Mag-log in“Apa?”
Ratih terkejut. Ia tidak menyangka seorang Bayu yang terkenal dingin bak kulkas 12 pintu dan irit bicara pun ternyata bisa seperti ini. Bayu pun mengeluarkan 3 lembar voucher bertuliskan “Oishii Bento”. “Saya dapat voucher makan di restoran ini, besok terakhir penukarannya. Jadi saya mau ajak Bu Ratih dan Bu Irma makan siang bareng.” jelasnya sambil memperlihatkan voucher itu. Ratih hanya ber”oh” ria mendengar penjelasan dari Bayu barusan, “Terima kasih, Pak.” sahutnya datar. Irma pun segera menghampiri mereka. “Eh, itu voucher apa, Pak?” tanyanya kepo. “Voucher makan di ‘Oishii Bento’, Bu. Saya mau ngajak Bu Irma dan Bu Ratih besok sepulang sekolah.” jawab Bayu. “Wah …, asyik banget! Terima kasih banyak, ya, Pak!” kata Irma dengan riang. Bayu mengangguk sambil tersenyum tipis. Ratih memandang Bayu dengan tatapan skeptis. Dari sekian banyaknya dosen, kenapa kami yang diajak? Batin Ratih dalam hati. Bayu yang tengah melirik smartwatchnya pun berdiri dari bangkunya. “Saya ada jadwal ngajar pukul 10.00, saya duluan, ya.” pamitnya sambil meninggalkan kantin. “Iya, Pak!” seru Irma dan Ratih kompak. ****** Keesokan harinya, Ratih mengajar seperti biasa. Saat ia meraih ponselnya, terpampang nama kontak “Pak Bayu Teknik Industri” yang baru saja mengirim pesan teks. [Bayu : Bu Ratih, nanti sama Bu Irma tunggu di parkiran aja, ya. Nanti kita berangkat pakai mobil saya.] [Ratih : Ok, Pak. Terima kasih, ya.] Perasaan bingung yang dirasakan oleh Ratih pun semakin menjadi-jadi. Tapi ia langsung buru-buru membuyarkan pikirannya dan menghampiri ruangan Irma. “Irma?” panggil Ratih sambil membuka pintu ruangan Irma. “Hai!” sapa Irma sambil membereskan barang-barangnya. “Sudah beres ngajarnya?” Ratih mengangguk, “Iya.” Mereka pun berjalan ke arah parkiran. Sambil menunggu kehadiran Bayu, mereka berdua fokus dengan ponsel masing-masing sembari duduk di kursi lounge parkiran kampus. “Eh, Ratih. Aku jadi kepikiran, deh,” ujar Irma seraya menutup ponselnya. Ratih menoleh, “Kenapa?” “Pak Bayu memangnya belum nikah, ya? Bukannya dia seumuran sama kita?” Irma mulai bergosip. Ratih mengedikkan bahunya. “Tapi dia aneh nggak, sih? Dia tiba-tiba banget ngajak kita makan siang …,” Irma pun berpikir dengan muka sok seriusnya. “OH!” Irma heboh sendiri, sedangkan Ratih agak terkejut dengan kehebohan sahabatnya. “Jangan-jangan …, DIA SUKA SAMA KAMU, RATIH …! Kyaaa!” jerit Irma dengan antusias. Sebelum Ratih merespon perkataan Irma, tiba-tiba … “Lagi pada ngomongin apa?” Suara bariton mengudara di belakang mereka, dan mereka pun tahu betul si pemilik suara itu. “Pak Bayu?!” pekik Irma kaget dengan kemunculan Bayu yang tiba-tiba itu. Ratih dengan cueknya jawab, “Oh, ini, Pak. Irma kebiasaan suka heboh sendiri.” Irma pun memukul lengan Ratih pelan. "Enak aja!" protes Irma. Bayu pun hanya tertawa kecil, “Ya sudah, ayo kita berangkat sekarang.” Tapi sesaat mereka hendak masuk mobil Bayu, ponsel Irma