Se connecterKeheningan yang mencekam menyelimuti ruang tamu setelah ucapan Aslan yang dingin itu terlontar. Aku merasa seolah oksigen di sekitarku mendadak habis. Menjadi pengganti? Menikah dengan lelaki yang baru saja dihina oleh kakakku sendiri?
"Aslan, apa yang kamu katakan?" Hary, ayah Aslan, mendekat dengan wajah terkejut. "Kita tidak bisa memutuskan ini begitu saja. Pernikahan bukan sekadar menukar barang." Aslan berbalik perlahan, menatap ayahnya tanpa ekspresi. "Ini bukan soal perasaan, Pa. Ini soal harga diri keluarga Winata dan kelangsungan saham kita yang mulai bergejolak karena rumor pembatalan ini. Mereka berjanji memberikan putri mereka, maka mereka harus menepatinya. Jika bukan Reyna, maka Fiola." Matanya kembali menghujamku. Dingin. Tajam. Seolah aku hanyalah sebuah aset yang harus diserahkan sebagai ganti rugi. "Tapi..." Papa mencoba angkat bicara, suaranya bergetar. "Fiola masih punya masa depan, Aslan. Dia berbeda dengan Reyna." "Tentu saja dia berbeda," potong Mama cepat. Aku menoleh ke arah Mama, berharap ia akan membelaku. Namun, sorot mata Mama justru membuat hatiku mencelos. "Fiola adalah anak yang penurut, Pak Hary. Jika ini bisa menebus kesalahan Reyna dan menjaga nama baik kedua keluarga, kami akan menyetujuinya." "Ma!" seruku tertahan. "Mama bilang apa? Ini hidup Fio, Ma!" Mama berjalan mendekat, mencengkeram lenganku dengan kuat—cengkeraman yang memerintah, bukan menenangkan. "Ini salahmu juga, Fiola! Kalau saja kamu menahan Reyna tadi, kalau saja kamu lebih becus menjaga kakakmu, kita tidak akan berada di posisi memalukan ini. Sekarang, ini satu-satunya cara kamu bisa berguna bagi keluarga!" Air mataku jatuh tanpa bisa dibendung. Selalu begini. Aku selalu menjadi tumbal untuk kesalahan yang tidak pernah kuperbuat. Aku menatap Papa, mencari pembelaan, namun Papa hanya menunduk dalam, tangannya terkepal di atas lutut. Papa hancur oleh rasa malu, dan diamnya adalah sebuah persetujuan yang menyakitkan. "Bagaimana, Fiola?" Suara Aslan memecah isak tangisku. Ia melangkah maju, berdiri tepat di hadapanku. Tubuhnya yang tinggi menjulang menciptakan bayangan gelap yang mengurungku. Bau parfum maskulin yang tajam merasuk ke indra penciumanku, namun tidak ada kehangatan di sana. "Apakah kamu akan menjadi 'pahlawan' bagi keluargamu, atau kamu akan membiarkan ayahmu merangkak memohon maaf di depan publik besok pagi?" tanyanya dengan nada meremehkan. Aku mendongak, menatap matanya yang berwarna gelap pekat. Di sana, aku tidak melihat cinta atau ketertarikan. Hanya ada amarah yang tertahan dan keinginan untuk membalas dendam. Dia ingin menghukum Reyna, dan karena Reyna tidak ada, aku adalah sasaran terdekatnya. "Kenapa harus aku?" suaraku serak, nyaris hilang. Aslan tersenyum sinis, sebuah senyum yang tidak sampai ke mata. "Karena kamu yang tersisa. Dan karena kamu... terlihat seperti seseorang yang mudah untuk dihancurkan." Kalimat itu bagai belati yang menyayat harga diriku. Aku menoleh ke arah Reyhan yang tampak ingin protes namun ditahan oleh asisten rumah tangga kami agar tidak memperkeruh suasana. Aku melihat Mama yang menatapku penuh tuntutan, dan Papa yang tak berani menatapku sama sekali. Inilah takdirku. Sejak kecil aku hanya bayangan Reyna. Dan sekarang, aku harus mengenakan gaun pengantin yang dijahit untuk tubuhnya, berjalan di atas altar yang disiapkan untuknya, dan tidur di samping pria yang menginginkannya. "Baik," ucapku pelan namun tegas. Aku menghapus air mataku dengan kasar. "Aku akan melakukannya. Aku akan menggantikan Reyna." "Fiola..." Papa bergumam lirih, penuh penyesalan, namun ia tidak mencegahku. Aslan mengangguk puas, meski matanya tetap sedingin es. "Bagus. Jangan berharap ada pesta romantis atau janji suci yang manis. Pernikahan ini hanya sebuah transaksi untuk menutupi aib keluarga kalian. Siapkan