Home / Romansa / Babysitter Milik Sugar Daddy / BAB 3 LANGKAH DI ATAS BENANG TIPIS

Share

BAB 3 LANGKAH DI ATAS BENANG TIPIS

Author: Ria Nenda28
last update publish date: 2026-09-05 20:06:36

Malam ini, mansion Steel terasa lebih hidup, tapi dengan cara yang membuatku muak. Lampu-lampu kristal dinyalakan lebih terang, dan para pelayan sibuk berlalu-lalang menyiapkan keperluan Tuan Besar mereka yang akan menghadiri gala bisnis tahunan Jakarta.

Aku berdiri di ambang pintu kamar Ariesta, mengawasi anak kecil itu yang tertidur lelap setelah aku menyanyikan senandung yang sama berkali-kali. Tanganku meraba saku celemek, memastikan botol sampel vitamin yang kuambil tadi pagi masih ada di sana. Ini kesempatanku. Malam ini, Sebastian dan Rebecca akan pergi keluar.

"Siska, Kemari sebentar!" Suara bariton itu menghentikan langkahku.

Aku berbalik dan mendapati Sebastian sedang berdiri di lorong, sibuk membetulkan letak dasinya di depan cermin besar. Dia tampak sangat memukau dalam setelan tuksedo hitam pekat yang dijahit sempurna. Sosoknya begitu dominan, seolah-olah seluruh ruangan ini memang diciptakan hanya untuk menjadi latar belakangnya.

"Iya, Tuan? Ada yang bisa saya bantu?" ujarku sambil menunduk sopan.

Dia menatapku melalui pantulan cermin. Matanya yang tajam seolah sanggup menembus topeng keluguan yang kupasang.

"Saya akan pergi sampai larut malam. Ariesta tidak suka suara petir. Jika nanti hujan turun, pastikan kamu berada di sampingnya. Jangan biarkan dia bangun dan merasa sendirian."

"Baik, Tuan. Saya akan menjaganya dengan baik."

Sebastian berbalik, melangkah mendekatiku. Wangi parfum kayu cendana dan aroma maskulin yang mahal menyergap indra penciumanku. Dia berhenti tepat di depanku, jarak yang sangat dekat hingga aku bisa merasakan radiasi panas dari tubuhnya.

Tiba-tiba, tangannya terulur ke arah wajahku. Aku tersentak, hampir saja mundur jika tidak ingat identitas penyamaranku. Jari-jarinya yang dingin menyentuh helai rambut pendekku yang berantakan.

"Rambutmu ... kenapa dipotong seberantakan ini?" gumamnya, suaranya terdengar sedikit lebih lembut dari biasanya, namun tetap penuh selidik.

Jantungku berdegup kencang. Apakah dia curiga? Apakah dia mengenali tekstur rambut putri Fernandes yang dulu selalu dirawat di salon terbaik?

"Saya ... saya hanya memotongnya sendiri untuk menghemat biaya, Tuan," jawabku dengan suara yang dibuat sedikit gemetar.

Sebastian terdiam sejenak, menatapku dengan intensitas yang sulit kuartikan.

"Lain kali, minta Rebecca mengantarmu ke salon rumah. Saya tidak ingin pengasuh anak saya terlihat seperti orang yang habis melarikan diri dari medan perang."

Dia menarik tangannya kembali, lalu merogoh dompetnya dan meletakkan beberapa lembar uang seratus ribu di telapak tanganku.

"Beli perlengkapan yang kamu butuhkan. Saya benci melihat pelayan saya tampak menderita."

Aku menatap uang itu, lalu menatap punggungnya yang menjauh. Ada rasa pahit yang menjalar di lidahku. Dia meremehkan, sekaligus memberiku sedekah. Pria ini benar-benar sombong, tapi ada sisi protektif yang aneh darinya.

Tak lama kemudian, Rebecca muncul dengan gaun merah darah yang sangat terbuka dan provokatif. Dia menatapku dengan tatapan pemenang sebelum merangkul lengan Sebastian dengan manja.

"Ayo, Sebastian. Kita tidak boleh terlambat. Tuan Rudolf Fernandes kabarnya juga akan hadir malam ini." Suara Rebecca terdengar sengaja dikeraskan saat menyebut nama ayahku.

