Chapter: Bab 5 - Tegak di atas Kaki SendiriWaktu yang ditunggu telah tiba.Hari Senin, 6 September 2027, hari yang ditentukan oleh Bapak untuk membicarakan “hal penting” itu.“Ibu, sudah siap?” tanya Arga sambil meraih kunci mobilnya. Ibu pun bangkit dari duduknya.Pada hari itu, penampilan Ibu berbeda dari biasanya. Gaun berbentuk A-line bermotif bunga hitam serta potongan bahunya yang tegas membalut tubuh Ibu dengan anggun. “Ya.” Tak lupa, Ibu mengenakan sepatu hitam berhak runcing stiletto yang membuat aura dingin dan tegas dari Ibu pun terpancar. Sesampainya di kafe, pelayan kafe tersebut dengan ramah menyambut mereka. Mereka datang dengan pakaian serba hitam. Dengan sorot mata yang tajam, Bapak pun memperhatikan gestur dari istri dan kedua putranya.Lihatlah mereka, angkuh sekali ekspresinya. Mereka pikir, mereka bisa berkarir seperti itu tanpa uangku? Dasar tak tahu diuntung! Bapak menatap sinis pada mereka.Ibu pun menyesap hot matcha lattenya dengan tenang, lalu menaruh cangkir tehnya agak keras. TAK! Bunyi cangkir
Last Updated: 2026-10-09
Chapter: Bab 4 - Penawar Luka“Apa kau bilang …?” Ibu menatap tajam wanita itu. Wanita bersurai coklat itu masih mendongak angkuh.Baru saja Ibu hendak mendekati wanita itu, namun dengan cepat Galang menarik tangan Ibu. “Jangan, Bu.” Cegahnya. Sorot mata Galang menatap wanita itu dengan sinis. “Ibu tidak perlu meladeni wanita jalang itu. Ayo kita pergi dari sini.” Ajaknya. Ibu yang menatap putranya sedang menahan amarah pun akhirnya menuruti perkataan Galang.“Ya sudah, ayo.” Mereka berdua pun pergi meninggalkan restoran itu. Galang mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Sedangkan Ibu diliputi dengan perasaan campur aduk—syok, marah, sedih, dan kecewa menjadi satu. ************Di ruang kerjanya, Arga memijat pelan pangkal hidungnya—ia kewalahan karena sedari pagi banyak pasien yang berdatangan. Ia pun menenggak air putih untuk menenangkan dirinya. “Ya ampun, padahal hari Sabtu, ya. Weekend begini malah banyak yang datang ke psikolog.” Ujarnya
Last Updated: 2026-10-09
Chapter: Bab 3 - Di Luar Perkiraan“Apa?” Ratih terkejut. Ia tidak menyangka seorang Bayu yang terkenal dingin bak kulkas 12 pintu dan irit bicara pun ternyata bisa seperti ini. Bayu pun mengeluarkan 3 lembar voucher bertuliskan “Oishii Bento”. “Saya dapat voucher makan di restoran ini, besok terakhir penukarannya. Jadi saya mau ajak Bu Ratih dan Bu Irma makan siang bareng.” jelasnya sambil memperlihatkan voucher itu. Ratih hanya ber”oh” ria mendengar penjelasan dari Bayu barusan, “Terima kasih, Pak.” sahutnya datar. Irma pun segera menghampiri mereka. “Eh, itu voucher apa, Pak?” tanyanya kepo. “Voucher makan di ‘Oishii Bento’, Bu. Saya mau ngajak Bu Irma dan Bu Ratih besok sepulang sekolah.” jawab Bayu. “Wah …, asyik banget! Terima kasih banyak, ya, Pak!” kata Irma dengan riang. Bayu mengangguk sambil tersenyum tipis. Ratih memandang Bayu dengan tatapan skeptis. Dari sekian banyaknya dosen, kenapa kami yang diajak? Batin Ratih dalam hati. Bayu yang tengah melirik smartwatchnya pun berdiri dari bangkunya. “Sa
Last Updated: 2026-10-09
Chapter: Bab 2 - Tak Seperti Biasanya“Banyak yang jauh lebih cantik darimu,” cibir Danang dengan tatapan meremehkan.“Untuk apa kau berdandan? Kau sudah tidak semenarik dulu, Ratih.”Mendengar itu, Ratih hanya bisa mengepalkan tangan, menahan sesak saat kalimat berikutnya meluncur tajam, “KAU BAHKAN TIDAK BISA MEMBUATKU MERASA SEBAGAI PRIA!”Pertahanan batin Ratih seketika luluh lantak. Ratih tersentak dengan perkataan Danang, seakan-akan memperjelas rasa sesak yang menghimpit dadanya. Emosi yang ia tahan sekian tahun lamanya pun akhirnya meluap.“DASAR KAU PRIA TAK TAHU DIUNTUNG! Apa kau tidak cukup dengan satu wanita, hah?!” Kesabaran Ratih habis.“Kau lihat? Sikapmu yang jauh dari kata lemah lembut itulah yang menjadi alasanku untuk berselingkuh di luar sana! KAU TIDAK PUNYA KACA?!” bentak Danang sambil menunjuk-nunjuk Ratih.“Seharusnya aku yang bilang begitu! Kau—” Sebelum Ratih melanjutkan kalimatnya, di tengah-tengah mereka muncul anak mereka—Arga.“Bapak? Ibu?” tanyanya dengan mata yang berkaca-kaca.“Sayang …” I
Last Updated: 2026-10-09
Chapter: Bab 1 - Badai Menerpa“Sejak kapan kau berselingkuh dengan Bu Citra?”Ratih menopang dagunya, seraya menunggu jawaban dari Danang yang diam mematung, tidak menyangkal. Tak lama, Ratih pun mengeluarkan ponsel kedua milik Danang. Danang terbelalak ketika Ratih menggenggam ponsel yang selama ini ia sembunyikan dari Ibu.Ratih tersenyum mengejek,“Terima kasih ya, Pak, transferannya.”“Aku kangen, Pak. Bapak tidak bisa menginap hari ini?”“Bagaimana kalau Bu Ratih tahu?” Ratih membacakan beberapa pesan teks yang Citra kirim ke Danang. Pesan teks mesra yang bahkan tidak pernah Danang lakukan ke Ratih. Terlihat air muka Danang menegang, seraya berusaha mencari jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan Ratih. Plung. Tanpa berpikir panjang, Ratih pun melempar ponsel tersebut ke kuah opor ayam yang berlemak. Mengotori kemeja rapi warna abu muda yang Danang kenakan malam itu.“Kau terlalu membesar-besarkan masalah,” tukas Danang sembari memicingkan matanya. “Ingat umur. Kau sudah tidak pantas lagi bertingkah se
Last Updated: 2026-10-09