dirimu, minggu depan kamu bukan lagi seorang Adijaya. Kamu akan menjadi tawanan di rumahku." Setelah mengatakan itu, Aslan berbalik dan melangkah keluar tanpa pamit. Pak Hary dan Bu Seila mengikuti dari belakang dengan wajah yang masih tegang. Bu Seila sempat melirikku sekilas—tatapan yang penuh keraguan dan sedikit rasa kasihan, namun ia tidak mengatakan apa-apa. Begitu pintu depan tertutup, Mama langsung menghela napas lega. "Syukurlah. Untung Aslan mau menerima penggantinya. Fiola, besok kita harus mengepas ulang gaun Reyna. Tubuhmu lebih kurus darinya, kita harus memanggil penjahit secepatnya." Tidak ada kata 'terima kasih'. Tidak ada pelukan untuk menenangkanku yang baru saja menyerahkan seluruh hidupku demi nama baik keluarga. Aku berdiri dengan kaki yang lemas. "Fio mau ke kamar, Ma." "Eh, tunggu! Jangan lupa hubungi Reyna. Beritahu dia kalau masalah ini sudah beres jadi dia tidak perlu merasa bersalah di Paris," seru Mama tanpa beban. Aku tidak menjawab. Aku terus berjalan menaiki tangga dengan hati yang terasa kosong. Di dalam kamar, aku mengunci pintu dan merosot di baliknya. Aku memeluk lututku, membiarkan tangis yang sedari tadi kutahan pecah dalam kesunyian. Ponselku bergetar di lantai. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. “Jangan berpikir bahwa menjadi istriku akan membuat hidupmu indah seperti dongeng. Kamu baru saja memasuki neraka, Fiola.” Pesan itu dari Aslan. Aku mematikan ponselku, memejamkan mata, dan menyadari bahwa mulai malam ini, Fiola yang lama telah mati. Aku bukan lagi gadis yang bermimpi untuk dicintai. Aku hanyalah seorang pengantin pengganti yang sedang menunggu eksekusinya.Aslan (POV)Bagiku, pernikahan hanyalah transaksi bisnis yang dilapisi gaun putih dan janji palsu. Sejak Kayra—tunangan yang kumanjakan dengan seluruh hartaku—berselingkuh di belakangku dua tahun lalu, hatiku sudah mati. Aku tidak peduli dengan siapa aku dijodohkan. Bagiku, semua wanita kelas atas itu sama: manja, angkuh, dan hanya mencintai kilau berlian di jemari mereka.Saat Papa menyodorkan nama Reyna Adijaya, aku setuju tanpa melihat fotonya. Namun, pelarian Reyna di hari pernikahan adalah penghinaan yang melampaui batas. Ia bukan hanya menolakku, ia menginjak-injak harga diri keluarga Winata.Lalu, munculah Fiola.Aku melihat bagaimana keluarganya sendiri membuangnya ke arahku seperti domba sembelihan. Awalnya, ada secercah rasa iba melihat betapa malangnya dia dijadikan kambing hitam. Namun, rasa iba itu segera tertutup oleh kecurigaan yang gelap. Mana mungkin dia tidak tahu? Pikirku. Mereka saudara kandung. Fiola pasti bersekongkol dengan Reyna—membiarkan kakaknya lari dengan
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden blackout yang tidak tertutup rapat, menghujam tepat ke mata Fiola. Ia mengerjap, merasakan seluruh badannya kaku dan pegal akibat meringkuk semalaman di atas sofa panjang yang sempit. Untuk sesaat, ia lupa di mana ia berada, sampai aroma kayu cendana yang kuat menyadarkannya. Ini kamar Aslan. Dan ia adalah istri pengganti. Fiola menoleh ke arah ranjang besar di tengah ruangan. Sprei abu-abu itu sudah rapi, namun kosong. Aslan sudah bangun. Suara gemericik air dari kamar mandi menandakan pria itu sedang bersiap. Fiola segera bangkit dengan terburu-buru, merapikan bantal dan selimut di sofa agar tidak terlihat mencolok jika ada pelayan yang masuk. Ia tidak ingin siapa pun tahu bahwa di malam pertamanya, ia diusir ke sofa. Pintu kamar mandi terbuka. Aslan keluar hanya dengan handuk yang melilit pinggangnya, memperlihatkan tubuh atletis dengan tetesan air yang masih mengalir di dadanya. Fiola tersentak dan segera memalingka