Darahku mendidih. Elsa Riddle pasti sudah mempersiapkan jebakan baru untuk ayahku di gala itu, dan aku tidak bisa berada di sana untuk melindunginya. Aku hanya bisa berdiri diam di balik bayang-bayang, menjadi pengasuh yang tidak dianggap.

Setelah mobil Mercedes hitam mereka meninggalkan halaman, aku segera bergerak. Aku tidak punya banyak waktu. Aku menyelinap ke pintu belakang, melewati rute dapur yang sudah sepi karena para pelayan sudah beristirahat di paviliun belakang.

"Nona Friska?" Suara bisikan itu membuatku menoleh.

Pak Beni sudah menunggu di balik pagar samping yang gelap, menyamar sebagai kurir ojek daring. Aku segera menghampirinya.

"Ini, Pak. Sampel vitamin yang diminum Ariesta setiap pagi," aku menyerahkan botol mikroskopis itu dengan tangan gemetar. "Cek secepatnya. Jecelyn bilang dia sering merasa lemas setelah minum ini. Aku curiga ini bukan vitamin biasa."

"Siap, Nona. Saya akan segera membawanya ke laboratorium rahasia Tuan Rudolf. Bagaimana kondisi Nona di dalam? Tuan Rudolf sangat khawatir sejak Nona menghilang minggu lalu," bisik Pak Beni cemas.

"Katakan pada Papa, aku aman. Elsa dan Rebecca tidak menyadari kehadiranku. Tapi, beri tahu Papa untuk waspada malam ini di gala. Elsa sedang merencanakan sesuatu untuk memojokkan posisi saham Fernandes," instruksiku cepat.

"Baik, Nona. Tapi, Nona juga harus hati-hati. Sebastian Steel bukan pria yang bodoh. Dia pria paling berbahaya di Jakarta saat ini."

"Aku tahu, Pak. Tapi aku jauh lebih berbahaya saat aku tidak punya apa-apa lagi untuk dilepaskan. Pergilah sekarang."

Aku segera kembali masuk ke dalam rumah, namun saat aku menutup pintu samping, lampu sensor di koridor mendadak menyala.

"Mbak Siska? Sedang apa di pintu belakang?"

Aku membeku. Bu Lastri, pelayan senior yang sudah bekerja belasan tahun di sini, berdiri di ujung koridor dengan wajah curiga. Aku segera memasang wajah sedih dan memegang perutku.

"Oh, Bu Lastri ... maaf. Saya tadi merasa mual dan ingin mencari udara segar. Saya tidak terbiasa dengan pendingin ruangan yang terlalu dingin di kamar," bohongku dengan wajah yang dibuat pucat.

Bu Lastri menatapku cukup lama, matanya yang tua seolah mencoba menembus kebohonganku.

"Lain kali jangan keluar sendirian, Mbak. Nona Rebecca sangat tidak suka ada pelayan yang berkeliaran di malam hari. Lebih baik Mbak kembali ke kamar Nona Ariesta."

"Baik, Bu. Maafkan saya."

Aku bergegas kembali ke lantai atas. Kamar Ariesta terasa sunyi, namun pikiranku bising. Jika botol itu benar-benar berisi racun dosis rendah, maka Rebecca benar-benar monster. Dia bukan hanya ingin menyingkirkan Jecelyn, tapi juga ingin memastikan Ariesta tetap lemah agar posisinya sebagai "nyonya baru" tidak terancam.

Aku duduk di lantai di samping tempat tidur Ariesta, menatap wajah polosnya di bawah temaram lampu tidur. Tanganku mengepal. Aku teringat masa kecilku yang penuh kemewahan, namun selalu hampa karena Papa terlalu sibuk. Jecelyn adalah satu-satunya orang yang memberiku kehangatan keluarga, dan sekarang, mereka merampas semuanya.

"Gue nggak akan biarin lo mati kayak Bunda, Ariesta," bisikku lirih. Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jatuh. "Gue bakal bikin mereka sujud di depan kaki kita."

Tiba-tiba, suara guntur menggelegar di kejauhan. Benar kata Sebastian, hujan akan turun. Ariesta menggeliat, wajahnya mulai tampak cemas dalam tidurnya. Aku segera naik ke atas tempat tidur dan memeluknya erat, membiarkan detak jantungku menenangkannya.

