FAZER LOGINMatahari pagi belum sepenuhnya naik ketika aku sudah berada di dapur, membantu Bu Lastri menyiapkan sarapan untuk Ariesta. Mataku terasa berat, sisa-sisa kurang tidur karena terjaga sepanjang malam menjaga Ariesta yang gelisah akibat suara badai. Namun, rasa kantukku mendadak hilang saat kurasakan getaran halus di balik lipatan stoking yang kukenakan.
Itu adalah ponsel rahasia yang kupendam di sana. Satu getaran panjang, dua getaran pendek. Kode dari Pak Beni. Hasil laboratorium sudah keluar.
"Mbak Siska, ini bubur untuk Nona Ariesta. Tolong dibawa ke atas, ya," ujar Bu Lastri sambil menyodorkan mangkuk porselen putih yang masih mengepul.
"Baik, Bu. Terima kasih," jawabku sopan.
Aku membawa nampan itu menuju kamar Ariesta, namun langkahku terhenti di koridor lantai dua saat pintu kamar utama terbuka. Sebastian keluar dari sana, masih mengenakan kemeja putih semalam namun tanpa dasi dan jas. Rambutnya sedikit berantakan, dan wajahnya tampak lebih kaku dari biasanya. Sepertinya gala bisnis semalam tidak berjalan sesuai harapannya.
"Selamat pagi, Tuan," sapaku sambil sedikit menunduk.
Sebastian berhenti tepat di hadapanku. Matanya yang tajam menyapu penampilanku yang mungkin terlihat sangat lelah.
"Selamat pagi. Bagaimana Ariesta semalam?"
"Nona sempat terbangun karena suara guntur, Tuan. Tapi, beliau sudah kembali tidur dengan tenang setelah saya temani," jelasku tetap dengan nada pelayan yang patuh.
Sebastian mengangguk singkat. Dia melangkah maju, membuatku harus mundur satu langkah agar nampan di tanganku tidak menyentuh dadanya.
"Kau terlihat pucat. Apakah kau sakit?" Tanyanya perhatian.
Jantungku berdegup kencang bukan karena pertanyaannya, tapi karena jarak kami yang begitu dekat.
"Hanya sedikit kurang tidur, Tuan. Saya baik-baik saja."
"Setelah Ariesta sarapan, tidurlah sebentar. Saya tidak ingin pengasuh anak saya pingsan saat sedang bekerja," ujarnya dingin, namun ada nada perintah yang anehnya terasa seperti perlindungan. Dia kemudian berlalu pergi tanpa menunggu jawabanku.
Aku segera masuk ke kamar Ariesta dan mengunci pintu. Dengan tangan gemetar, aku mengeluarkan ponsel rahasia itu. Sebuah pesan singkat dari Pak Beni terpampang di layar.
[Analisis Lab: Positif Arsenik dosis rendah dan senyawa atropin. Zat ini menyebabkan kelumpuhan saraf sensorik jika dikonsumsi terus-menerus. Gejalanya identik dengan rekam medis Jecelyn sebelum wafat. Hati-hati, Nona. Racun ini ada di dalam botol vitamin itu.]
Darahku mendidih. Dadaku sesak oleh amarah yang membara. Jecelyn tidak mati karena sakit jantung atau kelelahan. Dia dibunuh. Sahabatku dibunuh secara perlahan oleh orang-orang di rumah ini, dan sekarang mereka mencoba melakukan hal yang sama pada Ariesta.
"Bunda ... lapar …," suara kecil Ariesta membuatku tersentak.
Anak itu sudah duduk di atas tempat tidurnya, menatapku dengan mata yang masih mengantuk. Aku segera menghampirinya, meletakkan nampan di meja kecil, dan memaksakan sebuah senyum.
"Selamat pagi, sayang. Mari kita sarapan, ya?"
Aku menyuapinya dengan tangan yang masih gemetar karena amarah. Tak lama kemudian, pintu kamar diketuk dengan kasar. Rebecca masuk tanpa menunggu izin, masih dengan sisa-sisa riasan semalam yang kini terlihat lebih menyeramkan di mataku.
"Kenapa belum diberikan vitaminnya?" tanya Rebecca ketus, matanya langsung tertuju pada botol vitamin di atas nakas.
