LOGINKemenangan kecil di kamar Ariesta pagi tadi tidak lantas membuatku bisa bernapas lega. Di rumah ini, dinding-dindingnya seolah memiliki telinga, dan setiap bayangan bisa saja menjadi mata-mata Rebecca. Aku tahu, setelah Sebastian memberikan otoritas penuh kepadaku atas kesehatan Ariesta, Rebecca tidak akan tinggal diam. Wanita itu adalah ular yang paling berbahaya saat merasa terpojok.
Aku duduk di kursi kayu di sudut ruang bermain, memperhatikan Ariesta yang sedang menyusun balok warna-warni dengan tenang. Untuk pertama kalinya sejak aku masuk ke rumah ini, wajahnya tidak lagi sepucat kemarin.
"Siska!" Suara dingin itu muncul dari ambang pintu.
Aku segera berdiri dan menunduk hormat. "Iya, Tuan Sebastian?"
Sebastian melangkah masuk, tangannya terbenam di saku celana kainnya yang mahal. Dia tidak menatapku, melainkan menatap putrinya.
"Saya akan pergi ke luar kota untuk urusan bisnis selama dua hari. Selama saya tidak ada, rumah ini tetap dalam pengawasan Rebecca untuk urusan administratif, tapi untuk Ariesta ... tanggung jawab sepenuhnya ada di tanganmu."
"Baik, Tuan. Saya akan menjaga Nona Ariesta dengan seluruh kemampuan saya," jawabku mantap.
Sebastian akhirnya menoleh padaku. Matanya menyipit, seolah sedang mencoba memecahkan teka-teki rumit yang tersembunyi di balik wajah "pelayan" yang kupasang.
"Saya tidak tahu mengapa, tapi saya merasa kamu jauh lebih kompeten daripada pengasuh-pengasuh sebelumnya. Jangan hancurkan kepercayaan saya, Siska. Jika terjadi sesuatu pada Ariesta saat saya tidak ada, kamu tidak akan pernah bisa keluar dari Jakarta dengan selamat."
"Saya memahami konsekuensinya, Tuan," sahutku tanpa ragu.
Dia mengangguk singkat, lalu berbalik pergi. Namun, di ambang pintu, dia berhenti sejenak.
"Dan satu lagi. Gunakan kartu ini jika kamu butuh keperluan mendadak untuk Ariesta. Saya tidak ingin mendengar kamu meminta izin pada siapapun, termasuk Rebecca, untuk hal-hal yang menyangkut kebutuhan anak saya."
Dia meletakkan sebuah kartu debit hitam di atas meja rias Ariesta sebelum benar-benar menghilang. Aku menatap kartu itu dengan perasaan campur aduk. Sebastian mulai menunjukkan sisi protektifnya, atau mungkin ini adalah awal dari apa yang orang sebut sebagai Sugar Daddy yang mulai memanjakan miliknya? Tapi aku bukan miliknya. Aku adalah musuh dalam selimut yang sedang menunggu waktu untuk meledak.
Begitu derap langkah Sebastian menghilang, sosok lain muncul. Rebecca berdiri di sana, wajahnya merah padam dengan mata yang berkilat penuh kebencian. Dia melangkah masuk dan menutup pintu ruang bermain dengan bantingan keras.
"Kamu merasa sudah berada di atas awan, Siska?" desisnya, suaranya bergetar karena amarah yang ditahan.
Aku berdiri tegak, tidak lagi menunjukkan ketakutan yang biasanya kupakai sebagai topeng.
"Saya tidak mengerti maksud Anda, Nona Rebecca."
"Jangan berlagak bodoh! Kamu pikir dengan merayu Sebastian lewat Ariesta, kamu bisa menggantikan posisi saya di rumah ini?" Dia mendekat, jari telunjuknya yang berkuku merah tajam menunjuk tepat di depan wajahku. "Identitasmu sedang kuselidiki. Gadis panti asuhan sepertimu tidak mungkin memiliki tatapan seberani ini. Kamu pasti punya agenda tersembunyi."
"Agenda saya hanya satu, Nona. Memastikan Nona Ariesta tidak berakhir tragis seperti ibunya," balasku dengan nada suara yang sengaja kubuat sedingin es.
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipiku. Wajahku terlempar ke samping, rasa panas dan perih langsung menjalar di kulitku. Ariesta berteriak ketakutan dan mulai menangis di pojok ruangan.
"Berani-beraninya kamu menyebut nama Jecelyn!" teriak Rebecca histeris. "Dengar, Siska. Sebastian mungkin memberikanmu otoritas sekarang, tapi saat dia pergi nanti malam, saya adalah ratu di rumah ini. Satu kata dari saya, dan para pelayan bisa membuat hidupmu bagai di neraka."
