Masuk“Apa kau bilang …?” Ibu menatap tajam wanita itu. Wanita bersurai coklat itu masih mendongak angkuh.
Baru saja Ibu hendak mendekati wanita itu, namun dengan cepat Galang menarik tangan Ibu. “Jangan, Bu.” Cegahnya. Sorot mata Galang menatap wanita itu dengan sinis. “Ibu tidak perlu meladeni wanita jalang itu. Ayo kita pergi dari sini.” Ajaknya. Ibu yang menatap putranya sedang menahan amarah pun akhirnya menuruti perkataan Galang. “Ya sudah, ayo.” Mereka berdua pun pergi meninggalkan restoran itu. Galang mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Sedangkan Ibu diliputi dengan perasaan campur aduk—syok, marah, sedih, dan kecewa menjadi satu. ************ Di ruang kerjanya, Arga memijat pelan pangkal hidungnya—ia kewalahan karena sedari pagi banyak pasien yang berdatangan. Ia pun menenggak air putih untuk menenangkan dirinya. “Ya ampun, padahal hari Sabtu, ya. Weekend begini malah banyak yang datang ke psikolog.” Ujarnya sambil membuka youtube di PC kerjanya. Namun sebelum ia mencari video kucing untuk menghiburnya, ponselnya berdering. Nama kontak “Bapak” terpampang jelas di layar ponselnya. “Ck.” Arga mendecak kesal sebelum mengangkat telepon. Raut wajah Arga berubah drastis ketika Bapak meneleponnya. Mau tidak mau ia harus mengangkat telepon itu. “Halo, Pak.” ujar Arga dingin di balik teleponnya. “Bagus, ya. Sekarang kalian semua sudah mulai kurang ajar sama Bapak. Tadi pagi Bapak chat Galang tidak direspon, Bapak chat Mas juga cuma dibaca. Kamu kira chat dari Bapak ini koran apa?!” cerocos Bapak tanpa henti. Arga memutar bola matanya, lalu bilang, “Langsung intinya saja, Pak. Mas banyak kerjaan.” Tukasnya tanpa basa-basi. Sebelum menjawab, terdengar bunyi gemertak gigi dari Bapak. “Mas, bilang ke Ibu hari Senin sore harus bertemu dengan Bapak. Ada yang harus dibicarakan. Mas dan Galang juga harus ikut. Ini penting.” titah Bapak dengan penekanan pada kalimat terakhir. Alih-alih mengiyakan titah bapaknya, Arga menyahut, “Pak, Bapak tidak bisa bilang ‘tolong’ ke anak sendiri, ya? Padahal gratis, lho, Pak.” Sarkasnya. Terdengar di ujung telepon Bapak mendengus kesal, “Jangan kurang ajar kamu, intinya sampaikan saja pesan Bapak tadi ke ibumu. Paham?” Sahut Bapak. “Ya sudah, itu saja, kan, Pak? Mas sibuk.” “Iya.” Tut. Telepon diputus begitu saja—tanpa adanya ucapan “terima kasih” dari Bapak. Arga hanya bisa geleng-geleng menghadapi tingkah bapaknya. “Astagfirullahaladzim … Pak, Pak.” Kemudian Arga pun pergi ke kantin rumah sakit untuk membeli segelas kopi. Di kantin, Arga pun membuka lagi chat dari bapaknya. Isi pesannya kurang lebih sama dengan apa yang Bapak sampaikan tadi di telepon. “Entah kenapa, perasaanku tidak enak.” Arga gelisah. Arga sudah tahu bagaimana respon ibunya nanti. Hal ini membuatnya bingung—apakah ia harus menelepon ibunya untuk menyampaikan hal yang Bapak katakan tadi? Setelah jarinya sibuk di atas layar ponsel untuk memutuskan akan memberitahu Ibu atau tidak, akhirnya Arga mengirim pesan pada adik bungsunya—Galang. Jemari