Pengantin Pengganti

Pengantin Pengganti

last updateLast Updated : 2026-01-04
By:  MisachiOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
5Chapters
9views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Synopsis

Hidup Fiola berubah sejak ia menggantikan saudaranya Reyna , yang memilih untuk pergi bersama kekasihnya di hari pernikahannya. Meski sejak kecil Fiola selalu berharap bisa berada di posisi Reyna yang selalu disayang dan dibanggakan oleh mama, menjadi pengantin menggantikan Reyna bukanlah sesuatu yang diinginkan Fiola. Apalagi harus menghadapi calon suaminya, Aslan lelaki dingin yang penuh dendam atas penolakan Reyna. Akankah Fiola sanggup menjalani kehidupan berumah tangga dengan Aslan menggantikan Reyna ? Akankah Fiola dapat bertahan atas sikap dingin Aslan ?

View More

Chapter 1

Bab 1 Mahkota Berduri Untuk Fiola

​Suasana di ruang tengah kediaman keluarga Adijaya terasa mencekam, kontras dengan dekorasi bunga-bunga segar yang baru saja dipasang di beberapa sudut rumah. Wangi melati yang seharusnya membawa ketenangan justru terasa mencekik bagi Fiola. Di tengah kepulan uap teh yang sudah mendingin, ketegangan merambat di antara dua keluarga besar yang sedang berkumpul.

​"Nyonya, Non Reyna tidak ada di kamarnya. Sebagian lemari pakaiannya juga sudah kosong," bisik Bi Atin, asisten rumah tangga senior kami, tepat di telinga Mama.

​Meski pelan, bisikan itu bagai petir di siang bolong bagi siapa pun yang mendengarnya. Wajah Mama yang semula dipoles riasan sempurna mendadak pucat pasi. Tangannya yang memegang cangkir porselen gemetar hebat.

​"Ada apa, Ma? Di mana Reyna?" Papa, yang sejak tadi menyadari kegelisahan Mama, mulai menuntut penjelasan. Sorot matanya tajam, menyadari ada yang tidak beres dalam keheningan yang tiba-tiba melanda.

​Mama menarik napas perlahan, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kewarasannya di depan tamu terhormat mereka. "Pa... Reyna... Reyna tidak ada di kamarnya. Dia kabur dari rumah."

​Kalimat itu meluncur dibarengi isak tangis yang pecah. Reyhan, adik bungsuku, segera mendekat dan merangkul bahu Mama, mencoba menenangkannya. Aku hanya bisa mematung di sudut ruangan, melirik Papa yang raut wajahnya menegang hebat. Di seberang kami, Pak Hary dan Bu Seila Winata—calon mertua Reyna—saling berpandangan dengan ekspresi yang sulit diartikan.

​"Maksudnya bagaimana, Sandy? Tolong dijelaskan," Hary berujar dingin. Nada suaranya bukan lagi nada bicara sahabat lama, melainkan seorang kolega bisnis yang merasa dikhianati.

​Papa tampak gusar. Bahunya yang biasa tegak kini merosot, beban malu seolah menekan seluruh jiwanya. "Saya dan keluarga besar saya benar-benar minta maaf. Kami... kami ternyata gagal mendidik putri kami sendiri." Papa menunduk, tak berani menatap lawan bicaranya.

​"Sandy, bukan permintaan maaf yang ingin kami dengar," Seila menyela dengan nada ketus. "Pernikahan minggu depan sudah diatur sedemikian rupa. Undangan telah tersebar ke relasi bisnis kelas atas. Keluarga Winata tidak bisa menanggung malu ini. Orang-orang akan berpikir macam-macam jika putra kami, Aslan, ditinggal kabur begitu saja!"

​"Sudah, Mi. Kita juga harus sadar kalau Sandy juga terpukul," Hary mencoba meredam emosi istrinya, meski ia sendiri tak bisa menyembunyikan kekecewaan di matanya.

​"Terima kasih atas pengertiannya, Hary. Tapi yang dikatakan Seila benar. Gunjingan tidak akan bisa dihindari," sahut Papa lirih. "Saya sudah mengerahkan orang-orang untuk mencari keberadaan putri saya."

​Di tengah suasana yang menyesakkan itu, ponsel di saku gamis sederhanaku bergetar. Sebuah nama muncul di layar: Reyna.

​Jantungku berdegup kencang. Setelah kekacauan yang ia buat, baru sekarang ia menghubungiku? Aku melirik sekeliling. Semua orang sedang fokus pada perdebatan di ruang tengah. Dengan perlahan, aku mengundurkan diri, berjalan menuju halaman samping yang sepi di dekat kolam ikan.

​"Kamu di mana, Rey?!" tanyaku tanpa basa-basi begitu menekan tombol hijau. Suaraku tertahan, berbisik penuh amarah yang terpendam. "Kamu tahu gara-gara kamu kabur, semuanya berantakan!"

​"Tenang dong, Fio. Jangan teriak-teriak," suara Reyna terdengar di seberang sana, begitu santai seolah ia hanya sedang pergi berlibur biasa. "Aku sekarang lagi sama Andrew. Kami sedang di bandara, mau ke Paris. Dia mau ngenalin aku sama keluarganya di sana, dan mungkin kami juga akan menikah di Paris dalam waktu dekat. Bilangin sama Mama dan Papa, aku nggak mau menikah dengan siapa pun selain Andrew."

​Darahku mendidih. Andrew? Si playboy kampus yang dulu sering berganti kekasih setiap minggu?

​"Sebaiknya kamu segera pulang, Reyna! Tinggalkan Andrew. Dia tidak baik buat kamu!"

​"Apa kamu bilang? Tahu apa kamu tentang Andrew? Kamu nggak usah ikut campur kehidupan aku, deh!" Suara Reyna mendadak meninggi, menunjukkan sifat aslinya yang keras kepala.

​"Kalau kamu memang tidak ingin menikah dengan anak Om Hary, kenapa kemarin kamu menerima lamarannya? Kamu sadar apa yang kamu lakukan sudah membuat susah Mama dan Papa?"

​Reyna tertawa renyah, tawa yang terdengar sangat merendahkan di telingaku. "Aku sengaja menerima lamaran keluarga Winata agar Andrew cemburu dan segera mengajakku menikah. Berhasil, kan? Lagian, siapa juga yang mau menikah dengan orang yang tidak pernah kita temui? Iya kalau orangnya cakep, kalau jelek bagaimana? Aku tidak mau menyerahkan hidupku pada orang asing."

​Aku mengepalkan tangan hingga kuku-kukuku memutih. "Tapi Rey, kasihan Papa. Kalau kamu pulang sekarang, aku yakin Papa dan Mama akan memaafkanmu. Mereka sangat sayang padamu."

​"Udah deh, Fio. Seperti biasa, tugas kamu sekarang adalah menyelesaikan masalah ini. Siapa tahu dengan begitu, Mama mulai melihatmu," ucapnya dengan nada mengejek yang sangat akrab di telingaku. "Tahu sendiri kan, selama ini Mama nggak pernah memperhatikanmu. Di mata Mama, anak perempuan kesayangannya itu cuma aku."

​Deg. Ucapannya menghantam ulu hatiku. Itu adalah kebenaran pahit yang selalu kucoba kubur dalam-dalam. Aku mencengkeram ponselku dengan sangat kuat hingga tanganku gemetar. Selalu seperti ini. Reyna yang berbuat ulah, dan aku yang harus memunguti serpihan kekacauannya, sementara ia tetap menjadi bintang di mata Mama.

​"Jangan menyesal dengan keputusanmu, Rey!"

​"Tenang aja, aku nggak akan pernah menyesal. Sampai jumpa, Fio sayang."

​Klik. Sambungan terputus.

​"Fiola, itu tadi telepon dari Reyna, kan?"

​Aku tersentak hebat hingga hampir menjatuhkan ponselku. Mama sudah berdiri di belakangku bersama Reyhan. Tatapan Mama begitu tajam, seolah ingin menguliti rahasia yang baru saja kudengar.

​"Jawab, Fiola! Itu dari Reyna, kan?!" Mama melangkah maju dan mengguncang bahuku dengan kasar.

​"Iya, Ma..." jawabku pelan, nyaris tak terdengar.

​Plakkk!

​Sengatan panas menjalar di pipi kiriku. Kepalaku tertoleh ke samping. Rasa sakitnya tak seberapa dibanding rasa terkejut yang menghujam jantungku. Aku menyentuh pipiku yang berdenyut, menatap Mama dengan mata berkaca-kaca.

​"Kenapa kamu tidak langsung kasih teleponnya ke Mama?! Kamu tidak ingin Reyna pulang, kan? Atau jangan-jangan kamu yang menghasutnya agar dia pergi supaya semua orang menyalahkan dia?!" Mama terus berteriak, mengguncang tubuhku lagi.

​"Ma, cukup!" Reyhan menarik Mama, berusaha menghalangi jangkauan tangannya dariku.

