Home / Romansa / Babysitter Milik Sugar Daddy / BAB 4 RACUN DI BALIK KEMEWAHAN

Share

BAB 4 RACUN DI BALIK KEMEWAHAN

Author: Ria Nenda28
last update publish date: 2026-09-05 20:07:48

Matahari pagi belum sepenuhnya naik ketika aku sudah berada di dapur, membantu Bu Lastri menyiapkan sarapan untuk Ariesta. Mataku terasa berat, sisa-sisa kurang tidur karena terjaga sepanjang malam menjaga Ariesta yang gelisah akibat suara badai. Namun, rasa kantukku mendadak hilang saat kurasakan getaran halus di balik lipatan stoking yang kukenakan.

Itu adalah ponsel rahasia yang kupendam di sana. Satu getaran panjang, dua getaran pendek. Kode dari Pak Beni. Hasil laboratorium sudah keluar.

"Mbak Siska, ini bubur untuk Nona Ariesta. Tolong dibawa ke atas, ya," ujar Bu Lastri sambil menyodorkan mangkuk porselen putih yang masih mengepul.

"Baik, Bu. Terima kasih," jawabku sopan.

Aku membawa nampan itu menuju kamar Ariesta, namun langkahku terhenti di koridor lantai dua saat pintu kamar utama terbuka. Sebastian keluar dari sana, masih mengenakan kemeja putih semalam namun tanpa dasi dan jas. Rambutnya sedikit berantakan, dan wajahnya tampak lebih kaku dari biasanya. Sepertinya gala bisnis semalam tidak berjalan sesuai harapannya.

"Selamat pagi, Tuan," sapaku sambil sedikit menunduk.

Sebastian berhenti tepat di hadapanku. Matanya yang tajam menyapu penampilanku yang mungkin terlihat sangat lelah.

"Selamat pagi. Bagaimana Ariesta semalam?"

"Nona sempat terbangun karena suara guntur, Tuan. Tapi, beliau sudah kembali tidur dengan tenang setelah saya temani," jelasku tetap dengan nada pelayan yang patuh.

Sebastian mengangguk singkat. Dia melangkah maju, membuatku harus mundur satu langkah agar nampan di tanganku tidak menyentuh dadanya.

"Kau terlihat pucat. Apakah kau sakit?" Tanyanya perhatian.

Jantungku berdegup kencang bukan karena pertanyaannya, tapi karena jarak kami yang begitu dekat.

"Hanya sedikit kurang tidur, Tuan. Saya baik-baik saja."

"Setelah Ariesta sarapan, tidurlah sebentar. Saya tidak ingin pengasuh anak saya pingsan saat sedang bekerja," ujarnya dingin, namun ada nada perintah yang anehnya terasa seperti perlindungan. Dia kemudian berlalu pergi tanpa menunggu jawabanku.

Aku segera masuk ke kamar Ariesta dan mengunci pintu. Dengan tangan gemetar, aku mengeluarkan ponsel rahasia itu. Sebuah pesan singkat dari Pak Beni terpampang di layar.

[Analisis Lab: Positif Arsenik dosis rendah dan senyawa atropin. Zat ini menyebabkan kelumpuhan saraf sensorik jika dikonsumsi terus-menerus. Gejalanya identik dengan rekam medis Jecelyn sebelum wafat. Hati-hati, Nona. Racun ini ada di dalam botol vitamin itu.]

Darahku mendidih. Dadaku sesak oleh amarah yang membara. Jecelyn tidak mati karena sakit jantung atau kelelahan. Dia dibunuh. Sahabatku dibunuh secara perlahan oleh orang-orang di rumah ini, dan sekarang mereka mencoba melakukan hal yang sama pada Ariesta.

"Bunda ... lapar …," suara kecil Ariesta membuatku tersentak.

Anak itu sudah duduk di atas tempat tidurnya, menatapku dengan mata yang masih mengantuk. Aku segera menghampirinya, meletakkan nampan di meja kecil, dan memaksakan sebuah senyum.

"Selamat pagi, sayang. Mari kita sarapan, ya?"

Aku menyuapinya dengan tangan yang masih gemetar karena amarah. Tak lama kemudian, pintu kamar diketuk dengan kasar. Rebecca masuk tanpa menunggu izin, masih dengan sisa-sisa riasan semalam yang kini terlihat lebih menyeramkan di mataku.

"Kenapa belum diberikan vitaminnya?" tanya Rebecca ketus, matanya langsung tertuju pada botol vitamin di atas nakas.