Arga begitu lincah mengetik kata demi kata. [Arga : Lang, tadi Bapak nelpon Mas. Bapak bilang nanti kita berempat harus bicara, penting katanya.] [Galang : Hari Senin sore itu, kan, Mas? Iya, aku sudah tahu.] [Arga : Apa Mas harus bilang ke Ibu soal ini?] [Galang : Jangan sekarang, Mas. Tadi aku sama Ibu ketemu si Jalang itu.] [Arga : Hah, kok bisa? Terus, bagaimana kondisi Ibu sekarang?] [Galang : Udah aman, sih, Mas. Aku udah menenangkan Ibu, tapi Ibu kelihatan syok banget, Mas.] [Arga : Ya sudah, nanti kita bahas lagi saat Mas udah pulang.] [Galang : Ok, Mas.] Arga meminum kopinya dalam sekali tenggak. Rasa getir di lidahnya tidak sebanding dengan pahitnya realita bahwa hubungan orang tuanya akan berakhir. “Tapi …, perpisahan ini lebih baik daripada melihat Ibu terkungkung dengan siksaan batin selama itu.” Batin Arga sambil menggigit bibirnya. **************** “Maafkan sikap Galang tadi, ya, Bu.” Ucap Galang sambil memegang tangan ibunya. Sesampainya di rumah, Ibu benar-benar diam seribu bahasa. Lebih tepatnya—ekspresi Ibu penuh dengan kebingungan. “Sejak kapan Galang tahu Bapak tukang selingkuh?” Pertanyaan dari Ibu membuat Galang terbelalak. “I-Ibu …,” Galang menatap sedih ibunya seraya melepas pelukannya perlahan. Dilihatnya, manik mata Ibu berkaca-kaca. “Galang tahu dari—” “Galang dan Mas sudah tahu dari dulu, Bu.” Belum sempat Galang meneruskan kalimatnya, Arga secara tiba-tiba menjawab pertanyaan dari Ibu. “Mas Arga?” Galang terkejut dengan kedatangan Arga. Arga duduk di hadapan ibunya. Ekspresinya datar—tapi sarat akan gejolak amarah yang ia tahan. Sebulir air mata Ibu pun meluncur di pipinya. Ibu menangis dalam diam—seolah-olah seluruh pertahanan batinnya telah runtuh seketika. Galang menatap sedih ibunya, sedangkan Arga mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. “Ceritakanlah, Nak.” Ujar Ibu tiba-tiba seraya menghapus air matanya. Arga dan Galang menatap Ibu secara bersamaan. “Ceritakanlah semua hal yang kalian ketahui tentang perselingkuhan Bapak selama ini.” Arga dan Galang kompak menghela nafas panjang—seolah-olah menyiapkan mental untuk menceritakan kronologi perselingkuhan bapak mereka. “Jadi begitu, Bu …,” Arga mengakhiri penjelasannya, diikuti dengan Galang yang menundukkan kepalanya. Manik mata Ibu menatap kosong setiap bukti transaksi, foto, video, dan screenshot dari chat antara Bapak dan wanita itu. “Jadi selama ini …,” tenggorokan Ibu tercekat sebelum melanjutkan kalimatnya, “Kalian juga menanggung beban yang sama dengan Ibu? Bahkan lebih parah?” Tanyanya dengan suara parau. Arga dan Galang saling bertukar pandangan, lalu dengan kompak mengangguk pelan. Ibu mengusap wajahnya dengan kasar. “Astagfirullahaladzim ….” Ibu beristighfar—seakan-akan kalimat manusia pun tidak dapat melukiskan perasaannya. Ibu pun memangku tangannya—sembari agak menundukkan wajahnya. “Ibu kira … Ibu telah berhasil mempertahankan keluarga ini,” air matanya pun menetes lagi. “Tapi ternyata Ibu tidak sekuat itu.” Senyum Ibu sarat akan