Share

Karma Dari Istri Yang Tersisih
Karma Dari Istri Yang Tersisih
Author: Ad Meliora

Bab 1 - Badai Menerpa

Author: Ad Meliora
last update publish date: 2026-10-09 18:19:32

“Sejak kapan kau berselingkuh dengan Bu Citra?”

Ratih menopang dagunya, seraya menunggu jawaban dari Danang yang diam mematung, tidak menyangkal. Tak lama, Ratih pun mengeluarkan ponsel kedua milik Danang. Danang terbelalak ketika Ratih menggenggam ponsel yang selama ini ia sembunyikan dari Ibu.

Ratih tersenyum mengejek,

“Terima kasih ya, Pak, transferannya.”

“Aku kangen, Pak. Bapak tidak bisa menginap hari ini?”

“Bagaimana kalau Bu Ratih tahu?”

Ratih membacakan beberapa pesan teks yang Citra kirim ke Danang. Pesan teks mesra yang bahkan tidak pernah Danang lakukan ke Ratih. Terlihat air muka Danang menegang, seraya berusaha mencari jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan Ratih.

Plung. Tanpa berpikir panjang, Ratih pun melempar ponsel tersebut ke kuah opor ayam yang berlemak. Mengotori kemeja rapi warna abu muda yang Danang kenakan malam itu.

“Kau terlalu membesar-besarkan masalah,” tukas Danang sembari memicingkan matanya. “Ingat umur. Kau sudah tidak pantas lagi bertingkah seperti anak ABG puber.”

Mendengar jawaban dari Danang barusan, Ratih pun tak dapat menahan lagi gelak tawanya. Ratih tertawa terbahak-bahak, namun terasa sekali ada segelintir kepahitan yang bersemayam di tawanya itu.

“Kau tidak punya kaca? Bukannya aku yang harusnya bilang begitu, ya?” sahut Ratih sarkas. Ratih pun mencondongkan tubuhnya, lalu menunjuk-nunjuk Danang dengan ujung jarinya persis di depan wajah Danang.

“Heh, Danang Pradipta Wiratama,” desis Ratih dengan penuh mengintimidasi. “Kaulah laki-laki yang seperti remaja puber itu. Bukan sekali dua kali kau seperti ini.” tambahnya sambil memandang Danang dengan penuh penghinaan.

“Lihatlah dirimu, bahkan kau sudah tidak menghargaiku sebagai kepala keluarga,” sindir Danang sambil menatap Ratih dengan tajam.

Seakan tidak mau kalah, Ratih menimpali, “Untuk apa aku menghargai pria yang bahkan tidak menghargai istrinya sendiri?”

Danang menyeringai, “Kau baru saja menunjukkan sikap yang menjadi alasanku untuk berselingkuh lagi.”

Ratih pun mengusap wajahnya. Ia tidak percaya, kalimat yang dilontarkan oleh suaminya barusan bagaikan pukulan telak di dadanya. Terlebih lagi, Ratih tidak menyangka suaminya begitu keras mengelak akan perselingkuhannya, walaupun bukti sudah terpampang jelas.

“Alasanmu untuk berselingkuh lagi, katamu? Ha!” sahut Ratih sambil tertawa mengejek. “Kau bahkan tidak pantas menyandang gelar seorang kepala keluarga dan bapak. Gelar itu terlalu suci untukmu yang bahkan tidak bisa menjaga kemaluannya sendiri.”

Amarahnya memuncak—mata Danang melotot begitu Ibu berkata demikian. Dan …

BRAK! Danang sudah tidak kuat lagi menahan emosinya. Tangannya pun mengepal hingga urat-urat di tangannya terlihat. Meja yang tadi dipukul oleh Danang pun meninggalkan retak di permukaannya.

“KURANG AJAR KAU! JAGA BICARAMU!” Danang meninggikan suaranya. Tanpa pikir panjang, Ratih pun langsung meraih gelas yang berada di hadapannya kemudian melempar gelas itu ke tembok di belakang Danang.

