Share

PART 61

Penulis: Aura Kisah
last update Terakhir Diperbarui: 2026-03-01 01:40:39

“Yang paling besar anggarannya itu apa?”

“Yang paling besar tentu untuk biaya kenduri. Biasanya kami memotong tiga atau kambing. Untuk beras dan bumbu-bumbunya disiapkan oleh warga.”

“Untuk tiga atau empat kambing itu biasanya berapa juta, Pak?”

“Perekor tahun ini rata-rata tiga juta. Jika empat ekor ya dua belas juta. Dan kemungkinan tahun sekarang harus lima ekor karena kan jumlah warga dan undangan juga bertambah.”

”Kenapa tidak sekalian beli seekor sapi, Pak Kadus?”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 62

    Namun begitu keenam temannya itu telah terlihat sudah menuruni tebing sungai, maka hal pertama yang keduanya lakukan adalah menutup pintu lalu memanfaatkan situasi dan kondisi untuk saling memanjakan hasrat mereka yang selalu menggebu-gebu. Naga-naganya, memanfaatkan kondisi sepi yang tidak lama itu bisa menjadi sensasi tersendiri bagi mereka sehingga mampu mencapai puncak kepuasan yang tertinggi. Mereka benar-benar seperti sepasang pengantin baru. Tentang janin yang ada dalam rahimnya, Ambar meyakinkan kepada PIL-nya, Kulman, melalui chat, bahwa janin itu adalah janinnya. “Kok kamu sangat yakin jika itu janinku? Argumennya apa?” tanya Kulman, membalas chat Ambar, pada malam harinya setelah perempuan itu melakukan tespek yang memastikan jika dia memang positif hamil. “Alasannya, karena setelah setiap habis main dengan suamiku, aku selalu meminum pil anti hamil. Jadi tak mungkin aku telah membuahi benih suamiku.” “Apakah suamimu tahu kalau kamu mengonsumsi

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 61

    “Yang paling besar anggarannya itu apa?” “Yang paling besar tentu untuk biaya kenduri. Biasanya kami memotong tiga atau kambing. Untuk beras dan bumbu-bumbunya disiapkan oleh warga.” “Untuk tiga atau empat kambing itu biasanya berapa juta, Pak?” “Perekor tahun ini rata-rata tiga juta. Jika empat ekor ya dua belas juta. Dan kemungkinan tahun sekarang harus lima ekor karena kan jumlah warga dan undangan juga bertambah.” ”Kenapa tidak sekalian beli seekor sapi, Pak Kadus?” “Maunya sih seperti itu, Dik Alex, tapi kemampuan dana kami sangat terbatas. Jika sapi yang dipotong, maka anggaran buat yang lainnya habis.” “Iya juga, ya? Lalu acara lain yang tinggi dananya apa lagi, Pak Kadus?” “Ya untuk nanggap grup Kuda Kepang.” “Tergantung grupnya juga, Dik Alex. Yang membuat tinggi nilai nanggap itu yaitu nama dan kualitas grupnya, lalu jumlah penarinya, durasi pertunjukan. Yang terakhir kami mengundang grup kuda kepang yang levelnya sederhana.” “

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 60

    Ya, saat-saat sendiri seperti itu, maka keinginannya langsung melonjak kalau ia membayangkan Alex. Dari tampilan tubuhnya yang kekar dan kokoh walaupun tak berotot menonjol bak seorang binaragawan, Bu Galuh langsung membayangkan milik pemuda itu menegak begitu gagah dan perkasanya, seperti yang di’ramal’kan oleh Bu Ema itu. “Ah, andaikata fantasiku bisa menjadi kenyataan, betapa indahnya,” desah Bu Galuh. Suhu tubuhnya berasa naik secara drastis. Ada sesuatu yang menggelegak dalam dirinya. Saat itu ia membayangkan sedang digumuli oleh pemuda yang kebule-bulean itu. Pada saat itu, di rumah posko lampu-lampu sudah dimatikan. Kondisi dalam rumah malam itu benar-benar gelap gulita. Dan sama seperti malam-malam sebelumnya, Alex, Mei, Ambar, dan Kulman tetapi memilih tidur di ruang tamu. Kondisi gelap gulita itu membuat Mei sudah menggeser tubuhnya ke dekat Alex, dan keduanya sudah saling memanjakan dengan saling membelai, mengusap, memuntir, dan menggenggap bagian-bag