"Saya baru saja akan memberikan sarapan, Nona. Bukankah vitamin sebaiknya diberikan setelah perut terisi?" jawabku seformal mungkin, mencoba menyembunyikan kebencian yang meluap-luap.
Rebecca mendekat, mengambil botol itu dan mengguncangnya pelan.
"Tuan Sebastian ingin Ariesta segera pulih. Jangan banyak membantah, Siska. Berikan ini sekarang juga."
Dia menyodorkan botol itu padaku. Aku menatap botol bening itu, membayangkan racun jahat di dalamnya yang siap merusak saraf Ariesta. Aku harus bertindak. Aku tidak mungkin membiarkan anak ini meminumnya lagi.
"Maaf, Nona. Saya tadi melihat ada sedikit endapan di dasar botol ini. Saya takut vitamin ini sudah kadaluarsa atau terkontaminasi karena suhu ruangan," ujarku, mencoba mencari alasan yang masuk akal.
Rebecca menyipitkan matanya.
"Endapan? Jangan mengarang. Saya sendiri yang membelinya dari apotek terbaik."
"Mohon maaf, Nona. Tapi demi keamanan Nona Ariesta, bolehkah saya meminta botol yang baru? Sebagai pengasuh, saya bertanggung jawab penuh atas apa yang dikonsumsi beliau."
Rebecca melangkah maju, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajahku. Aroma parfumnya yang menyengat membuatku ingin muntah.
"Kamu mulai berani mengatur saya, Siska? Ingat posisimu. Kamu hanyalah pelayan."
"Saya hanya menjalankan tugas saya, Nona," balasku tanpa berkedip.
Ketegangan di antara kami terputus saat Sebastian masuk ke dalam kamar. Dia menatap kami berdua dengan dahi berkerut.
"Ada apa ini? Kenapa kalian ribut di depan anak saya?"
"Sebastian, pengasuh ini menolak memberikan vitamin pada Ariesta. Dia bilang ada endapan, padahal botol ini masih baru," Rebecca mengadu dengan suara yang dibuat-buat manis, namun penuh racun.
Sebastian mengambil botol itu dari tangan Rebecca, menelitinya di bawah cahaya lampu. Aku menahan napas. Ini adalah pertaruhan besar. Jika Sebastian memihak Rebecca, aku akan kehilangan kepercayaan dan mungkin diusir.
"Siska benar," ujar Sebastian tiba-tiba. "Ada sedikit perubahan warna di bagian dasar. Mungkin suhunya terlalu panas saat disimpan."
Wajah Rebecca memucat seketika.
"Tapi Sebastian, itu ...."
"Buang botol ini, Rebecca. Belikan yang baru dari dokter spesialis langsung pagi ini. Dan Siska," Sebastian menatapku dengan tajam, "terima kasih atas ketelitianmu. Kamu menyelamatkan anak saya dari kemungkinan keracunan makanan."
Aku menunduk dalam, mencoba menyembunyikan kilatan kemenangan di mataku.
"Itu sudah menjadi tugas saya, Tuan."
Rebecca mendesis marah, merampas botol itu dari tangan Sebastian dan keluar dari kamar dengan langkah yang dihentakkan. Aku tahu, aku baru saja mendeklarasikan perang terbuka dengannya.
Setelah Sebastian pergi, ruangan kembali hening. Aku duduk di tepi tempat tidur, memeluk Ariesta yang tampak bingung. Tubuhku gemetar hebat karena adrenalin yang baru saja memuncak. Aku menyadari bahwa di rumah ini, aku adalah satu-satunya pelindung anak ini.
"Maafin Tante Siska ya, Ariesta. Mulai sekarang, Tante nggak akan biarin satu tetes pun racun itu masuk ke tubuh kamu," bisikku sambil mencium keningnya.
Aku menatap pantulan diriku di cermin besar kamar Ariesta. Gadis di sana bukan lagi Friska Fernandes yang lemah dan manja. Gadis itu adalah Siska, seorang wanita yang sudah kehilangan segalanya dan kini siap membakar siapa pun yang berani mengusik miliknya.
Sebastian Steel mungkin pria yang sombong dan dingin, tapi semalam di gala bisnis, Pak Beni melaporkan bahwa Sebastian menolak mentah-mentah tawaran Elsa Riddle untuk melakukan merger paksa dengan Fernandes Group. Itu artinya, Sebastian bukan sekutu Elsa.