PRANG …! Gelas itu pun hancur seketika. Danang pun tercengang dengan kejadian yang barusan lewat di depan matanya. Ia tidak menyangka, seorang istri yang bertahun-tahun begitu sabar menghadapi segala macam sifatnya, pun bisa meledak di saat seperti ini.

“BAHKAN SETELAH SEKIAN LAMA PERNIKAHAN KITA, KAU TIDAK PERNAH SEDIKITPUN MEMIKIRKAN KU!” teriak Ratih. Air matanya pun langsung terjun membasahi pipinya. “Baiklah kalau kau tidak peduli dengan perasaanku. Tapi bagaimana dengan anak kita?! Kau bahkan menoreh luka batin terberat bagi dia! Kau benar-benar egois!”

Danang menggebrak meja sekali lagi. “KAU TAHU APA TENTANGKU? KAU BAHKAN TIDAK DAPAT MEMBUATKU MERASA SEBAGAI PRIA!” bentak Danang, suaranya menggema hingga ke sudut-sudut ruang makan.

“Kau terlalu mandiri, bahkan karirmu pun bagus. Pria itu butuh dihormati dan dihargai! Tapi kau? Kau bahkan bisa melakukan segalanya! Hal-hal yang ada di dirimu inilah yang membuatku merasa tidak berguna di rumah ini!” seru Danang sembari melepas sedekap tangannya. Ia berdiri sembari menunjuk wajah Ibu dengan gusar.

Iris coklat Ratih menatap Danang dengan tatapan tajam, sebuah tatapan yang mengisyaratkan marah, sedih, kecewa, dan jijik bercampur jadi satu. Setelah setiap teriakan dan lontaran mengisi ruangan itu, keheningan pun menerpa mereka.

“Jadi …, kau menyalahkanku karena aku adalah seorang wanita karir, dan kemudian hal itu menjadi alasanmu untuk berselingkuh, begitu?” tanya Ratih dengan pelan namun dingin. Danang hanya membalas tatapan Ibu dengan tajam.

Ratih pun kembali tertawa getir, kemudian menatap Danang yang masih berdiri dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan sangat merendahkan.

“Jangan jadikan aku sebagai alasanmu yang tidak mampu menahan nafsu, Danang. Kau tidak lebih dari laki-laki berotak mesum dan mencari pelampiasan ke wanita murahan yang mengelus-elus ego laki-lakimu.” ujar Ratih dengan sinis.

Mendengar kalimat terakhir Ratih yang benar-benar meruntuhkan harga diri Danang, Danang pun perlahan duduk kembali di kursinya. Kali ini, ia tidak dapat membalas perkataan Ratih barusan. Keangkuhan yang sedari tadi Danang pertahankan patah total.

“Kau sudah banyak berubah, Ratih,” ucap Danang dengan lirih. “Bahkan sudah seperti ini pun kau tidak pernah memahamiku.”

Perlahan, Danang pun berdiri dari kursinya, dan berkata, “Aku sudah tidak sanggup lagi menghadapi sikap keras kepalamu, Ratih. Sudah puluhan tahun kita hidup bersama, aku tidak pernah benar di matamu. Aku akan keluar dari rumah ini.” Danang meninggalkan meja dapur dan berjalan menuju kamar mereka.

Ratih menyeringai, “Silakan keluar, Danang. Begitu kau angkat kaki dari rumah ini, itu berarti kau sudah resmi melepas statusmu sebagai kepala keluarga di rumah ini. Berbuatlah sesuka hatimu, Danang. Aku sudah muak hidup denganmu.” kata Ratih sambil memandangnya dengan jijik.

Danang yang berjalan pelan ke arah kamar pun terhenti sejenak, ia pun mencondongkan tubuhnya ke arah Danang yang masih berdiri di depan meja makan. Menatap ibu dengan tatapan sinis.

“Persetan dengan semua itu,” desis Danang sambil berlalu.

Setelah pertengkaran hebat itu, Ratih terduduk lemas. Mendadak pandangan Ratih berputar, dan Ratih mulai kehilangan keseimbangannya. Ratih kembali mengenyakkan tubuhnya di kursi.

“Hah …” Ratih mendesah pelan.

Ratih menelungkupkan wajahnya di atas meja. Ia pun berusaha sekuat tenaga menarik napas panjang guna menenangkan dirinya sendiri. Walaupun ia sudah mengetahui bahwa pernikahannya akan berakhir seperti ini, namun tetap saja hal ini membuatnya terkejut.

Apakah normal jika aku merasa lega seperti ini? Rasanya …, seperti ada sesuatu yang berat akhirnya terlepas dariku. Batin Ratih sambil merasa aneh. Ratih terdiam sejenak, dan kembali meraih ponsel yang sudah terendam kuah opor.

Ratih pun mencoba menyalakan ponsel itu—dan untungnya ponsel itu masih menyala. Ia pun menggulir isi chat mesra Danang yang ternyata sudah disembunyikan selama ini. Beberapa hari ini isi percakapan mereka tergolong standar, namun Ratih menemukan satu fakta yang mengejutkan.

Bahwa Danang dan Citra telah menikah siri secara diam-diam.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Karma Dari Istri Yang Tersisih   Bab 5 - Tegak di atas Kaki Sendiri

    Waktu yang ditunggu telah tiba.Hari Senin, 6 September 2027, hari yang ditentukan oleh Bapak untuk membicarakan “hal penting” itu.“Ibu, sudah siap?” tanya Arga sambil meraih kunci mobilnya. Ibu pun bangkit dari duduknya.Pada hari itu, penampilan Ibu berbeda dari biasanya. Gaun berbentuk A-line bermotif bunga hitam serta potongan bahunya yang tegas membalut tubuh Ibu dengan anggun. “Ya.” Tak lupa, Ibu mengenakan sepatu hitam berhak runcing stiletto yang membuat aura dingin dan tegas dari Ibu pun terpancar. Sesampainya di kafe, pelayan kafe tersebut dengan ramah menyambut mereka. Mereka datang dengan pakaian serba hitam. Dengan sorot mata yang tajam, Bapak pun memperhatikan gestur dari istri dan kedua putranya.Lihatlah mereka, angkuh sekali ekspresinya. Mereka pikir, mereka bisa berkarir seperti itu tanpa uangku? Dasar tak tahu diuntung! Bapak menatap sinis pada mereka.Ibu pun menyesap hot matcha lattenya dengan tenang, lalu menaruh cangkir tehnya agak keras. TAK! Bunyi cangkir

  • Karma Dari Istri Yang Tersisih   Bab 4 - Penawar Luka

    “Apa kau bilang …?” Ibu menatap tajam wanita itu. Wanita bersurai coklat itu masih mendongak angkuh.Baru saja Ibu hendak mendekati wanita itu, namun dengan cepat Galang menarik tangan Ibu. “Jangan, Bu.” Cegahnya. Sorot mata Galang menatap wanita itu dengan sinis. “Ibu tidak perlu meladeni wanita jalang itu. Ayo kita pergi dari sini.” Ajaknya. Ibu yang menatap putranya sedang menahan amarah pun akhirnya menuruti perkataan Galang.“Ya sudah, ayo.” Mereka berdua pun pergi meninggalkan restoran itu. Galang mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Sedangkan Ibu diliputi dengan perasaan campur aduk—syok, marah, sedih, dan kecewa menjadi satu. ************Di ruang kerjanya, Arga memijat pelan pangkal hidungnya—ia kewalahan karena sedari pagi banyak pasien yang berdatangan. Ia pun menenggak air putih untuk menenangkan dirinya. “Ya ampun, padahal hari Sabtu, ya. Weekend begini malah banyak yang datang ke psikolog.” Ujarnya

  • Karma Dari Istri Yang Tersisih   Bab 3 - Di Luar Perkiraan

    “Apa?” Ratih terkejut. Ia tidak menyangka seorang Bayu yang terkenal dingin bak kulkas 12 pintu dan irit bicara pun ternyata bisa seperti ini. Bayu pun mengeluarkan 3 lembar voucher bertuliskan “Oishii Bento”. “Saya dapat voucher makan di restoran ini, besok terakhir penukarannya. Jadi saya mau ajak Bu Ratih dan Bu Irma makan siang bareng.” jelasnya sambil memperlihatkan voucher itu. Ratih hanya ber”oh” ria mendengar penjelasan dari Bayu barusan, “Terima kasih, Pak.” sahutnya datar. Irma pun segera menghampiri mereka. “Eh, itu voucher apa, Pak?” tanyanya kepo. “Voucher makan di ‘Oishii Bento’, Bu. Saya mau ngajak Bu Irma dan Bu Ratih besok sepulang sekolah.” jawab Bayu. “Wah …, asyik banget! Terima kasih banyak, ya, Pak!” kata Irma dengan riang. Bayu mengangguk sambil tersenyum tipis. Ratih memandang Bayu dengan tatapan skeptis. Dari sekian banyaknya dosen, kenapa kami yang diajak? Batin Ratih dalam hati. Bayu yang tengah melirik smartwatchnya pun berdiri dari bangkunya. “Sa

  • Karma Dari Istri Yang Tersisih   Bab 2 - Tak Seperti Biasanya

    “Banyak yang jauh lebih cantik darimu,” cibir Danang dengan tatapan meremehkan.“Untuk apa kau berdandan? Kau sudah tidak semenarik dulu, Ratih.”Mendengar itu, Ratih hanya bisa mengepalkan tangan, menahan sesak saat kalimat berikutnya meluncur tajam, “KAU BAHKAN TIDAK BISA MEMBUATKU MERASA SEBAGAI PRIA!”Pertahanan batin Ratih seketika luluh lantak. Ratih tersentak dengan perkataan Danang, seakan-akan memperjelas rasa sesak yang menghimpit dadanya. Emosi yang ia tahan sekian tahun lamanya pun akhirnya meluap.“DASAR KAU PRIA TAK TAHU DIUNTUNG! Apa kau tidak cukup dengan satu wanita, hah?!” Kesabaran Ratih habis.“Kau lihat? Sikapmu yang jauh dari kata lemah lembut itulah yang menjadi alasanku untuk berselingkuh di luar sana! KAU TIDAK PUNYA KACA?!” bentak Danang sambil menunjuk-nunjuk Ratih.“Seharusnya aku yang bilang begitu! Kau—” Sebelum Ratih melanjutkan kalimatnya, di tengah-tengah mereka muncul anak mereka—Arga.“Bapak? Ibu?” tanyanya dengan mata yang berkaca-kaca.“Sayang …” I

  • Karma Dari Istri Yang Tersisih   Bab 1 - Badai Menerpa

    “Sejak kapan kau berselingkuh dengan Bu Citra?”Ratih menopang dagunya, seraya menunggu jawaban dari Danang yang diam mematung, tidak menyangkal. Tak lama, Ratih pun mengeluarkan ponsel kedua milik Danang. Danang terbelalak ketika Ratih menggenggam ponsel yang selama ini ia sembunyikan dari Ibu.Ratih tersenyum mengejek,“Terima kasih ya, Pak, transferannya.”“Aku kangen, Pak. Bapak tidak bisa menginap hari ini?”“Bagaimana kalau Bu Ratih tahu?” Ratih membacakan beberapa pesan teks yang Citra kirim ke Danang. Pesan teks mesra yang bahkan tidak pernah Danang lakukan ke Ratih. Terlihat air muka Danang menegang, seraya berusaha mencari jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan Ratih. Plung. Tanpa berpikir panjang, Ratih pun melempar ponsel tersebut ke kuah opor ayam yang berlemak. Mengotori kemeja rapi warna abu muda yang Danang kenakan malam itu.“Kau terlalu membesar-besarkan masalah,” tukas Danang sembari memicingkan matanya. “Ingat umur. Kau sudah tidak pantas lagi bertingkah se

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status