Home / Romansa / Pengantin Pengganti / Bab 6 : Panggung Sandiwara

Share

Bab 6 : Panggung Sandiwara

Author: Misachi
last update publish date: 2026-06-02 22:12:28

Aslan (POV)

Bagiku, pernikahan hanyalah transaksi bisnis yang dilapisi gaun putih dan janji palsu. Sejak Kayra—tunangan yang kumanjakan dengan seluruh hartaku—berselingkuh di belakangku dua tahun lalu, hatiku sudah mati. Aku tidak peduli dengan siapa aku dijodohkan. Bagiku, semua wanita kelas atas itu sama: manja, angkuh, dan hanya mencintai kilau berlian di jemari mereka.

Saat Papa menyodorkan nama Reyna Adijaya, aku setuju tanpa melihat fotonya. Namun, pelarian Reyna di hari pernikahan adalah penghinaan yang melampaui batas. Ia bukan hanya menolakku, ia menginjak-injak harga diri keluarga Winata.

Lalu, munculah Fiola.

Aku melihat bagaimana keluarganya sendiri membuangnya ke arahku seperti domba sembelihan. Awalnya, ada secercah rasa iba melihat betapa malangnya dia dijadikan kambing hitam. Namun, rasa iba itu segera tertutup oleh kecurigaan yang gelap. Mana mungkin dia tidak tahu? Pikirku. Mereka saudara kandung. Fiola pasti bersekongkol dengan Reyna—membiarkan kakaknya lari dengan kekasihnya agar dia bisa naik takhta menjadi istri seorang Aslan Winata.

Setiap air mata yang Fiola jatuhkan kulihat sebagai akting yang sempurna. Aku bertekad, jika Reyna tidak bisa kutemukan untuk dihancurkan, maka Fiola—bayangannya yang tertinggal—harus menanggung setiap inci rasa sakit hati dan dendam yang kusimpan. Aku akan menghancurkan kepolosan yang ia pamerkan sampai ia mengakui konspirasi busuk keluarganya.

***

Aslan berdiri di depan cermin, mengencangkan dasi silk hitamnya. Dari pantulan cermin, ia melihat Fiola keluar dari kamar mandi. Gadis itu mengenakan gaun malam berwarna navy blue dengan potongan sederhana namun elegan yang ia belikan. Rambutnya disanggul modern, memperlihatkan leher jenjangnya yang putih.

Ada sedikit lebam keunguan di sudut bibir Fiola—bekas ciuman kasar dan paksaan semalam. Hati Aslan berdenyut kecil, ada rasa asing yang menusuk, namun ia segera mengeraskan rahangnya. Itu salahnya sendiri karena memancing amarahku, batin Aslan dingin.

"Gunakan concealer yang lebih tebal untuk bibirmu. Aku tidak ingin orang mengira aku memukuli istriku di malam pertama," perintah Aslan tanpa menoleh.

Fiola terdiam. Ia mengambil kuas riasnya dengan tangan gemetar. "Aku tidak akan mengatakan apa pun pada mereka, Aslan. Kamu tidak perlu khawatir."

"Bagus. Ingat, malam ini kamu adalah Fiola yang sangat mencintaiku. Kamu adalah wanita yang beruntung karena mendapatkan posisi yang seharusnya milik kakakmu. Mainkan peranmu dengan sempurna, atau Papa-mu akan kehilangan investasi terbesarnya besok pagi."

Mobil Rolls-Royce hitam itu berhenti di depan kediaman mewah keluarga kolega mereka. Lampu kilat kamera wartawan langsung menyambut saat pintu mobil terbuka. Aslan keluar lebih dulu, lalu ia mengulurkan tangan dengan gerakan yang sangat sopan dan lembut kepada Fiola.

"Tersenyumlah," bisik Aslan sambil menarik pinggang Fiola agar merapat ke tubuhnya.

Di bawah sorotan lampu kristal ruang pesta, semua mata tertuju pada mereka. Bisik-bisik mulai terdengar. “Itu dia pengantin penggantinya?” “Cantik juga, tapi kasihan ya hanya ban serep.”

"Aslan! Selamat, ya!" Pak Wardana, sang tuan rumah, menghampiri mereka. "Dan ini... istri cantikmu?"

Aslan memamerkan senyum bisnisnya yang paling menawan. "Ya, Pak Wardana. Perkenalkan, ini Fiola. Istriku yang luar biasa. Dia memang sedikit pemalu, tidak seperti kakaknya, tapi itulah yang membuatku jatuh cinta padanya."

Fiola merasa ingin muntah mendengar kebohongan itu. Tangannya yang melingkar di lengan Aslan bisa merasakan otot pria itu yang mengeras.

"Selamat malam, Pak. Terima kasih sudah mengundang kami," ucap Fiola dengan suara yang diatur sedemikian rupa agar terdengar tenang.

Sepanjang malam, Aslan tidak melepaskan tangan Fiola. Ia terus membanggakan Fiola di depan rekan bisnisnya, mencium punggung tangan Fiola saat orang melihat, dan berbisik hal-hal kecil yang terlihat mesra. Namun, setiap kali mereka berada di sudut yang sepi, cengkeraman tangan Aslan di pinggang Fiola akan mengeras, mengingatkan gadis itu bahwa ini hanyalah pertunjukan.

