หน้าหลัก / Romansa / Pengantin Pengganti / Bab 4: Istana Dingin dan Ranjang Asing

แชร์

Bab 4: Istana Dingin dan Ranjang Asing

ผู้เขียน: Misachi
last update วันที่เผยแพร่: 2026-01-04 21:55:18

Mobil mewah itu berhenti dengan mulus di depan sebuah rumah bergaya modern minimalis yang didominasi warna hitam, abu-abu, dan kaca besar yang dingin. Rumah itu sangat luas, namun tidak ada tanda-tanda kehangatan di dalamnya. Lampu-lampu taman yang temaram justru menambah kesan angker bagi Fiola. Ini bukan rumah; ini adalah monumen kesuksesan Aslan yang dibangun di atas fondasi kesepian.

Aslan turun dari mobil tanpa menunggu sopir membukakan pintu, dan ia tidak pula menunggu Fiola. Ia melangkah masuk dengan kaki-kaki panjangnya, meninggalkan Fiola yang masih kesulitan dengan ekor gaun pengantinnya yang panjang dan berat.

"Turunlah. Jangan membuatku menunggu lebih lama," suara Aslan terdengar dari kejauhan, dingin dan penuh otoritas.

Fiola menghela napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang menggila. Dengan susah payah, ia mengangkat kain gaunnya dan turun dari mobil. Udara malam yang menusuk pori-pori kulitnya yang terbuka terasa begitu menyesakkan. Saat ia melangkah masuk ke dalam lobi rumah, ia disambut oleh seorang asisten rumah tangga paruh baya yang membungkuk hormat.

"Selamat datang, Nyonya muda," ucap wanita itu. "Saya Mbok Nah. Mari, saya antar ke kamar utama. Tuan sudah menunggu di sana."

Fiola hanya bisa mengangguk kaku. Setiap langkah menaiki tangga spiral itu terasa seperti menaiki anak tangga menuju tiang gantungan. Mbok Nah membukakan sebuah pintu ganda berbahan kayu jati yang besar.

Kamar itu sangat luas, mungkin tiga kali lipat ukuran kamarnya di rumah Papa. Wangi kayu cendana dan aroma maskulin yang kuat langsung menyeruak. Di tengah ruangan, sebuah ranjang king size dengan sprei sutra berwarna abu-abu gelap tampak begitu mengintimidasi. Aslan sudah berada di sana, ia telah melepas jas hitamnya, menyisakan kemeja putih yang dua kancing teratasnya terbuka, memperlihatkan rahangnya yang kokoh dan leher yang tegang.

"Terima kasih, Mbok. Mbok boleh istirahat," ujar Aslan tanpa menoleh.

Begitu pintu tertutup dan mereka hanya berdua, kesunyian yang mencekam kembali melanda. Fiola berdiri mematung di dekat pintu, tangannya saling meremas satu sama lain. Ia merasa sangat kecil di hadapan Aslan yang kini sedang menuangkan cairan ambar ke dalam gelas kristal.

"Kenapa masih di sana? Kamu tidak berniat tidur berdiri dengan gaun konyol itu, kan?" Aslan menyesap minumannya, lalu menatap Fiola dengan mata yang mulai menampakkan kilat amarah.

"Aku... aku ingin ganti baju. Di mana koperku?" tanya Fiola dengan suara bergetar.

Aslan menunjuk sebuah pintu geser yang ternyata adalah walk-in closet. "Semua barangmu sudah ada di sana. Mbok Nah sudah menyusunnya. Tapi sebelum kamu berganti pakaian, ada beberapa hal yang harus kita sepakati."

Aslan berjalan mendekat. Langkah kakinya yang pelan namun pasti terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur waktu keselamatannya. Ia berhenti tepat di depan Fiola, cukup dekat sehingga Fiola bisa mencium aroma alkohol yang bercampur dengan parfum mahalnya.

"Dengarkan aku baik-baik, Fiola. Aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini. Aku menginginkan kakakmu, bukan karena aku mencintainya, tapi karena dia adalah piala yang sempurna untuk bersanding denganku. Namun, dia memilih untuk menginjak-injak harga diriku di depan semua orang."

Aslan mencengkeram dagu Fiola, memaksa gadis itu menatap langsung ke dalam matanya yang penuh dengan kobaran api dendam.

"Kamu hanyalah pengganti. Sebuah jaminan agar aku tidak terlihat seperti pecundang di mata publik. Jadi, jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu dengan cinta. Jangan pernah berharap aku akan menjadi suami yang manis yang membawakanmu sarapan ke tempat tidur."