Hujan badai mengguyur Menteng malam itu. Di tengah kegelapan, aku menyadari satu hal yang mengerikan. Aku tidak hanya sedang melawan Elsa dan Rebecca. Aku sedang jatuh ke dalam pesona dingin Sebastian Steel, pria yang seharusnya menjadi target balas dendamku karena telah menghina keluargaku.

“Siska, ingat siapa lo sebenernya. Jangan sampai lo jatuh cinta pada iblis yang lo benci.”

Aku memejamkan mata, namun bayangan Sebastian yang menyentuh rambutku tadi terus terbayang. Kebohongan ini semakin lama semakin terasa seperti jerat yang mencekik leherku sendiri.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Babysitter Milik Sugar Daddy    Bab 8 Aroma Sandiwara dan Cendana

    Napas Sebastian menyapu permukaan kulit leherku, membawa aroma wine mahal yang memabukkan. Jarak di antara kami begitu terkikis, membuat insting pertahananku sebagai pewaris Fernandes Grup berteriak waspada. Pria ini sedang mengulitiku dengan tatapannya."Saya tidak bermaksud menguping, Tuan Besar," jawabku pelan. Aku memaksa suaraku agar terdengar sedikit bergetar, selayaknya pelayan yang ketakutan. "Suara gebrakan meja dan teriakan Tuan Rudolf tadi sangat keras. Saya hanya menahan napas dan memeluk Nona Ariesta, bersiap menutup telinganya jika keributan itu membangunkannya."Sebastian tidak langsung menjawab. Matanya yang gelap menyelidiki setiap inci wajahku, mencari kebohongan di balik topeng keluguanku."Begitukah?" gumam Sebastian. Sudut bibirnya berkedut, membentuk seringai tipis yang nyaris tak terlihat. "Kau memiliki insting bertahan hidup yang sangat bagus, Siska. Terlalu tajam untuk ukuran seorang wanita yang memakai sepatu kets usang ke tempat wawancara."Tubuhku membeku.

  • Babysitter Milik Sugar Daddy    Bab 7 Tirai Velvet dan Jebakan Kertas

    Restoran L’Amour di kawasan SCBD memancarkan aura kemewahan yang tak tersentuh bagi kaum pekerja biasa. Lampu gantung kristal membiaskan cahaya keemasan di atas lantai pualam. Aku melangkah masuk dari pintu khusus VIP, menggenggam tangan kecil Ariesta. Pakaian pengasuhku yang berwarna biru navy sangat kontras dengan gaun malam sutra tanpa lengan milik Rebecca yang menjuntai arogan."Jaga jarakmu, Siska. Jangan sampai anak itu merusak karpet mahal ini, dan pastikan kau tidak terlihat oleh tamu penting," desis Rebecca saat kami berjalan menyusuri lorong berpanel kayu ek.Aku hanya menunduk patuh. Tamu penting yang kau bicarakan itu ayahku, Rebecca.Kami memasuki sebuah ruangan private luas yang disekat oleh pintu geser dari kayu berukir dan tirai velvet tebal. Sisi luar adalah meja makan panjang tempat negosiasi akan berlangsung, sementara sisi dalam adalah ruang tunggu nyaman yang kedap suara, kecuali jika kau membiarkan pintunya terbuka satu sentimeter, seperti yang baru saja kulakuka

  • Babysitter Milik Sugar Daddy    BAB 6 ALASAN DI UJUNG TANDUK

    Udara di lorong itu seolah tersedot habis. Sebastian berdiri hanya berjarak lima meter dariku, namun tatapan matanya yang setajam elang terasa menembus tengkorakku. Segelas air di tangannya memantulkan cahaya remang dari lampu dinding."Apa yang kamu lakukan di pintu samping pada jam seperti ini, Siska?" ulang Sebastian. Suara baritonnya rendah, bergetar dengan ancaman yang tidak ditutup-tutupi.Otakku, yang sudah ditempa oleh pendidikan bisnis paling keras dari Rudolf Fernandes, ayahku sendiri, berputar dalam hitungan milidetik. Aku tidak boleh terlihat panik. Sedikit saja kegugupan akan membongkar penyamaranku.Aku menundukkan wajah, membiarkan bahuku sedikit merosot. Memasang gestur wanita kelas bawah yang tertangkap basah melanggar aturan. Aku meremas ujung celemekku dengan tangan yang kubuat sedikit gemetar."Maafkan saya, Tuan Besar," cicitku dengan suara yang sengaja dipelankan. "Saya ... saya mengambil pesanan obat."Sebastian mengernyit. Alisnya yang tebal bertaut. "Obat? Di