"Kamu melakukannya dengan cukup baik," gumam Aslan saat mereka berdiri di balkon untuk mencari udara segar. "Mungkin kamu memang punya bakat menipu yang turun-temurun dari keluargamu."

Fiola menatap langit malam yang tanpa bintang. "Kapan ini akan berakhir, Aslan? Sampai kapan kamu akan menyiksaku dengan prasangka ini? Aku benar-benar tidak tahu tentang Andrew. Aku bahkan mencoba membujuk Reyna untuk pulang lewat telepon itu!"

Aslan berbalik, mengurung Fiola di pagar balkon. "Membujuknya pulang? Atau memberikan instruksi agar dia tidak tertangkap oleh orang-orangku? Kalian berdua sama saja. Reyna kabur dengan harga diriku, dan kamu datang untuk mengambil hartaku. Kamu pikir aku sebodoh itu?"

"Aku tidak butuh hartamu!" Fiola mendesis, matanya berkilat penuh emosi. "Aku lebih baik hidup miskin daripada harus bersamamu!"

Aslan tertawa sinis. Ia membelai pipi Fiola dengan punggung jarinya, gerakan yang terlihat lembut namun terasa mengancam. "Sayangnya, takdir—atau keserakahan ibumu—telah mengikatmu di sini. Dan aku belum selesai bermain denganmu, Fiola."

Tiba-tiba, seorang pelayan menghampiri mereka dengan wajah panik. "Tuan Aslan, maaf mengganggu. Ada telepon mendesak dari rumah sakit untuk Nyonya Fiola."

Fiola tersentak. "Rumah sakit? Ada apa?"

"Ayah Anda, Nyonya... Tuan Sandy baru saja dilarikan ke UGD karena serangan jantung."

Dunia seolah berhenti berputar bagi Fiola. Ia hampir jatuh jika Aslan tidak sigap menangkap bahunya. Di tengah kemarahan dan dendamnya, Aslan merasakan getaran hebat dari tubuh wanita di pelukannya. Untuk sesaat, topeng dingin Aslan retak melihat ketakutan yang nyata di mata Fiola.

"Ayo," ucap Aslan singkat. Kali ini, ia tidak menarik Fiola dengan paksa, melainkan menuntunnya dengan langkah cepat menuju parkiran.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pengantin Pengganti   Bab 6 : Panggung Sandiwara

    Aslan (POV)Bagiku, pernikahan hanyalah transaksi bisnis yang dilapisi gaun putih dan janji palsu. Sejak Kayra—tunangan yang kumanjakan dengan seluruh hartaku—berselingkuh di belakangku dua tahun lalu, hatiku sudah mati. Aku tidak peduli dengan siapa aku dijodohkan. Bagiku, semua wanita kelas atas itu sama: manja, angkuh, dan hanya mencintai kilau berlian di jemari mereka.Saat Papa menyodorkan nama Reyna Adijaya, aku setuju tanpa melihat fotonya. Namun, pelarian Reyna di hari pernikahan adalah penghinaan yang melampaui batas. Ia bukan hanya menolakku, ia menginjak-injak harga diri keluarga Winata.Lalu, munculah Fiola.Aku melihat bagaimana keluarganya sendiri membuangnya ke arahku seperti domba sembelihan. Awalnya, ada secercah rasa iba melihat betapa malangnya dia dijadikan kambing hitam. Namun, rasa iba itu segera tertutup oleh kecurigaan yang gelap. Mana mungkin dia tidak tahu? Pikirku. Mereka saudara kandung. Fiola pasti bersekongkol dengan Reyna—membiarkan kakaknya lari dengan

  • Pengantin Pengganti   Bab 5: Topeng di Balik Sarapan Pagi

    ​Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden blackout yang tidak tertutup rapat, menghujam tepat ke mata Fiola. Ia mengerjap, merasakan seluruh badannya kaku dan pegal akibat meringkuk semalaman di atas sofa panjang yang sempit. Untuk sesaat, ia lupa di mana ia berada, sampai aroma kayu cendana yang kuat menyadarkannya. ​Ini kamar Aslan. Dan ia adalah istri pengganti. ​Fiola menoleh ke arah ranjang besar di tengah ruangan. Sprei abu-abu itu sudah rapi, namun kosong. Aslan sudah bangun. Suara gemericik air dari kamar mandi menandakan pria itu sedang bersiap. Fiola segera bangkit dengan terburu-buru, merapikan bantal dan selimut di sofa agar tidak terlihat mencolok jika ada pelayan yang masuk. Ia tidak ingin siapa pun tahu bahwa di malam pertamanya, ia diusir ke sofa. ​Pintu kamar mandi terbuka. Aslan keluar hanya dengan handuk yang melilit pinggangnya, memperlihatkan tubuh atletis dengan tetesan air yang masih mengalir di dadanya. Fiola tersentak dan segera memalingka

