Mag-log inBerawal dari salah meja pada saat kencan buta, Satria Bramantyo akhirnya bertemu dengan Dhea Annisa Putri, yang juga tengah melakukan kencan buta karena paksaan sepupunya agar dia segera move on dari mantan kekasihnya yang menikah dengan teman masa SMA-nya. Bram yang sudah berusia matang, yaitu tiga puluh delapan tahun sudah didesak agar segera menikah oleh keluarganya, sehingga dia tidak basa-basi langsung mengajak Dhea menikah. Dhea sebenarnya tidak ingin buru-buru menikah, karena usianya yang baru dua puluh tiga, dia juga perlu penjajakan yang mendalam agar tidak mengalami kejadian yang sama dengan Aryan Wicaksono. Namun apa yang ditawarkan Bram membuat Dhea menerima lelaki itu dan mereka menikah dengan instan, Bram sendiri entah mengapa begitu mudah menerima Dhea, tanpa perlu memeriksa latar belakang Dhea yang ternyata berhubungan erat dengan masa lalu lelaki itu.
view more“Kalau tidak berniat kerja, lebih baik mengundurkan diri saja!”
Teriakan dari ruangan itu membuat Nadine tersentak kaget. Ia yang sedang mempersiapkan mentalnya di depan ruangan pun semakin memucat.
Bagaimana tidak, baru seminggu Nadine Cendana dipindahtugaskan ia sudah melakukan kesalahan fatal. Nadine telat masuk selama dua jam berkat alat pemompa ASI miliknya yang tertinggal di halte bus.
Jika saja bukan karena kondisi hormon langka yang membuatnya bisa memproduksi ASI, Nadine yakin kejadian seperti ini tidak akan pernah terjadi. Ia juga tidak perlu ketakutan untuk menghadapi atasannya yang galak.
“Saya akan menggantikan kalian jika kesalahan ini sampai terjadi lagi.”
Suara datar dari balik pintu kembali terdengar jelas. Suaranya tidak keras, tapi sukses membuat bulu kuduk Nadine meremang. Ia bisa membayangkan betapa menakutkan ekspresi sang atasan saat ini.
Dan benar saja ketika Nadine mengintip dari kaca di pintu, ia melihat dua rekan kerjanya menundukkan kepala. Lalu ada pria dengan setelan jas rapi sedang duduk sambil bersedekap, aura kelam seolah menguar di sekelilingnya.
Nadine menelan ludah. Setelah ini, bosnya itu pasti akan “menghabisinya”.
Setelah melepaskan asal ikat rambutnya hingga surai kelam itu menutup dada, Nadine membuka pintu ruangan bertuliskan 'D201'. Begitu pintu terbuka, tiga pasang mata di dalam sana menoleh serentak.
Tidak terkecuali sepasang netra sayu penuh intimidasi dari meja paling ujung. Pria itu kini bangkit berdiri sesaat menyadari kehadiran Nadine.
Lintang Gaharu. Jaksa senior yang kerap dipanggil Pak Lingga. Pria yang rasanya bisa melubangi kepala orang hanya dengan tatapannya.
"Pak, mohon maaf—" Belum sempat memberikan alasan, sang atasan sudah memotong singkat.
"Ikut saya."
Nadine meringis kecil, yakin dua rekan kerjanya pun pasti bisa melihat bagaimana wajahnya memucat. Namun, tidak ingin membuat pria jangkung itu bertambah marah, ia berlari kecil mengekori Lingga ke ruang kerja pribadinya.
Sejenak, Nadine meringis pelan begitu nyeri menyambangi dada. Netra cantik itu mendelik panik begitu menyadari bercak basah di permukaan kemejanya.
Asinya merembes lagi!
Nadine buru-buru membawa sebagian besar rambutnya yang tergerai ke bagian depan. Melihat Lingga yang sudah membuka pintu dan masuk ke ruangan, Nadine pun mempercepat langkahnya.
BRAK!
Pintu kayu itu tertutup keras tepat di depan mata si penyidik baru yang berjengit kecil karena terkejut. Entah karena tidak melihat Nadine yang berdiri di ambang pintu, tetapi ia jelas merasa sedih.