Aku menyentuh pipiku yang berdenyut, lalu menoleh kembali menatapnya. Alih-alih menangis, aku justru tersenyum tipis. Senyum yang membuat Rebecca sedikit mundur karena terkejut.
"Silakan lakukan apapun yang Anda mau, Nona. Tapi ingat, Tuan Sebastian meninggalkan kartu ini untuk saya. Jika saya terluka sedikit saja atau Nona Ariesta merasa tidak nyaman, saya tidak akan segan menghubungi Tuan Sebastian langsung di tengah rapat bisnisnya," ancamku balik.
Rebecca mendesis marah, namun dia tidak berani melayangkan tamparan kedua. Dia tahu Sebastian sedang sangat sensitif soal Ariesta. Dengan geram, dia berbalik dan meninggalkan ruangan, meninggalkan aroma parfum menyengat yang membuatku muak.
Setelah memastikan Rebecca pergi dan pintu terkunci, aku terduduk di lantai di samping Ariesta. Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungku yang liar. Kupeluk Ariesta yang masih terisak pelan.
Tanganku meraba wajahku sendiri. Perih. Aku merindukan masa-masa ketika aku adalah Friska Fernandes, di mana tidak ada seorang pun yang berani menyentuh seujung kuku pun dariku. Kini, aku harus menerima hinaan dan tamparan dari seorang wanita yang tangannya berlumuran darah sahabatku.
"Maafin Tante Siska ya, Ariesta. Kamu jadi harus lihat ini," bisikku sambil mencium keningnya. Air mataku jatuh tanpa izin. Aku merasa sangat lelah. Kebohongan ini, penyamaran ini ... semuanya terasa seperti jerat yang makin hari makin kencang mencekik leherku. Aku harus bertemu Papa. Aku butuh kepastian bahwa rencana ini tidak akan berjalan sia-sia.
Malam harinya, setelah Sebastian dipastikan berangkat ke bandara dan Rebecca sedang asyik berpesta di klub malam, sesuai laporan yang kuterima dari Pak Beni, aku memutuskan untuk melakukan langkah nekat.
Aku meminta Bu Lastri menjaga Ariesta dengan alasan aku ingin mencari obat untuk pipiku yang bengkak. Dengan kerudung hitam dan kacamata besar, aku menyelinap keluar melalui pintu samping yang jarang dijaga.
Sebuah taksi sudah menungguku di sudut jalan Menteng. Di dalamnya duduk Pak Beni dengan wajah yang sangat cemas.
"Nona Friska! Ya Tuhan, pipi Anda ... apa yang dilakukan wanita itu?" Pak Beni hampir berteriak saat melihat bekas tamparan di wajahku.
"Ini bukan apa-apa, Pak. Fokus pada rencana. Di mana Papa?" tanyaku cepat.
"Tuan Rudolf menunggu di rumah aman di Jakarta Barat. Beliau sangat mendesak ingin bertemu setelah mendengar hasil lab vitamin itu."
Perjalanan itu terasa sangat lama di tengah kemacetan Jakarta. Pikiranku terus melayang pada Sebastian. Pria itu begitu dingin, namun dia memberiku otoritas yang bahkan tidak dimiliki Rebecca. Apakah dia benar-benar mulai mempercayaiku, atau dia hanya menggunakanku untuk menjaga satu-satunya warisan Jecelyn?
Sesampainya di rumah aman, aku langsung masuk dan mendapati Papa sedang duduk di kursi roda dengan selang oksigen yang masih menempel di hidungnya. Wajahnya tampak jauh lebih tua dari yang kuingat.
"Friska ...." Suaranya gemetar saat aku memeluknya.
"Papa, aku di sini. Aku baik-baik saja," ujarku mencoba menenangkan pria yang paling kucintai itu.
"Hasil lab itu ... Jecelyn benar-benar diracun, Nak. Zat itu bekerja sangat lambat, mengikis sistem saraf sampai jantungnya menyerah. Dan sekarang mereka melakukan hal yang sama pada anak Sebastian. Kamu harus segera membongkarnya, Friska. Jangan sampai jatuh korban lagi."
"Aku tahu, Pa. Aku sudah memegang kendali atas vitamin Ariesta sekarang. Tapi aku butuh lebih dari sekadar hasil lab. Aku butuh pengakuan atau bukti bahwa Rebecca bekerja sama dengan Elsa Riddle untuk menghancurkan Fernandes Group lewat kematian Jecelyn."
Papa memegang tanganku erat.
