LOGINPagi itu, Gereja Katedral terasa begitu asing bagi Fiola. Wangi bunga lili putih yang memenuhi setiap sudut lorong altar biasanya akan membangkitkan perasaan suci dan damai, namun baginya, aroma itu lebih mirip wangi bunga di pemakaman—pemakaman bagi masa depannya sendiri.
Fiola menatap bayangannya di cermin besar ruang pengantin. Gaun putih off-shoulder karya desainer ternama itu melekat sempurna di tubuhnya setelah dipermak habis-habisan selama tiga hari terakhir. Gaun yang seharusnya menjadi milik Reyna. Mahkota kecil bertahtakan berlian tersemat di rambutnya yang disanggul anggun, namun beban di atas kepalanya terasa jauh lebih berat dari sekadar logam dan permata. "Jangan ditekuk wajahnya, Fiola. Riasanmu bisa retak," tegur Mama yang masuk ke ruangan dengan gaun brokat emas yang mewah. Mama tampak begitu bahagia, seolah-olah ia baru saja memenangkan lotre, bukan baru saja menjual putrinya demi sebuah reputasi. "Ma, apa Mama benar-benar tidak merasa bersalah?" suara Fiola bergetar. "Aku akan berjanji di depan Tuhan untuk mencintai laki-laki yang membenciku." Mama menghela napas, sibuk memperbaiki posisi veil Fiola. "Aslan itu lelaki hebat, Fio. Keluarganya terpandang. Kamu seharusnya bersyukur. Kamu yang tidak punya bakat apa-apa ini bisa menjadi nyonya di keluarga Winata. Ini adalah kesempatan terbaik dalam hidupmu." "Kesempatan untuk menjadi tameng kesalahan Reyna, maksud Mama?" Wajah Mama berubah masam. "Cukup, Fiola! Jangan merusak hari ini. Papa sudah cukup menderita karena ulah kakakmu. Sekarang tugasmu adalah membuat Papa bangga. Ingat, jangan sampai ada kesalahan saat mengucapkan janji nanti." Mama keluar setelah memberikan instruksi terakhir, meninggalkan Fiola dalam kesunyian yang mencekik. Fiola menyentuh kalung salib kecil di lehernya, berbisik lirih dalam doa yang penuh keraguan. Tuhan, jika ini adalah jalan yang harus kutempuh, kuatkan hatiku. Dentang lonceng gereja menggema, menandakan prosesi akan segera dimulai. Pintu besar gereja terbuka perlahan, menampakkan lorong panjang menuju altar yang dipenuhi tamu undangan. Fiola melangkah dengan tangan yang melingkar di lengan Papa. Ia bisa merasakan tangan Papa gemetar, sebuah tanda bahwa pria itu sebenarnya sedang berperang dengan batinnya sendiri. "Maafkan Papa, Nak," bisik Papa sangat pelan, hampir tenggelam oleh alunan musik Canon in D yang menggema dari organ pipa. Fiola hanya mengangguk kecil. Ia tidak sanggup mengeluarkan suara. Matanya tertuju lurus ke depan, ke arah altar di mana seorang pria berdiri dengan gagah dalam balutan tuksedo hitam yang sangat pas. Aslan Winata. Pria itu berdiri tegak, membelakangi altar dan menghadap ke arah Fiola yang sedang berjalan mendekat. Wajahnya setampan malaikat, namun matanya sedingin es. Tidak ada senyum, tidak ada binar kekaguman saat melihat pengantinnya. Tatapannya datar, seolah ia sedang menunggu kedatangan musuh di medan perang. Saat mereka sampai di depan altar, Papa menyerahkan tangan Fiola kepada Aslan. Saat kulit mereka bersentuhan, Fiola merasakan sentakan dingin yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Tangan Aslan kuat, namun genggamannya tidak memberikan rasa aman sedikit pun. "Jaga putri saya," bisik Papa sebelum melangkah mundur. Aslan tidak menjawab. Ia hanya menarik Fiola untuk berdiri berdampingan di hadapan Romo yang sudah siap memimpin upacara Sakramen Perkawinan. Upacara berlangsung dengan khidmat, namun bagi Fiola, setiap doa dan nyanyian terasa seperti gema yang menjauh. Ia berdiri di sana, namun jiwanya seolah melayang di langit-langit gereja, memandang rendah pada dirinya sendiri yang sedang terjebak dalam sandiwara besar. Tiba saatnya untuk Liturgi Perkawinan. Bagian paling sakral di mana mereka akan mengikat janji di hadapan