MasukMenjalani pernikahan karena perjodohan, nyatanya membuat Rania benar-benar menyesal telah menerima usul dari sang ayah. Menjalani hidup dengan mertua pelit dan juga suami yang penuh dengan kepalsuan, sungguh membuatnya muak. Lihat lah, bagaimana Rania membalas keluarga pelit itu!
Lihat lebih banyak“Ibu tirimu memiliki utang besar, dan satu-satunya cara melunasi utang ini adalah dengan menikahi pamanku.”
Elisa tercengang, tidak mampu percaya dengan ucapan Alex, sang kekasih.
Menikah dengan paman sang kekasih untuk melunasi utang ibu tirinya?
Omong kosong macam apa ini?!
“Utang wanita itu tidak ada hubungannya denganku! Kenapa jadi aku yang menanggungnya?!” sergah Elisa. “Kenapa juga malah kamu yang repot-repot mengabarkanku mengenai hal ini?!”
Alex menggenggam tangan Elisa, berusaha menenangkannya. “Ibu tirimu menjadikanmu jaminan jikalau dia tidak bisa mengembalikan uang yang telah dia pinjam.”
“Apa katamu?” Elisa terbengong, tidak mampu memercayai hal yang baru saja dia dengar.
Kepala Alex mengangguk, ekspresi tidak berdaya terpasang di wajahnya. “Mengetahui hal ini, aku berniat untuk membantu membayarkan utang ibu tirimu. Akan tetapi …,” dia menggertakkan giginya, merasa sangat malu. “... jumlahnya terlalu besar.”
Alex cepat-cepat mengangkat kepalanya.
“Oleh karena itu, aku mencarikan jalan keluar untukmu, dan itu dengan menikahi pamanku!” ucap pria itu dengan tegas. “Sebelumnya, nenekku mengatakan bahwa dia bersedia membayar mahal kepada siapa pun yang bersedia menikahi pamanku, tapi wanita mana yang bersedia menikahi pria yang sebentar lagi akan meninggal?”
Mata Elisa menatap Alex dengan wajah marah. “Lalu, kamu kira aku rela?!” Dia menepiskan tangan Alex yang menggenggamnya. “Apa kamu sendiri rela melihat kekasihmu menikah dengan pamanmu sendiri?”
“Elisa, berpikirlah dengan kepala dingin. Ini adalah jalan keluar yang sempurna,” bujuk Alex. “Kamu cukup menemani pamanku di hari-hari terakhirnya. Setelah Paman pergi, bukan hanya hartanya bisa berakhir di tangan kita, tapi kita juga bisa menikah. Itu akhir yang lebih baik dibandingkan kamu diberikan kepada rentenir yang mungkin saja menjualmu ke pria hidung belang!”
Elisa tak bisa berkata-kata. Ide sang kekasih terlalu gila!
Akan tetapi, situasi Elisa tidak menguntungkan. Dirinya tidak punya pilihan. Ucapan Alex memang benar, menikahi paman Alex, Stevan Wijaya, memang adalah jalan keluar yang paling sempurna.
Menepis kenyataan kondisi keuangan keluarganya yang buruk, Elisa juga tidak pernah bisa menolak permintaan kekasihnya. Cintanya yang terlalu dalam membuatnya seakan bodoh bila dihadapkan dengan Alex.
Alhasil … sesuai rencana, Elisa berakhir menjadi istri sah Stevan Wijaya.
Tidak ada perayaan, tidak ada pesta, hanya penyerahan singkat dokumen dan akta pernikahan.
Semua berlalu begitu cepat, Elisa sampai merasa semua begitu tidak nyata saat dirinya pergi meninggalkan kantor catatan sipil dengan akta pernikahan miliknya.
Di dalam taksi, Elisa menatap cincin berlian di jari manisnya. Senyuman pahit terpasang di wajahnya. “Kamu memang gila, Elisa,” makinya sambil menggigit bibir.