kepahitan. Mata Arga memanas—sedangkan Galang sudah menangis sesegukan. Ibu pun menggenggam tangan kedua putranya, dan senyumnya tetap terukir walaupun bulir-bulir air mata tetap membasahi pipinya. “Arga, Galang …,” panggil Ibu dengan lembut. Kakak-adik itupun menatap wajah ibunya. Ibu menatap lurus pada kedua putranya, “Ibu titip pesan pada kalian berdua. Jadilah laki-laki yang setia pada pasangan kalian.” Ucap Ibu dengan sungguh-sungguh. Tatapan Ibu pun melembut lagi, dan Ibu berkata, “Ibu bangga memiliki anak seperti kalian. Terima kasih karena telah memilih Ibu menjadi orang tua kalian, walaupun Ibu masih banyak kekurangannya sebagai orang tua.” Kakak-adik itu pun mendekap ibunya dengan hangat—namun sarat akan kesedihan dan penyesalan. Ibu memeluk erat kedua putranya itu seakan-akan enggan untuk melepasnya. Dari sinilah Ibu memantapkan hati. Setelah sekian lama, akhirnya Ibu mampu membuat satu keputusan yang jelas akan mengubah hidupnya. Hal yang membedakan adalah, Ibu sudah tidak takut lagi. “Kalau begitu, tidak ada cara lain. Keputusanku sudah bulat.” ujarnya.Waktu yang ditunggu telah tiba.Hari Senin, 6 September 2027, hari yang ditentukan oleh Bapak untuk membicarakan “hal penting” itu.“Ibu, sudah siap?” tanya Arga sambil meraih kunci mobilnya. Ibu pun bangkit dari duduknya.Pada hari itu, penampilan Ibu berbeda dari biasanya. Gaun berbentuk A-line bermotif bunga hitam serta potongan bahunya yang tegas membalut tubuh Ibu dengan anggun. “Ya.” Tak lupa, Ibu mengenakan sepatu hitam berhak runcing stiletto yang membuat aura dingin dan tegas dari Ibu pun terpancar. Sesampainya di kafe, pelayan kafe tersebut dengan ramah menyambut mereka. Mereka datang dengan pakaian serba hitam. Dengan sorot mata yang tajam, Bapak pun memperhatikan gestur dari istri dan kedua putranya.Lihatlah mereka, angkuh sekali ekspresinya. Mereka pikir, mereka bisa berkarir seperti itu tanpa uangku? Dasar tak tahu diuntung! Bapak menatap sinis pada mereka.Ibu pun menyesap hot matcha lattenya dengan tenang, lalu menaruh cangkir tehnya agak keras. TAK! Bunyi cangkir
“Apa kau bilang …?” Ibu menatap tajam wanita itu. Wanita bersurai coklat itu masih mendongak angkuh.Baru saja Ibu hendak mendekati wanita itu, namun dengan cepat Galang menarik tangan Ibu. “Jangan, Bu.” Cegahnya. Sorot mata Galang menatap wanita itu dengan sinis. “Ibu tidak perlu meladeni wanita jalang itu. Ayo kita pergi dari sini.” Ajaknya. Ibu yang menatap putranya sedang menahan amarah pun akhirnya menuruti perkataan Galang.“Ya sudah, ayo.” Mereka berdua pun pergi meninggalkan restoran itu. Galang mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Sedangkan Ibu diliputi dengan perasaan campur aduk—syok, marah, sedih, dan kecewa menjadi satu. ************Di ruang kerjanya, Arga memijat pelan pangkal hidungnya—ia kewalahan karena sedari pagi banyak pasien yang berdatangan. Ia pun menenggak air putih untuk menenangkan dirinya. “Ya ampun, padahal hari Sabtu, ya. Weekend begini malah banyak yang datang ke psikolog.” Ujarnya