"Saya baru saja akan memberikan sarapan, Nona. Bukankah vitamin sebaiknya diberikan setelah perut terisi?" jawabku seformal mungkin, mencoba menyembunyikan kebencian yang meluap-luap.

Rebecca mendekat, mengambil botol itu dan mengguncangnya pelan.

"Tuan Sebastian ingin Ariesta segera pulih. Jangan banyak membantah, Siska. Berikan ini sekarang juga."

Dia menyodorkan botol itu padaku. Aku menatap botol bening itu, membayangkan racun jahat di dalamnya yang siap merusak saraf Ariesta. Aku harus bertindak. Aku tidak mungkin membiarkan anak ini meminumnya lagi.

"Maaf, Nona. Saya tadi melihat ada sedikit endapan di dasar botol ini. Saya takut vitamin ini sudah kadaluarsa atau terkontaminasi karena suhu ruangan," ujarku, mencoba mencari alasan yang masuk akal.

Rebecca menyipitkan matanya.

"Endapan? Jangan mengarang. Saya sendiri yang membelinya dari apotek terbaik."

"Mohon maaf, Nona. Tapi demi keamanan Nona Ariesta, bolehkah saya meminta botol yang baru? Sebagai pengasuh, saya bertanggung jawab penuh atas apa yang dikonsumsi beliau."

Rebecca melangkah maju, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajahku. Aroma parfumnya yang menyengat membuatku ingin muntah.

"Kamu mulai berani mengatur saya, Siska? Ingat posisimu. Kamu hanyalah pelayan."

"Saya hanya menjalankan tugas saya, Nona," balasku tanpa berkedip.

Ketegangan di antara kami terputus saat Sebastian masuk ke dalam kamar. Dia menatap kami berdua dengan dahi berkerut.

"Ada apa ini? Kenapa kalian ribut di depan anak saya?"

"Sebastian, pengasuh ini menolak memberikan vitamin pada Ariesta. Dia bilang ada endapan, padahal botol ini masih baru," Rebecca mengadu dengan suara yang dibuat-buat manis, namun penuh racun.

Sebastian mengambil botol itu dari tangan Rebecca, menelitinya di bawah cahaya lampu. Aku menahan napas. Ini adalah pertaruhan besar. Jika Sebastian memihak Rebecca, aku akan kehilangan kepercayaan dan mungkin diusir.

"Siska benar," ujar Sebastian tiba-tiba. "Ada sedikit perubahan warna di bagian dasar. Mungkin suhunya terlalu panas saat disimpan."

Wajah Rebecca memucat seketika.

"Tapi Sebastian, itu ...."

"Buang botol ini, Rebecca. Belikan yang baru dari dokter spesialis langsung pagi ini. Dan Siska," Sebastian menatapku dengan tajam, "terima kasih atas ketelitianmu. Kamu menyelamatkan anak saya dari kemungkinan keracunan makanan."

Aku menunduk dalam, mencoba menyembunyikan kilatan kemenangan di mataku.

"Itu sudah menjadi tugas saya, Tuan."

Rebecca mendesis marah, merampas botol itu dari tangan Sebastian dan keluar dari kamar dengan langkah yang dihentakkan. Aku tahu, aku baru saja mendeklarasikan perang terbuka dengannya.

Setelah Sebastian pergi, ruangan kembali hening. Aku duduk di tepi tempat tidur, memeluk Ariesta yang tampak bingung. Tubuhku gemetar hebat karena adrenalin yang baru saja memuncak. Aku menyadari bahwa di rumah ini, aku adalah satu-satunya pelindung anak ini.

"Maafin Tante Siska ya, Ariesta. Mulai sekarang, Tante nggak akan biarin satu tetes pun racun itu masuk ke tubuh kamu," bisikku sambil mencium keningnya.

Aku menatap pantulan diriku di cermin besar kamar Ariesta. Gadis di sana bukan lagi Friska Fernandes yang lemah dan manja. Gadis itu adalah Siska, seorang wanita yang sudah kehilangan segalanya dan kini siap membakar siapa pun yang berani mengusik miliknya.

Sebastian Steel mungkin pria yang sombong dan dingin, tapi semalam di gala bisnis, Pak Beni melaporkan bahwa Sebastian menolak mentah-mentah tawaran Elsa Riddle untuk melakukan merger paksa dengan Fernandes Group. Itu artinya, Sebastian bukan sekutu Elsa.

Apakah ini artinya gue bisa memanfaatkan Sebastian untuk menghancurkan mereka berdua?

