LOGINDulu, Sebastian Steel adalah pria yang paling kubenci. Kini, aku justru harus tinggal di rumahnya sebagai pengasuh putrinya. Dengan nama yang bukan milikku, aku berusaha menjaga jarak dari pria dingin itu. Namun, semakin lama aku berada di sisinya, semakin sulit menyembunyikan siapa diriku sebenarnya. Tatapan Sebastian berubah, sikapnya berubah, dan yang paling berbahaya … batas antara majikan dan pengasuh mulai menghilang. Dia mengira aku hanya babysitter biasa. Padahal, ada alasan mengapa aku datang ke rumahnya. Jika Sebastian mengetahui kebenarannya, entah aku yang akan menghancurkannya, atau justru dia yang akan menghancurkan hatiku lebih dulu.
View MoreAku meremas ujung kemeja flanelku yang kasar. Udara pagi di kawasan Menteng terasa mencekam, atau mungkin hanya nyaliku yang sedang diuji oleh gerbang besi hitam setinggi tiga meter di hadapanku. Di balik pagar ini, berdiri sebuah mansion megah yang lebih mirip benteng daripada sebuah rumah.
Rumah milik Sebastian Steel. Pria yang seminggu lalu menghina namaku tanpa tahu siapa aku sebenarnya.
"Antrean nomor tiga belas, silakan masuk!" teriak seorang petugas keamanan dari balik pos jaga.
Aku tersentak, lalu melangkah maju dengan kepala menunduk. Di sekitarku, ada lima wanita lain yang juga menunggu. Mereka tampil sangat kontras denganku. Ada yang memakai setelan jas rapi ala pengasuh profesional dari agensi ternama, ada pula yang bersolek menor seolah sedang mengincar posisi nyonya rumah daripada pengasuh.
Sementara aku? Aku hanya "Siska". Gadis dengan rambut pendek berantakan, kemeja pudar, dan sepatu kets yang sudah mulai mengelupas solnya. Identitas yang sengaja kuciptakan untuk menjadi bayang-bayang yang tidak akan pernah dicurigai.
"Identitas Anda, Mbak?" tanya petugas itu ketus.
"Saya Siska, Pak. Ini KTP saya," jawabku sambil menyerahkan KTP palsu yang dibuat dengan sangat rapi oleh Pak Beni, tangan kanan papaku.
Petugas itu menatap KTP-ku, lalu menatapku dari ujung kaki sampai ujung rambut. Tatapannya meremehkan, seolah aku adalah sampah yang tersesat di lantai marmer.
"Masuk lewat pintu samping. Langsung ke ruang tunggu lantai satu. Jangan menyentuh apapun!" tegasnya.
"Baik, Pak. Terima kasih."
Aku melangkah menyusuri jalan setapak yang diapit taman bunga yang tertata kaku. Bau kemewahan ini sangat familiar. Namun kini, aku datang bukan sebagai tamu, melainkan sebagai peminta pekerjaan.
Begitu memasuki ruang tunggu, atmosfer dingin langsung menyergap. Ruangan itu didominasi warna abu-abu dan putih. Hening, kecuali detak jam dinding yang terdengar seperti vonis mati.
"Nomor tiga belas, Siska. Silakan masuk ke ruang kerja Tuan Sebastian."
Jantungku berdegup kencang. Aku menarik napas dalam-dalam, menguatkan diri. Aku harus masuk. Aku harus berada di dalam rumah ini untuk menemukan kebenaran yang terkubur bersama kematian Jecelyn.
Aku membuka pintu yang berat itu. Aroma kayu cendana dan parfum maskulin yang kuat langsung menusuk indra penciumanku. Di balik meja kerja, seorang pria duduk tegak dengan wibawa yang seolah sanggup menghentikan aliran darah siapapun yang menatapnya.
Sebastian Steel.
Wajahnya tampak lebih tulus dari yang aku ingat di pemakaman, namun sorot matanya jauh lebih tajam. Dingin dan tak tersentuh.
"Duduk!" perintahnya tanpa mengangkat wajah dari tumpukan dokumen di depannya.
Aku duduk dengan kaku. "Selamat pagi, Tuan Sebastian. Saya Siska,” sapaku.
Sebastian akhirnya mengangkat kepalanya. Matanya yang berwarna gelap menatapku dengan intensitas yang mengerikan. Dia meneliti penampilanku dengan cara yang membuatku merasa telanjang. Ada kerutan tipis di dahinya, tanda bahwa dia tidak terkesan dengan apa yang dia lihat.
"Anda datang tanpa referensi dari agensi mana pun. Penampilan Anda ... tidak mencerminkan seorang pengasuh profesional," ujarnya dengan nada suara yang rendah namun menekan. "Apa yang membuat Anda berpikir saya akan menitipkan putri saya kepada orang yang tampak seperti gelandangan di taman?"
Hinaan itu terasa seperti tamparan. Namun, aku tetap menjaga wajahku agar tetap datar.
"Saya mungkin tidak punya seragam mahal, Tuan. Tapi, saya punya sesuatu yang tidak dimiliki oleh wanita-wanita berseragam di luar sana."
