LOGINLampu di atas meja operasi menyala begitu terang hingga menghapus hampir seluruh bayangan. Kadrun terbaring tanpa kesadaran. Di Indonesia, tubuhnya telah melewati masa kritis setelah racun berhasil dibersihkan dari aliran darah. Sedangkan di Korea Selatan, luka-luka tusukan mulai ditangani lebih lanjut, denyut jantungnya kembali stabil, dan fungsi organ-organ pentingnya perlahan semakin membaik.
Namun, malam itu, tim dokter tidak hanya berusaha menyelamatkan nyawanya. Mereka akan mengh
Lampu di atas meja operasi menyala begitu terang hingga menghapus hampir seluruh bayangan. Kadrun terbaring tanpa kesadaran. Di Indonesia, tubuhnya telah melewati masa kritis setelah racun berhasil dibersihkan dari aliran darah. Sedangkan di Korea Selatan, luka-luka tusukan mulai ditangani lebih lanjut, denyut jantungnya kembali stabil, dan fungsi organ-organ pentingnya perlahan semakin membaik.Namun, malam itu, tim dokter tidak hanya berusaha menyelamatkan nyawanya. Mereka akan menghapus wajah yang dikenal oleh seluruh Indonesia. Zulaikah berdiri di balik dinding kaca ruang operasi. Ia mengenakan pakaian pelindung berwarna biru, penutup kepala, dan masker. Tatapannya tidak pernah berpindah dari tubuh Kadrun. Seorang dokter berdiri di sampingnya.“Prosedurnya akan berlangsung beberapa jam,” katanya dalam bahasa Inggris. “Kami akan memperbaiki kerusakan akibat serangan sekaligus mengubah struktur wajahnya sesuai permintaan.”“Apakah dia akan mengenali dirinya se
Konferensi pers digelar di aula rumah sakit pada siang hari. Puluhan wartawan telah memenuhi ruangan sejak satu jam sebelumnya. Kamera menghadap meja panjang yang ditempati pihak rumah sakit, kepala lapas, dan seorang perwakilan kepolisian.Dokter Satrio Kusuma duduk di tengah. Sebagai dokter yang bertanggung jawab atas penanganan ketiga narapidana, dialah yang akan menyampaikan keterangan kepada masyarakat. Beberapa lembar catatan medis terletak di hadapannya.Kepala bagian hubungan masyarakat rumah sakit membuka konferensi pers dengan penjelasan singkat mengenai penyerangan di dalam lapas. Setelah itu, mikrofon diserahkan kepada Dokter Satrio. Suasana ruangan seketika menjadi sunyi.“Ketiga pasien tiba di rumah sakit dalam kondisi berat akibat luka tusuk dan paparan senyawa beracun,” kata Dokter Satrio. “Tim medis telah melakukan tindakan penyelamatan sesuai prosedur.”Para wartawan mulai mengetik.“Namun, dengan menyesal kami menyampaikan bahwa
Ketiga ambulans meninggalkan lapas melalui pintu belakang. Macul dibawa menggunakan ambulans pertama. Pak Muis berada di kendaraan kedua, sedangkan Kadrun ditempatkan di ambulans terakhir dengan dua petugas lapas yang terus mengawalnya.Kondisi mereka memburuk selama perjalanan. Tekanan darah Kadrun turun dengan cepat. Tubuhnya menggigil meskipun luka tusuk di pinggang dan lengannya telah dibalut. Denyut jantungnya tidak teratur, sementara kesadarannya terus menurun. Gejala yang sama terjadi kepada Macul dan Pak Muis.Dokter lapas mulai curiga ketika melihat warna kehitaman pada bagian tepi luka mereka. Banyaknya darah yang hilang tidak cukup menjelaskan penurunan kondisi ketiganya secara bersamaan. Oleh karena itu, dokter muda itu segera memutuskan membawa ketiganya ke rumah sakit.“Benda yang dipakai menusuk mereka harus diamankan,” katanya kepada petugas. “Jangan disentuh tanpa pelindung.”Setibanya di rumah sakit, ketiga korban langsung dibawa menuju
Dua hari setelah kunjungan Bram, Kadrun masih memikirkan foto Raja. Ia belum sempat menyampaikan ancaman tersebut kepada Nabila. Jadwal kunjungan pengacaranya baru dibuka tiga hari lagi, sedangkan Kadrun tidak berani menitipkan pesan kepada sembarang petugas.Siang itu tidak ada kegiatan di ruang pelatihan batik. Kadrun berada di dalam sel bersama Pak Muis dan beberapa warga binaan lain. Sebagian berbaring, sedangkan yang lain duduk mengobrol untuk melewati jam istirahat. Rompi pelindung tetap melekat di tubuh Kadrun. Udara terasa panas. Keringat membasahi punggungnya, tetapi ia tidak berani melepas rompi tersebut meskipun hanya beberapa menit. Kadrun baru saja membuka Al-Qur’an ketika suara benturan terdengar dari sel di seberang.Brak!Suara itu disusul teriakan beberapa orang.“Bunuh dio!”“Jangan kasih lepas!”Kadrun langsung berdiri. Beberapa tahanan bergegas keluar. Orang-orang dari sel lain juga mulai berkumpul di lorong.“Sebe
Macul tiba-tiba bangkit dari kursinya. Sebelum Kadrun sempat mundur, lelaki bertubuh besar itu menariknya ke dalam pelukan. Kedua lengannya mengunci tubuh Kadrun seperti batang besi. Kadrun langsung panik.Ia berusaha mendorong dada Macul, tetapi tubuh lelaki itu tidak bergeser sedikit pun. Napas Kadrun memburu. Ia membayangkan lehernya dipatahkan saat itu juga, di hadapan seluruh peserta pelatihan batik.Sekilas, Kadrun melihat Robi berdiri di balik jendela. Lelaki bertato itu tersenyum puas. Kadrun kembali meronta.“Lepaskan aku!”Macul justru merapatkan wajah ke telinganya.“Tenang,” bisiknya. “Zulaikah yang mengirimku.”Kadrun seketika berhenti bergerak. Macul melepaskan pelukannya, lalu kembali duduk seolah tidak terjadi apa-apa. Ia mengambil pensil yang tadi disodorkan Kadrun dan mulai menggambar pola pada selembar kain mori.Sementara itu, Kadrun masih berdiri kaku. Jantungnya berdetak keras. Ia memandang lelaki besar tersebut
Sejak menerima peringatan dari Zulaikah, Kadrun menjadi semakin siaga.Rompi pelindung pemberian perempuan itu selalu dikenakannya di balik baju tahanan. Lapisan di dalamnya membuat tubuh Kadrun lebih cepat berkeringat, tetapi ia tidak pernah mengeluh.Perhatiannya lebih banyak tertuju kepada Robi dan kedua kawannya. Ketiga lelaki itu tidak lagi mengganggunya secara terang-terangan. Mereka berhenti menabrak bahunya, menyembunyikan sandalnya, ataupun menumpahkan air minumnya. Namun, tatapan mereka tidak pernah benar-benar meninggalkan Kadrun.Saat makan, Robi memperhatikannya dari kejauhan. Ketika Kadrun berjalan menuju kamar mandi, salah seorang kawannya selalu terlihat berada di lorong. Bahkan ketika para warga binaan berkumpul di lapangan, ketiganya memilih berdiri pada tempat yang memungkinkan mereka mengawasi Kadrun.Pak Muis memahami kegelisahan tersebut. Lelaki tua itu mulai mengikuti Kadrun hampir ke mana pun dirinya pergi.“Aku dak pe
Siti kembali ke rumah subuh hari seperti waktu sebelumnya. Dia berjinjit memasuki kamar tidur untuk mencegah Kadrun terbangun dari tidurnya. Siti sangat hati-hati membuka pintu lemari pakaian, berharap deritnya tidak akan terdengar. Namun, lemari itu sudah terlalu tua. Sehingga sepelan apapun Sit
Kadrun terbangun dari tidurnya mendengar suara lemari pakaian dibuka pelan-pelan. Dia mengintip dari balik kelopak mata yang tidak dibukanya penuh. Kadrun mendapati sosok Siti mengendap-endap menaruh tas dan sepatu kembali di lemari. Dia juga melepaskan satu persatu perhiasan dan gaun yang dikena
Kadrun terbelalak menatap punggung mulus Siti yang memakai dress hitam terbuka baik di sebelah belakang maupun depan. Beberapa bagian tubuh montoknya tampak meronta-ronta hendak dibebaskan. Sepatu high heel setinggi 7 inci yang tipis dan tajam berwarna senada dengan dress yang ia kenakan
Kadrun termenung di depan komputer di kantornya. Dia hanya bisa berdoa agar istrinya tidak terlalu cepat punya anak. Walaupun dia sebenarnya sangat ingin segera punya anak. Akan tetapi Kadrun tidak ingin buru-buru kehilangan sang istri. Dia mencintai perempuan itu, dan dia masih berharap tidak ha