Pikiranku terputus saat kulihat Ariesta menunjuk ke arah pintu. Sebastian masih berdiri di sana, mengawasi kami dalam diam. Ekspresi wajahnya sulit dibaca, namun untuk pertama kalinya, aku melihat ada binar penghargaan di matanya yang dingin.

"Siska," panggilnya pelan.

"Ya, Tuan?"

"Mulai hari ini, apa pun yang diberikan Rebecca atau pelayan lain untuk Ariesta, harus melalui persetujuanmu terlebih dahulu. Saya memberikanmu otoritas penuh atas kesehatan anak saya."

Aku tertegun. Ini adalah akses yang sangat besar.

"Terima kasih, Tuan Sebastian. Saya akan menjaga kepercayaan Anda."

Sebastian mengangguk, lalu menutup pintu kamar. Aku tersenyum tipis.

Jaring-jaring permainanku mulai terpasang. Rebecca, Elsa ... kalian tidak akan pernah menyangka bahwa pengasuh yang kalian remehkan ini adalah orang yang akan menyeret kalian ke lubang kehancuran.

Jec, langkah pertama sukses. Mereka mulai masuk ke dalam perangkap gue.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Babysitter Milik Sugar Daddy    Bab 94 Titik Nol dan Racun Sutra Asia

    Satu bulan menginjakkan kaki kembali di garis ekuator tanpa desing peluru rasanya seperti sebuah utopia ganjil bagi sepasang penguasa yang tahtanya dipahat dari batu darah. Namun, dalam dunia tempat Steel-Fernandes bertahta, kedamaian sering kali hanyalah tabir asap yang menyembunyikan predator dengan taring yang jauh lebih beradab.Malam itu, pesisir privat di Kepulauan Seribu bermandikan pendar cahaya keemasan. Sebuah resor pulau eksklusif telah disewa penuh untuk menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Ekonomi Asia-Pasifik. Bukan pertemuan antar kepala negara, melainkan kongres tertutup bagi tiga puluh manusia super kaya yang sesungguhnya memegang tali kendali negara-negara tersebut.Sebagai pemegang kedaulatan logistik tiga benua, posisi kami malam ini bukanlah tamu, melainkan puncak piramida makanan.Aku berdiri di dekat dinding kaca yang memisahkan balai perjamuan dengan laut lepas, menyesap segelas air mineral. Gaun sutra putih berpotongan cheongsam modern dengan bel

  • Babysitter Milik Sugar Daddy    Bab 93 Embargo Salju dan Tatanan Orde Baru

    Derak tulang yang diremukkan dari arah belakang kami tertelan sempurna oleh pagutan basah suamiku. Bau anyir darah yang menetes ke atas karpet kayu ek sama sekali tidak mampu menembus indra penciumanku karena aroma bourbon dan wangi maskulin Sebastian telah memonopoli setiap tarikan napasku.Kaisar es itu menghantamkan bibirnya ke bibirku dengan kelaparan seorang tiran yang baru saja memenangkan dunia. Ciumannya menuntut, kasar, dan sarat racun adrenalin. Di bawah kilauan lampu gantung kristal yang menerangi sisa-sisa kehancuran kartel Osprey, ia mendekap tubuhku begitu erat, memastikan aku tak melihat sedetik pun saat nyawa Richard Sterling direnggut oleh tangan dingin Leon.Saat pautan bibir kami terlepas, dada kami berdua bergemuruh hebat, saling memburu pasokan oksigen di tengah udara penthouse yang mendadak terasa pekat.Sebastian menundukkan wajahnya, menyatukan kening kami. Mata obsidiannya menatapku dengan pemujaan fanatik. "Eropa telah berlutut di bawah kakimu beberapa bulan

  • Babysitter Milik Sugar Daddy    Bab 92 Badai Putih Manhattan dan Tahta Eksekusi

    Iring-iringan delapan Cadillac Escalade hitam legam membelah jalanan Manhattan yang mati membeku. Badai salju menyapu kota layaknya selimut putih yang tebal, menyembunyikan pergerakan armada bayangan kami di balik kabut malam buta. Di antara jajaran pencakar langit yang menjulang angkuh, satu menara pualam di pusat distrik finansial tampak lumpuh total, gelap gulita tanpa satu pun pendar cahaya.Menara Sterling Enterprise.Berkat peretasan jarak jauhku di udara sebelumnya, gedung raksasa itu telah resmi berubah menjadi peti mati vertikal. Tidak ada sensor, tidak ada kamera aktif, tidak ada kunci biometrik yang berfungsi.Mobil kami mengerem mulus tepat di teras lobi utama. Sebastian melangkah turun lebih dulu, menantang embusan angin bersuhu di bawah nol derajat dengan mantel kasmirnya. Begitu kakiku menjejak aspal beku, ia seketika merengkuh tubuhku, menarikku merapat dan berlindung di balik ceruk dadanya yang memancarkan hawa panas."Leon, sapu bersih lobi dasar. Jangan ada yang sem