"Oh ya? Apa itu? Kesombongan?" ejeknya, merendahkan.
"Kesabaran dan insting," jawabku mantap, menatap langsung ke matanya. "Putri Anda, Nona Ariesta, tidak butuh pengasuh yang pandai bersolek atau hanya tahu cara memberikan susu. Dia butuh seseorang yang mengerti bahwa dia sedang ketakutan."
Sebastian mendengus sinis. Dia menutup map di depannya dengan suara keras.
"Anak saya tidak ketakutan. Dia hanya sedikit sulit diatur sejak ibunya meninggal. Saya tidak butuh filosofi, Siska. Saya butuh hasil,” balasnya, tajam.
"Jika Anda hanya butuh hasil, Anda sudah mempekerjakan satu dari dua belas wanita sebelum saya. Tapi nyatanya, Anda masih memanggil saya masuk ke sini. Itu artinya, tidak ada satupun dari mereka yang berhasil menyentuh hati putri Anda, bukan?" balasku lagi, tidak mau kalah.
Sebastian terdiam. Untuk pertama kalinya, ada kilat keterkejutan di matanya. Dia sepertinya tidak menyangka gadis selusuh aku bisa seberani ini.
Baru saja Sebastian hendak menjawab, tiba-tiba terdengar suara teriakan histeris dari lantai atas. Suara pecahan kaca disusul dengan tangisan anak kecil yang menyayat hati.
"Ariesta!" Sebastian langsung berdiri, raut wajahnya yang tadi kaku kini dipenuhi kecemasan yang nyata.
Tanpa memperdulikan sopan santun, aku ikut berlari di belakangnya. Kami menuju ruang bermain di lantai dua. Di sana, Ariesta sedang duduk di pojok ruangan, dikelilingi oleh pecahan vas bunga. Seorang wanita berseragam rapi, kandidat nomor dua belas, tampak sedang mencoba menarik paksa lengan Ariesta sambil membentaknya.
"Ayo berdiri! Jangan nakal! Nanti Papa marah!" teriak wanita itu.
"Lepaskan dia!" teriak Sebastian, murka.
Wanita itu langsung pucat pasi dan melepaskan tangan Ariesta.
"T-tuan ... dia tidak mau menurut, dia malah memecahkan vas ...."
Ariesta semakin histeris. Tubuhnya gemetar hebat, matanya menatap kosong ke depan seolah sedang melihat hantu. Sebastian mencoba mendekat, namun Ariesta justru semakin menjauh, berteriak ketakutan pada ayahnya sendiri.
Melihat itu, dadaku terasa sesak. Aku tahu tatapan itu. Itu adalah tatapan trauma yang sama dengan yang kulihat pada Jecelyn sebelum dia tiada.
Aku melangkah maju, melewati Sebastian yang terpaku. Aku tidak menyentuh Ariesta. Aku justru duduk di lantai, sekitar dua meter darinya, di tengah serpihan kaca. Aku mulai menyanyikan sebuah senandung kecil. Pelan, sangat pelan.
“Bintang kecil di langit kelabu ... tidur nyenyak, Bunda menjagamu …,”
Itu adalah lagu tidur rahasia yang dulu sering kunyanyikan bersama Jecelyn. Saat kami masih remaja, membayangkan masa depan kami masing-masing.
Tangisan Ariesta perlahan mereda. Isakannya yang kencang berubah menjadi hening. Dia menoleh ke arahku dengan mata sembab. Tangannya yang mungil perlahan terulur ke arahku.
Aku tidak bergerak mendekat. Aku membiarkan dia yang datang kepadaku.
Perlahan, Ariesta merangkak masuk ke dalam pelukanku. Dia menyembunyikan wajahnya di ceruk leherku, mencari rasa aman yang selama ini hilang dari rumah mewah yang dingin ini.
Suasana ruangan menjadi sunyi senyap. Aku bisa merasakan tatapan Sebastian yang tidak beralih dariku. Dia berdiri membeku, melihat putrinya yang selama ini menolak disentuh siapapun. Kini, Bersandar dengan tenang di bahuku.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Sebastian dengan suara yang hampir berbisik, namun penuh kecurigaan.
Aku mengeratkan pelukanku pada Ariesta. "Saya hanya Siska, Tuan. Seseorang yang ingin menjaga apa yang seharusnya dijaga."
Sebastian menatapku cukup lama, seolah sedang mencoba menembus dinding pertahananku. Akhirnya, dia menghela napas panjang dan melonggarkan dasinya.
"Masa percobaan satu minggu," ujarnya dingin, namun otoritasnya kembali. "Mulai besok pagi jam tujuh. Jika dalam satu minggu kamu membuat kesalahan sekecil apapun, saya sendiri yang akan menyeretmu keluar dari rumah ini. Mengerti?"
"Saya mengerti, Tuan Sebastian."
Begitu Sebastian keluar dari ruangan dengan langkah angkuh. Aku menghela napas lega. Aku berhasil. Aku sudah berada di dalam sarang macan ini.