Mobil mewah itu berhenti dengan mulus di depan sebuah rumah bergaya modern minimalis yang didominasi warna hitam, abu-abu, dan kaca besar yang dingin. Rumah itu sangat luas, namun tidak ada tanda-tanda kehangatan di dalamnya. Lampu-lampu taman yang temaram justru menambah kesan angker bagi Fiola. Ini bukan rumah; ini adalah monumen kesuksesan Aslan yang dibangun di atas fondasi kesepian.Aslan turun dari mobil tanpa menunggu sopir membukakan pintu, dan ia tidak pula menunggu Fiola. Ia melangkah masuk dengan kaki-kaki panjangnya, meninggalkan Fiola yang masih kesulitan dengan ekor gaun pengantinnya yang panjang dan berat."Turunlah. Jangan membuatku menunggu lebih lama," suara Aslan terdengar dari kejauhan, dingin dan penuh otoritas.Fiola menghela napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang menggila. Dengan susah payah, ia mengangkat kain gaunnya dan turun dari mobil. Udara malam yang menusuk pori-pori kulitnya yang terbuka terasa begitu menyesakkan. Saat ia melangkah m
Pagi itu, Gereja Katedral terasa begitu asing bagi Fiola. Wangi bunga lili putih yang memenuhi setiap sudut lorong altar biasanya akan membangkitkan perasaan suci dan damai, namun baginya, aroma itu lebih mirip wangi bunga di pemakaman—pemakaman bagi masa depannya sendiri.Fiola menatap bayangannya di cermin besar ruang pengantin. Gaun putih off-shoulder karya desainer ternama itu melekat sempurna di tubuhnya setelah dipermak habis-habisan selama tiga hari terakhir. Gaun yang seharusnya menjadi milik Reyna. Mahkota kecil bertahtakan berlian tersemat di rambutnya yang disanggul anggun, namun beban di atas kepalanya terasa jauh lebih berat dari sekadar logam dan permata."Jangan ditekuk wajahnya, Fiola. Riasanmu bisa retak," tegur Mama yang masuk ke ruangan dengan gaun brokat emas yang mewah. Mama tampak begitu bahagia, seolah-olah ia baru saja memenangkan lotre, bukan baru saja menjual putrinya demi sebuah reputasi."Ma, apa Mama benar-benar tidak merasa bersalah?" suara Fiola berg
Keheningan yang mencekam menyelimuti ruang tamu setelah ucapan Aslan yang dingin itu terlontar. Aku merasa seolah oksigen di sekitarku mendadak habis. Menjadi pengganti? Menikah dengan lelaki yang baru saja dihina oleh kakakku sendiri? "Aslan, apa yang kamu katakan?" Hary, ayah Aslan, mendekat dengan wajah terkejut. "Kita tidak bisa memutuskan ini begitu saja. Pernikahan bukan sekadar menukar barang." Aslan berbalik perlahan, menatap ayahnya tanpa ekspresi. "Ini bukan soal perasaan, Pa. Ini soal harga diri keluarga Winata dan kelangsungan saham kita yang mulai bergejolak karena rumor pembatalan ini. Mereka berjanji memberikan putri mereka, maka mereka harus menepatinya. Jika bukan Reyna, maka Fiola." Matanya kembali menghujamku. Dingin. Tajam. Seolah aku hanyalah sebuah aset yang harus diserahkan sebagai ganti rugi. "Tapi..." Papa mencoba angkat bicara, suaranya bergetar. "Fiola masih punya masa depan, Aslan. Dia berbeda dengan Reyna." "Tentu saja dia berbeda," potong Mama
Suasana di ruang tengah kediaman keluarga Adijaya terasa mencekam, kontras dengan dekorasi bunga-bunga segar yang baru saja dipasang di beberapa sudut rumah. Wangi melati yang seharusnya membawa ketenangan justru terasa mencekik bagi Fiola. Di tengah kepulan uap teh yang sudah mendingin, ketegangan merambat di antara dua keluarga besar yang sedang berkumpul. "Nyonya, Non Reyna tidak ada di kamarnya. Sebagian lemari pakaiannya juga sudah kosong," bisik Bi Atin, asisten rumah tangga senior kami, tepat di telinga Mama. Meski pelan, bisikan itu bagai petir di siang bolong bagi siapa pun yang mendengarnya. Wajah Mama yang semula dipoles riasan sempurna mendadak pucat pasi. Tangannya yang memegang cangkir porselen gemetar hebat. "Ada apa, Ma? Di mana Reyna?" Papa, yang sejak tadi menyadari kegelisahan Mama, mulai menuntut penjelasan. Sorot matanya tajam, menyadari ada yang tidak beres dalam keheningan yang tiba-tiba melanda. Mama menarik napas perlahan, mencoba mengumpulkan sisa