Dengan tangan sedikit gemetar dan tubuh membungkuk sopan, Nadine masuk ke ruangan penuh tumpukan berkas itu.
"Permisi ...."
"Kamu tahu kenapa saya panggil ke sini?" Pertanyaan itu langsung terlontar sesaat Nadine berdiri di hadapan Lingga.
"Iya, Pak." Nadine menjawab sambil menunduk dalam, hingga perempuan itu hanya bisa melihat ujung sepatu hitam mengkilap sang jaksa.
Sesekali perempuan itu juga melirik permukaan kemejanya yang terasa makin basah. Nyeri di dadanya bahkan bertambah parah hingga Nadine harus menggigit bibir menahan rintihannya.
Kenapa hal ini harus terjadi sekarang? Di hadapan orang yang kini paling ia takuti. Dan yang lebih parahnya lagi… di hadapan pria yang dulu sekali pernah ia sukai.
"Dua jam. Tidak ada pegawai baru yang punya nyali terlambat selama itu." Pria yang kini menyandarkan tubuh di meja kerjanya sambil bersedekap dada kembali bersuara.
"Atau kamu memang sengaja karena berpikir saya akan mengecualikanmu? Karena kita pernah saling mengenal sejak kecil?" tanya pria itu sambil menyelipkan kekehan kecil di akhir kalimatnya.
Namun Nadine terlalu sibuk menahan nyeri untuk tersinggung. Perempuan itu bahkan tidak bisa mendengar jelas ucapan Lingga. Keringat dingin mulai membasahi pelipis imbas linu yang kian menjadi.
“Maafkan saya, Pak Lingga,” cicit Nadine masih sambil menunduk dalam.
"Tatap mata saya saat kita sedang bicara, Nona Nadine!” Titah tegas itu membuat Nadine mendongak cepat.
Tanpa ia sadari, rambut panjangnya tergelincir ke sisi bahu. Dan detik itu juga makian Lingga terhenti seketika. Alisnya yang sedari tadi menukik tajam kini bertaut saat pandangannya bergerak turun ke arah dada Nadine.
"Nadine, kenapa dadamu basah seperti itu?”
Sebulan yang lalu ..... "Kakak yakin mau melakukan ini? kalau kita lakukan ini, Amel bisa celaka, Kak." "Kita tabrak dari depan, jadi kemungkinan kecelakaan untuk penumpang belakang tidaklah terlalu fatal." "Baiklah, ini hanya kita saja yang tahu, jika ada yang tahu selain kita berdua, tidak bisa dibayangkan berapa orang yang akan tersakiti." "Makanya kau rahasiakan!" Hari itu, dengan truk pengangkut pasir yang dia beli bekas, dengan kendaraan yang sarat muatan, Viyatan mengendarai mobil itu dengan kecepatan rendah, setelah mendapat telpon dari Fathan jika mobil target dia sedang mendekat, maka dia memacu kendaraan sarat muatan itu dengan kecepatan tinggi, akibatnya mobil oleng dan langsung menabrak mobil sedan di depannya. Viyatan langsung melompat dari dalam mobil, dengan modal kunci inggris di tangan, dia memecahkan kaca jendela mobil sedan itu, dan menghantamkan kunci inggris itu pada dua pria yang duduk di depan, dan menutup hidung pria di bangku belakang dengan saputa
"Acara apa memangnya?" "Lihat itu, dekorasi itu untuk apa?" "Seperti pelaminan ya, Bang?" "Ya, hari ini jam sepuluh kita akan menikah lagi." "Ha? Apa nggak apa-apa?" "Nggak, pernikahan kita dulu kurang sempurna, karena tidak diwali nikahkan ayahmu, padahal ayahmu masih hidup. lagipula aku menikahimu dengan identitas orang lain, sekarang aku akan mengucapkan ijab kabul dengan mengucapkan namamu sendiri." "Apa tidak apa-apa menikah ulang?" "Aku sudah bertanya di KUA, mereka bilang tidak apa-apa. Mereka akan menerbitkan buku nikah yang baru atas namamu yang asli." "Iya, karena ingatanku sudah kembali, aku juga ingin kembali menjadi diriku yang sesungguhnya, nama Dhea akan ku kembalikan pada pemilik aslinya." "Baiklah, jadi ... apakah aku bisa memanggil istriku dengan nama Lia?" "Maaf, Bang ... karena nama itu sudah pernah dipakai orang lain, aku jadi tidak mau lagi. Panggil nama kecilku seperti ayah dan saudaraku memanggil, yaitu Amel." "Baiklah, Amel. siapapun nama
Setelah sampai di rumah nenek, halaman rumah nenek yang luas sudah terpasang tenda dengan dekorasi yang sangat mewah, dengan dominasi warna biru laut, biru muda dan putih. Perpaduan warna-warna itu tampak begitu indah dan elegan, bahkan ada bunga-bunga segar sebagai dekorasi. "Ini, dekorasi acara peringatan kematian apa kawinan, sih? kok mewah banget begini?" tanya Dhea yang membuka jendela mobil dan menatap ke arah halaman rumah nenek. "Sebentar, aku keluar dulu. Kamu jangan keluar dulu." "Eh, kenapa?" Bram tidak menjawab pertanyaan istrinya, dia bergegas turun dan membuka pintu istrinya, dengan sigap lelaki itu langsung menggendong istrinya ala putri. "Eh, kenapa di bopong? itu Kruk aku ketinggalan di mobil," seru Dhea yang langsung mengalungkan kedua lengannya di leher suaminya takut terjatuh. "Selamat datang, Pak Bram, Bu Kamelia ...." Dhea menatap semua orang yang menyambut kedatangannya di gerbang masuk rumah. Mereka memakai seragam batik yang sama, seperti pelayan di
Setelah seminggu, Dhea dan Bram kembali dari ke tanah suci. Mereka segera kembali ke kediaman Bram, Dhea yang belum bisa berjalan, dengan kekuatan lengan Bram masih dibopong menuju ke kamarnya yang kini berada di lantai bawah. "Sayang, Istirahatlah. Besok kita akan kembali menerapi kakimu agar lebih kuat untuk berjalan. Sania akan bulan madu selama sepuluh hari lagi, nanti setelah dia pulang, kita jiga pulang ke Batam." "Iya, Bang. Aku harus semangat berlatih jalan." Hanya memikirkan Angga membuat Dhea semakin semangat berlatih jalan, seminggu kemudian dia sudah bisa memakai satu Kruk untuk berjalan, dia tidak mau lagi memakai kursi roda. "Dhea! Aku sudah pulang!" teriak Sania sambil berlari memeluk wanita yang tengah berdiri disangga Kruk. "Loh, kok sudah pulang? katanya sepuluh hari di sana? ini baru tujuh hari." "Iya, aku sudah kangen sama tanah air." "Ish, basi banget alasanmu." Sania malah tertawa lebar, kerudung warna hitamnya yang terpasang di kepalanya membuat
Pulang kerja, seperti hari kemarin Bram dikawal oleh beberapa orang dan disupiri oleh supir baru yang juga tidak Bram kenal. Apalagi selama beberapa hari ini mereka juga tidak berinteraksi, Bram juga malas untuk bertegur sapa dengan mereka. "Antarkan saya ke tempat Abimanyu!" perintah Bram. "Bu
Sudah tiga hari Bram bekerja mengurus perusahannya, tetapi tidak ada perubahan sama sekali pada peningkatan nilai saham. Abimanyu sendiri mengatakan jika semua pegawai dan kolega Bram sudah dimutasi bahkan sudah dipecat dari perusahaan. Bram sendiri yang terpaksa menandatangani surat pemecatan mere
'Situasi di perusahaan Aditama grup sekarang sangat tidak kondusif, harga saham perusahaan ini kini bahkan jatuh di titik terendah semenjak perusahaan ini berdiri, pemicu ambang kebangkrutan ini di duga, direktur utama dan komisaris utama Aditama grup yang juga sepasang suami istri pewaris Aditama g
Serangan ini membuat Sakti tidak siap, tetapi lelaki pemberani itu langsung turun dari mobil dan melakukan serangan jarak dekat, karena peluru di pistolnya sudah habis dia tembakkan. Dua lawan satu, Bram benar-benar kagum melihat pertempuran sengit itu. Memang tidak salah jika lelaki itu dijuluki
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Mga Ratings
RebyuMore