"Elsa sedang merencanakan merger paksa antara Steel Group dan Fernandes Group. Dia ingin Sebastian menjadi alatnya. Kamu harus tetap di sana, awasi setiap pergerakan mereka. Tapi kumohon, berhati-hatilah dengan Sebastian. Pria itu cerdas. Jangan sampai dia tahu siapa kamu sebenarnya sebelum waktunya."
Aku mengangguk lemah. “Sudah terlambat, Pa. Hati Friska Fernandes mungkin sudah mulai goyah karena pria itu,” batinku pilu.
Setelah dua jam berkonsultasi, aku harus segera kembali sebelum ada yang menyadari kepergianku. Saat aku baru saja hendak melangkah keluar dari rumah aman, sebuah mobil hitam mewah melintas di depan pagar.
Jantungku seolah berhenti berdetak. Aku mengenali plat nomor mobil itu. Itu adalah mobil cadangan Sebastian Steel yang seharusnya berada di bandara.
Apakah dia mengikutiku?
Aku segera masuk kembali ke dalam rumah aman, memadamkan semua lampu. Di kegelapan, aku bisa merasakan keringat dingin membasahi punggungku. Jika Sebastian menemukanku di sini, bersama Rudolf Fernandes, maka seluruh permainanku akan berakhir malam ini juga.
Aku mengintip dari balik tirai jendela. Mobil itu berhenti tepat di depan gerbang selama beberapa menit yang terasa seperti selamanya. Lampu depannya menyorot tajam ke arah pintu masuk, seolah-olah sedang mencari keberadaanku di balik kegelapan.
"Nona, tetap diam," bisik Pak Beni di belakangku.
Mobil itu akhirnya melaju pergi dengan perlahan. Aku merosot di lantai, napasku memburu. Jakarta benar-benar tidak memberikan ruang untuk bernapas. Aku menyadari satu hal. Sebastian Steel jauh lebih berbahaya dan misterius daripada yang pernah kubayangkan.
Siapa kamu sebenarnya, Sebastian? Mengapa kamu memberiku kartu hitam itu, tapi seolah selalu mengawasi setiap langkahku?
Aku harus kembali ke mansion. Sekarang juga. Sebelum singa itu menyadari bahwa mangsanya sedang mencoba kabur dari kandang.
Menunggu musuh datang ke sarangmu sendiri terasa seperti menghitung mundur detik-detik menuju eksekusi mati. Sejak pesan dari Pak Beni masuk semalam, aku tidak bisa memejamkan mata walau sedetik pun.Elsa Riddle. Wanita berwajah bidadari dengan hati sehitam aspal itu adalah dalang di balik kecelakaan yang nyaris merenggut nyawaku, sekaligus dalang kehancuran Papa. Dan sore ini, dia berani menginjakkan kakinya di kediaman Steel."Mbak Siska, tehnya sudah siap. Apakah saya yang harus mengantarkannya ke ruang tamu?" tanya Bu Lastri, membuyarkan lamunanku.Sejak Rebecca diseret keluar kemarin, dinamika kekuasaan di rumah ini berubah drastis. Titah Sebastian mutlak, aku kini adalah pemegang kendali seluruh urusan internal. Para pelayan menunduk hormat padaku, tak ada lagi tatapan meremehkan.Aku menatap nampan perak berisi set cangkir porselen Bone China itu. "Tidak perlu, Bu. Biar saya saja yang mengantarkannya. Pastikan Nona Ariesta tetap bermain di kamarnya dan jangan biarkan dia turun
Keheningan mencekik menelan seisi ruangan. Udara terasa begitu berat, seolah oksigen baru saja tersedot habis oleh kehadiran Sebastian Steel. Pria itu tidak berteriak. Dia tidak membanting barang. Namun, aura gelap yang menguar dari tubuhnya jauh lebih mengerikan daripada ledakan amarah manapun.Sebastian merogoh saku dalam jasnya, mengeluarkan ponsel tipis berwarna hitam legam. Jarinya bergerak cepat di atas layar, mengakses sistem keamanan terpusat mansion ini."Tidak ... Sebastian, kumohon ... dia berbohong!" ratap Rebecca dari lantai. Riasannya mulai luntur oleh air mata kepanikan. "Aku bersumpah aku tidak melakukannya!"Tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya, Sebastian membalikkan layarnya ke arah Rebecca.Sebuah rekaman beresolusi tinggi yang jernih terpampang di sana. Terlihat jelas sosok Rebecca, lengkap dengan blazer merah menyalanya, mengendap-endap masuk ke kamar ini pada pukul delapan lewat lima belas menit, membuka tas lusuh milikku, dan memasukkan botol kaca it
