ログインNova, gadis muda yang menikah dengan seorang duda dengan tiga anak. Mereka tinggal bersebelahan dengan mertua. Konflik selalu terjadi antara Nova dan mertua, anak tiri dan ipar. Mampukah Nova bertahan dalam pernikahannya? Ataukah Nova menyerah dan mencari kebahagiaannya sendiri? Ikuti cerita ini.
もっと見る“Hai, Savanah! Heran ya kenapa aku memakai gaun pengantin juga?” tanya Milka dengan senyum manis ketika mereka bertemu tatap di depan pintu gereja.
Savanah mengangguk dengan kepala penuh pertanyaan.
Sepupunya itu pun kembali mengembangkan senyum dan memutar tubuhnya seakan memamerkan gaun pengantinnya yang berkilauan.
“Karena aku akan menikah hari ini!” sahutnya lagi dengan suara yang terdengar begitu riang.
Savanah terhenyak. Milka akan menikah? Di hari yang sama dengan pernikahannya dengan Moreno? Kenapa mendadak seperti ini?
Karena bisu dan Milka tidak mengerti bahasa isyarat, Savanah pun menggerakkan jarinya dengan sederhana, bertanya, “Kau akan menikah dengan siapa?”
Senyum centil Milka mengembang semakin lebar dengan sepasang matanya memutar genit. Ketika dilihatnya Moreno muncul dari sudut ruangan, Milka cepat memanggil pria itu agar datang padanya.
Savanah semakin heran dengan rasa hati yang mulai berfirasat tak enak.
‘Kenapa Milka memanggil Moreno? Moreno kan calon suamiku?’
‘Ah, mungkin Milka hanya ingin berbagi kabar bahagianya denganku sekalian juga dengan Moreno.’
Savanah tetap berusaha mengatur pikirannya tetap positif.
Hanya saja, ketika Moreno telah tiba di dekat mereka, pria itu malah bergeser ke sisi Milka dan membiarkan tangan Milka bergelanyut di lengannya.
“Maaf ya, Sav, tapi aku akan menikah dengan Moreno.”
Savanah terhenyak lagi.
Milka menikah dengan Moreno? Bagaimana bisa? Tatapan Savanah yang sengit pada Moreno menuntut jawaban.
Namun, Moreno hanya menunduk menghindari tatapan Savanah.
“Ehm! Benar apa yang dikatakan Milka. Keluarga besarku masih sulit menerima kekuranganmu sehingga mereka pun memberikan syarat, jika aku masih ingin menjadi bagian keluarga Dyazz, aku harus menikah dengan wanita yang tanpa cacat satu pun.
Karena itulah, aku pun memilih Milka daripada ditendang dari bagian keluarga Dyazz.
Kau tahu kan arti keluarga Dyazz bagi diriku ini?”
Savanah semakin ternganga. 'Aku wanita cacat?'
Hati Savanah seperti ditusuk belati saat mendengarnya. Dia sungguh tak menyangka jika kebisuannya dianggap sebagai suatu kecacatan.
Padahal bisu ini didapatnya karena kecelakaan.
Sungguh terlalu jahat kata-kata Moreno!
Selagi mengatur emosi yang begitu menyesakkan dalam dadanya, Savanah tiba-tiba mendengar deru mobil yang begitu kencang lewat dan mengerem mendadak di depan halaman gereja.
Sesosok pria bertubuh tinggi besar turun dengan melompat dari Jeep-nya lalu dengan wajahnya yang menahan kemarahan pria itu berjalan cepat menuju Moreno.
Tanpa sepatah katapun, pria yang dikenali Savanah sebagai Storm, kakak tiri Moreno, langsung melayangkan tinjunya pada Moreno.
“Sialan kau! Kau membunuh anjingku! Kau biadab!”
Setelah meninju, Storm menarik lagi kerah jas Moreno agar dia bangkit kembali hanya untuk ditinju lagi.