Sambil mengusap punggung Ariesta, aku melirik ke arah pintu. Aku tahu, perjalananku masih panjang. Di balik kemewahan ini, ada rahasia berdarah yang menanti untuk diungkap. Dan aku akan memulainya dengan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Jecelyn.
Jec, tunggu gue. Gue udah ada di sini.
Restoran L’Amour di kawasan SCBD memancarkan aura kemewahan yang tak tersentuh bagi kaum pekerja biasa. Lampu gantung kristal membiaskan cahaya keemasan di atas lantai pualam. Aku melangkah masuk dari pintu khusus VIP, menggenggam tangan kecil Ariesta. Pakaian pengasuhku yang berwarna biru navy sangat kontras dengan gaun malam sutra tanpa lengan milik Rebecca yang menjuntai arogan."Jaga jarakmu, Siska. Jangan sampai anak itu merusak karpet mahal ini, dan pastikan kau tidak terlihat oleh tamu penting," desis Rebecca saat kami berjalan menyusuri lorong berpanel kayu ek.Aku hanya menunduk patuh. Tamu penting yang kau bicarakan itu ayahku, Rebecca.Kami memasuki sebuah ruangan private luas yang disekat oleh pintu geser dari kayu berukir dan tirai velvet tebal. Sisi luar adalah meja makan panjang tempat negosiasi akan berlangsung, sementara sisi dalam adalah ruang tunggu nyaman yang kedap suara, kecuali jika kau membiarkan pintunya terbuka satu sentimeter, seperti yang baru saja kulakuka
Udara di lorong itu seolah tersedot habis. Sebastian berdiri hanya berjarak lima meter dariku, namun tatapan matanya yang setajam elang terasa menembus tengkorakku. Segelas air di tangannya memantulkan cahaya remang dari lampu dinding."Apa yang kamu lakukan di pintu samping pada jam seperti ini, Siska?" ulang Sebastian. Suara baritonnya rendah, bergetar dengan ancaman yang tidak ditutup-tutupi.Otakku, yang sudah ditempa oleh pendidikan bisnis paling keras dari Rudolf Fernandes, ayahku sendiri, berputar dalam hitungan milidetik. Aku tidak boleh terlihat panik. Sedikit saja kegugupan akan membongkar penyamaranku.Aku menundukkan wajah, membiarkan bahuku sedikit merosot. Memasang gestur wanita kelas bawah yang tertangkap basah melanggar aturan. Aku meremas ujung celemekku dengan tangan yang kubuat sedikit gemetar."Maafkan saya, Tuan Besar," cicitku dengan suara yang sengaja dipelankan. "Saya ... saya mengambil pesanan obat."Sebastian mengernyit. Alisnya yang tebal bertaut. "Obat? Di
Kemenangan kecil di kamar Ariesta pagi tadi tidak lantas membuatku bisa bernapas lega. Di rumah ini, dinding-dindingnya seolah memiliki telinga, dan setiap bayangan bisa saja menjadi mata-mata Rebecca. Aku tahu, setelah Sebastian memberikan otoritas penuh kepadaku atas kesehatan Ariesta, Rebecca tidak akan tinggal diam. Wanita itu adalah ular yang paling berbahaya saat merasa terpojok.Aku duduk di kursi kayu di sudut ruang bermain, memperhatikan Ariesta yang sedang menyusun balok warna-warni dengan tenang. Untuk pertama kalinya sejak aku masuk ke rumah ini, wajahnya tidak lagi sepucat kemarin."Siska!" Suara dingin itu muncul dari ambang pintu.Aku segera berdiri dan menunduk hormat. "Iya, Tuan Sebastian?"Sebastian melangkah masuk, tangannya terbenam di saku celana kainnya yang mahal. Dia tidak menatapku, melainkan menatap putrinya."Saya akan pergi ke luar kota untuk urusan bisnis selama dua hari. Selama saya tidak ada, rumah ini tetap dalam pengawasan Rebecca untuk urusan administ
Matahari pagi belum sepenuhnya naik ketika aku sudah berada di dapur, membantu Bu Lastri menyiapkan sarapan untuk Ariesta. Mataku terasa berat, sisa-sisa kurang tidur karena terjaga sepanjang malam menjaga Ariesta yang gelisah akibat suara badai. Namun, rasa kantukku mendadak hilang saat kurasakan getaran halus di balik lipatan stoking yang kukenakan.Itu adalah ponsel rahasia yang kupendam di sana. Satu getaran panjang, dua getaran pendek. Kode dari Pak Beni. Hasil laboratorium sudah keluar."Mbak Siska, ini bubur untuk Nona Ariesta. Tolong dibawa ke atas, ya," ujar Bu Lastri sambil menyodorkan mangkuk porselen putih yang masih mengepul."Baik, Bu. Terima kasih," jawabku sopan.Aku membawa nampan itu menuju kamar Ariesta, namun langkahku terhenti di koridor lantai dua saat pintu kamar utama terbuka. Sebastian keluar dari sana, masih mengenakan kemeja putih semalam namun tanpa dasi dan jas. Rambutnya sedikit berantakan, dan wajahnya tampak lebih kaku dari biasanya. Sepertinya gala bis
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.