  • Babysitter Milik Sugar Daddy    Bab 5 Aliansi yang Tak Terduga

    Kemenangan kecil di kamar Ariesta pagi tadi tidak lantas membuatku bisa bernapas lega. Di rumah ini, dinding-dindingnya seolah memiliki telinga, dan setiap bayangan bisa saja menjadi mata-mata Rebecca. Aku tahu, setelah Sebastian memberikan otoritas penuh kepadaku atas kesehatan Ariesta, Rebecca tidak akan tinggal diam. Wanita itu adalah ular yang paling berbahaya saat merasa terpojok.Aku duduk di kursi kayu di sudut ruang bermain, memperhatikan Ariesta yang sedang menyusun balok warna-warni dengan tenang. Untuk pertama kalinya sejak aku masuk ke rumah ini, wajahnya tidak lagi sepucat kemarin."Siska!" Suara dingin itu muncul dari ambang pintu.Aku segera berdiri dan menunduk hormat. "Iya, Tuan Sebastian?"Sebastian melangkah masuk, tangannya terbenam di saku celana kainnya yang mahal. Dia tidak menatapku, melainkan menatap putrinya."Saya akan pergi ke luar kota untuk urusan bisnis selama dua hari. Selama saya tidak ada, rumah ini tetap dalam pengawasan Rebecca untuk urusan administ

  • Babysitter Milik Sugar Daddy    BAB 4 RACUN DI BALIK KEMEWAHAN

    Matahari pagi belum sepenuhnya naik ketika aku sudah berada di dapur, membantu Bu Lastri menyiapkan sarapan untuk Ariesta. Mataku terasa berat, sisa-sisa kurang tidur karena terjaga sepanjang malam menjaga Ariesta yang gelisah akibat suara badai. Namun, rasa kantukku mendadak hilang saat kurasakan getaran halus di balik lipatan stoking yang kukenakan.Itu adalah ponsel rahasia yang kupendam di sana. Satu getaran panjang, dua getaran pendek. Kode dari Pak Beni. Hasil laboratorium sudah keluar."Mbak Siska, ini bubur untuk Nona Ariesta. Tolong dibawa ke atas, ya," ujar Bu Lastri sambil menyodorkan mangkuk porselen putih yang masih mengepul."Baik, Bu. Terima kasih," jawabku sopan.Aku membawa nampan itu menuju kamar Ariesta, namun langkahku terhenti di koridor lantai dua saat pintu kamar utama terbuka. Sebastian keluar dari sana, masih mengenakan kemeja putih semalam namun tanpa dasi dan jas. Rambutnya sedikit berantakan, dan wajahnya tampak lebih kaku dari biasanya. Sepertinya gala bis

  • Babysitter Milik Sugar Daddy    BAB 3 LANGKAH DI ATAS BENANG TIPIS

    Malam ini, mansion Steel terasa lebih hidup, tapi dengan cara yang membuatku muak. Lampu-lampu kristal dinyalakan lebih terang, dan para pelayan sibuk berlalu-lalang menyiapkan keperluan Tuan Besar mereka yang akan menghadiri gala bisnis tahunan Jakarta.Aku berdiri di ambang pintu kamar Ariesta, mengawasi anak kecil itu yang tertidur lelap setelah aku menyanyikan senandung yang sama berkali-kali. Tanganku meraba saku celemek, memastikan botol sampel vitamin yang kuambil tadi pagi masih ada di sana. Ini kesempatanku. Malam ini, Sebastian dan Rebecca akan pergi keluar."Siska, Kemari sebentar!" Suara bariton itu menghentikan langkahku.Aku berbalik dan mendapati Sebastian sedang berdiri di lorong, sibuk membetulkan letak dasinya di depan cermin besar. Dia tampak sangat memukau dalam setelan tuksedo hitam pekat yang dijahit sempurna. Sosoknya begitu dominan, seolah-olah seluruh ruangan ini memang diciptakan hanya untuk menjadi latar belakangnya."Iya, Tuan? Ada yang bisa saya bantu?" uj

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status