Chapter: Bab 5: Topeng di Balik Sarapan PagiCahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden blackout yang tidak tertutup rapat, menghujam tepat ke mata Fiola. Ia mengerjap, merasakan seluruh badannya kaku dan pegal akibat meringkuk semalaman di atas sofa panjang yang sempit. Untuk sesaat, ia lupa di mana ia berada, sampai aroma kayu cendana yang kuat menyadarkannya. Ini kamar Aslan. Dan ia adalah istri pengganti. Fiola menoleh ke arah ranjang besar di tengah ruangan. Sprei abu-abu itu sudah rapi, namun kosong. Aslan sudah bangun. Suara gemericik air dari kamar mandi menandakan pria itu sedang bersiap. Fiola segera bangkit dengan terburu-buru, merapikan bantal dan selimut di sofa agar tidak terlihat mencolok jika ada pelayan yang masuk. Ia tidak ingin siapa pun tahu bahwa di malam pertamanya, ia diusir ke sofa. Pintu kamar mandi terbuka. Aslan keluar hanya dengan handuk yang melilit pinggangnya, memperlihatkan tubuh atletis dengan tetesan air yang masih mengalir di dadanya. Fiola tersentak dan segera memalingka
Last Updated: 2026-01-04
Chapter: Bab 4: Istana Dingin dan Ranjang AsingMobil mewah itu berhenti dengan mulus di depan sebuah rumah bergaya modern minimalis yang didominasi warna hitam, abu-abu, dan kaca besar yang dingin. Rumah itu sangat luas, namun tidak ada tanda-tanda kehangatan di dalamnya. Lampu-lampu taman yang temaram justru menambah kesan angker bagi Fiola. Ini bukan rumah; ini adalah monumen kesuksesan Aslan yang dibangun di atas fondasi kesepian.Aslan turun dari mobil tanpa menunggu sopir membukakan pintu, dan ia tidak pula menunggu Fiola. Ia melangkah masuk dengan kaki-kaki panjangnya, meninggalkan Fiola yang masih kesulitan dengan ekor gaun pengantinnya yang panjang dan berat."Turunlah. Jangan membuatku menunggu lebih lama," suara Aslan terdengar dari kejauhan, dingin dan penuh otoritas.Fiola menghela napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang menggila. Dengan susah payah, ia mengangkat kain gaunnya dan turun dari mobil. Udara malam yang menusuk pori-pori kulitnya yang terbuka terasa begitu menyesakkan. Saat ia melangkah m
Last Updated: 2026-01-04
Chapter: Bab 3 Sakramen di Atas LukaPagi itu, Gereja Katedral terasa begitu asing bagi Fiola. Wangi bunga lili putih yang memenuhi setiap sudut lorong altar biasanya akan membangkitkan perasaan suci dan damai, namun baginya, aroma itu lebih mirip wangi bunga di pemakaman—pemakaman bagi masa depannya sendiri.Fiola menatap bayangannya di cermin besar ruang pengantin. Gaun putih off-shoulder karya desainer ternama itu melekat sempurna di tubuhnya setelah dipermak habis-habisan selama tiga hari terakhir. Gaun yang seharusnya menjadi milik Reyna. Mahkota kecil bertahtakan berlian tersemat di rambutnya yang disanggul anggun, namun beban di atas kepalanya terasa jauh lebih berat dari sekadar logam dan permata."Jangan ditekuk wajahnya, Fiola. Riasanmu bisa retak," tegur Mama yang masuk ke ruangan dengan gaun brokat emas yang mewah. Mama tampak begitu bahagia, seolah-olah ia baru saja memenangkan lotre, bukan baru saja menjual putrinya demi sebuah reputasi."Ma, apa Mama benar-benar tidak merasa bersalah?" suara Fiola berg
Last Updated: 2026-01-04
Chapter: Bab 2 Barter Harga DiriKeheningan yang mencekam menyelimuti ruang tamu setelah ucapan Aslan yang dingin itu terlontar. Aku merasa seolah oksigen di sekitarku mendadak habis. Menjadi pengganti? Menikah dengan lelaki yang baru saja dihina oleh kakakku sendiri? "Aslan, apa yang kamu katakan?" Hary, ayah Aslan, mendekat dengan wajah terkejut. "Kita tidak bisa memutuskan ini begitu saja. Pernikahan bukan sekadar menukar barang." Aslan berbalik perlahan, menatap ayahnya tanpa ekspresi. "Ini bukan soal perasaan, Pa. Ini soal harga diri keluarga Winata dan kelangsungan saham kita yang mulai bergejolak karena rumor pembatalan ini. Mereka berjanji memberikan putri mereka, maka mereka harus menepatinya. Jika bukan Reyna, maka Fiola." Matanya kembali menghujamku. Dingin. Tajam. Seolah aku hanyalah sebuah aset yang harus diserahkan sebagai ganti rugi. "Tapi..." Papa mencoba angkat bicara, suaranya bergetar. "Fiola masih punya masa depan, Aslan. Dia berbeda dengan Reyna." "Tentu saja dia berbeda," potong Mama
Last Updated: 2026-01-04
Chapter: Bab 1 Mahkota Berduri Untuk FiolaSuasana di ruang tengah kediaman keluarga Adijaya terasa mencekam, kontras dengan dekorasi bunga-bunga segar yang baru saja dipasang di beberapa sudut rumah. Wangi melati yang seharusnya membawa ketenangan justru terasa mencekik bagi Fiola. Di tengah kepulan uap teh yang sudah mendingin, ketegangan merambat di antara dua keluarga besar yang sedang berkumpul. "Nyonya, Non Reyna tidak ada di kamarnya. Sebagian lemari pakaiannya juga sudah kosong," bisik Bi Atin, asisten rumah tangga senior kami, tepat di telinga Mama. Meski pelan, bisikan itu bagai petir di siang bolong bagi siapa pun yang mendengarnya. Wajah Mama yang semula dipoles riasan sempurna mendadak pucat pasi. Tangannya yang memegang cangkir porselen gemetar hebat. "Ada apa, Ma? Di mana Reyna?" Papa, yang sejak tadi menyadari kegelisahan Mama, mulai menuntut penjelasan. Sorot matanya tajam, menyadari ada yang tidak beres dalam keheningan yang tiba-tiba melanda. Mama menarik napas perlahan, mencoba mengumpulkan sis
Last Updated: 2022-09-04