Tuhan dan jemaat. Romo menatap mereka berdua dengan senyum lembut, tidak menyadari badai yang sedang berkecamuk di bawah permukaan. "Aslan Winata, teguhkah hatimu untuk meresmikan perkawinan ini?" "Ya, saya teguh," jawab Aslan. Suaranya bariton, mantap, dan tanpa keraguan sedikit pun. Namun, Fiola tahu keteguhan itu bukan berasal dari cinta, melainkan dari tekad untuk menjalankan hukuman. "Fiola Adijaya, teguhkah hatimu untuk meresmikan perkawinan ini?" Fiola terdiam sejenak. Tenggorokannya terasa kering. Ia bisa merasakan tatapan tajam Mama dari bangku depan dan tatapan dingin Aslan di sampingnya. "Ya... saya teguh," jawabnya lirih. Romo kemudian mempersilakan mereka untuk saling berhadapan dan menyatakan janji pernikahan. Aslan mengambil tangan kanan Fiola. Fiola bisa merasakan jari-jari Aslan yang kokoh melingkari tangannya, namun genggaman itu terasa seperti borgol. Aslan memulai janjinya terlebih dahulu. "Di hadapan Allah, Romo, para saksi, dan umat yang hadir di sini, saya, Aslan Winata, memilih engkau, Fiola Adijaya, menjadi istri saya. Saya berjanji untuk setia mengabdikan diri kepadamu dalam untung dan malang, di waktu sehat dan sakit. Saya mau mengasihi dan menghormati engkau seumur hidup saya." Setiap kata yang diucapkan Aslan terdengar begitu sempurna, begitu meyakinkan, namun di telinga Fiola, itu terdengar seperti sebuah ancaman yang dibungkus dengan kalimat suci. Aslan menatap tepat ke matanya saat mengucapkan kata "mengasihi", dan Fiola bisa melihat ada kilatan ejekan di sana. Aku akan memilikimu, tapi jangan harap aku akan mengasihimu, begitulah arti tatapan itu bagi Fiola. Kini giliran Fiola. Suaranya bergetar saat memulai kalimat pertama. "Di hadapan Allah... Romo, para saksi, dan umat yang hadir di sini... saya, Fiola Adijaya, memilih engkau, Aslan Winata, menjadi suami saya. Saya berjanji untuk setia mengabdikan diri kepadamu dalam untung dan malang, di waktu sehat dan sakit. Saya mau mengasihi dan menghormati engkau seumur hidup saya." Saat kalimat itu selesai, Fiola merasa seolah-olah ia baru saja menandatangani kontrak penyerahan diri yang tak bisa dibatalkan. Ia baru saja bersumpah di depan Tuhan untuk sesuatu yang ia sendiri belum tahu apakah sanggup menjalaninya. Romo kemudian memberkati cincin mereka. Aslan mengambil cincin emas putih itu dan menyematkannya di jari manis Fiola. "Fiola, terimalah cincin ini sebagai lambang cinta dan kesetiaanku kepadamu. Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus," ucap Aslan. Sentuhan cincin itu terasa dingin. Saat giliran Fiola menyematkan cincin di jari Aslan, tangannya bergetar hebat hingga ia hampir menjatuhkan cincin tersebut. Aslan menahan tangannya dengan kasar namun tersembunyi, membantu Fiola memasukkan cincin itu ke jarinya. "Apa yang dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan oleh manusia. Amin," ucap Romo menutup prosesi inti tersebut. Tepuk tangan jemaat membahana di dalam katedral. Di bangku depan, Mama menghapus air mata bahagia (atau mungkin lega), sementara Papa tampak menutup matanya, entah sedang berdoa atau sedang menahan rasa bersalah. "Sekarang, silakan berikan tanda kasih kepada pasanganmu," Romo memberi isyarat. Fiola menegang. Aslan mendekat, wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Fiola. Ia mengangkat veil tipis yang menutupi wajah Fiola. Aslan membungkuk, namun alih-alih mencium kening atau bibir seperti pasangan pengantin pada umumnya, ia mendekatkan bibirnya ke telinga Fiola. "Selamat datang di penjara barumu, Nyonya Winata," bisiknya dengan suara yang hanya bisa didengar oleh Fiola. Setelah itu, ia mengecup kening Fiola dengan gerakan yang sangat cepat dan dingin. Bagi para undangan yang melihat dari jauh, itu tampak seperti kecupan lembut penuh kasih. Namun