Apakah ini artinya gue bisa memanfaatkan Sebastian untuk menghancurkan mereka berdua?
Pikiranku terputus saat kulihat Ariesta menunjuk ke arah pintu. Sebastian masih berdiri di sana, mengawasi kami dalam diam. Ekspresi wajahnya sulit dibaca, namun untuk pertama kalinya, aku melihat ada binar penghargaan di matanya yang dingin.
"Siska," panggilnya pelan.
"Ya, Tuan?"
"Mulai hari ini, apa pun yang diberikan Rebecca atau pelayan lain untuk Ariesta, harus melalui persetujuanmu terlebih dahulu. Saya memberikanmu otoritas penuh atas kesehatan anak saya."
Aku tertegun. Ini adalah akses yang sangat besar.
"Terima kasih, Tuan Sebastian. Saya akan menjaga kepercayaan Anda."
Sebastian mengangguk, lalu menutup pintu kamar. Aku tersenyum tipis.
Jaring-jaring permainanku mulai terpasang. Rebecca, Elsa ... kalian tidak akan pernah menyangka bahwa pengasuh yang kalian remehkan ini adalah orang yang akan menyeret kalian ke lubang kehancuran.
Jec, langkah pertama sukses. Mereka mulai masuk ke dalam perangkap gue.
Restoran L’Amour di kawasan SCBD memancarkan aura kemewahan yang tak tersentuh bagi kaum pekerja biasa. Lampu gantung kristal membiaskan cahaya keemasan di atas lantai pualam. Aku melangkah masuk dari pintu khusus VIP, menggenggam tangan kecil Ariesta. Pakaian pengasuhku yang berwarna biru navy sangat kontras dengan gaun malam sutra tanpa lengan milik Rebecca yang menjuntai arogan."Jaga jarakmu, Siska. Jangan sampai anak itu merusak karpet mahal ini, dan pastikan kau tidak terlihat oleh tamu penting," desis Rebecca saat kami berjalan menyusuri lorong berpanel kayu ek.Aku hanya menunduk patuh. Tamu penting yang kau bicarakan itu ayahku, Rebecca.Kami memasuki sebuah ruangan private luas yang disekat oleh pintu geser dari kayu berukir dan tirai velvet tebal. Sisi luar adalah meja makan panjang tempat negosiasi akan berlangsung, sementara sisi dalam adalah ruang tunggu nyaman yang kedap suara, kecuali jika kau membiarkan pintunya terbuka satu sentimeter, seperti yang baru saja kulakuka
Udara di lorong itu seolah tersedot habis. Sebastian berdiri hanya berjarak lima meter dariku, namun tatapan matanya yang setajam elang terasa menembus tengkorakku. Segelas air di tangannya memantulkan cahaya remang dari lampu dinding."Apa yang kamu lakukan di pintu samping pada jam seperti ini, Siska?" ulang Sebastian. Suara baritonnya rendah, bergetar dengan ancaman yang tidak ditutup-tutupi.Otakku, yang sudah ditempa oleh pendidikan bisnis paling keras dari Rudolf Fernandes, ayahku sendiri, berputar dalam hitungan milidetik. Aku tidak boleh terlihat panik. Sedikit saja kegugupan akan membongkar penyamaranku.Aku menundukkan wajah, membiarkan bahuku sedikit merosot. Memasang gestur wanita kelas bawah yang tertangkap basah melanggar aturan. Aku meremas ujung celemekku dengan tangan yang kubuat sedikit gemetar."Maafkan saya, Tuan Besar," cicitku dengan suara yang sengaja dipelankan. "Saya ... saya mengambil pesanan obat."Sebastian mengernyit. Alisnya yang tebal bertaut. "Obat? Di