Semakin lama dia memikirkan mengenai kenyataan dirinya sudah menikah, Elisa menjadi semakin kacau. Hal tersebut membuatnya memejamkan mata sesaat sebelum akhirnya membuang wajah dan menatap ke luar jendela taksi.
Sambil menarik napas dalam-dalam, dia berusaha menenangkan diri selagi membayangkan bagaimana cara yang tepat untuk berhadapan dengan nenek Alex nanti, wanita yang sekarang menyandang status sebagai mertuanya.
Namun, saat Elisa sibuk memikirkan hal itu, mendadak matanya terbelalak kala melihat sosok yang familiar di pinggir jalan.
“Pak, berhenti!” teriaknya kepada sopir taksi, menyebabkan mobil berhenti tiba-tiba.
Elisa memerhatikan sosok yang berjalan di pinggir jalan sembari merangkul seorang wanita dengan mesra.
“Alex?” gumamnya, yakin yang dia lihat adalah sosok sang kekasih.
Namun, apa yang pria itu lakukan dengan begitu mesra bersama seorang gadis asing?!
Melihat Alex masuk ke sebuah restoran bersama gadis tersebut, Elisa bergegas turun dari mobil setelah membayar sang sopir. Dia melesat masuk ke restoran untuk memastikan apa dan siapa yang sebenarnya dia lihat.
Matanya yang tajam mengamati sekitar restoran.
Lalu, dia pun melihat sosok itu, sosok sang kekasih yang duduk berhadapan dengan seorang wanita selagi melihat-lihat menu makanan.
Elisa memanfaatkan momen itu untuk melewati keduanya dan menempati sebuah kursi kosong tak jauh dari mereka. Dia ingin memastikan apa hubungan keduanya!
“Pilihlah makanan apa pun yang kamu inginkan, Sayang.”
Detak jantung Elisa seolah terhenti detik itu juga. Alex memanggil wanita itu dengan sebutan ‘sayang’?
“Apa pun? Sungguh?” balas wanita yang wajahnya belum sempat Elisa lihat.
“Tentu saja. Anggap sebagai perayaan karena rencana kita menikahkan Elisa dengan Stevan sudah berhasil.”
DEG!
‘Apa dia bilang?’ Elisa menautkan alisnya.
Wanita yang bersama Alex itu terkikik geli. “Tega sekali kamu menumbalkan kekasihmu sendiri. Kamu benar-benar jahat, Alex.”
Bukannya marah, Alex justru tergelak di tempatnya. Dia sama sekali tidak tersinggung dengan cemoohan itu.
Dengan acuh tak acuh, Alex justru membela dirinya dengan nada menggoda, “Aku tidak kalah jahat dibandingkan kamu dan ibumu! Menghabiskan uang yang begitu besar dan menggunakan orang lain untuk melunasinya. Sungguh tega kamu sebagai adik, Stella.”
Seketika, dunia Elisa terasa runtuh.
Stella … itu adalah nama adik tirinya!
Mendengar hal itu, Elisa langsung mengepalkan tangannya. Amarah menggebu dalam dirinya.
Jadi, ini semua jebakan? Alex beserta ibu dan adik tiri Elisa menipunya untuk menikahi Stevan?!
Tidak … bahkan utang yang disebut-sebut sebagai utang keluarga itu ternyata adalah utang ibu tirinya dan Stella?!
Dengusan terdengar dari sisi Stella. “Tidak sudi aku menganggapnya kakak. Dia hanya kakak tiri yang dibawa ayahku dari pernikahan pertamanya. Aku tidak memiliki ikatan khusus dengannya. Bahkan, ayahku sendiri menganggapnya sangat tidak berguna.”
Tangan Elisa mengepal erat. Hatinya merasa hancur berkeping-keping ketika mengetahui kenyataan mengerikan ini!
