LOGINRoda berputar, siapa sangka Gigi yang seorang pembantu dan dikhianati suaminya akan menjadi nyonya karena kesalahan suaminya tersebut. Ia dinikahi tuannya sendiri setelah gaji hasil kerjanya sebagai pembantu ternyata habis dinikmati suami dan istri barunya. Sedangkan anaknya sendiri yang menjadi alasan ia sampai bekerja menjadi pelayan di rumah orang, tidak terurus dan terlantar. Suatu hari Gigi terkejut karena ia kedatangan istri mantan suaminya yang melamar kerja sebagai pembantu di rumah barunya saat ini. Ikuti cerita serunya ya. Jangan lupa Subscribe.
View MoreDrenched in sweat, water, and fatigue, Ariel expelled a huge sigh for what ought to be the one hundredth time. It was way over that anyway, but sighing so much could not do a thing to change her circumstance.
Being a slave was her life now and nothing she did and no matter how many damaged bones she got, she was still what she was. It would be repaired, and her suffering would continue.She let out another sigh and wiped the sweat on her forehead with the back of her hand.She stopped for a moment and stared at the sink. The dishes kept coming in. The pack was hosting a triumph party, and they invited an abundance of people.Not to add that, the alpha had conquered a different and small pack and blended them into theirs, making the numbers available, twice higher than what it used to be, and she was the only one in the kitchen doing the dishes.Her stomach growled, indicating how hollow it was, and her wolf whimpered in pain of her own. It’s been how many days already? She asked herself and smiled bitterly at her unfortunate life.Three days! Three days and no food had been able to touch her lips.She drank water until she could no longer entertain any more liquid, and why was that? Because she had bumped into another slave and made her break a dish.The head maid had clearly not been a good one and everyone had despised her, especially Ariel, for a long time.Who wouldn’t? When she was the cursed offspring of the rogue wolf that changed the fate of their pack? Their once harmonious pack, where she could laugh, play and be just happy, had turned into one filled with fury, hate, and rage over her and life itself.Why was that so? Her father. Her father had carried out the greatest brutality of all time and had slaughtered the one he shouldn’t have killed. The alpha.He eliminated him in cold blood, while the other rogue wolves he involved, went into the village and eliminated as many wolves as they could, leaving that night a blood filled one.They cut her father off that same night, but even after his death, she suffered for his sin and so did the other slaves.Her family was a big one and her father was the head, but when he went rogue and caused such a mess, causing the downfall of her family, the entire family was evicted, and she was the only saved one, probably to inflict the pains on her.The Alpha must have planned everything years back; how to make her suffer for something she doesn't even know about.She suffered at the hands of everyone for being the daughter of a traitor and a murderer, even her fellow slaves treated her poorly for what her father had brought against them.Ariel had thought that they were simply furious and that it would pass. She was a victim too and had suffered as well, she lost her father. But, they were still family and would treat her better in the future. She was twenty-one now. It never changed.So, when the head slave had noticed that something had gone wrong with her hands, though it was as little as breaking a dish, she didn’t hesitate before punishing her.She banned her from eating, tasting, or leaving the kitchen. She could stay and see food, dishes and even leftovers, crumbs on the floor and the ones wasted in the dustbin, but she could not taste them.What a despicable life! She thought again.“What are you doing?” a voice suddenly barked at her, waking her from her numb mind, and she jerked.Fierce, dark eyes stared right back at her, and fear gripped her heart.Ariel whiffed her head with fear and turned back to the dishes she was washing. They placed more on the sink, and it was growing by the seconds.“You sick little thing!” Courtney sneered with viciousness and hate. It dripped from her voice like the very air she breathed, and Ariel shuddered. Tears burned the back of her eyes, as she cursed her life.“Were you slacking off on your duties?” Courtney grabbed a handful of her black raven hair and pulled fiercely.Ariel screamed loudly and grabbed her hand to ease the pain and burning in her scalp, as she shook her head at the maid.“No… no… please, I didn't… I…”, she pleaded.The head slave pushed her off and wiped her hands against each other in disgust. She glared at Ariel, wishing that she could drop dead and die, but even that wish could not come to pass, not when the alpha wanted to see her alive.Ariel disgusted her. So much.