bagi Fiola, itu adalah cap kepemilikan dari seorang pemilik kepada budaknya. Resepsi diadakan di sebuah hotel bintang lima dengan kemewahan yang tak tertandingi. Ribuan tamu datang silih berganti memberikan selamat. Fiola berdiri di samping Aslan selama berjam-jam, memaksakan senyum hingga otot wajahnya terasa kaku. Sepanjang acara, Aslan memperlakukannya seperti pajangan yang indah. Ia menggandeng tangan Fiola saat berjalan, merangkul pinggangnya saat berfoto, namun tidak pernah sekalipun mengajaknya bicara atau menatap matanya dengan kehangatan. Semua itu hanyalah akting sempurna di depan kamera dan kolega bisnis. Saat malam semakin larut dan tamu mulai berkurang, Aslan menunduk ke arah Fiola. "Kita pergi sekarang. Barang-barangmu sudah dipindahkan ke rumahku." "Malam ini? Tapi aku belum pamit dengan Papa dan Mama..." "Aku tidak butuh izin mereka lagi. Kamu sudah menjadi milikku sepenuhnya," ucap Aslan tanpa perasaan. Ia menarik tangan Fiola, mengabaikan protes kecil istrinya, dan menuntunnya menuju mobil pengantin yang sudah menunggu di lobi. Di dalam mobil yang melaju membelah kegelapan malam Jakarta, Fiola menatap ke luar jendela. Ia melihat gedung-gedung tinggi yang berlari menjauh, sama seperti kebebasannya yang kini telah sirna. Di sampingnya, Aslan sibuk dengan ponselnya, seolah keberadaan Fiola di sana sama sekali tidak berarti. Pernikahan katolik yang suci baru saja ia lalui, namun Fiola tahu, tidak akan ada surga dalam rumah tangga ini. Hanya ada dirinya, Aslan, dan dendam yang membara di antara mereka.Aslan (POV)Bagiku, pernikahan hanyalah transaksi bisnis yang dilapisi gaun putih dan janji palsu. Sejak Kayra—tunangan yang kumanjakan dengan seluruh hartaku—berselingkuh di belakangku dua tahun lalu, hatiku sudah mati. Aku tidak peduli dengan siapa aku dijodohkan. Bagiku, semua wanita kelas atas itu sama: manja, angkuh, dan hanya mencintai kilau berlian di jemari mereka.Saat Papa menyodorkan nama Reyna Adijaya, aku setuju tanpa melihat fotonya. Namun, pelarian Reyna di hari pernikahan adalah penghinaan yang melampaui batas. Ia bukan hanya menolakku, ia menginjak-injak harga diri keluarga Winata.Lalu, munculah Fiola.Aku melihat bagaimana keluarganya sendiri membuangnya ke arahku seperti domba sembelihan. Awalnya, ada secercah rasa iba melihat betapa malangnya dia dijadikan kambing hitam. Namun, rasa iba itu segera tertutup oleh kecurigaan yang gelap. Mana mungkin dia tidak tahu? Pikirku. Mereka saudara kandung. Fiola pasti bersekongkol dengan Reyna—membiarkan kakaknya lari dengan
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden blackout yang tidak tertutup rapat, menghujam tepat ke mata Fiola. Ia mengerjap, merasakan seluruh badannya kaku dan pegal akibat meringkuk semalaman di atas sofa panjang yang sempit. Untuk sesaat, ia lupa di mana ia berada, sampai aroma kayu cendana yang kuat menyadarkannya. Ini kamar Aslan. Dan ia adalah istri pengganti. Fiola menoleh ke arah ranjang besar di tengah ruangan. Sprei abu-abu itu sudah rapi, namun kosong. Aslan sudah bangun. Suara gemericik air dari kamar mandi menandakan pria itu sedang bersiap. Fiola segera bangkit dengan terburu-buru, merapikan bantal dan selimut di sofa agar tidak terlihat mencolok jika ada pelayan yang masuk. Ia tidak ingin siapa pun tahu bahwa di malam pertamanya, ia diusir ke sofa. Pintu kamar mandi terbuka. Aslan keluar hanya dengan handuk yang melilit pinggangnya, memperlihatkan tubuh atletis dengan tetesan air yang masih mengalir di dadanya. Fiola tersentak dan segera memalingka