Cintanya kepada keluarga begitu besar, tapi ternyata semuanya hanya dianggap sampah. Bukan hanya itu, ayah kandungnya sendiri tahu mengenai semua hal ini dan hanya diam saja melihat dirinya dipergunakan sebagai alat pelunasan utang!
Bajingan! Alex adalah seorang bajingan! Dan adik tirinya, Stella, dia sama busuknya!
Mengenai ayah kandung dan ibu tirinya? Keduanya adalah makhluk tidak punya hati!
Elisa tidak rela! Dia benci! Namun, melabrak dua orang di belakangnya sama sekali tidak berguna. Dia harus menyusun sebuah rencana!
Menahan amarah di dada, Elisa meninggalkan restoran itu dan berpura-pura tidak mengetahui kebusukan Alex.
Dengan mata diselimuti amarah mendalam, Elisa bersumpah dalam hatinya, ‘Karena yang kalian inginkan adalah harta dan kuasa dari Keluarga, maka itulah yang akan aku rebut dari kalian!’
BAB 58 Aku tak bisa tinggal diam saja ketika melihat suamiku diharapkan oleh perempuan lain. Terlebih ini adalah oleh wanita di masa lalu Mas Uji. "Ayo, Na, kita teruskan jalan-jalan. Misi ya, Nak Riris." Seperti ada kekecewaan di kedua manik hitam perempuan manis itu. Seolah-olah mengharapkan sesuatu yang memang sangat ia inginkan. "Umi duluan, Nana mau ngobrol dulu sama Mbak Riris." Riris membeliakkan matanua seakan bingung dengan keinginanku. Aku meminta Umi untuk menunggu di warung dekat lapangan. "Ada apa, Mbak?" tanya Riris. "Begini ya, Mbak Riris. Aku tak ingin menggunakan cara kasar. Singkatnya saja, tolong jauhi suami saya. Mbak Riris sudah tahu Mas Uji memiliki seodang istri, kenapa masih mengharapkannya?" tanyaku pada Riris yang langsung menunduk. Kupikir, wanita itu mengerti, namun ternyata tidak. Ia justru terkekeh mendengar ucapanku. "Lantas, kalau dia sudah menikah memang kenapa? Banyak kok, pernikahan yang hancur karena orang ketiga." Dadaku berdebar kencang
"Eh, Nak Raina. Nggak papa, tadi Bibi salah ngomong. Kalau begitu, aku pulang dulu ya mbak, soalnya bentar lagi mau ada tamu. Maaf gak bisa ngebantu dulu," ucap Bi Waroh. Umi menggelengkan kepalanya, Aku hanya bisa beristighfar dan mencoba sabar untuk menghadapi bibinya Suamiku itu. Aku sadar, jumlah manusia itu banyak dan tak mungkin semuanya itu menyukai kita. Ada saja permasalahan yang terjadi, meski kita hanya diam saja. "Mau masak apa, Mi? Biar Nana bantu." "Nggak usah, Na. Umi bisa melakukannya sendiri, lagi pula kamu di rumah Mama kan nggak pernah ngapa-ngapain, Masa Iya Umi mau menyuruh-nyuruh kamu." Aku terkekeh, memang banyak orang yang mengira jika Mama terlalu memanjakan aku. Padahal sebenarnya tidak, karena aku pun mengerjakan pekerjaan rumah selayaknya anak pada umumnya ketika di rumah. "Nggak, Mi, Nana juga sering masak di rumah. Enak masakannya, Mi," ucap Mas Uji sambil keluar dari kamar. "Iyakah? Wah Umi nggak tahu, Ayo kalau gitu sini, Na, bantu kupaskan kentan
