Chapter: Cek PalsuRolls Royce Cullinan hitam dan Alphard hitam legam milikku, Raisa, masih terparkir berdampingan di basement PT Gula Emas Bandar Lampung. Di lantai 25, aku, Raisa, masih berdiri di samping Kenzo Adhitama. Tangan kami masih berjabat. Jabat tangan yang terasa terlalu lama. Sementara di luar gedung, pemandangan paling memalukan se-Bandar Lampung sedang terjadi. Rian, Bu Siti, dan Shinta diseret satpam sampai ke trotoar Jalan Jenderal Sudirman. Cek 500 juta yang tadi dilempar Kenzo masih digenggam Bu Siti erat-erat seperti karcis lotre yang menang. "LEPASIN! JANGAN DORONG-DORONG! KAMI PUNYA CEK 500 JUTA! KAMI ORANG KAYA!" teriak Bu Siti ke satpam. Satpam PT Gula Emas Bandar Lampung yang sudah muak dengan drama mereka selama dua hari hanya menjawab dingin, "Ibu, Bapak, silakan pergi. Ini perintah langsung dari Direktur Utama, Nona Raisa." Shinta, yang gaun merahnya sudah lecek karena diseret, membentak satpam itu, "KAMU TAHU GAK SIAPA KAMI? KAMI KELUARGA DIREKTUR! RAISA ITU MANTU IBU
Last Updated: 2026-10-15
Chapter: Mantan Tunangan Ibu Ratna dari Jakarta Alphard hitam legamku berhenti di lobi PT Gula Emas Bandar Lampung.Tapi ada yang aneh.Di parkiran VIP yang biasanya kosong, kini terparkir sebuah Rolls Royce Cullinan hitam. Platnya B. Plat Jakarta. Mobil yang harganya 15 miliar. Bahkan Alphard hitam legamku yang dua miliar terlihat seperti angkot di sebelahnya."Pak Wiryo, itu mobil siapa?" tanyaku, Raisa, sambil turun dari Alphard hitam legam.Pak Wiryo wajahnya tegang. "Itu... itu mobil Tuan Besar, Nona Raisa. Tuan Kenzo Adhitama."Kenzo Adhitama?Nama itu seperti nama aktor di drama Korea yang sering ditonton Ibu Lastri di kontrakan petak.Kami masuk ke lobi. Semua karyawan berdiri lebih tegak dari biasanya. Mereka berbisik-bisik."Itu Tuan Kenzo dari Jakarta...""Ganteng banget...""Pemilik Grup Adhitama..."Lift emas membawaku, Raisa, ke lantai 25. Begitu pintu lift terbuka, aku mencium aroma parfum mahal yang menyengat. Parfum pria yang
Last Updated: 2026-09-24
Chapter: Surat Cerai yang DibakarPukul delapan pagi, lobi Pengadilan Agama Bandar Lampung sudah seperti pasar.Bukan pasar sayur di Pasar Bambu Kuning, tapi pasar drama. Ibu-ibu dengan kerudung miring, bapak-bapak dengan muka kusut menahan malu, dan pengacara-pengacara dengan map tebal mondar-mandir seperti setan yang kelaparan.Dan di tengah-tengah kerumunan itu, aku, Raisa, turun dari Alphard hitam legamku.Pintu geser otomatis Alphard hitam itu terbuka dengan suara halus, wusss... Semua mata di halaman Pengadilan Agama Bandar Lampung langsung tertuju padaku.Aku, Raisa, tidak lagi memakai daster lusuh. Hari ini, aku memakai blazer putih bersih, rok span hitam selut, dan sepatu hak tinggi merah yang baru saja dibelikan Pak Wiryo kemarin sore di Mall Boemi Kedaton Bandar Lampung. Rambutku yang biasanya aku ikat karet gelang, kini di-blow lurus oleh salon langganan istri-istri direksi PT Gula Emas Bandar Lampung.Aku, Raisa, bukan lagi Raisa penjual gorengan. Aku adalah
Last Updated: 2026-09-24