Air mata Fiola mulai menggenang. "Aku tidak pernah meminta ini, Aslan. Aku juga korban di sini. Mama memaksaku—"

"Korban?" Aslan tertawa sinis, tawa yang terdengar sangat menyakitkan. "Jangan berlagak suci. Bukankah ini yang kamu inginkan sejak kecil? Menjadi pusat perhatian? Menikah dengan lelaki kaya raya dan tinggal di rumah ini? Aku tahu bagaimana rasanya selalu berada di bawah bayang-bayang Reyna. Kamu pasti sangat menikmati saat Mama memintamu menggantikannya, bukan?"

"Tidak! Kamu salah! Aku justru ingin Reyna pulang agar aku tidak perlu terjebak bersamamu!" teriak Fiola, emosinya meledak.

Cengkeraman Aslan di dagu Fiola mengeras. "Jangan pernah berteriak padaku di rumah ini! Mulai hari ini, kamu adalah hak milikku. Kamu akan mengikuti aturanku. Kamu akan tampil sebagai istri yang sempurna di depan publik, namun di dalam rumah ini, kamu bukan siapa-siapa. Kamu hanyalah pengingat bagiku tentang betapa rendahnya keluarga Adijaya."

Aslan melepaskan dagu Fiola dengan kasar, hingga gadis itu terhuyung ke belakang.

"Sekarang, ganti bajumu. Aku tidak tahan melihat wajahmu yang menggunakan riasan milik Reyna. Itu memuakkan."

Fiola berlari masuk ke dalam walk-in closet dengan isak tangis yang tertahan. Di dalam, ia jatuh terduduk di lantai, meremas gaun pengantinnya yang kini terasa seperti kain kotor. Ia menangis tanpa suara, bahunya berguncang hebat. Ia selalu mengira bahwa penderitaan terbesarnya adalah tidak dianggap oleh Mamanya, namun ternyata, penderitaan yang lebih besar adalah dianggap sebagai sesuatu yang menjijikkan oleh suaminya sendiri.

Dengan tangan yang gemetar, Fiola mencoba membuka ritsleting panjang di punggung gaunnya. Namun, ritsleting itu tersangkut di kain brokat. Ia mencoba berkali-kali, namun tenaganya seolah terkuras habis. Ia tidak mungkin memanggil Mbok Nah malam-malam begini.

Dengan sisa-sisa keberaniannya, ia membuka pintu geser sedikit dan mengintip. Aslan sedang duduk di tepi ranjang, memijat keningnya.

"Aslan..." panggil Fiola lirih.

Pria itu menoleh dengan tatapan tajam. "Apa lagi?"

"Ritsletingku... tersangkut. Aku tidak bisa membukanya."

Aslan menghela napas kasar, lalu berdiri dan berjalan menuju Fiola. Ia menyuruh Fiola berbalik. Fiola bisa merasakan napas hangat Aslan di tengkuknya yang terbuka, membuat bulu kuduknya merinding. Jari-jari Aslan yang kasar menyentuh kulit punggungnya saat ia mencoba melepaskan ritsleting yang tersangkut.

Sentuhan itu seharusnya intim, namun Fiola hanya merasakan ketegangan yang mematikan. Aslan bekerja dengan kasar, seolah-olah ia sedang membedah sesuatu yang ia benci.

"Reyna selalu menggunakan pakaian yang mahal, tapi sepertinya kamu bahkan tidak tahu cara melepasnya," gumam Aslan sinis di dekat telinga Fiola.

Srett.

Ritsleting itu akhirnya turun. Bagian belakang gaun itu terbuka, menampakkan punggung putih Fiola yang mulus. Untuk sesaat, gerakan tangan Aslan terhenti. Ia menatap punggung itu, dan untuk pertama kalinya, ada kilatan emosi lain di matanya selain amarah—sebuah ketertarikan primitif yang langsung ia tepis dengan cepat.

Aslan segera memundurkan langkahnya seolah-olah ia baru saja menyentuh bara api. "Selesaikan sendiri sisanya."

Ia berbalik dan kembali ke ranjang, merebahkan tubuhnya tanpa mempedulikan Fiola lagi.

Setelah berganti pakaian dengan piyama sutra sederhana, Fiola keluar dari walk-in closet. Ia melihat Aslan sudah memejamkan mata, meskipun ia ragu pria itu sudah tidur. Dengan ragu, Fiola mendekati sisi ranjang yang kosong.

"Tidur di sana," tunjuk Aslan tanpa membuka mata, mengarahkan tangannya ke sofa panjang yang ada di sudut ruangan.

Fiola tertegun. "Tapi ini... ini malam pertama kita. Jika Mbok Nah atau orang lain tahu..."