“Kau tidak berperikemanusiaan! Kau lebih rendah dari Rufus!” ujarnya lagi.
Kericuhan itu mencuri perhatian seketika itu juga. Ibunya Moreno sampai berteriak-teriak dan dalam sekejap security pun sudah dipanggil untuk menenangkan mereka.
“Dasar sialan! Anak haram! Untuk apa kau datang ke sini? Kau tidak diundang! Kau tidak diterima! Jangan mengacau di pernikahan putraku!”
“Diam! Aku datang untuk membalas kematian Rufus!”
“Hah! Anjingmu itu merusak taman bungaku!”
“Merusak taman bungamu?! Hah! Dia itu anjing terlatih, tidak pernah sekalipun dia mendatangi kawasan kalian! Lagipula, dia mati karena peluru di pekarangan rumahku! Kalau bukan kalian menembaknya, siapa lagi?!”
Suasana jadi semakin ricuh karena Storm lagi-lagi mengincar Moreno yang baru juga bangkit berdiri dibantu oleh Milka sebagai tempat pelampiasan kemarahannya.
Security pun dipanggil dan diminta untuk menahan Storm.
Mereka menangkap tubuh Storm yang berusaha meraih Moreno lagi untuk meninjunya lagi.
Storm semakin marah tapi dengan mudahnya dia melepaskan diri dari cekalan tangan-tangan security dan memelototi mereka satu per satu.
Di saat itulah, tatapan Storm tanpa sengaja terpaku pada Milka dan Savanah bergantian.
Rasa penasarannya pun timbul.
“Kenapa dia memakai gaun pengantin?” tanyanya terheran-heran dengan kemarahan yang masih tertera kental di wajahnya.
Kesal karena Storm memukuli Moreno, Milka menjawab lantang dengan dagu terangkat tinggi, “Karena aku yang akan menikah dengan Moreno!”
“Apa?” Storm memandangi Savanah lagi. “Lalu kau?”
Savanah tak sanggup menjawab. Selain karena Storm tidak mengerti bahasa jarinya, dia juga tak sanggup menjelaskan tentang dirinya yang sebentar lagi akan menjadi pengantin yang ditinggalkan.
Tapi lagi-lagi, suara lantang Milka terdengar penuh percaya diri. “Savanah ya tentu saja akan pulang. Moreno dan seluruh keluarga Dyazz sudah memilihku daripada dia yang bisu!”
Hati Savanah kembali perih mendengar kata-kata itu.
Milka sepupunya, kenapa tega berkata begitu? Lagipula, tidakkah dia sadar dirinya memang bisu, tapi tidak tuli?
Berusaha keras agar bulir bening di pelupuk matanya tidak jatuh ke pipi, Savanah terperangah melihat Storm yang wajahnya malah terlihat geram ingin mencabik-cabik Milka.
Pria itu seperti hendak meledak dan menyemburkan kemarahan yang teramat dahsyat. Seperti gunung berapi yang siap meletus.
Ketika pria itu mengalihkan tatap ke Moreno, Storm pun melanjutkan lagi aksinya melampiaskan kemarahan pada Moreno.
Dia mencengkeram kerah Moreno dan berdesis di depannya, “Bagaimana kau bisa seegois ini pada Savanah, hah?! Kalau memang akhirnya begini, seharusnya kau tidak perlu merencanakan pernikahan ini dengannya!”
Storm melepas Moreno dengan dorongan kuat hingga Moreno terjatuh lagi ke lantai.
Savanah begitu tak menyangka bahwa Storm menjadi satu-satunya orang yang membelanya saat ini.
Dipandanginya terus wajah Storm yang masih menyorot marah pada Moreno. Bagaimana bisa Storm mengatakan semua hal tadi?
Jujur saja, Savanah cukup tersentuh.
Namun suara menggelegar ibunya Moreno mengalihkan perhatian Savanah. Petir kilat yang lain kembali menyambar hatinya saat mendengar ibunya Moreno menghardik Storm dengan sengitnya,
“Kalau kau begitu peduli padanya, kenapa tidak kau saja yang menikahi Savanah? Lagipula, kalian sebenarnya sangat cocok, dia bisu dan kau berandalan pengangguran. Kalian pasangan serasi!”