  • Pengantin Pengganti   Bab 4: Istana Dingin dan Ranjang Asing

    Mobil mewah itu berhenti dengan mulus di depan sebuah rumah bergaya modern minimalis yang didominasi warna hitam, abu-abu, dan kaca besar yang dingin. Rumah itu sangat luas, namun tidak ada tanda-tanda kehangatan di dalamnya. Lampu-lampu taman yang temaram justru menambah kesan angker bagi Fiola. Ini bukan rumah; ini adalah monumen kesuksesan Aslan yang dibangun di atas fondasi kesepian.Aslan turun dari mobil tanpa menunggu sopir membukakan pintu, dan ia tidak pula menunggu Fiola. Ia melangkah masuk dengan kaki-kaki panjangnya, meninggalkan Fiola yang masih kesulitan dengan ekor gaun pengantinnya yang panjang dan berat."Turunlah. Jangan membuatku menunggu lebih lama," suara Aslan terdengar dari kejauhan, dingin dan penuh otoritas.Fiola menghela napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang menggila. Dengan susah payah, ia mengangkat kain gaunnya dan turun dari mobil. Udara malam yang menusuk pori-pori kulitnya yang terbuka terasa begitu menyesakkan. Saat ia melangkah m

  • Pengantin Pengganti   Bab 3 Sakramen di Atas Luka

    ​Pagi itu, Gereja Katedral terasa begitu asing bagi Fiola. Wangi bunga lili putih yang memenuhi setiap sudut lorong altar biasanya akan membangkitkan perasaan suci dan damai, namun baginya, aroma itu lebih mirip wangi bunga di pemakaman—pemakaman bagi masa depannya sendiri.​Fiola menatap bayangannya di cermin besar ruang pengantin. Gaun putih off-shoulder karya desainer ternama itu melekat sempurna di tubuhnya setelah dipermak habis-habisan selama tiga hari terakhir. Gaun yang seharusnya menjadi milik Reyna. Mahkota kecil bertahtakan berlian tersemat di rambutnya yang disanggul anggun, namun beban di atas kepalanya terasa jauh lebih berat dari sekadar logam dan permata.​"Jangan ditekuk wajahnya, Fiola. Riasanmu bisa retak," tegur Mama yang masuk ke ruangan dengan gaun brokat emas yang mewah. Mama tampak begitu bahagia, seolah-olah ia baru saja memenangkan lotre, bukan baru saja menjual putrinya demi sebuah reputasi.​"Ma, apa Mama benar-benar tidak merasa bersalah?" suara Fiola berg

  • Pengantin Pengganti   Bab 2 Barter Harga Diri

    ​Keheningan yang mencekam menyelimuti ruang tamu setelah ucapan Aslan yang dingin itu terlontar. Aku merasa seolah oksigen di sekitarku mendadak habis. Menjadi pengganti? Menikah dengan lelaki yang baru saja dihina oleh kakakku sendiri? ​"Aslan, apa yang kamu katakan?" Hary, ayah Aslan, mendekat dengan wajah terkejut. "Kita tidak bisa memutuskan ini begitu saja. Pernikahan bukan sekadar menukar barang." ​Aslan berbalik perlahan, menatap ayahnya tanpa ekspresi. "Ini bukan soal perasaan, Pa. Ini soal harga diri keluarga Winata dan kelangsungan saham kita yang mulai bergejolak karena rumor pembatalan ini. Mereka berjanji memberikan putri mereka, maka mereka harus menepatinya. Jika bukan Reyna, maka Fiola." ​Matanya kembali menghujamku. Dingin. Tajam. Seolah aku hanyalah sebuah aset yang harus diserahkan sebagai ganti rugi. ​"Tapi..." Papa mencoba angkat bicara, suaranya bergetar. "Fiola masih punya masa depan, Aslan. Dia berbeda dengan Reyna." ​"Tentu saja dia berbeda," potong Mama

  • Pengantin Pengganti   Bab 1 Mahkota Berduri Untuk Fiola

    ​Suasana di ruang tengah kediaman keluarga Adijaya terasa mencekam, kontras dengan dekorasi bunga-bunga segar yang baru saja dipasang di beberapa sudut rumah. Wangi melati yang seharusnya membawa ketenangan justru terasa mencekik bagi Fiola. Di tengah kepulan uap teh yang sudah mendingin, ketegangan merambat di antara dua keluarga besar yang sedang berkumpul. ​"Nyonya, Non Reyna tidak ada di kamarnya. Sebagian lemari pakaiannya juga sudah kosong," bisik Bi Atin, asisten rumah tangga senior kami, tepat di telinga Mama. ​Meski pelan, bisikan itu bagai petir di siang bolong bagi siapa pun yang mendengarnya. Wajah Mama yang semula dipoles riasan sempurna mendadak pucat pasi. Tangannya yang memegang cangkir porselen gemetar hebat. ​"Ada apa, Ma? Di mana Reyna?" Papa, yang sejak tadi menyadari kegelisahan Mama, mulai menuntut penjelasan. Sorot matanya tajam, menyadari ada yang tidak beres dalam keheningan yang tiba-tiba melanda. ​Mama menarik napas perlahan, mencoba mengumpulkan sisa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status