BAB 56 "Maafkan Riris, ya, dia memang terkenal pendiam. Jadinya begitu," ucap Bu Ina. Pendiam? Dari mananya? Terlihat sekali jika anaknya itu memendam perasaan pada suamiku. "Iya, Bu, nggak papa," jawabku. Mas Uji mengajakku keliling kampung lagi. Kampung suamiku memang sangat asri lingkungannya. Banyak pepohonan yang masih rindang. "Mas, Riris beneran pendiam?" tanyaku. "Iya, memang begitu. Kenapa?" "Nggak papa." Kami melanjutkan perjalanan hingga akhirnya sampai di rumah. Rupanya, Umi sudah membuatkan kudapan. Aku jadi tak enak, karena tak membantunya. "Maaf ya, Umi, Raina nggak bantuin." "Nggak papa, Nak Rain. Ayo, dimakan." Aku mengangguk, kami lalu lanjut mengobrol tentang masa-masa Mas Uji setelah pindah dulu. Ternyata, Umi tak jauh berbeda. "Sudah, Mi. Uji malu, ah." Umi terkekeh, lalu mengajakku untuk ikut pengajian nanti malam. Sementara Mas Uji berlalu untuk mandi sore. "Di mana, Mi?" tanyaku. "Ada di mushola, tadi Uji ngajak ke sana, nggak? Ke guru ngajinya U
BAB 55Aku kembali ke kamar. Perasaan senang yang tercipta dari rumah tadi mendadak menguap begitu saja. Hatiku sakit saat lagi-lagi mendapat hinaan semacam itu. Meski tak diucapkan secara langsung, tapi itu bisa membuatnya lebih sakit hati. "Kenapa balik lagi?" tanya Mas Uji. "Oh, nggak papa. Ada Bik Waroh di belakang," jawabku. "Apa Bik Waroh ngomong yang nyakitin hati?" tanya Mas Uji sambil memegang pundakku. "Nggak, Mas. Cuma aku memang agak capek aja." "Oh, ya sudah, istirahat. Kamu kan akhir-akhir ini sering bolak-balik ke toko. Belum ke toko cabang. Jadi, selama di sini, kamu bisa istirahat." Aku mengangguk. Kantor Mas Uji dengan rumah Umi jauh lebih dekat daripada dari rumahku. Itu sebabnya, aku menyetujui ketika kami akan tinggal di sini selama seminggu. Aku keluar kamar, lalu melihat foto keluarga yang sepertinya sudah lama diambilnya. Di sana ada almarhum bapak mertua. "Sayang sekali, Raina nggak bisa bertemu dengan Bapak," ucapku sambil mengelus bingkai fotonya. "
"Mas?!" panggilku."Eh, kenapa?""Aku, mau minta maaf."Mas Uji meletakan ponsel di sakunya. Aku terus mengikuti arah ponsel itu. Untuk apa Mas Uji memasukkannya? Apakah ia takut ketahuan?Mas Uji mengusap pelan rambutku, lalu mengangguk. Sebuah sen
"Mas?'" ulangku. Aneh, Mas Uji bahkan tak melirik sekalipun. Aku menghela napas, lalu segera mandi. Sebaiknya aku memang membersihkan diri terlebih dahulu, sebelum aku bertanya padanya. Usai mandi, masih kulihat Mas Uji di depan layar laptopnya. Ia bahkan tak bersuara sama sekali. "Mas, kamu kenapa
Aku menghela napas, ragu akan menjelaskan semuanya. Bukan tidak mungkin, Mas Uji malah akan menuduhku melakukan alibi untuk menutupi semua kesalahanku. "Laki-laki emang begitu kalau sudah cemburu, Na. Dulu saja Papamu begitu." "Iyakah? Mama kan nggak punya mantan suami," ucapku sambil cemberut. "Kat
, BALASAN UNTUK SUAMI PELIT—Aku masih berpikir keras, haruskah kukirim pesan pada Arlan? Tapi, apa yang akan aku ucapkan? Ah, sudah lah. Yang terpenting sekarang, aku sudah memiliki nomor lelaki itu. Kulihat kembali nomor lelaki yang sanggup membuat jantungku berdebar itu. Ya All












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan