LOGINBerawal dari salah meja pada saat kencan buta, Satria Bramantyo akhirnya bertemu dengan Dhea Annisa Putri, yang juga tengah melakukan kencan buta karena paksaan sepupunya agar dia segera move on dari mantan kekasihnya yang menikah dengan teman masa SMA-nya. Bram yang sudah berusia matang, yaitu tiga puluh delapan tahun sudah didesak agar segera menikah oleh keluarganya, sehingga dia tidak basa-basi langsung mengajak Dhea menikah. Dhea sebenarnya tidak ingin buru-buru menikah, karena usianya yang baru dua puluh tiga, dia juga perlu penjajakan yang mendalam agar tidak mengalami kejadian yang sama dengan Aryan Wicaksono. Namun apa yang ditawarkan Bram membuat Dhea menerima lelaki itu dan mereka menikah dengan instan, Bram sendiri entah mengapa begitu mudah menerima Dhea, tanpa perlu memeriksa latar belakang Dhea yang ternyata berhubungan erat dengan masa lalu lelaki itu.
View More"Om Duda, nikah yuk!" kata Amel dengan gaya tengilnya dan mengedipkan mata kepada Raffa.
"Apa yang kamu katakan, Kaki Pendek!" hardik Raffa gemas, ia mendekat dan menoyor kening Amel."Aduh ... Om Duda, tega banget sih, nanti gak ada yang mau jadi istri Om Duda, lho," cecar Amel mengusap keningnya dan memanyunkan bibir."Itu, kamu ngajakin saya nikah. Berarti kamu mau jadi istri saya dong," sembur Raffa gemas dengan bibir Amel yang terus bisa menjawab."Ihh ... geer banget! Siapa yang ngajakin nikah, huh ... Om Duda udah kebelet ya, sampe ngehalu," cibir Amel membuat Raffa membulatkan mata dan menatap tak percaya ke arah gadis itu."Kamu ...!" Raffa menggeram, Amel yang mulai merasakan bahaya bergegas berlari ke rumahnya tak lupa menjulurkan lidah meledek Raffa."Gadis kecil itu, awas aja kamu," geram Raffa mengepalkan tangan lalu memilih masuk ke kediamannya hendak beristirahat sehabis joging.Amel segera memasuki rumah tanpa mengetuk pintu, membuat sang Ibu yang hendak keluar terpentuk benda panjang itu. Wanita paruh baya itu mendengkus memandang kesal Amel. Ia bersidekap dengan tatapan marah memandang Amel yang hanya cengar-cengir."Lama banget sih! Tadinya Ibu mau nyusul kamu tau," cecar sang Ibu lalu merebut belanjaan ditangan Amel."Ya biasa Bu, tadi ketemu Om Duda jadi agak lama," balas Amel lalu masuk dan mendaratkan bokong di sofa."Kamu ini! Jail banget, gak usah diperjelaslah pake panggilan itu. Manggil Om Rafa, ke, inimah malah Om Duda," tegur sang Ibu sedangkan yang dinasehati hanya cengar-cengir."Kan memang duda, Bu. Amel gak salah dong," ucap Amel membela dirinya membuat sang Ibu mendengkus."Kamu susah banget dikasih tau! Mendingan Ibu lanjutin masak aja," ujar Sekar memandang malas ke arah sang anak, ia melangkah ke dapur melanjutkan acara masak yang tertunda."Nah gitu ke dari tadi, gak usah komenin panggilan aku buat Om Duda," gerutu Amel kala merasa sang Ibu telah pergi."Apa yang kamu katakan, Amel!" pekik Sekar dengan suara menggelegar membuat Arumi membulatkan matanya lalu bergegas masuk ke kamar memilih kabur dari amukan sang Ibu."Astagfirullah, suara Ibu bikin kaget aja. Untung gak jantungan," keluh Amel mengusap dadanya yang berdebar dengan cepat."Huh, mendingan aku ngedrakor aja dah," kata Amel menghempaskan bokong di a lalu mulai menonton film kesukaannya.Dilain tempat, Raffa memilih melakukan pekerjaannya di kamar. Lelaki itu bahkan melupakan sarapan, ia malah mengisi perut hanya dengan secangkir kopi. Membuat sang Mama sedikit kesal."Raffa ... ayo sarapan dulu," pinta sang Mama mengetuk pintu kamar anak lelakinya."Nanti aja, Mah," tolak Raffa tanpa membukakan pintu."Ya ampun, Raffa, jangan memaksakan diri," bujuk sang Mama berusaha membuka pintu yang ternyata dikunci, membuat ia menghela napas lalu memilih menyerah."Semenjak bercerai, dia menjadi gila kerja gini," keluh sang Mama mendaratkan bokong di kursi dan memandang sang suami dan adik Raffa."Eh, jodohin ama temenku aja, Mah. Tetangga sebelah kita, cocok mereka. Kali aja pertengkaran mereka menimbulkan benih-benih cinta," usul Shilla menyeringai, ia membayangkan jika sang Kakak menikah dengan temannya pasti seru."Ahh ... bener juga ya, kan, mereka udah kenal lama, bahkan Mama sama Ibunya deket," balas Wulan, membuat Shilla yang tengah membayangkan buyar dan membulatkan mata mendengar perkataan sang Mama."Mama yang bener aja, masa nerima usulan konyol, Shilla," tutur Shilla membuat Wulan mengeryitkan alisnya dan memandang heran sang anak."Memang kenapa, La. Mereka serasi juga, anak Mama ganteng kok, masih pantes punya istri yang seumuran adiknya," sahut Wulan membuat Shilla menepuk jidat, memilih mengisi perutnya dengan makanan."Kamu ini aneh, La, kasih saran kok sekaramng malah bilang konyol sih," gerutu Wulan lalu melahap makanannya."Mama kangen Papamu, La. Nanti anterin Mama ke sana ya," pinta Wulan membuat Shilla mendongak memandang sang Mama lalu mengangguk mengiyakan mulai melahap makanan lagi.***Seminggu berlalu, kini waktunya Amel pergi ke sekolah. Sekarang adalah hari kelulusan gadis itu, ia sudah rapi bersama sang Ibu. Kala hendak pergi, motor perempuan tersebut tidak bisa dinyalakan membuat dia sangat kesal."Huh, lagi acara penting gini malah ngambek nih motor!" geram Amel memukul jok motor."Ada apa, Mel? Kenapa kamu pukul motornya?" tanya Sekar mendekati anaknya, ia telah rapi untuk ikut dengan sang putri."Ini lho, Bu, motornya mogok," keluh Amel mendaratkan bokong di motor, ia menampakkan wajah sendu."Kalau gitu ikut kami aja yuk!" ajak seseorang membuat Amel dan Ibunya menoleh ke asal suara."Serius, Jeng? Aduh jadi ngerepotin nih. Tapi makasih banget," celetuk Sekar seraya mendekati Wulan lalu menoleh lagi ke anaknya yang masih duduk di motor."Mel, taruh motornya lagi. Kita bakal bareng Tante Wulan," seru Sekar yang sudah sejajar dengan Wulan yang berdiri di depan pagar rumah kediaman wanita yang mengajak itu."Iya Bu," sahut Amel lalu mulai menyimpan motornya dan bergegas mendekati Sekar dan Wulan yang tengah berbincang dan bergegas masuk ke kendaraan roda empat milik anaknya.Wulan lekas menelepon Raffa agar cepat keluar. Ia mengembuskan napasnya kala mendengar jawaban sang anak. Akhirnya ia memilih mematikan sambungan telepon."Tan, Shillanya mana?" tanya Amel kala memandang Wulan selesai menelepon Raffa, padahalkan bisa masuk aja dan bertanya langsung tapi sudahlah Arumi malas memikirkan itu."Ohh ... Shilla, dia udah berangkat duluan sama pacarnya," sahut Wulan menoleh memandang Amel dengan bibir melengkuk menjadi sebuah senyuman."Ohhh ...." Amel hanya mengangguk kepalanya."Tante, kenapa sih liatin aku terus," seru Amel menegur Wulan yang terus memandangnya."Gak, kamu cantik kalau dandan gini," lontar Wulan membuat Amel salah tingkah lalu menggaruk kepalanya."Mah! Aku udah siap nih," ucap seseorang yang sudah membuka pintu mobil membuat semua memandang ke arahnya."Kok kamu ada disini," seru Raffa kala melihat Amel tengah memainkan ponsel."Emang kenapa sih, mendingan kamu cepet deh. Nanti telat lho," cecar Wulan memandang anaknya."Jeng, akutuh kesel tau, masa anakku ini masih seneng ngeduda aja," keluh Wulan kala mobil sudah melaju, membuat Raffa menoleh sekilas dengan tatapan kesal sedangkan Amel terdengar hendak tertawa tetapi dia tertahan."Ya udah nikahin aja, Jeng," balas Sekar tersenyum kecil, yang dibalas anggukan Wulan lalu wanita itu menoleh memandang Sekar."Kita nikahin Amel sama Raffa yuk! Mereka serasi lho. Lagian dulu sekitar semingguan lah, saya denger Amel ngajakin Raffa nikah lho," papar Wulan memberikan ide, membuat Amel membulatkan mata terkejut sedangkan Raffa menyeringai.Sebulan yang lalu ..... "Kakak yakin mau melakukan ini? kalau kita lakukan ini, Amel bisa celaka, Kak." "Kita tabrak dari depan, jadi kemungkinan kecelakaan untuk penumpang belakang tidaklah terlalu fatal." "Baiklah, ini hanya kita saja yang tahu, jika ada yang tahu selain kita berdua, tidak bisa dibayangkan berapa orang yang akan tersakiti." "Makanya kau rahasiakan!" Hari itu, dengan truk pengangkut pasir yang dia beli bekas, dengan kendaraan yang sarat muatan, Viyatan mengendarai mobil itu dengan kecepatan rendah, setelah mendapat telpon dari Fathan jika mobil target dia sedang mendekat, maka dia memacu kendaraan sarat muatan itu dengan kecepatan tinggi, akibatnya mobil oleng dan langsung menabrak mobil sedan di depannya. Viyatan langsung melompat dari dalam mobil, dengan modal kunci inggris di tangan, dia memecahkan kaca jendela mobil sedan itu, dan menghantamkan kunci inggris itu pada dua pria yang duduk di depan, dan menutup hidung pria di bangku belakang dengan saputa
"Acara apa memangnya?" "Lihat itu, dekorasi itu untuk apa?" "Seperti pelaminan ya, Bang?" "Ya, hari ini jam sepuluh kita akan menikah lagi." "Ha? Apa nggak apa-apa?" "Nggak, pernikahan kita dulu kurang sempurna, karena tidak diwali nikahkan ayahmu, padahal ayahmu masih hidup. lagipula aku menikahimu dengan identitas orang lain, sekarang aku akan mengucapkan ijab kabul dengan mengucapkan namamu sendiri." "Apa tidak apa-apa menikah ulang?" "Aku sudah bertanya di KUA, mereka bilang tidak apa-apa. Mereka akan menerbitkan buku nikah yang baru atas namamu yang asli." "Iya, karena ingatanku sudah kembali, aku juga ingin kembali menjadi diriku yang sesungguhnya, nama Dhea akan ku kembalikan pada pemilik aslinya." "Baiklah, jadi ... apakah aku bisa memanggil istriku dengan nama Lia?" "Maaf, Bang ... karena nama itu sudah pernah dipakai orang lain, aku jadi tidak mau lagi. Panggil nama kecilku seperti ayah dan saudaraku memanggil, yaitu Amel." "Baiklah, Amel. siapapun nama
Setelah sampai di rumah nenek, halaman rumah nenek yang luas sudah terpasang tenda dengan dekorasi yang sangat mewah, dengan dominasi warna biru laut, biru muda dan putih. Perpaduan warna-warna itu tampak begitu indah dan elegan, bahkan ada bunga-bunga segar sebagai dekorasi. "Ini, dekorasi acara peringatan kematian apa kawinan, sih? kok mewah banget begini?" tanya Dhea yang membuka jendela mobil dan menatap ke arah halaman rumah nenek. "Sebentar, aku keluar dulu. Kamu jangan keluar dulu." "Eh, kenapa?" Bram tidak menjawab pertanyaan istrinya, dia bergegas turun dan membuka pintu istrinya, dengan sigap lelaki itu langsung menggendong istrinya ala putri. "Eh, kenapa di bopong? itu Kruk aku ketinggalan di mobil," seru Dhea yang langsung mengalungkan kedua lengannya di leher suaminya takut terjatuh. "Selamat datang, Pak Bram, Bu Kamelia ...." Dhea menatap semua orang yang menyambut kedatangannya di gerbang masuk rumah. Mereka memakai seragam batik yang sama, seperti pelayan di
Setelah seminggu, Dhea dan Bram kembali dari ke tanah suci. Mereka segera kembali ke kediaman Bram, Dhea yang belum bisa berjalan, dengan kekuatan lengan Bram masih dibopong menuju ke kamarnya yang kini berada di lantai bawah. "Sayang, Istirahatlah. Besok kita akan kembali menerapi kakimu agar lebih kuat untuk berjalan. Sania akan bulan madu selama sepuluh hari lagi, nanti setelah dia pulang, kita jiga pulang ke Batam." "Iya, Bang. Aku harus semangat berlatih jalan." Hanya memikirkan Angga membuat Dhea semakin semangat berlatih jalan, seminggu kemudian dia sudah bisa memakai satu Kruk untuk berjalan, dia tidak mau lagi memakai kursi roda. "Dhea! Aku sudah pulang!" teriak Sania sambil berlari memeluk wanita yang tengah berdiri disangga Kruk. "Loh, kok sudah pulang? katanya sepuluh hari di sana? ini baru tujuh hari." "Iya, aku sudah kangen sama tanah air." "Ish, basi banget alasanmu." Sania malah tertawa lebar, kerudung warna hitamnya yang terpasang di kepalanya membuat
Sudah tiga hari Bram bekerja mengurus perusahannya, tetapi tidak ada perubahan sama sekali pada peningkatan nilai saham. Abimanyu sendiri mengatakan jika semua pegawai dan kolega Bram sudah dimutasi bahkan sudah dipecat dari perusahaan. Bram sendiri yang terpaksa menandatangani surat pemecatan mere
'Situasi di perusahaan Aditama grup sekarang sangat tidak kondusif, harga saham perusahaan ini kini bahkan jatuh di titik terendah semenjak perusahaan ini berdiri, pemicu ambang kebangkrutan ini di duga, direktur utama dan komisaris utama Aditama grup yang juga sepasang suami istri pewaris Aditama g
"Sania, apa kau baik-baik saja?" tanya Bram dengan kuatir. "Aku baik, Kak. Kenapa kak Bram tanya begitu?" "Aku dengar akhir-akhir ini kamu menemui psikiater lagi." "Oh, aku hanya ingat beberapa kejadian masa lalu, jadi aku ingin kembali mengingat kejadian seluruhnya." "Maafkan kakak yang tidak m
Part 152"Iya, Abang kenal kan sama pak Ibrahim?""Kenal, kalau menurut pandangan Abang, Pak Ibrahim itu orang yang sangat teliti. Dia pasti tidak mudah percaya sama orang, baru ketemu denganmu kok sudah menganggapnya sebagai anak?""Yah, mungkin dia orang yang begitu. Tapi sepertinya ada alasannya, da






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore