author-banner
Laygraph
Laygraph
Author

Novels by Laygraph

Aturan Nomor Satu: Dilarang Jatuh Cinta!

Aturan Nomor Satu: Dilarang Jatuh Cinta!

Nara Anindita, Bendahara OSIS paling galak di SMA Nusantara, punya satu aturan hidup: semuanya harus masuk akal dan bisa dihitung. Termasuk utang keluarganya yang mencekik. Saat putus asa mencari uang, Nara malah terjebak kontrak konyol dengan Elang Mahendra—si biang kerok pembangkang sekaligus programmer jenius. Syaratnya? Nara harus menjadi 'pacar pura-pura' Elang selama 99 hari untuk menguji aplikasi ciptaannya demi memenangkan kompetisi berhadiah seratus juta. Aturannya sederhana: Jangan bawa perasaan, atau bayar denda "Pajak Sentuhan". Namun, bagaimana jika algoritma tersebut justru membongkar detak jantung yang tak bisa berbohong?
Read
Chapter: Bab 43: Setengah Lunas, Setengah Teka-Teki
Elang mencoba menelepon balik nomor tak dikenal itu tiga kali berturut-turut begitu kami keluar dari kafetaria, tapi tiap kali sama—nada sambung datar diikuti suara operator robotik: "Nomor yang Anda tuju tidak terdaftar atau sudah tidak aktif.""Nomor sekali pakai," gumam Elang, mengantongi ponselnya dengan wajah frustrasi. "Kalau bener itu Arya, dia jelas sengaja pake nomor yang gampang dibuang biar nggak bisa dilacak balik ke dia.""Kenapa dia repot-repot ngirim peringatan kalau dia kerja buat bokap lo?" gue bertanya, masih nggak bisa mencerna logika di balik pesan itu. "Kalau dia emang di pihak Baskoro, harusnya dia seneng kita makin bingung, bukan malah nyuruh kita berhenti.""Itu yang bikin gue makin curiga," Elang menyandarkan punggungnya ke loker, matanya menerawang. "Kayak yang lo bilang waktu di kedai kopi—Arya cuma kerja buat bokap gue. Bukan berarti dia setuju sama semua cara
Last Updated: 2026-09-27
Chapter: Bab 42: Perjanjian Hitam di Atas Putih
Gue dan Elang nyampe di kafetaria sekolah jam enam lewat lima belas, lebih pagi dari biasanya, sampe satpam sekolah aja masih heran ngeliat ada anak yang udah nongol sebelum gerbang resmi dibuka. Gibran udah duduk di meja pojok, laptop tipisnya menyala, secangkir kopi hitam di depannya—gaya khas trader yang kayaknya emang lahir dengan insting kerja pagi buta."Wah, kompak amat kalian berdua," katanya begitu kami duduk, matanya melirik Elang sekilas dengan senyum yang setengah mengejek, setengah menghormati. "Nggak nyangka lo mau turun tangan langsung ngawal negosiasi bisnis pacar lo.""Kontrak," koreksi Elang datar, meski nadanya nggak sepenuhnya meyakinkan lagi, "dan gue di sini cuma mastiin nggak ada syarat aneh-aneh yang lo selipin diam-diam.""Tenang aja, gue trader, bukan lintah darat," Gibran memutar laptopnya ke arah gue, menunjukkan sebuah dokumen kosong berformat perjanjian pinjaman. "Nara, lo
Last Updated: 2026-09-27
Chapter: Bab 41: Dua Hati yang Nggak Pernah Pintar Ngomong
Dimas berdiri dari kursinya, gerakannya tenang dan penuh perhitungan khas anak diplomat, sama sekali nggak menunjukkan kecanggungan meski suasana di meja itu udah berubah setegang tali busur."Gue rasa ini waktunya gue pamit," katanya, mengambil jaketnya dari sandaran kursi. Dia menatap Elang sekilas—bukan dengan permusuhan, tapi dengan sesuatu yang lebih mirip pengertian orang dewasa yang tau kapan harus mundur. "Elang, ini bukan yang lo pikirin. Gue cuma ngajak Nara makan sebagai temen. Sebagai Ketua OSIS yang khawatir sama bendaharanya yang kerja kayak kuda.""Gue nggak nanya," jawab Elang datar, meski rahangnya masih mengeras.Dimas nggak tersinggung. Dia cuma mengangguk kecil ke arah gue. "Makasih buat obrolannya, Nar. Traktir gue lain kali kalau semua ini udah kelar." Lalu dia berjalan keluar restoran dengan langkah tenang, meninggalkan gue dan Elang sendirian di tengah lampu lentera yang tadin
Last Updated: 2026-09-27
