MasukSelamat membaca 🙏😁 sepi banget ini cerita, enggak ada yang baca kah?
Salma masuk ke ruangan dengan gugup, dia terus menunduk sampai di depan meja kerja Adam. "Permisi, Bapak, panggil saya?" Adam mengangguk. "Kamu pasti tahu apa yang ingin saya bicarakan kan?" "Pak Adam, soal uang untuk membayar ganti rugi Bu Sarah, bolehkah saya mencicilnya?" tebak Salma langsung pada intinya. Dia mendongak, wajah tuanya tampak sedikit lelah. Adam berdeham. "Sebenarnya bukan itu yang ingin saya katakan."Adam membenarkan duduknya, dia terlihat sedikit gugup ketika Salma menatapnya. "Kamu tidak ingat saya sama sekali?" Pertanyaan Adam membuat Salma mengerjap bingung. "Maaf, apa sebelumnya kita pernah bertemu?" Ekspresi Salma yang tampak bingung dan tidak ingat membuat Adam sedikit kecewa. Namun, dia merasa wajar. Puluhan tahun mereka tidak bertemu, sementara sekarang mereka sudah sama-sama tua, bukan remaja seperti dulu. "Salma, ingatkah saat remaja dulu, kamu pernah tinggal di sebuah pedesaan? Kamu punya tetangga bernama Bu Maya? Aku putra Bu Maya--" Salma ter
Rey menatap ke arah istrinya yang kini bersikap tak acuh, dinginnya masih sama sejak dia bangun dari pingsan. "Dea, aku ingin bicara berdua dengan Anara. Bisakah kamu keluar?" Rey tidak menjawab pertanyaan Dea sedikitpun, dia justru mengusirnya. "Tapi--" Dea tidak sempat lagi protes ketika tangannya dicekal oleh pengawal Rey dan digiring untuk keluar dari ruangan itu. Anara memalingkan wajah, seolah tidak sanggup menatap Rey yang kini berdiri di samping ranjangnya. "Anara… ada yang harus kukatakan," ujar Rey pelan sebelum duduk dengan ragu. "Soal janin yang dulu kamu kandung… itu anakku. Anak kandungku. Akulah lelaki malam itu. Aku yang memintamu menutup mata saat kita bersama. Aku yang--" "Oh." Anara memotongnya. Dia tersenyum aneh, terlalu cerah untuk situasi seperti ini, tapi matanya tajam. "Jadi kamu yang membeliku? Kamu lelaki yang ditawari Bu Mega?" Rey terdiam. "Kenapa baru jujur sekarang?" lanjut Anara. "Padahal kalau kamu bilang dari awal, aku juga tidak akan marah
Sarah menelan ludahnya, dia meilirik pada suaminya dan memberi kode agar Rafi mulai bicara. Rafi berdeham lalu bicara dengan suara sok tenang dan ramah. "Rey, kamu pasti sudah tahu apa yang kami lakukan dan kenapa, semua demi kebaikan kamu. Wanita itu hanya jalang murahan. Dia tidak benar-benar pantas bersanding denganmu--" "Pantas atau tidak hanya aku yang tentukan. Kalian terlalu berani--" potong Rey. Respon dingin Rey membuat Rafi dan istrinya gugup, tidak ingin menerima tatapan yang begitu tajam terus-menerus buru-buru Rafi mengeluarkan kartu As-nya. "Anak yang dia kandung bukan milikmu!" kata Rafi cepat, berharap Rey terpukul oleh ucapannya. "Aku punya buktinya. Wanita itu sudah menipumu." "Benar, Rey. Ayah sudah membuka kedok wanita itu. Kamu harusnya berterima kasih," tambah Sarah, mendukung suaminya. Rey tersenyum miring. Wajahnya tampak tenang, tapi sorot matanya bergetar oleh amarah yang ditahan keras. Tatapannya memerah, tajam, dan dingin sekaligus. Rafi
"Sayang, kamu sudah membereskan semuanya?" Sarah menyongsong kedatangan suaminya dengan tidak sabaran. Dia bahkan langsung bicara pada Rafi yang baru menginjakkan kakinya di ambang pintu. Rafi berdeham, dia melepaskan jaket yang dipakainya. "Kamu tenang saja, soal kandungan wanita muda itu sudah bisa dipastikan akan gugur. Karena obat yang kuberikan berdosis tinggi."Sarah tersenyum samar, namun dia tidak bisa senang begitu saja ketika sadar akan ada masalah yang jauh lebih besar harus mereka hadapi. "Bagaimana jika Rey tahu kamu yang menculik dan membuatnya keguguran?" Sarah tampak cemas, namun berbeda dengan Rafi yang tersenyum percaya diri lalu memutar rekaman di ponselnya. Suara Anara terdengar, Sarah menyimak dengan seksama. Ekspresinya berubah setelah itu. "Apa? Jadi janin yang wanita jalang itu kandung bahkan bukan anak Rey? Keterlaluan! Bisa-bisanya dia menipu kita semua.... " Rafi memutar rekaman saat didetik terakhir Anara mengaku jika janin yang dikandungnya bukan anar
Rey menoleh dan menatap lurus ke arah Kev yang sedang menyunggingkan senyum miring, jelas puas karena berhasil menyindirnya. Namun Rey tidak terpancing. Dia justru membalas dengan senyum tipis yang tenang, lalu menepuk pundak Kev seolah percakapan itu tidak lebih dari gurauan ringan."Oh ya?" katanya pelan. "Ternyata kamu peduli sekali dengan istriku."Sikap santai itu justru membuat darah Kev naik. Rahangnya mengeras. Dia menepis tangan Rey dari pundaknya dengan kasar."Rey!" bentaknya tertahan. "Apa kamu menjadikan Anara cuma alat? Kamu menikahinya bukan untuk jadi istri, kan? Kamu cuma memanfaatkannya karena Zavi suka padanya!" cecar Kev yang paling tidak bisa menyembunyikan beban berat di kepalanya, ingin segera mengatakan apa yang dipendamnya. "Lalu kenapa Anara sampai kamu hamili? Sekarang dia harus menanggung semua risikonya sendiri." Kev menatap Rey tanpa berkedip, suaranya tajam seperti pisau."Banyak orang di sekitarmu yang tidak suka padanya. Harusnya kamu lebih protektif
Tidak ada yang berani membantah. Rey sudah lebih dulu berbalik dan berjalan cepat menuju mobilnya. Langkahnya panjang dan tergesa, seolah setiap detik yang terbuang bisa merenggut sesuatu yang tidak bisa dikembalikan lagi.***Ruangan itu kini sepi, tidak ada Rafi dan jejak anak buahnya, hanya ada rintihan Anara yang nyaris tak terdengar. Tubuhnya terkulai lemas di kursi, wajahnya pucat pasi dengan keringat dingin membasahi pelipis. Rasa sakit di perutnya datang bergelombang, begitu tajam hingga membuat napasnya tersengal.Suaranya hampir habis untuk menjerit. Darah perlahan mengalir di pahanya, Anara yang sudah putus asa perlahan mengangkat kepala. Di ambang kesadarannya yang menipis, suara itu terasa seperti ilusi, deru mobil berhenti mendadak, disusul derap langkah tergesa yang menggema di luar ruangan.Pintu besi bergetar keras.BRAK!Ruangan itu seketika dipenuhi suara teriakan dan langkah kaki yang kacau. Cahaya dari luar menerobos masuk, menusuk mata Anara yang sudah terbiasa