berdering. “Halo?” Irma pun mengangkat telepon itu, dan ekspresinya berubah menjadi panik. “Iya, aku pulang sekarang!” Irma pun dengan cepat memesan ojek online ke rumahnya. “Irma, ada apa?” tanya Ratih khawatir. “Devan anakku, sakit, Ratih. Aku harus cepat pulang!” jawabnya cemas. “Udah dapat drivernya, Bu?” tanya Bayu. “Udah, Pak. Oh, drivernya udah datang. Pak Bayu maaf, ya, saya nggak jadi ikut. Ratih, aku duluan, ya.” Irma pun terburu-buru menaiki ojek onlinenya dan pergi. “Ya sudah kalau begitu, saya juga pamit, ya, Pak. Terima kasih atas tawarannya,” pamit Ratih dengan sedikit membungkukkan badannya. Ia pun hanya mengangguk. Bayu memperhatikan punggung Ratih yang kian menjauh. Namun tak lama kemudian, ia heran saat Ratih keluar lagi dari mobilnya. Bayu pun langsung menghampiri Ratih yang terlihat kebingungan. “Kenapa, Bu?” Bayu menatap Ratih heran. Ratih menghela napasnya seraya merutuki keteledorannya, "Ini, Pak, ternyata bensin mobil saya habis. Padahal saya harus jemput Arga sekarang …” Mendengar hal itu, Bayu tanpa basa-basi menawarkan tumpangan ke Ratih. “Kalau Ibu mau, apa saya boleh mengantar Bu Ratih ke sekolah Arga? Kasihan dia takut kelamaan menunggu.” ujarnya. Ratih terlihat ragu, dan berkata, “Tapi nanti akan merepotkan—” “Saya sama sekali tidak kerepotan, Bu. Ayo, kita berangkat.” Bayu langsung memotong perkataan Ratih. Ratih tertegun dengan sikap tegas namun lembut dari Bayu barusan. “Terima kasih, Pak.” Suasana di mobil sangat canggung. Masing-masing dari mereka tidak ada yang membuka obrolan, sampai akhirnya mereka sampai di SD tempat Arga bersekolah. “Sebentar, ya, Pak.” Ratih keluar dari mobil untuk menjemput Arga. Tak pakai lama, Ratih pun masuk kembali ke dalam mobil bersama Arga. “Nak, ini Om Bayu, teman kerja Ibu. Ayo salam, Nak,” ujar Ratih sembari memperkenalkan Bayu dan Arga. Arga pun mencium tangan kanan Bayu. Ekspresi Bayu yang sedingin es langsung berubah hangat ketika melihat Arga. “Halo, Jagoan. Salam kenal, ya,” ucapnya ramah. Arga malu-malu. “Salam kenal, Om Bayu. Namaku Arga.” Bayu pun mengacak-acak pelan surai Arga gemas. “Ayo, kita pulang.” ajak Ratih. Di perjalanan, mereka kembali terdiam. Baik Ratih maupun Bayu terdiam cukup lama. Sedangkan Arga fokus melihat ke luar jendela. Tapi tiba-tiba … Kruuukkk—perut Arga tiba-tiba berbunyi, ia langsung mengadu ke ibunya. “Bu …, Arga lapar.” Refleks Bayu melirik smartwatchnya—jam sudah menunjukkan pukul 13.30 siang. “Arga, Om punya voucher ‘Oishii Bento’, lho! Mau makan bareng Om?” tawarnya ramah. Arga tanpa basa-basi langsung menjawab, “Mau!” Ratih langsung merasa tak enak dengan Bayu. “Nggak apa-apa, Pak?” tanya Ratih ragu. Bayu menggeleng, “Memangnya Ibu mau anak gantengnya kelaparan?” sindirnya. “Yeay, makan bento!” seru Arga girang. Sesampainya di mall, mata Arga yang berbinar antusias pun langsung berlari ke arah restoran itu. Namun sebelum Arga lari lebih jauh, tubuh mungilnya ditangkap oleh Bayu. “Daripada Arga lari-larian, sini Om gendong aja, ya.” Arga pun kegirangan yang tengah digendong di pundak Bayu. “Ibu, lihat! Aku jadi tinggi!” Ratih yang melihat momen itu pun tersenyum haru. Mereka pun berjalan menuju restoran itu dan memesan menu sesuai voucher. “Bagaimana, Jagoan? Enak, kan, bentonya?” tanya Bayu antusias pada Arga. Arga mengacungkan jempolnya. “Enak sekali, Om.” Arga tertawa riang sambil mengunyah chicken katsunya. “Sayang, makannya jangan berantakan, dong,” tegur Ratih sambil mengelap mulut Arga yang penuh dengan mayonnaise. Bayu tersenyum hangat melihat pemandangan itu. Makan siang telah selesai, Arga yang sedang berjalan di tengah-tengah Ratih dan Bayu pun bertanya, “Ibu …,” Ratih menoleh, “Iya, Sayang?” Tanpa babibu, Arga langsung memeluk kaki Bayu. “Bu, Om Bayu boleh ikut ke rumah, nggak? Arga masih mau main sama Om Bayu!” Bak tersambar petir di siang bolong, Ratih dan Bayu pun sama-sama terkejut dengan kalimat Arga barusan. “H-Hah?”Waktu yang ditunggu telah tiba.Hari Senin, 6 September 2027, hari yang ditentukan oleh Bapak untuk membicarakan “hal penting” itu.“Ibu, sudah siap?” tanya Arga sambil meraih kunci mobilnya. Ibu pun bangkit dari duduknya.Pada hari itu, penampilan Ibu berbeda dari biasanya. Gaun berbentuk A-line bermotif bunga hitam serta potongan bahunya yang tegas membalut tubuh Ibu dengan anggun. “Ya.” Tak lupa, Ibu mengenakan sepatu hitam berhak runcing stiletto yang membuat aura dingin dan tegas dari Ibu pun terpancar. Sesampainya di kafe, pelayan kafe tersebut dengan ramah menyambut mereka. Mereka datang dengan pakaian serba hitam. Dengan sorot mata yang tajam, Bapak pun memperhatikan gestur dari istri dan kedua putranya.Lihatlah mereka, angkuh sekali ekspresinya. Mereka pikir, mereka bisa berkarir seperti itu tanpa uangku? Dasar tak tahu diuntung! Bapak menatap sinis pada mereka.Ibu pun menyesap hot matcha lattenya dengan tenang, lalu menaruh cangkir tehnya agak keras. TAK! Bunyi cangkir
“Apa kau bilang …?” Ibu menatap tajam wanita itu. Wanita bersurai coklat itu masih mendongak angkuh.Baru saja Ibu hendak mendekati wanita itu, namun dengan cepat Galang menarik tangan Ibu. “Jangan, Bu.” Cegahnya. Sorot mata Galang menatap wanita itu dengan sinis. “Ibu tidak perlu meladeni wanita jalang itu. Ayo kita pergi dari sini.” Ajaknya. Ibu yang menatap putranya sedang menahan amarah pun akhirnya menuruti perkataan Galang.“Ya sudah, ayo.” Mereka berdua pun pergi meninggalkan restoran itu. Galang mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Sedangkan Ibu diliputi dengan perasaan campur aduk—syok, marah, sedih, dan kecewa menjadi satu. ************Di ruang kerjanya, Arga memijat pelan pangkal hidungnya—ia kewalahan karena sedari pagi banyak pasien yang berdatangan. Ia pun menenggak air putih untuk menenangkan dirinya. “Ya ampun, padahal hari Sabtu, ya. Weekend begini malah banyak yang datang ke psikolog.” Ujarnya