“Don’t even think that you will have anything to eat when all this hasn’t been done with. Do you understand?” she barked at her.As tears ran down her cheek, she nodded her head vigorously and started with the dishes again.Ariel cursed her wretched life. She cursed her father and what he had done, she cursed everyone and, more importantly, she cursed that man and wished he could die, the alpha, whose greatest pleasure was to see her suffer. She really wished he would die.He was bent on making her life a living torture.Ariel fisted her hands into a ball. Until when would all this torture and torment end?Speaking of which, a powerful presence suddenly washed all over her skin and fear gripped her heart as a sharp, icy gaze penetrated her skin and very bones, making them grow cold, numb and lifeless.Speak of the devil himself. Alpha Damien!"Papa udah kaya supir aja sih." Gerutu bapak sembari mengintip di kaca spion. Mata yang tidak sengaja melihatnya segera kupalingkan, berpura-pura sibuk sendiri di kursi paling belakang.Aku memilih duduk di kursi pojok, mengisolasi diri sendiri, berharap bapak tidak mencium bau pesing yang ternyata lebih sedap baunya pas mau kering kaya gini dari pada tadi. "Udah deh jangan lihat-lihat Mama begitu," ucapku ketus menghindar tatapan matanya yang terus mencuri-curi."Papa sakit hampir setahun ya, Ma?""Iya," jawabku seadanya. Nggak semangat bicara, pengennya cepat sampai saja."Papa lumpuh, mandi dianterin, makan di suapin, bahkan mandi sore di lapin. Papa ingat sesekali, saat malam Papa pipis di celana karena sulit untuk ke kamar mandi, intinya nggak mau usaha. Betul begitu 'kan, Ma?""Iya, Pak. Kenapa bahas itu sekarang sih? Mama lagi nggak mood." Tolakku halus."Setiap kali itu terjadi, Papa selalu memperhatikan Mama. Selama itu, tidak pernah sekali pun Papa melihat Mama jijik atau m
"Apa semua sudah selesai?""Sudah, Pa. Hari ini kantor baru kita sudah beroperasi.""Papa akan melihat ke sana setelah mengambil beberapa berkas yang masih diperlukan di kantor lama.""Kantor itu sedang diliburkan dua hari kerja oleh Tante Sarah."Sesekali sembari menata sarapan aku menoleh pada mereka yang sedang berbicara di sofa menunggu semuanya siap."Ma.""Pagi sayang." Farel mencium pipiku, menoleh sebentar pada dua pria di sana, lalu dengan lemas duduk di kursi makan. Wajahnya semakin menunduk lesu saat bapak dan Aaraf berjalan ke arah kami.Bapak melirikku saat melihat Farel hilang semangat, dunia ceria saat kakak adik itu bersama seolah sirna begitu saja. Tidak ada kata, panggilan apalagi guyonan, keduanya hanya menunduk menatap semangkuk salad buah. Aku dan bapak pun sepakat untuk tidak mencampuri urusan mereka, membiarkan semuanya menjadi sunyi. Sarapan kelam sepanjang sejarah aku menjadi nyonya. Menghadapi dua anak sekaligus dengan usia yang terpaut sangat jauh."Biarkan
Mobil ambulans yang dipesan bapak sudah tiba di depan rumah. Aku dan Mbok Pati mengepak beberapa pakaian yang akan digunakan Om Haris.Tim kesehatan membawa tandu untuk membopong tubuhnya, kurus kering tinggal tulang, begitu lemas tak berdaya."Mungkin Papa akan seperti ini kalau bukan Mama yang merawatnya," ucap bapak sendu menelukupkan tangan di atas pundakku. "Terimakasih." Aku menoleh untuk menatapnya, pria itu masih memandang lurus, memperhatikan Om Haris yang sedang dibenahi agar nyaman saat dibawa berkendara untuk jarak yang cukup jauh."Semua tidak terlepas dari kebaikan bapak, Tuhan mengirimkan Mama untuk menjaga," jawabku lembut, bapak mengulas senyum saat mendengarnya.Mobil ambulans berangkat lebih dulu, aku dan bapak bersiap mengikutinya."Mbok, jika ada yang tanya, katakan saja jika saya membawa Om Haris untuk berobat." Pesan bapak pada Mbok Pati sebelum menaiki mobil. Wanita setengah baya itu berlinang air mata."Den, jika bapak lama di sana, mbok pun ingin pulang saja
"Pa, Ma."Aaraf turun dari kamarnya, ia menghampiri kami yang masih saja cekikikan. Plak! Aku memukul tangan bapak yang nakal, modus aja emang ni aki-aki."Aku mengganggu? Harusnya sih tidak." Pertanyaan yang Aaraf jawab sendiri sembari memutar mata malas saat melihat kami. Maklum selama aku di sini, sekali pun tidak pernah melihat Aaraf dan Laras tertawa bersama atau sekedar bercanda. Mungkin benar kata bapak, pernikahan tanpa cinta hanya sebatas menjalankan kewajiban saja, rasanya tetap hambar, bahkan sering terlihat kecanggungan di antara keduanya saat duduk bersama."Ada apa?" Aku menarik kaki dan duduk dengan benar, seperti Aaraf akan berbicara serius."Bagaimana kabar persidanganmu?" Bapak bertanya lebih dulu, karena Aaraf terlihat sulit untuk memulai."Persidangan banding yang diajukan Laras sepertinya akan ditunda atau mungkin dicabut kembali." Aku dan bapak memandanginya dengan serius. "Aaraf melaporkan Laras balik atas aborsi janin yang dilakukannya, dengan bukti-bukti yan
"Sayang, cobain ini." Bapak menyuapiku dengan salah satu hidangan terfavorit di resto kami."Enak?""Enak banget, Pak. Lumer ini, ada sensai pecah dalam mulut. Mau lagi ...," ucapku nyengir.Bapak tersenyum sembari menyuapiku dengan makanan yang terhidang, beliau pun menunjukkan beberapa makanan yang m
"Pak, bukannya itu Aaraf?" "Kebetulan sekali."Bapak melihat pada arah yang kutunjukkan."Mama ajak ke sini ya, Pak." Aku berangsur menjauh dari bapak dan membiarkannya mengobrol dengan sahabatnya itu.Mataku menyapu sekeliling, Aaraf yang baru saja terlihat berdiri di sini, sekarang sudah tidak ada. K
"Ini sih nyonya rasa pembantu," celetuk Minah dari kursi makan."Kamu yang nggak ada sopan-sopannya! Non Gigi kamu biarkan cuci piring, pembatunya malah uncang-uncang kaki. Sana gantiin!" Mbok Darmi yang baru saja akan menjemur pakaian sengaja belok dulu untuk menegur Minah."Nggak apa-apa, Mbok.""Ngg
"Hebat, aku bahkan tidak kau anggap." Tante Sarah tiba-tiba datang. Berdiri menyilangkan tangan di dada sembari menilaiku dari ujung rambut hingga ujung gaun."Cicipi makanannya, Kak.""Kamu kira aku datang untuk itu, Gian?""Seharusnya tidak, karena kakak tidak akan membuang waktu begitu saja hanya un


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore