Chapter: BAB 59 – Tarian Payung BesiAksa mengalirkan Prana ke kedua kakinya dan melesat ke bawah payung besi yang masih berputar. Ia merunduk rendah, bertumpu pada kedua tangan, lalu membalikkan tubuhnya ke belakang dalam satu gerakan salto. Ujung kakinya menghantam payung itu dari bawah dengan seluruh tenaga.DUAAK!Payung itu terpental ke atas, hanya sejengkal dari kepala Aisha. Aksa mendarat dengan kedua kaki dan langsung berdiri tegak.Belum sempat Aksa mengatur napas, jarum-jarum kecil melesat dari tangan Serena ke berbagai titik di tubuhnya dan tubuh Aisha. Aisha mengayunkan pedangnya dan menepis semuanya.Tring! Tring! Tring!Jarum-jarum itu terpental ke segala arah.Di saat yang sama, Aksa kembali mengerahkan Rajah Kecepatan. Tubuhnya melesat ke belakang Serena, begitu cepat hingga perempuan itu baru menyadarinya ketika ia sudah berdiri di sana. Mata Serena melebar. Aksa langsung menusukkan katarnya ke punggung lawannya.Serena memutar tubuh. Tusukan itu meleset dan hanya menggores bahunya.“Ugh!”Tubuh Serena t
Last Updated: 2026-10-31
Chapter: BAB 58 – KaburBayangan di balik kain tenda itu semakin jelas. Aksa segera menoleh kepada budak perempuan itu. Ia menunjuk sumpalan kain di dekat kakinya, lalu memberi isyarat agar perempuan itu memasangnya kembali. Tanpa membuang waktu, perempuan itu menyumpal mulutnya dan menaruh kembali kedua tangannya di belakang. Aksa mengacungkan ibu jempol kepadanya, kemudian merapat ke sisi pintu tenda. Langkah kaki itu semakin dekat. Aksa menahan napas, menunggu orang itu masuk. Tak lama kemudian, kain tenda itu tersibak. Damian muncul sambil membawa beberapa barang. Saat ia hendak menghampiri budak perempuan itu, Aksa langsung menghantam tengkuknya dengan gagang Katar. Barang-barang yang dibawanya terlepas dari tangan. Tubuh Damian terhuyung sebelum akhirnya ambruk ke tanah. Aksa segera berjongkok di samping Damian yang tak sadarkan diri, lalu menoleh kepada perempuan itu. “Tolong ambilkan tali itu. Bantu aku mengikatnya,” bisik Aksa sambil menunjuk seutas tali di samping kotak yang berisi ber
Last Updated: 2026-10-30
Chapter: BAB 57 — Bayangan di Balik TendaAksa menyelinap ke balik batu besar, lalu mengintip dari pinggirannya. Perempuan pengguna Rajah Racun baru saja masuk ke sebuah tenda. Tak jauh dari sana, seorang pria duduk di dekat api unggun sambil menikmati minuman dari mangkuk di tangannya.Di sisi lain perkemahan, Azlam tampak sedang berbicara dengan seorang pria kurus di depan tenda paling besar. Pria itu adalah orang yang beberapa hari lalu memukul belakang kepala seorang budak perempuan hingga pingsan.Aksa berpindah ke balik batu lain yang letaknya lebih dekat dengan mereka. Ia berusaha menangkap percakapan keduanya tanpa terlihat.“Akibat ulahmu, kita jadi terlambat setengah hari,” kata pria kurus itu. “Tuan Qazrakh pasti marah besar kalau kita terlambat menghadiri pelelangan budak!”Azlam mendengus. “Uangku hilang! Aku yakin pelayan itu yang mengambilnya!”“Apa kau punya bukti? Ada yang melihatnya mengambil uangmu?” Pria kurus itu menatapnya tajam.Azlam terdiam.“Kau tahu kita membutuhkan air dari Qar’uhn. Kalau izin kita
Last Updated: 2026-10-29