Aslan membuka matanya, menatap Fiola dengan sorot mata yang menghina. "Kamu pikir aku mau berbagi ranjang denganmu? Aku tidak sudi bangun pagi dan melihat wajah yang mirip dengan pengkhianat itu di sampingku. Tidurlah di sofa. Dan jangan berani-berani mengeluh."

Fiola tidak membantah lagi. Ia mengambil sebuah selimut tipis dan bantal tambahan, lalu berjalan menuju sofa. Sofa itu cukup empuk, namun terasa sangat dingin dan asing. Ia berbaring di sana, menatap langit-langit kamar yang gelap.

Di ranjang besar itu, Aslan memunggungi Fiola. Hatinya sebenarnya berkecamuk. Ia merasa puas telah menyakiti Fiola, namun ada bagian kecil di hatinya yang merasa terganggu oleh isak tangis gadis itu tadi. Namun, setiap kali rasa iba itu muncul, wajah Reyna yang sedang tertawa bersama laki-laki lain di bandara—seperti yang dilaporkan oleh orang suruhannya—kembali membakar hatinya.

"Kamu akan membayar semua ini, Fiola. Kamu dan keluargamu," bisik Aslan dalam hati sebelum akhirnya ia terlelap dalam kegelapan.

Sementara itu, di atas sofa, Fiola meringkuk seperti janin. Ia memeluk dirinya sendiri, mencoba mencari kehangatan yang tidak akan pernah ia dapatkan di rumah ini. Ini baru malam pertama, dan ia sudah merasa hancur. Masih ada sisa hidup yang harus ia lalui bersama monster bernama Aslan ini.

Tuhan, bisiknya sebelum matanya terpejam karena kelelahan, biarkan aku bertahan, atau biarkan aku menghilang.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Pengantin Pengganti   Bab 6 : Panggung Sandiwara

    Aslan (POV)Bagiku, pernikahan hanyalah transaksi bisnis yang dilapisi gaun putih dan janji palsu. Sejak Kayra—tunangan yang kumanjakan dengan seluruh hartaku—berselingkuh di belakangku dua tahun lalu, hatiku sudah mati. Aku tidak peduli dengan siapa aku dijodohkan. Bagiku, semua wanita kelas atas itu sama: manja, angkuh, dan hanya mencintai kilau berlian di jemari mereka.Saat Papa menyodorkan nama Reyna Adijaya, aku setuju tanpa melihat fotonya. Namun, pelarian Reyna di hari pernikahan adalah penghinaan yang melampaui batas. Ia bukan hanya menolakku, ia menginjak-injak harga diri keluarga Winata.Lalu, munculah Fiola.Aku melihat bagaimana keluarganya sendiri membuangnya ke arahku seperti domba sembelihan. Awalnya, ada secercah rasa iba melihat betapa malangnya dia dijadikan kambing hitam. Namun, rasa iba itu segera tertutup oleh kecurigaan yang gelap. Mana mungkin dia tidak tahu? Pikirku. Mereka saudara kandung. Fiola pasti bersekongkol dengan Reyna—membiarkan kakaknya lari dengan

  • Pengantin Pengganti   Bab 5: Topeng di Balik Sarapan Pagi

    ​Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden blackout yang tidak tertutup rapat, menghujam tepat ke mata Fiola. Ia mengerjap, merasakan seluruh badannya kaku dan pegal akibat meringkuk semalaman di atas sofa panjang yang sempit. Untuk sesaat, ia lupa di mana ia berada, sampai aroma kayu cendana yang kuat menyadarkannya. ​Ini kamar Aslan. Dan ia adalah istri pengganti. ​Fiola menoleh ke arah ranjang besar di tengah ruangan. Sprei abu-abu itu sudah rapi, namun kosong. Aslan sudah bangun. Suara gemericik air dari kamar mandi menandakan pria itu sedang bersiap. Fiola segera bangkit dengan terburu-buru, merapikan bantal dan selimut di sofa agar tidak terlihat mencolok jika ada pelayan yang masuk. Ia tidak ingin siapa pun tahu bahwa di malam pertamanya, ia diusir ke sofa. ​Pintu kamar mandi terbuka. Aslan keluar hanya dengan handuk yang melilit pinggangnya, memperlihatkan tubuh atletis dengan tetesan air yang masih mengalir di dadanya. Fiola tersentak dan segera memalingka