Savanah terhenyak. Dia tak menyangka ibu Moreno sanggup berkata seperti itu tentangnya.
Padahal, ibu Moreno dan ibunya adalah dua teman baik.
Dengan hati yang semakin hancur, Savanah pun membalik tubuhnya. Dia sudah memutuskan lebih baik pulang saja sebagai pengantin yang dibuang, daripada dia mengemis pada Moreno untuk tetap menikahinya.
Dia tidak ingin mengatakan apa-apa lagi. Savanah hanya berbalik dan mulai melangkah.
Tapi tiba-tiba saja, terasa tangan Storm menahannya.
Ketika tatapannya mengarah ke wajah Storm, dilihatnya pria itu berkata dengan mantap dan penuh kesungguhan, “Aku tidak akan membiarkanmu menjadi pengantin yang dibuang. Aku yang akan menikahimu, Savanah!”
“Abang takut kehilanganmu. Abang banyak merenung dan berpikir selama Adek masih di klinik. Masalah anak kita, apa yang yang Abang ucapkan itu hanya emosi sesaat. Karena Abang masih kalut dengan usaha Abang yang merugi, ditambah kedatangan perempuan itu. Abang benar-benar minta maaf. Abang akan melakukan apa saja asal kamu tidak pergi. Abang berjanji tidak akan melakukan kesalahan seperti ini lagi.”Aku hanya diam, tidak tahu harus melakukan apa. Apakah aku senang dengan apa yang dilakukan Bang Jo sekarang? “Dek, Abang minta maaf kalau tidak bisa menjadi suami yang seperti kamu inginkan. Tapi Abang berjanji, Abang akan selalu melindungi dan menjagamu. Abang akan menjadi suami siaga untukmu dan bayi kita. Nak, maafkan Ayah,” kata Bang Jo sambil mengelus perutku. Kemudian ia berusaha berdiri dan menunduk untuk mencium perutku.“Maafkan Ayah, Nak. Ayah akan menjagamu sampai kamu lahir dan sampai kamu besar nanti. Ayah akan bercerita tentang ibumu, betapa hebatnya ibumu selama mendamping
Aku sedang mengemasi pakaianku di kamar. Aku baru saja pulang dari klinik dan langsung pulang ke rumah untuk mengemas pakaianku dan Nayla. Diruang tamu ada Bapak dan Bang Jo, entah apa yang mereka bicarakan.“Jadi Ibu benar-benar mau pergi?” tanya Dewi dengan meneteskan air mata. Aku tidak tahu kapan Dewi masuk ke kamarku. Aku menghentikan sejenak kegiatanku dan kemudian duduk di sebelah Dewi.“Maafkan Ibu, Dewi. Semua ini tergantung ayahmu. Kalau memang ayahmu masih menghendaki Ibu ada disini, Ibu akan tetap disini. Tapi percayalah, Ibu akan tetap menyayangimu, apapun yang terjadi.” aku berkata dengan mata yang berkaca-kaca.“Mana janji Ibu yang akan mendampingi Dewi sampai Dewi mandiri? Ibu bohong!” Dewi berteriak sambil menangis. Aku segera memeluknya dan ikut menangis. Sebenarnya berat bagiku meninggalkan anak-anak. Tapi daripada disini tapi diabaikan oleh Bang Jo, lebih baik aku pergi, demi kesehatan mentalku. Apalagi aku sedang mengandung.Aku mendengar diluar sedang terjadi pe
Pagi menjelang siang, aku dikejutkan dengan kedatangan bapakku. Ya Pak Hardi, bapakku datang ke klinik. “Kamu dengan siapa disini? Sendirian? Johan benar-benar keterlaluan! Nanti kamu pulang ke rumah Bapak saja. Bapak masih sanggup mengurusmu!” Bapak tampak geram.“Bapak sama siapa kesini?” tanyaku basa-basi.“Sama Manto!”“Dari kemarin Bapak merasa tidak enak, kepikiran kamu terus. Apalagi waktu mendengar kalau Tina pergi kesini. Bapak sudah menebak apa yang terjadi.”“Bapak tahu dari mana kalau Tina kesini?” tanyaku dengan heran.“Kemarin Bapak mencari beras, anak buahnya bilang sedang pergi kesini. Ya Bapak langsung berpikir tentang kamu. Makanya pagi-pagi Bapak sudah berangkat. Sampai rumahmu hanya ada Nayla, terus Mella bilang kalau kamu disini. Tadi malam kamu sama siapa disini?” Bapak menjelaskan.Aku diam tidak menjawabnya.“Sendirian? Tega sekali Johan ya?” Bapak mulai emosi.“Sebenarnya Dewi, Mella mau menemaniku. Tapi aku nggak mau. Aku sudah meminta Dewi untuk menjaga adi
Sepertinya Bang Jo terpengaruh dengan kata-kata Tina. Tadi malam ia memilih tidur dengan Angga. Pagi ini pun ia tidak banyak bicara. Tidak menyapaku seperti biasanya.Aku membereskan meja makan setelah semuanya sarapan. Anak-anak sudah berangkat sekolah, hanya ada Nayla yang sudah asyik di depan televisi. Dari tadi Bang Jo menghindari bertatapan mata denganku. Aku merasa kalau ia sengaja tidak mau menyapaku.“Hari ini Abang mau kemana?” tanyaku sambil mendekatinya. Ia malah berjalan menghindar.“Bang!” teriakku. Ia tetap tidak menghiraukanku.Aku berlari mengejarnya sampai ke warung.“Mbak Nova, jangan lari, Mbak sedang hamil,” teriak Mella. Aku tersadar kalau aku memang sedang hamil. Bang Jo tetap tidak peduli, ia berjalan keluar. Aku tetap berlari mengejarnya, akhirnya aku bisa meraih tangannya.“Ada apa?” Bang Jo berkata dengan datar.“Seharusnya aku yang bertanya, ada apa Bang? Dari tadi malam Abang menghindariku.”“Bisa kamu pikirkan sendiri!” Bang Jo menjawab dengan ketus.“Jadi
"Diam semuanya!" teriak Bapak.Lagi-lagi kami terkejut dengan teriakan Bapak. Benar-benar menguras emosi mengikuti musyawarah ini, seperti nonton sinetron. Saling teriak dan saling menyalahkan. Kami semua terdiam, suasana menjadi sunyi. Bahkan suara jangkrik pun tidak terdengar, saking sunyinya. Bapa
Ada yang mengucapkan salam. Aku sudah paham, siapa yang memanggilku dengan sebutan Ibu Nay kalau bukan Icha alias Annisa, anak bapakku dengan Ibu Sis. Sebenarnya Icha bisa memanggilku dengan sebutan mbak. Tapi karena jarak usia yang jauh, dan mungkin juga ikut kebiasaan Nayla yang memanggilku ibu. J
Semua barang-barang kami sudah ada di rumah baru. Malam ini kami mau tidur di rumah baru. Rumah ini memiliki tiga kamar. Ruang keluarga sengaja kami buat luas, untuk tempat berkumpul. Sore tadi, Dewi dan Intan diantar Bapak kesini. Katanya mau menginap disini. Kami senang sekali. Semua anak berkumpu
"Maaf, Mak. Saya sibuk beres-beres, sebelum diusir lagi." Aku memilih kata-kata yang tidak menyinggung perasaannya."Wah, tahu diri juga kamu ya? Yang namanya numpang ya kayak gitu, harus siap kalau diusir. Sadar diri. Hebat sekali kamu bisa bikin rumah disitu. Paling juga banyak hutangnya," cibir Em






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
レビュー