“Apa?” Ratih terkejut. Ia tidak menyangka seorang Bayu yang terkenal dingin bak kulkas 12 pintu dan irit bicara pun ternyata bisa seperti ini. Bayu pun mengeluarkan 3 lembar voucher bertuliskan “Oishii Bento”. “Saya dapat voucher makan di restoran ini, besok terakhir penukarannya. Jadi saya mau ajak Bu Ratih dan Bu Irma makan siang bareng.” jelasnya sambil memperlihatkan voucher itu. Ratih hanya ber”oh” ria mendengar penjelasan dari Bayu barusan, “Terima kasih, Pak.” sahutnya datar. Irma pun segera menghampiri mereka. “Eh, itu voucher apa, Pak?” tanyanya kepo. “Voucher makan di ‘Oishii Bento’, Bu. Saya mau ngajak Bu Irma dan Bu Ratih besok sepulang sekolah.” jawab Bayu. “Wah …, asyik banget! Terima kasih banyak, ya, Pak!” kata Irma dengan riang. Bayu mengangguk sambil tersenyum tipis. Ratih memandang Bayu dengan tatapan skeptis. Dari sekian banyaknya dosen, kenapa kami yang diajak? Batin Ratih dalam hati. Bayu yang tengah melirik smartwatchnya pun berdiri dari bangkunya. “Sa
“Banyak yang jauh lebih cantik darimu,” cibir Danang dengan tatapan meremehkan.“Untuk apa kau berdandan? Kau sudah tidak semenarik dulu, Ratih.”Mendengar itu, Ratih hanya bisa mengepalkan tangan, menahan sesak saat kalimat berikutnya meluncur tajam, “KAU BAHKAN TIDAK BISA MEMBUATKU MERASA SEBAGAI PRIA!”Pertahanan batin Ratih seketika luluh lantak. Ratih tersentak dengan perkataan Danang, seakan-akan memperjelas rasa sesak yang menghimpit dadanya. Emosi yang ia tahan sekian tahun lamanya pun akhirnya meluap.“DASAR KAU PRIA TAK TAHU DIUNTUNG! Apa kau tidak cukup dengan satu wanita, hah?!” Kesabaran Ratih habis.“Kau lihat? Sikapmu yang jauh dari kata lemah lembut itulah yang menjadi alasanku untuk berselingkuh di luar sana! KAU TIDAK PUNYA KACA?!” bentak Danang sambil menunjuk-nunjuk Ratih.“Seharusnya aku yang bilang begitu! Kau—” Sebelum Ratih melanjutkan kalimatnya, di tengah-tengah mereka muncul anak mereka—Arga.“Bapak? Ibu?” tanyanya dengan mata yang berkaca-kaca.“Sayang …” I
“Sejak kapan kau berselingkuh dengan Bu Citra?”Ratih menopang dagunya, seraya menunggu jawaban dari Danang yang diam mematung, tidak menyangkal. Tak lama, Ratih pun mengeluarkan ponsel kedua milik Danang. Danang terbelalak ketika Ratih menggenggam ponsel yang selama ini ia sembunyikan dari Ibu.Ratih tersenyum mengejek,“Terima kasih ya, Pak, transferannya.”“Aku kangen, Pak. Bapak tidak bisa menginap hari ini?”“Bagaimana kalau Bu Ratih tahu?” Ratih membacakan beberapa pesan teks yang Citra kirim ke Danang. Pesan teks mesra yang bahkan tidak pernah Danang lakukan ke Ratih. Terlihat air muka Danang menegang, seraya berusaha mencari jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan Ratih. Plung. Tanpa berpikir panjang, Ratih pun melempar ponsel tersebut ke kuah opor ayam yang berlemak. Mengotori kemeja rapi warna abu muda yang Danang kenakan malam itu.“Kau terlalu membesar-besarkan masalah,” tukas Danang sembari memicingkan matanya. “Ingat umur. Kau sudah tidak pantas lagi bertingkah se







