongkar penyamaranku.Aku menundukkan wajah, membiarkan bahuku sedikit merosot. Memasang gestur wanita kelas bawah yang tertangkap basah melanggar aturan. Aku meremas ujung celemekku dengan tangan yang kubuat sedikit gemetar."Maafkan saya, Tuan Besar," cicitku dengan suara yang sengaja dipelankan. "Saya ... saya mengambil pesanan obat."Sebastian mengernyit. Alisnya yang tebal bertaut. "Obat? Di
Terakhir Diperbarui: 2026-09-10
Chapter: Bab 5 Aliansi yang Tak TerdugaKemenangan kecil di kamar Ariesta pagi tadi tidak lantas membuatku bisa bernapas lega. Di rumah ini, dinding-dindingnya seolah memiliki telinga, dan setiap bayangan bisa saja menjadi mata-mata Rebecca. Aku tahu, setelah Sebastian memberikan otoritas penuh kepadaku atas kesehatan Ariesta, Rebecca tidak akan tinggal diam. Wanita itu adalah ular yang paling berbahaya saat merasa terpojok.Aku duduk di kursi kayu di sudut ruang bermain, memperhatikan Ariesta yang sedang menyusun balok warna-warni dengan tenang. Untuk pertama kalinya sejak aku masuk ke rumah ini, wajahnya tidak lagi sepucat kemarin."Siska!" Suara dingin itu muncul dari ambang pintu.Aku segera berdiri dan menunduk hormat. "Iya, Tuan Sebastian?"Sebastian melangkah masuk, tangannya terbenam di saku celana kainnya yang mahal. Dia tidak menatapku, melainkan menatap putrinya."Saya akan pergi ke luar kota untuk urusan bisnis selama dua hari. Selama saya tidak ada, rumah ini tetap dalam pengawasan Rebecca untuk urusan administ
Terakhir Diperbarui: 2026-09-05
Chapter: BAB 4 RACUN DI BALIK KEMEWAHANMatahari pagi belum sepenuhnya naik ketika aku sudah berada di dapur, membantu Bu Lastri menyiapkan sarapan untuk Ariesta. Mataku terasa berat, sisa-sisa kurang tidur karena terjaga sepanjang malam menjaga Ariesta yang gelisah akibat suara badai. Namun, rasa kantukku mendadak hilang saat kurasakan getaran halus di balik lipatan stoking yang kukenakan.Itu adalah ponsel rahasia yang kupendam di sana. Satu getaran panjang, dua getaran pendek. Kode dari Pak Beni. Hasil laboratorium sudah keluar."Mbak Siska, ini bubur untuk Nona Ariesta. Tolong dibawa ke atas, ya," ujar Bu Lastri sambil menyodorkan mangkuk porselen putih yang masih mengepul."Baik, Bu. Terima kasih," jawabku sopan.Aku membawa nampan itu menuju kamar Ariesta, namun langkahku terhenti di koridor lantai dua saat pintu kamar utama terbuka. Sebastian keluar dari sana, masih mengenakan kemeja putih semalam namun tanpa dasi dan jas. Rambutnya sedikit berantakan, dan wajahnya tampak lebih kaku dari biasanya. Sepertinya gala bis
Terakhir Diperbarui: 2026-09-05
Chapter: BAB 3 LANGKAH DI ATAS BENANG TIPISMalam ini, mansion Steel terasa lebih hidup, tapi dengan cara yang membuatku muak. Lampu-lampu kristal dinyalakan lebih terang, dan para pelayan sibuk berlalu-lalang menyiapkan keperluan Tuan Besar mereka yang akan menghadiri gala bisnis tahunan Jakarta.Aku berdiri di ambang pintu kamar Ariesta, mengawasi anak kecil itu yang tertidur lelap setelah aku menyanyikan senandung yang sama berkali-kali. Tanganku meraba saku celemek, memastikan botol sampel vitamin yang kuambil tadi pagi masih ada di sana. Ini kesempatanku. Malam ini, Sebastian dan Rebecca akan pergi keluar."Siska, Kemari sebentar!" Suara bariton itu menghentikan langkahku.Aku berbalik dan mendapati Sebastian sedang berdiri di lorong, sibuk membetulkan letak dasinya di depan cermin besar. Dia tampak sangat memukau dalam setelan tuksedo hitam pekat yang dijahit sempurna. Sosoknya begitu dominan, seolah-olah seluruh ruangan ini memang diciptakan hanya untuk menjadi latar belakangnya."Iya, Tuan? Ada yang bisa saya bantu?" uj
Terakhir Diperbarui: 2026-09-05
Chapter: BAB 2 NYONYA TANPA MAHKOTAPukul enam pagi, aku sudah berdiri di depan gerbang raksasa kediaman Steel. Menteng masih diselimuti kabut tipis saat aku melangkah masuk melewati pos keamanan. Kemarin aku hanyalah kandidat, hari ini aku adalah penghuni tetap di rumah yang terasa seperti peti es ini.Langkah kakiku bergema pelan di koridor marmer yang sunyi. Setiap sudut rumah ini memancarkan kekayaan yang arogan. Namun anehnya, aku tidak merasakan hangatnya kehidupan di sini. Semua terasa terlalu rapi, terlalu kaku, seolah-olah tawa adalah barang terlarang."Kamu datang lebih awal. Bagus!" Sebuah suara wanita yang melengking rendah memecah kesunyian.Aku menoleh dan mendapati seorang wanita cantik dengan setelan kerja yang sangat modis berdiri di pangkal tangga. Rebecca Hudson, sekretaris pribadi Sebastian yang sebelum kematiannya pernah dicurigai oleh sahabatku, Jecelyn.Dia menatapku dari ujung kaki sampai ujung rambut dengan tatapan meremehkan. Matanya yang tajam seolah ingin membedah setiap inci kain flanel yan
Terakhir Diperbarui: 2026-09-05