Mobil mewah itu berhenti dengan mulus di depan sebuah rumah bergaya modern minimalis yang didominasi warna hitam, abu-abu, dan kaca besar yang dingin. Rumah itu sangat luas, namun tidak ada tanda-tanda kehangatan di dalamnya. Lampu-lampu taman yang temaram justru menambah kesan angker bagi Fiola. Ini bukan rumah; ini adalah monumen kesuksesan Aslan yang dibangun di atas fondasi kesepian.Aslan turun dari mobil tanpa menunggu sopir membukakan pintu, dan ia tidak pula menunggu Fiola. Ia melangkah masuk dengan kaki-kaki panjangnya, meninggalkan Fiola yang masih kesulitan dengan ekor gaun pengantinnya yang panjang dan berat."Turunlah. Jangan membuatku menunggu lebih lama," suara Aslan terdengar dari kejauhan, dingin dan penuh otoritas.Fiola menghela napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang menggila. Dengan susah payah, ia mengangkat kain gaunnya dan turun dari mobil. Udara malam yang menusuk pori-pori kulitnya yang terbuka terasa begitu menyesakkan. Saat ia melangkah m
Pagi itu, Gereja Katedral terasa begitu asing bagi Fiola. Wangi bunga lili putih yang memenuhi setiap sudut lorong altar biasanya akan membangkitkan perasaan suci dan damai, namun baginya, aroma itu lebih mirip wangi bunga di pemakaman—pemakaman bagi masa depannya sendiri.Fiola menatap bayangannya di cermin besar ruang pengantin. Gaun putih off-shoulder karya desainer ternama itu melekat sempurna di tubuhnya setelah dipermak habis-habisan selama tiga hari terakhir. Gaun yang seharusnya menjadi milik Reyna. Mahkota kecil bertahtakan berlian tersemat di rambutnya yang disanggul anggun, namun beban di atas kepalanya terasa jauh lebih berat dari sekadar logam dan permata."Jangan ditekuk wajahnya, Fiola. Riasanmu bisa retak," tegur Mama yang masuk ke ruangan dengan gaun brokat emas yang mewah. Mama tampak begitu bahagia, seolah-olah ia baru saja memenangkan lotre, bukan baru saja menjual putrinya demi sebuah reputasi."Ma, apa Mama benar-benar tidak merasa bersalah?" suara Fiola berg
Keheningan yang mencekam menyelimuti ruang tamu setelah ucapan Aslan yang dingin itu terlontar. Aku merasa seolah oksigen di sekitarku mendadak habis. Menjadi pengganti? Menikah dengan lelaki yang baru saja dihina oleh kakakku sendiri? "Aslan, apa yang kamu katakan?" Hary, ayah Aslan, mendekat dengan wajah terkejut. "Kita tidak bisa memutuskan ini begitu saja. Pernikahan bukan sekadar menukar barang." Aslan berbalik perlahan, menatap ayahnya tanpa ekspresi. "Ini bukan soal perasaan, Pa. Ini soal harga diri keluarga Winata dan kelangsungan saham kita yang mulai bergejolak karena rumor pembatalan ini. Mereka berjanji memberikan putri mereka, maka mereka harus menepatinya. Jika bukan Reyna, maka Fiola." Matanya kembali menghujamku. Dingin. Tajam. Seolah aku hanyalah sebuah aset yang harus diserahkan sebagai ganti rugi. "Tapi..." Papa mencoba angkat bicara, suaranya bergetar. "Fiola masih punya masa depan, Aslan. Dia berbeda dengan Reyna." "Tentu saja dia berbeda," potong Mama
Suasana di ruang tengah kediaman keluarga Adijaya terasa mencekam, kontras dengan dekorasi bunga-bunga segar yang baru saja dipasang di beberapa sudut rumah. Wangi melati yang seharusnya membawa ketenangan justru terasa mencekik bagi Fiola. Di tengah kepulan uap teh yang sudah mendingin, ketegangan merambat di antara dua keluarga besar yang sedang berkumpul. "Nyonya, Non Reyna tidak ada di kamarnya. Sebagian lemari pakaiannya juga sudah kosong," bisik Bi Atin, asisten rumah tangga senior kami, tepat di telinga Mama. Meski pelan, bisikan itu bagai petir di siang bolong bagi siapa pun yang mendengarnya. Wajah Mama yang semula dipoles riasan sempurna mendadak pucat pasi. Tangannya yang memegang cangkir porselen gemetar hebat. "Ada apa, Ma? Di mana Reyna?" Papa, yang sejak tadi menyadari kegelisahan Mama, mulai menuntut penjelasan. Sorot matanya tajam, menyadari ada yang tidak beres dalam keheningan yang tiba-tiba melanda. Mama menarik napas perlahan, mencoba mengumpulkan sisa