“Apa?” Ratih terkejut. Ia tidak menyangka seorang Bayu yang terkenal dingin bak kulkas 12 pintu dan irit bicara pun ternyata bisa seperti ini. Bayu pun mengeluarkan 3 lembar voucher bertuliskan “Oishii Bento”. “Saya dapat voucher makan di restoran ini, besok terakhir penukarannya. Jadi saya mau ajak Bu Ratih dan Bu Irma makan siang bareng.” jelasnya sambil memperlihatkan voucher itu. Ratih hanya ber”oh” ria mendengar penjelasan dari Bayu barusan, “Terima kasih, Pak.” sahutnya datar. Irma pun segera menghampiri mereka. “Eh, itu voucher apa, Pak?” tanyanya kepo. “Voucher makan di ‘Oishii Bento’, Bu. Saya mau ngajak Bu Irma dan Bu Ratih besok sepulang sekolah.” jawab Bayu. “Wah …, asyik banget! Terima kasih banyak, ya, Pak!” kata Irma dengan riang. Bayu mengangguk sambil tersenyum tipis. Ratih memandang Bayu dengan tatapan skeptis. Dari sekian banyaknya dosen, kenapa kami yang diajak? Batin Ratih dalam hati. Bayu yang tengah melirik smartwatchnya pun berdiri dari bangkunya. “Sa
“Banyak yang jauh lebih cantik darimu,” cibir Danang dengan tatapan meremehkan.“Untuk apa kau berdandan? Kau sudah tidak semenarik dulu, Ratih.”Mendengar itu, Ratih hanya bisa mengepalkan tangan, menahan sesak saat kalimat berikutnya meluncur tajam, “KAU BAHKAN TIDAK BISA MEMBUATKU MERASA SEBAGAI PRIA!”Pertahanan batin Ratih seketika luluh lantak. Ratih tersentak dengan perkataan Danang, seakan-akan memperjelas rasa sesak yang menghimpit dadanya. Emosi yang ia tahan sekian tahun lamanya pun akhirnya meluap.“DASAR KAU PRIA TAK TAHU DIUNTUNG! Apa kau tidak cukup dengan satu wanita, hah?!” Kesabaran Ratih habis.“Kau lihat? Sikapmu yang jauh dari kata lemah lembut itulah yang menjadi alasanku untuk berselingkuh di luar sana! KAU TIDAK PUNYA KACA?!” bentak Danang sambil menunjuk-nunjuk Ratih.“Seharusnya aku yang bilang begitu! Kau—” Sebelum Ratih melanjutkan kalimatnya, di tengah-tengah mereka muncul anak mereka—Arga.“Bapak? Ibu?” tanyanya dengan mata yang berkaca-kaca.“Sayang …” I
“Sejak kapan kau berselingkuh dengan Bu Citra?”Ratih menopang dagunya, seraya menunggu jawaban dari Danang yang diam mematung, tidak menyangkal. Tak lama, Ratih pun mengeluarkan ponsel kedua milik Danang. Danang terbelalak ketika Ratih menggenggam ponsel yang selama ini ia sembunyikan dari Ibu.Ratih tersenyum mengejek,“Terima kasih ya, Pak, transferannya.”“Aku kangen, Pak. Bapak tidak bisa menginap hari ini?”“Bagaimana kalau Bu Ratih tahu?” Ratih membacakan beberapa pesan teks yang Citra kirim ke Danang. Pesan teks mesra yang bahkan tidak pernah Danang lakukan ke Ratih. Terlihat air muka Danang menegang, seraya berusaha mencari jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan Ratih. Plung. Tanpa berpikir panjang, Ratih pun melempar ponsel tersebut ke kuah opor ayam yang berlemak. Mengotori kemeja rapi warna abu muda yang Danang kenakan malam itu.“Kau terlalu membesar-besarkan masalah,” tukas Danang sembari memicingkan matanya. “Ingat umur. Kau sudah tidak pantas lagi bertingkah se







