author-banner
Mardiana Kappara
Mardiana Kappara
Author

Novels by Mardiana Kappara

Kadrun

Kadrun

Bagaimana kalau sebuah perkara korupsi yang terlihat sah di mata publik sebenarnya digerakkan oleh luka pribadi seseorang yang mempunyai akses terhadap kekuasaan negara? Kadrun hanyalah pegawai biasa yang bekerja dalam rutinitas birokrasi. Sampai kejanggalan dalam program hibah modal bagi pengrajin batik menyeretnya ke pusaran yang tidak pernah ia bayangkan. Semakin jauh ia mencari tahu, semakin banyak nama, uang, dan kepentingan yang terhubung. Ancaman mulai mendekati keluarganya, sementara orang-orang yang semula dipercaya perlahan menunjukkan wajah berbeda. Namun Kadrun terlambat menyadari bahwa uang bukanlah satu-satunya alasan perkara itu bergerak. Di balik proses hukum yang tampak resmi, ada dendam lama yang belum selesai—dan seseorang yang tahu bagaimana menggunakan kekuasaan untuk membayarnya. Ketika Kadrun akhirnya duduk sebagai terdakwa, ia harus menghadapi kenyataan paling menakutkan: bagaimana melawan seseorang yang mampu membuat dendam pribadi terlihat seperti penegakan hukum?
Read
Chapter: Chapter 95
Pernikahan Kadrun dan Zulaikah digelar dengan sangat sederhana di sebuah masjid di Seoul. Tidak ada pesta besar dengan pelaminan indah, tidak ada kerabat, kolega atau keluarga. Hanya seorang imam, dua saksi, dan seorang penerjemah yang memastikan seluruh proses dipahami dengan baik.Zulaikah mengenakan gaun putih sederhana dengan kerudung panjang. Tidak ada perhiasan berlebihan pada tubuhnya. Hanya sebentuk cincin kecil yang kemudian dipasangkan Kadrun pada jari manisnya. Kadrun mengenakan setelan gelap. Dalam dokumen pernikahan itu, ia tidak lagi tercatat menggunakan nama Kadrun. Penggantian nama itu juga sudah mereka lakukan sesuai syariat Islam sebelum melangsungkan pernikahan.Lelaki yang mengucapkan kabul di hadapan imam bernama Muhammad. Suara Kadrun sempat bergetar ketika mengucapkannya. Namun, sekali tarikan napas, akad itu selesai dalam satu ucapan. Zulaikah resmi menjadi istrinya. Setelah doa dibacakan, Kadrun memandang perempuan yang duduk beberapa langkah d
Last Updated: 2026-09-22
Chapter: Chapter 94
Hasil pemeriksaan terakhir menunjukkan kondisi Kadrun semakin baik. Dokter mengizinkannya bepergian selama tetap menjalani pemeriksaan berkala dan tidak melakukan aktivitas fisik berlebihan. Bekas luka tusukan pada tubuhnya sudah mengering, sedangkan jejak operasi di wajah nyaris tidak terlihat.Perawatan selama hampir enam bulan membuat tubuh Kadrun lebih sehat daripada sebelum masuk penjara. Hanya beberapa bekas luka pada perut dan punggung yang menjadi pengingat bahwa dirinya pernah hampir mati.Pagi itu, Kadrun duduk di balkon apartemen mereka di Cheongdam-dong. Secangkir kopi menghangatkan kedua tangannya. Musim dingin mulai mendekat dan udara Seoul terasa menusuk hingga ke tulang. Zulaikah keluar membawa sebuah tablet serta beberapa lembar dokumen. Ia meletakkannya di atas meja.“Kita harus meninggalkan Korea Selatan.”Kadrun mengangkat wajah.“Dokter baru bilang aku boleh bepergian, kau langsung ingin mengusirku?”“Bukan mengusir.”
Last Updated: 2026-09-21
Chapter: Chapter 93
Setelah memastikan keberangkatannya ke Prancis diketahui oleh media, Zulaikah hanya tinggal beberapa hari di Paris. Ia menghadiri dua pertemuan dengan pihak sekolah mode tempatnya pernah belajar, bertemu seorang teman lama, lalu membiarkan beberapa foto dirinya tersebar di media sosial. Foto-foto tersebut cukup untuk meyakinkan orang-orang bahwa dirinya benar-benar sedang memulai kehidupan baru di Prancis.Setelah itu, Zulaikah kembali terbang ke Korea Selatan. Kedatangannya bertepatan dengan jadwal pembukaan perban Kadrun. Hampir tiga minggu telah berlalu sejak operasi. Luka-luka tusukan pada tubuh Kadrun mulai mengering, sementara racun yang sempat mengancam nyawanya tidak lagi ditemukan di dalam darah. Namun, wajahnya masih tertutup balutan perban tebal. Kadrun telah sadar beberapa hari sebelumnya.Dokter hanya mengatakan bahwa dirinya berada di Korea Selatan untuk menjalani perawatan lanjutan. Setiap kali ia bertanya mengenai wajahnya, para dokter selalu menjawab b
Last Updated: 2026-09-21
Chapter: Chapter 92
Lampu di atas meja operasi menyala begitu terang hingga menghapus hampir seluruh bayangan. Kadrun terbaring tanpa kesadaran. Di Indonesia, tubuhnya telah melewati masa kritis setelah racun berhasil dibersihkan dari aliran darah. Sedangkan di Korea Selatan, luka-luka tusukan mulai ditangani lebih lanjut, denyut jantungnya kembali stabil, dan fungsi organ-organ pentingnya perlahan semakin membaik.Namun, malam itu, tim dokter tidak hanya berusaha menyelamatkan nyawanya. Mereka akan menghapus wajah yang dikenal oleh seluruh Indonesia. Zulaikah berdiri di balik dinding kaca ruang operasi. Ia mengenakan pakaian pelindung berwarna biru, penutup kepala, dan masker. Tatapannya tidak pernah berpindah dari tubuh Kadrun. Seorang dokter berdiri di sampingnya.“Prosedurnya akan berlangsung beberapa jam,” katanya dalam bahasa Inggris. “Kami akan memperbaiki kerusakan akibat serangan sekaligus mengubah struktur wajahnya sesuai permintaan.”“Apakah dia akan mengenali dirinya se
Last Updated: 2026-09-20
Chapter: Chapter 91
Konferensi pers digelar di aula rumah sakit pada siang hari. Puluhan wartawan telah memenuhi ruangan sejak satu jam sebelumnya. Kamera menghadap meja panjang yang ditempati pihak rumah sakit, kepala lapas, dan seorang perwakilan kepolisian.Dokter Satrio Kusuma duduk di tengah. Sebagai dokter yang bertanggung jawab atas penanganan ketiga narapidana, dialah yang akan menyampaikan keterangan kepada masyarakat. Beberapa lembar catatan medis terletak di hadapannya.Kepala bagian hubungan masyarakat rumah sakit membuka konferensi pers dengan penjelasan singkat mengenai penyerangan di dalam lapas. Setelah itu, mikrofon diserahkan kepada Dokter Satrio. Suasana ruangan seketika menjadi sunyi.“Ketiga pasien tiba di rumah sakit dalam kondisi berat akibat luka tusuk dan paparan senyawa beracun,” kata Dokter Satrio. “Tim medis telah melakukan tindakan penyelamatan sesuai prosedur.”Para wartawan mulai mengetik.“Namun, dengan menyesal kami menyampaikan bahwa
Last Updated: 2026-09-20
Chapter: Chapter 90
Ketiga ambulans meninggalkan lapas melalui pintu belakang. Macul dibawa menggunakan ambulans pertama. Pak Muis berada di kendaraan kedua, sedangkan Kadrun ditempatkan di ambulans terakhir dengan dua petugas lapas yang terus mengawalnya.Kondisi mereka memburuk selama perjalanan. Tekanan darah Kadrun turun dengan cepat. Tubuhnya menggigil meskipun luka tusuk di pinggang dan lengannya telah dibalut. Denyut jantungnya tidak teratur, sementara kesadarannya terus menurun. Gejala yang sama terjadi kepada Macul dan Pak Muis.Dokter lapas mulai curiga ketika melihat warna kehitaman pada bagian tepi luka mereka. Banyaknya darah yang hilang tidak cukup menjelaskan penurunan kondisi ketiganya secara bersamaan. Oleh karena itu, dokter muda itu segera memutuskan membawa ketiganya ke rumah sakit.“Benda yang dipakai menusuk mereka harus diamankan,” katanya kepada petugas. “Jangan disentuh tanpa pelindung.”Setibanya di rumah sakit, ketiga korban langsung dibawa menuju
Last Updated: 2026-09-19
You May Also Like
Bukan Perawan
Bukan Perawan
Romansa · Erna Azura
74.8K views
Main Cantik
Main Cantik
Romansa · Risma Dewi
74.6K views
TERPAKSA MENIKAHI JURAGAN TUA
TERPAKSA MENIKAHI JURAGAN TUA
Romansa · Evie Yuzuma
74.3K views
DOSEN KILLER: Skripsi Berbuah Cinta
DOSEN KILLER: Skripsi Berbuah Cinta
Romansa · Libra Syafarika
73.9K views
Cinta Seorang Pengasuh
Cinta Seorang Pengasuh
Romansa · This is Stralin
73.7K views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status