Aku memasangkan penyuara telinga kedap suara bergambar kelinci ke kepala Ariesta, memutarkan film animasi kesukaannya di tablet. Aku butuh anak ini terisolasi dari keributan yang sebentar lagi akan meledak. Ini adalah medan perang orang dewasa, dan aku menolak membiarkan malaikat kecil ini kembali melihat sisi gelap dari rumahnya sendiri.Tepat saat Ariesta tersenyum menatap layar, pintu ruang bermain didorong kasar dari luar.Rebecca melangkah masuk bak seorang ratu yang akan menjatuhkan vonis mati, diikuti oleh Dokter Hendrik di belakangnya. Tidak ada lagi kepura-puraan di wajah sekretaris itu. Hanya ada ambisi kejam untuk menyingkirkanku."Bawa kami ke kamarmu, Siska," titah Rebecca dingin. "Dokter Hendrik menemukan kejanggalan pada hasil tes darah terakhir Ariesta, dan kami harus memeriksa setiap nutrisi, obat, dan barang pribadi yang kau gunakan untuk merawatnya.""Tentu, Nona. Mari silakan," balasku patuh. Aku menundukkan kepala, menyembunyikan senyum mematikan yang mulai terben
Sentuhan ibu jari Sebastian di sudut bibirku terasa seperti besi panas yang menempel pada kulit tipis kewarasanku. Jantungku berdetak brutal, menabrak tulang rusuk dengan ritme yang memekakkan telinga. Mata obsidiannya menelanjangiku, mencari celah kerentanan yang sengaja kusembunyikan rapat-rapat.Aku harus mengakhiri ini sebelum penyamaranku hancur oleh reaksiku sendiri.Dengan sisa kekuatan yang kumiliki, aku memundurkan wajahku sejengkal, memutus kontak fisik yang memabukkan itu. Aku menundukkan kepala, mengatur napas agar terlihat seperti pelayan yang gugup, bukan wanita yang sedang menahan hasrat untuk melawan."M-maaf, Tuan Besar," cicitku pelan. "Saya harus memeriksa Nona Ariesta. Sepertinya selimutnya tersingkap."Sebastian tidak langsung merespons. Tangannya yang menggantung di udara perlahan turun, masuk ke dalam saku celana piyamanya. Dia menatapku dalam diam, namun ada kilat kepuasan. Sebuah seringai tipis yang nyaris tak kasat mata, di sudut bibirnya. Dia menikmati kepan
Sinar matahari pagi yang menembus jendela kaca patri memantul anggun di atas lantai marmer crema marfil. Kamar tamu utama di sayap barat mansion ini lebih pantas disebut sebagai suite hotel bintang lima daripada kamar tidur seorang pengasuh. Ranjang king-size dengan seprai sutra, walk-in closet, dan kamar mandi pribadi berbalut pualam."Mbak Siska sungguh beruntung. Selama saya bekerja di sini, belum pernah ada karyawan yang diizinkan menempati area sayap barat," bisik Bu Lastri seraya meletakkan koper kecilku yang butut di sudut ruangan elegan itu."Ini hanya untuk memudahkan saya menjaga Nona Ariesta, Bu," balasku merendah, menekan gejolak batin yang menertawakan ironi ini. Friska Fernandes kembali tidur di ranjang sutra, namun kali ini sebagai tawanan dari strateginya sendiri."Oh ya, Mbak. Tadi pagi-pagi sekali, tangan kanan Tuan Sebastian menitipkan ini," Bu Lastri menyodorkan sebuah kotak kecil berlapis beludru hitam. "Katanya khusus untuk Mbak Siska."Aku menerima kotak itu den
Pecahan kaca itu berserakan bak kristal es yang memantulkan ketakutan murni di wajah Rebecca. Untuk beberapa detik, wanita itu hanya bisa menatap tumpahan cairan bening di bawah kakinya dengan napas memburu. Dadanya naik-turun drastis.Lalu, matanya menangkap sosok Bu Lastri yang mematung di ambang pintu.Kepanikan di wajah Rebecca seketika bertransformasi menjadi kemarahan yang dipaksakan. Sebuah mekanisme pertahanan dari seseorang yang baru saja tertangkap basah."Apa yang kau lihat, Tua Bangka?!" lengking Rebecca, suaranya pecah dan kehilangan keanggunan. Ia menarik gaunnya, melangkah mundur menghindari genangan itu seolah takut kulitnya melepuh. "Bersihkan kekacauan ini! Dan kau, Siska ... urusan kita belum selesai!"Tanpa menoleh lagi, Rebecca berbalik dan berlari kecil menyusuri lorong menuju kamarnya. Suara hak tingginya yang beradu dengan marmer terdengar tidak beraturan, melambangkan kekacauan mentalnya yang kini berada di ambang kehancuran.Aku menatap kepergiannya dengan ra