Chapter: Bab 40: Meja untuk Dua dan Bara yang Nggak Pernah Padam
"Nara, boleh gue minta waktu lo sebentar?"Suara Dimas menyapa gue tepat waktu gue lagi beres-beres map laporan keuangan turnamen di ruang OSIS, sendirian karena semua pengurus lain udah pulang duluan. Gue mendongak, dan seperti biasa, penampilannya tetap rapi sempurna—kemeja putih yang nggak pernah kusut walau abis seharian sekolah, rambut tersisir necis, senyum diplomatis yang bikin dia kelihatan kayak sudah siap jadi calon menteri sejak umur tujuh belas tahun."Ada apa, Ketua?" Gue melipat map terakhir, berusaha keliatan santai meski dalam hati gue agak waswas—terakhir kali Dimas minta ngobrol empat mata, ujung-ujungnya jadi momen canggung penuh pernyataan cinta yang harus gue tolak."Gue cuma mau ngajak lo makan malam," katanya, langsung to the point tapi tetap dengan nada sopan khasnya. "Bukan dalam artian yang lo pikirin," dia buru-buru menambahkan, seolah bisa membaca kecurigaan di wajah gue. "Gue notice lo akhir-akhir ini keliatan capek banget. Kantong mata lo udah kayak panda
Last Updated: 2026-09-26
Chapter: Bab 39: Bounty yang Tertahan
Gue nggak inget persis berapa lama gue duduk mematung di lantai kamar setelah nutup telepon, punggung nyender ke ranjang, ponsel masih tergenggam erat di tangan gue yang dingin.Angka-angka berputar liar di kepala gue—total utang, sisa cicilan yang udah dibayar, persentase "setengah" yang diminta investor misterius itu—tapi buat pertama kalinya, kalkulator internal gue yang biasanya selalu bisa nemuin jalan keluar logis, bener-bener macet total. Nggak ada rumus. Nggak ada spreadsheet. Cuma angka besar yang menjulang kayak tembok raksasa, dan waktu yang terus berdetak mundur tanpa ampun.Gue meraih ponsel gue lagi, jari-jari gue gemetar ngetik pesan ke satu-satunya orang yang gue tahu bakal langsung datang tanpa perlu ditanya dua kali.Nara: Elang. Investor baru. Deadline tiga hari. Setengah dari total utang. Gue nggak tau harus mulai dari mana.Balasannya masuk secepat kilat.Elang: Gue ke sana sekarang.Nara: Ini jam sepuluh malem, Elang, jangan gila—Tapi pesan gue belum sempat terk
Last Updated: 2026-09-26
Chapter: Bab 38: Korek Api dan Telepon Tengah Malam
"Lo yakin nggak lagi halu, Nar?" Elang mengelap keringat di lehernya, duduk di sebelah gue di pinggir lapangan begitu sesi latihan sore itu selesai, semua anak lain udah bubar ke ruang ganti. "Kursi kosong nggak selalu berarti ada yang ngilang secara ajaib. Bisa aja lo emang lagi capek terus otak lo ngarang-ngarang sosok yang mirip Arya.""Gue tau bedanya orang capek sama orang yang beneran liat sesuatu, Elang." Gue menyilangkan tangan, kesel karena dia kelihatan lebih santai dari yang seharusnya. "Dan gue yakin banget itu Arya. Setelan jasnya, cara dia duduk, cara dia ngetik di HP tanpa noleh sedikit pun—itu ciri khas dia banget."Elang menghela napas, tapi sebelum dia sempat membantah lebih jauh, matanya tiba-tiba tertumbuk ke celah kecil di bawah bangku tribun paling ujung—tempat yang gue tunjuk tadi."Tunggu," katanya, berjongkok, tangannya meraih sesuatu yang terselip di antara besi penyangga bangku. Sebuah korek api Zippo perak, mengilap, dengan ukiran inisial kecil di bagian ba
Last Updated: 2026-09-26
You May Also Like
TERJERUMUS TEMAN KOS
TERJERUMUS TEMAN KOS
Young Adult · Call Me Ans
5.0K views
KISSING THE PLAYBOY
KISSING THE PLAYBOY
Young Adult · Rose Marberry
5.0K views
Lilac Calilac Tale
Lilac Calilac Tale
Young Adult · Ailana Misha
5.0K views
Terpikat Pesona Mas Penyiar Radio
Terpikat Pesona Mas Penyiar Radio
Young Adult · Shofie Widdianto
4.9K views
THE SIBLING'S
THE SIBLING'S
Young Adult · Svaandin
4.9K views
Hot Uncle My Husband
Hot Uncle My Husband
Young Adult · Rindu Hujan
4.9K views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status