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 59

    Benar. Yang merasa kagum--atau lebih tepatnya, tertarik--terhadap sosok Alex itu bukan saja dirinya saja, namun juga Bu Ema atau Bu Kadus. Itu diungkapkan oleh Bu Ema sendiri kepadanya pada suatu kesempatan. Saat itu Bu Ema datang berkunjung ke rumahnya. Pada kesempatan itu mereka membicarakan kondisi dan suasana dusun mereka yang sudah banyak berubah sejak kehadiran para peserta KKN itu. Perubahan nyata pertama adalah kampung mereka tidak menjadi kampung yang selalu berselimut suasana gelap saat malam hari tanpa rembulan, dan kini telah menjadi kampung yang berlistrik berkat sumbangan PLTS sumbangan anak-anak KKN. Lalu berikutnya adalah sumbangan untuk anggaran pembangunan mesjid, sehingga tak lama lagi mereka memiliki sebuah mesjid yang cukup megah. Setelah pembahasan tentang suasana dan kondisi kampung mereka yang sudah berubah, pembahasan mereka lalu beralih kepada hal-hal tentang para anggota KKN di dusun mereka itu, terutama yang berkenaan pada keempat anggo

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 58

    Mei langsung membalas dengan emoticon ketawa dan menulis. “Bersuami juga tapi tetap bisa melayani kamu kan, Say? Oh iya, padahal aku tadi sudah kepengen banget, eh ternyata ada warga mandi.” “Iya. Sama. Kok bisa pengen terus, ya? Padahal baru semalam kita naik ke puncak.” “Ya wajarlah, Say. Kamu kan berondong, sedangkan aku seorang istri yang jarang mendapat kepuasan dari suamiku. Aku trus jadi bertanya-tanya, apakah hubungan kita ini hanya di sini saja?” “Maumu?” “Ya mauku seterusnya. Tapi kadang merasa sayang juga.” “Merasa sayang juga? Maksudmu?” “Ya bibitmu, sayang kalau disemburkan tapi tidak bisa dibuahi. Padahal sp**ma kamu itu kalau keluar banyak banget.” “Ya kalau main kan memang harus munc**t, Say.” “Iya sih. Maksud aku, andaikata aku belum bersuami, aku tetap membiarkan benihmu itu tumbuh. Kamu mikirmu seperti apa, Say? Apakah setelah pulang dari sini kita bisa melakukannya lagi?” “Gampanglah nanti. Urusan besok pikirkan besok s

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 57

    Tentu saja Om Jody sangat yakin jika janin yang ada dalam rahim istrinya itu adalah janinnya. Bahkan tak sedikit pun terbersit dalam pikirannya bahwa itu bukan janinnya. Ia sangat tahu, bahwa sang istri adalah wanita yang sangat setia dan berwibawa. Dan, pada keesokan harinya, dokter kandungan yang memeriksanya menyampaikan, bahwa dari hasil USG, Tante Luluk dinyatakan positif hamil. “Usia kandungan Bu Luluk sekarang lebih kurang sudah tiga Minggu,” ucap Bu Dokter. “Selamat ya, Bu, Pak, atas kehamilannya. Tolong diperhatikan kesehatan ibu dan janinnya. Nanti saya akan berikan buku panduan tentang ibu dan kandungannya.” “Terima kasih, Bu Dokter. Terima kasih ya Rabb,” ucap Om Jody sembari mengusap kedua sudut matanya dengan ujung jari tangannya. Ia begitu terharu. Betapa tidak, di usia ia dan istrinya sudah tidak muda lagi, namu Tuhan masih memberi mereka buah hati. *** Ada panggilan di ponselnya Alex. Anak-anak yang sedang mengobrol di ruang tamu hanya m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status