  • Babysitter Milik Sugar Daddy    Bab 91 Badai Salju Manhattan dan Tahta Darah Baru

    Mayat-mayat paramiliter Osprey dibersihkan dari penthouse tanpa meninggalkan setitik noda pun. Operasi sanitasi berlangsung dalam kebisuan.Di sudut ruangan berpualam itu, Papa masih berdiri kokoh di samping kubah balistik yang melindungi buaian Alaric. Sang konglomerat tua meletakkan senapan laras pendeknya di atas meja, lalu memandang cucunya yang tetap terlelap damai di bawah penjagaan Ring Nol. Mata Papa yang dahulu pernah lelah oleh duka masa lalu kini menyiratkan ketajaman murni seorang pelindung dinasti."Tinggalkan Jakarta, Friska, Sebastian." Suara Papa mengalun berat, tak menerima bantahan. "Hancurkan akar pohon mereka di Amerika hingga ke tanah. Papa akan mengubah mansion ini menjadi kuburan raksasa bagi siapapun yang mencoba menyusul ke mari. Kalian memiliki sumpahku."Sebastian, yang tak pernah menundukkan kepala kepada hukum maupun raja mana pun di dunia ini, meletakkan tangan kanannya di dada dan memberikan tundukan hormat penuh kebanggaan kepada mertuanya."Dunia ini a

  • Babysitter Milik Sugar Daddy    Bab 90 Koreografi Kematian dan Sang Raja Tua

    Kilatan moncong senjata (muzzle flash) menerangi lorong pualam lantai sembilan puluh sembilan bagai kedipan stroboskop di dasar neraka. Rentetan desing peluru menembus udara, mengoyak serpihan marmer dari dinding, dan meninggalkan bau pekat kordit yang menyesakkan napas.Di depan mataku, Sebastian tidak sedang bertarung, ia sedang menari dengan kematian. Kaisar es itu bergerak menembus hujan peluru tanpa setitik pun keraguan. Dalam dua langkah presisi, ia menghindari semburan peluru otomatis, mengangkat kedua tangannya yang memegang pistol mematikan, dan menarik pelatuk secara bersamaan.DOR! DOR! DOR!Tiga pembunuh bayaran kartel Osprey tumbang seketika, tengkorak mereka berlubang peluru tepat di atas mata. Eksekusi tanpa cacat yang lahir dari insting sosiopat absolut.Namun, pasukan Osprey adalah pembunuh terlatih dari benua seberang. Dua anggota yang tersisa memecah formasi, berguling cepat ke balik pilar raksasa demi mencari titik buta. Salah satunya mengangkat senapan dengan pelo

  • Babysitter Milik Sugar Daddy    Bab 87 Kunci Kematian di Puncak Menara

    Ciuman itu belum sepenuhnya usai. Di atas balkon lantai enam puluh yang tersapu angin malam Jakarta, janji pembantaian dari mulut Sebastian menyatu dengan sapuan lidahnya di bibirku. Udara tropis terasa membeku oleh dominasi absolut pria ini. Punggungku yang hanya terbalut gaun sutra bergesekan dengan kaca balistik di belakangku, terhimpit oleh dada bidangnya yang bergemuruh.“Kaisar yang membasuh darah untuk permaisurinya,” gumamku dengan napas terputus, menyandarkan dahi ke dadanya. Aku memejamkan mata, membiarkan aroma bourbon dan kekuasaan suamiku meresap, menenangkan saraf-saraf tempurku. “Kau selalu tahu cara membuat perang terdengar seperti puisi yang indah, Sebastian.”Jemari kasar Sebastian membelai tulang pipiku, sementara matanya yang sekelam palung samudra memuja pantulan gemerlap ibu kota di bola mataku. Namun, keheningan eksklusif itu hanya bertahan kurang dari tiga tarikan napas.BIP! BIP! BIP!Bunyi nyaring berfrekuensi tinggi memecah atmosfer intim kami. Suara itu buk

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status