​"Ma... Reyna pergi dengan Andrew ke Paris," ucapku sambil menahan isak. "Fio tidak pernah menyuruhnya pergi."

​"Siapa Andrew? Kamu sengaja, ya, mengompori Reyna biar dia pergi dengan cowok itu? Kamu iri, kan, karena Reyna punya calon suami yang kaya raya dari keluarga terpandang?!"

​"Ma, Fio nggak kayak gitu..." Dadaku sesak. Tuduhan itu terlalu kejam. Bagaimana bisa seorang ibu berpikir demikian tentang anaknya sendiri? Namun, inilah kenyataannya. Jika Reyna salah, itu pasti karena pengaruhku. Jika Reyna pergi, itu pasti karena aku yang jahat.

​"Kamu nggak usah membela dia, Reyhan! Mama yakin ini semua karena Fiola. Dia dari kecil sudah iri dengan Reyna! Reyna lebih cantik, lebih berbakat, lebih pintar dari dia!" seru Mama dengan suara yang menggelegar di lorong samping rumah.

​Aku hanya bisa menunduk, membiarkan air mata jatuh membasahi lantai keramik. Kata-kata itu lebih tajam dari tamparan tadi. Aku sadar aku hanyalah bayangan. Aku adalah "cadangan" yang tidak pernah diharapkan untuk tampil.

​Beberapa saat kemudian, keluarga Winata akhirnya pamit pulang dengan wajah dingin. Mereka memberikan waktu bagi keluarga kami untuk "menyelesaikan urusan internal". Atmosfer di ruang keluarga kini terasa lebih berat dari sebelumnya. Papa duduk di kursi besarnya, memijat pelipisnya.

​"Fiola, apa kamu tahu Reyna pergi ke mana?" tanya Papa. Suaranya berat, namun tetap memiliki wibawa yang tidak menghakimi, berbeda dengan Mama.

​"Maaf, Pa..."

​"Jelas aja dia tahu, Pa! Mungkin memang dia yang menyuruh Reyna pergi agar pertunangan ini batal!" Mama memotong, masih dengan emosi yang meluap-luap.

​"Diam, Ma! Papa bertanya kepada Fiola, bukan Mama," tegur Papa tegas. Mama mendengus dan memalingkan muka. "Katakan pada Papa, Nak."

​"Tadi Reyna menelepon, Pa. Dia bilang dia ke Paris bersama Andrew. Dan... dia meminta aku menyelesaikan semua masalah ini."

​Aku melihat bahu Papa merosot. Kekecewaan yang begitu dalam terpancar dari matanya. Kepercayaan yang ia berikan pada putri kesayangannya telah hancur berkeping-keping.

​Tepat saat itu, pintu depan terbuka. Seorang pria dengan setelan jas hitam yang sangat rapi masuk. Langkah kakinya tegas, menimbulkan bunyi ketukan yang berirama di lantai marmer. Wajahnya yang tampan terlihat sedingin es, dengan rahang yang mengeras menahan amarah yang terpendam.

​Itu adalah Aslan Winata. Calon suami yang ditinggalkan oleh Reyna.

​Ia tidak datang untuk menghibur. Ia datang membawa aura intimidasi yang membuat seluruh ruangan membeku. Tatapannya menyapu ruangan, hingga akhirnya berhenti tepat pada mataku. Sebuah tatapan penuh dendam, seolah akulah orang yang paling ia benci di dunia ini.

​"Aslan, bisa kita bicara sebentar?" panggil Hary yang ternyata belum sepenuhnya pergi, ia menunggu putranya di teras depan.

​Aslan tidak langsung menjawab. Ia melangkah mendekat ke arah Papa, namun matanya tetap tertuju padaku dengan intensitas yang mengerikan.

​"Tidak perlu ada yang dibicarakan lagi, Pa," suara Aslan terdengar berat dan datar. "Keluarga Adijaya harus bertanggung jawab atas penghinaan ini. Jika putri pertama kalian melarikan diri, maka kalian punya putri kedua untuk menggantikannya. Saya tidak peduli siapa yang duduk di pelaminan, yang saya peduli adalah pernikahan ini harus tetap terjadi minggu depan."

​Duniaku serasa runtuh saat itu juga. Aku menatap Papa dengan tatapan memohon, namun Papa hanya bisa terdiam dengan wajah hancur. Di sebelahku, Mama justru menatapku dengan binar aneh—sebuah binar yang menandakan bahwa ia telah menemukan solusi untuk menyelamatkan "anak kesayangannya" yang lain, meski harus mengorbankan diriku.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
5 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status