Kemenangan kecil di kamar Ariesta pagi tadi tidak lantas membuatku bisa bernapas lega. Di rumah ini, dinding-dindingnya seolah memiliki telinga, dan setiap bayangan bisa saja menjadi mata-mata Rebecca. Aku tahu, setelah Sebastian memberikan otoritas penuh kepadaku atas kesehatan Ariesta, Rebecca tidak akan tinggal diam. Wanita itu adalah ular yang paling berbahaya saat merasa terpojok.Aku duduk di kursi kayu di sudut ruang bermain, memperhatikan Ariesta yang sedang menyusun balok warna-warni dengan tenang. Untuk pertama kalinya sejak aku masuk ke rumah ini, wajahnya tidak lagi sepucat kemarin."Siska!" Suara dingin itu muncul dari ambang pintu.Aku segera berdiri dan menunduk hormat. "Iya, Tuan Sebastian?"Sebastian melangkah masuk, tangannya terbenam di saku celana kainnya yang mahal. Dia tidak menatapku, melainkan menatap putrinya."Saya akan pergi ke luar kota untuk urusan bisnis selama dua hari. Selama saya tidak ada, rumah ini tetap dalam pengawasan Rebecca untuk urusan administ
Matahari pagi belum sepenuhnya naik ketika aku sudah berada di dapur, membantu Bu Lastri menyiapkan sarapan untuk Ariesta. Mataku terasa berat, sisa-sisa kurang tidur karena terjaga sepanjang malam menjaga Ariesta yang gelisah akibat suara badai. Namun, rasa kantukku mendadak hilang saat kurasakan getaran halus di balik lipatan stoking yang kukenakan.Itu adalah ponsel rahasia yang kupendam di sana. Satu getaran panjang, dua getaran pendek. Kode dari Pak Beni. Hasil laboratorium sudah keluar."Mbak Siska, ini bubur untuk Nona Ariesta. Tolong dibawa ke atas, ya," ujar Bu Lastri sambil menyodorkan mangkuk porselen putih yang masih mengepul."Baik, Bu. Terima kasih," jawabku sopan.Aku membawa nampan itu menuju kamar Ariesta, namun langkahku terhenti di koridor lantai dua saat pintu kamar utama terbuka. Sebastian keluar dari sana, masih mengenakan kemeja putih semalam namun tanpa dasi dan jas. Rambutnya sedikit berantakan, dan wajahnya tampak lebih kaku dari biasanya. Sepertinya gala bis
Malam ini, mansion Steel terasa lebih hidup, tapi dengan cara yang membuatku muak. Lampu-lampu kristal dinyalakan lebih terang, dan para pelayan sibuk berlalu-lalang menyiapkan keperluan Tuan Besar mereka yang akan menghadiri gala bisnis tahunan Jakarta.Aku berdiri di ambang pintu kamar Ariesta, mengawasi anak kecil itu yang tertidur lelap setelah aku menyanyikan senandung yang sama berkali-kali. Tanganku meraba saku celemek, memastikan botol sampel vitamin yang kuambil tadi pagi masih ada di sana. Ini kesempatanku. Malam ini, Sebastian dan Rebecca akan pergi keluar."Siska, Kemari sebentar!" Suara bariton itu menghentikan langkahku.Aku berbalik dan mendapati Sebastian sedang berdiri di lorong, sibuk membetulkan letak dasinya di depan cermin besar. Dia tampak sangat memukau dalam setelan tuksedo hitam pekat yang dijahit sempurna. Sosoknya begitu dominan, seolah-olah seluruh ruangan ini memang diciptakan hanya untuk menjadi latar belakangnya."Iya, Tuan? Ada yang bisa saya bantu?" uj
Pukul enam pagi, aku sudah berdiri di depan gerbang raksasa kediaman Steel. Menteng masih diselimuti kabut tipis saat aku melangkah masuk melewati pos keamanan. Kemarin aku hanyalah kandidat, hari ini aku adalah penghuni tetap di rumah yang terasa seperti peti es ini.Langkah kakiku bergema pelan di koridor marmer yang sunyi. Setiap sudut rumah ini memancarkan kekayaan yang arogan. Namun anehnya, aku tidak merasakan hangatnya kehidupan di sini. Semua terasa terlalu rapi, terlalu kaku, seolah-olah tawa adalah barang terlarang."Kamu datang lebih awal. Bagus!" Sebuah suara wanita yang melengking rendah memecah kesunyian.Aku menoleh dan mendapati seorang wanita cantik dengan setelan kerja yang sangat modis berdiri di pangkal tangga. Rebecca Hudson, sekretaris pribadi Sebastian yang sebelum kematiannya pernah dicurigai oleh sahabatku, Jecelyn.Dia menatapku dari ujung kaki sampai ujung rambut dengan tatapan meremehkan. Matanya yang tajam seolah ingin membedah setiap inci kain flanel yan