Chapter: Rapat Direksi yang MembekuAlphard ku itu melaju mulus membelah jalanan protokol di Bandar Lampung.Bukan Alphard hitam biasa. Ini Alphard SC Premium terbaru, yang harganya hampir dua miliar. Joknya kulit asli, ada kulkas kecil di dalamnya, dan pintunya bisa terbuka otomatis hanya dengan sentuhan jari. Jauh, jauh lebih mewah dari Alphard hitam butut milik Rian yang cicilannya saja masih nunggak empat tahun.Aku, Raisa, duduk di kursi belakang yang bisa dipijit otomatis. Tapi tubuhku masih gemetar hebat. Bukan karena AC mobil ini yang dinginnya menusuk tulang, tapi karena otakku masih belum bisa mencerna apa yang baru saja terjadi di depan kontrakan petak kami.Di sebelahku, Ibu, wanita yang selama dua puluh lima tahun aku panggil Ibu, menangis dalam diam. Tangan keriputnya yang biasa mengulek sambal, kini menggenggam tanganku erat. Tangannya dingin."Maafkan Ibu, Raisa... Maafkan Ibu... Ibu terpaksa bohong selama dua puluh lima tahun... Ibu tidak punya pilihan lain, Nak..."
Last Updated: 2026-09-23
Chapter: Mantan Suami Berlutut di AspalPagi itu, komplek perumahan Permata Bandar Lampung digemparkan oleh suara klakson yang panjang dan meraung-raung.Aku yang sedang menyapu halaman depan rumah kontrakan petak kami, terpaksa berhenti. Debu beterbangan.Sebuah Toyota Alphard hitam mengkilap, yang kemarin sore aku lihat dari kejauhan, kini parkir tepat di depan selokan rumah Bu Siti.Pintu sopir terbuka. Keluarlah seorang pria dengan kemeja putih rapi, sepatu pantofel mengkilap, dan jam tangan mahal yang berkilauan terkena matahari Bandar Lampung.Mantan suamiku. Rian.Di belakangnya, pintu penumpang belakang terbuka. Keluarlah Shinta, dengan gaun merah marun ketat, kacamata hitam besar, dan tas branded yang kemarin dia pamerkan di story Instagram-nya.Bu Siti, yang dari tadi mengintip dari balik gorden, langsung berlari kecil keluar rumah dengan daster bunga-bunga kebanggaannya."Ya ampun, Rian! Shinta! Akhirnya kalian datang juga! Ibu sudah masak rendang k
Last Updated: 2026-09-23
Chapter: Sepuluh Alpard Hitam Mengepung Rumah MertuaTawa ibu-ibu arisan itu masih menggema di telinga Raisa bahkan setelah dia menyeret koper lusuhnya keluar dari gerbang komplek Pondok Indah yang mewah itu. Koper kain yang sudah sobek di bagian resletingnya itu terasa berat, bukan karena isinya, tapi karena di dalamnya ada tiga tahun pengorbanan yang baru saja diinjak-injak. Kakinya gemetar, bukan karena sedih lagi, tapi karena amarah yang sudah mencapai ubun-ubun dan tidak bisa ditahan lagi.Langit siang itu terik, tapi hati Raisa jauh lebih panas. Dia ingat betul bagaimana pagi ini dia masih menyiapkan sarapan untuk Bu Siti, mertuanya, dengan penuh cinta. Dia memasak sop buntut kesukaan Bu Siti, mengepel seluruh rumah seluas 200 meter itu sendirian, bahkan mencucikan kebaya-kebaya mahal milik Bu Siti untuk arisan hari ini. Balasannya adalah hinaan dan surat cerai."Raisa! Tunggu! Kamu mau kemana! Berhenti!"Bima berlari mengejarnya dengan napas terengah-engah. Wajahnya terlihat panik, tapi Raisa tahu betul, itu bukan panik karena ke
Last Updated: 2026-09-22