Chapter: BAB 56 – Tenda Pemburu BudakKebetulan sekali. Ia tak perlu lagi susah payah mencari tahu di mana perkemahan mereka. Kalau ia mengikuti perempuan ini, mungkin ia bisa menemukan tempat budak hina perempuan itu ditahan. Jantungnya berdegup lebih cepat. Ia menunggu beberapa saat, lalu melangkah. Setiap kali perempuan itu menoleh ke belakang, Aksa buru-buru menepi dan berpura-pura memeriksa barang di kios terdekat agar perempuan itu tidak menyadari bahwa ia sedang diikuti. Perempuan pengguna Rajah Racun terus berjalan sampai tiba di kolam air di tengah pasar, lalu berbelok ke kiri menuju gerbang utama kota Qar’uhn. Aksa menjaga langkahnya agar tidak tertinggal. Matanya tak lepas dari punggung perempuan itu. Semakin dekat ke gerbang, suasana pasar mulai berubah. Tak ada lagi yang berteriak menawarkan dagangan. Orang-orang berjalan lebih cepat dan sedikit lebih tenang. Ada pedagang yang menuntun gerobak penuh karung, ada juga rombongan musafir yang baru datang, wajah mereka lelah dan pakaian mereka kelabu oleh deb
Last Updated: 2026-10-28
Chapter: BAB 55 – Sosok di Tengah KeramaianAksa menyelipkan keping logam itu ke balik pakaiannya, lalu meninggalkan tumpukan jerami tempat ia menemukannya. Markas perlahan kembali berjalan seperti biasa. Dari kejauhan, ia melihat Azriel menuju ruang kurungan untuk menyiapkan makanan bagi monster-monster di sana.Aksa mengembuskan napas.Mulai besok, aku bekerja di sini. Semoga semuanya berjalan lancar.Ia melewati tanah lapang tempat beberapa anggota sedang berlatih. Mereka mengayunkan senjata dan mengulang gerakan yang sama berkali-kali. Dengan pekerjaan yang mengharuskan mereka berhadapan dengan berbagai jenis monster, Aksa mengerti mengapa mereka tak boleh malas berlatih.Di gerbang, Syam sedang berjaga. Aksa tersenyum dan mengangguk. Syam membukakan gerbang markas pemburu monster, lalu menahan langkahnya.“Kamu Aksa, kan? Aku Syam.” Ia mengulurkan tangan.Aksa menjabatnya. “Senang berkenalan denganmu, Syam. Aku pulang dulu ke tempat Mualim.”“Jangan lupa besok pagi datang tepat waktu. Ketua tidak suka anggotanya tidak disi
Last Updated: 2026-10-27
Chapter: BAB 54 – Hilangnya Rajah TerlarangRasyad berbalik dan mengeluarkan peluit dari balik pakaiannya.Pritttt!Suara nyaring itu menusuk telinga hingga Aksa refleks menutupnya rapat-rapat. Namun, tepat ketika bunyinya mereda, telapak kakinya menangkap sesuatu.Getaran samar dari arah pintu besi.Ada sesuatu yang bergerak menjauh dari ruangan itu. Cepat, ringan, dan sangat hati-hati.Jantung Aksa berdegup kencang. Ia menoleh ke pintu, memejamkan mata sejenak, lalu mencoba mengikuti getaran tipis itu. Namun, sebelum sempat memastikan arahnya, suara langkah kaki bergemuruh dari segala penjuru. Rasyad sudah menerobos keluar dan kembali meniup peluitnya.Pritttt!“Azriel, cepat panggil Kareem ke sini!” serunya ke arah lorong. “Syam, tutup gerbang! Jangan biarkan siapa pun keluar dari markas!”Para pemburu berlarian menjalankan perintah. Getaran langkah mereka menghantam lantai bertubi-tubi, bercampur menjadi satu hingga jejak halus yang tadi dirasakan Aksa lenyap tertelan keramaian.Aksa mengepalkan tangan. Tadi ia hampir menan
Last Updated: 2026-10-26