  • Pengantin Pengganti   Bab 4: Istana Dingin dan Ranjang Asing

    Mobil mewah itu berhenti dengan mulus di depan sebuah rumah bergaya modern minimalis yang didominasi warna hitam, abu-abu, dan kaca besar yang dingin. Rumah itu sangat luas, namun tidak ada tanda-tanda kehangatan di dalamnya. Lampu-lampu taman yang temaram justru menambah kesan angker bagi Fiola. Ini bukan rumah; ini adalah monumen kesuksesan Aslan yang dibangun di atas fondasi kesepian.Aslan turun dari mobil tanpa menunggu sopir membukakan pintu, dan ia tidak pula menunggu Fiola. Ia melangkah masuk dengan kaki-kaki panjangnya, meninggalkan Fiola yang masih kesulitan dengan ekor gaun pengantinnya yang panjang dan berat."Turunlah. Jangan membuatku menunggu lebih lama," suara Aslan terdengar dari kejauhan, dingin dan penuh otoritas.Fiola menghela napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang menggila. Dengan susah payah, ia mengangkat kain gaunnya dan turun dari mobil. Udara malam yang menusuk pori-pori kulitnya yang terbuka terasa begitu menyesakkan. Saat ia melangkah m

  • Pengantin Pengganti   Bab 3 Sakramen di Atas Luka

    ​Pagi itu, Gereja Katedral terasa begitu asing bagi Fiola. Wangi bunga lili putih yang memenuhi setiap sudut lorong altar biasanya akan membangkitkan perasaan suci dan damai, namun baginya, aroma itu lebih mirip wangi bunga di pemakaman—pemakaman bagi masa depannya sendiri.​Fiola menatap bayangannya di cermin besar ruang pengantin. Gaun putih off-shoulder karya desainer ternama itu melekat sempurna di tubuhnya setelah dipermak habis-habisan selama tiga hari terakhir. Gaun yang seharusnya menjadi milik Reyna. Mahkota kecil bertahtakan berlian tersemat di rambutnya yang disanggul anggun, namun beban di atas kepalanya terasa jauh lebih berat dari sekadar logam dan permata.​"Jangan ditekuk wajahnya, Fiola. Riasanmu bisa retak," tegur Mama yang masuk ke ruangan dengan gaun brokat emas yang mewah. Mama tampak begitu bahagia, seolah-olah ia baru saja memenangkan lotre, bukan baru saja menjual putrinya demi sebuah reputasi.​"Ma, apa Mama benar-benar tidak merasa bersalah?" suara Fiola berg

  • Pengantin Pengganti   Bab 2 Barter Harga Diri

    ​Keheningan yang mencekam menyelimuti ruang tamu setelah ucapan Aslan yang dingin itu terlontar. Aku merasa seolah oksigen di sekitarku mendadak habis. Menjadi pengganti? Menikah dengan lelaki yang baru saja dihina oleh kakakku sendiri? ​"Aslan, apa yang kamu katakan?" Hary, ayah Aslan, mendekat dengan wajah terkejut. "Kita tidak bisa memutuskan ini begitu saja. Pernikahan bukan sekadar menukar barang." ​Aslan berbalik perlahan, menatap ayahnya tanpa ekspresi. "Ini bukan soal perasaan, Pa. Ini soal harga diri keluarga Winata dan kelangsungan saham kita yang mulai bergejolak karena rumor pembatalan ini. Mereka berjanji memberikan putri mereka, maka mereka harus menepatinya. Jika bukan Reyna, maka Fiola." ​Matanya kembali menghujamku. Dingin. Tajam. Seolah aku hanyalah sebuah aset yang harus diserahkan sebagai ganti rugi. ​"Tapi..." Papa mencoba angkat bicara, suaranya bergetar. "Fiola masih punya masa depan, Aslan. Dia berbeda dengan Reyna." ​"Tentu saja dia berbeda," potong Mama

  • Pengantin Pengganti   Bab 1 Mahkota Berduri Untuk Fiola

    ​Suasana di ruang tengah kediaman keluarga Adijaya terasa mencekam, kontras dengan dekorasi bunga-bunga segar yang baru saja dipasang di beberapa sudut rumah. Wangi melati yang seharusnya membawa ketenangan justru terasa mencekik bagi Fiola. Di tengah kepulan uap teh yang sudah mendingin, ketegangan merambat di antara dua keluarga besar yang sedang berkumpul. ​"Nyonya, Non Reyna tidak ada di kamarnya. Sebagian lemari pakaiannya juga sudah kosong," bisik Bi Atin, asisten rumah tangga senior kami, tepat di telinga Mama. ​Meski pelan, bisikan itu bagai petir di siang bolong bagi siapa pun yang mendengarnya. Wajah Mama yang semula dipoles riasan sempurna mendadak pucat pasi. Tangannya yang memegang cangkir porselen gemetar hebat. ​"Ada apa, Ma? Di mana Reyna?" Papa, yang sejak tadi menyadari kegelisahan Mama, mulai menuntut penjelasan. Sorot matanya tajam, menyadari ada yang tidak beres dalam keheningan yang tiba-tiba melanda. ​Mama menarik napas perlahan, mencoba mengumpulkan sisa

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status