로그인“Ya, mencintai itu memang butuh ketulusan, kesabaran, juga pengorbanan,” jerit batin Raditya Pambudi. “Tapi, ketulusan, kesabaran, serta pengorbanan seperti apa lagi yang harus aku persembahkan kepada seorang istri yang tidak memberikan hal yang sama terhadap diriku, suaminya? Memang, aku nyaris tak pernah diperlakukan selayaknya seorang suami oleh wanita yang aku nikahi dan cintai itu. Di kala aku berusaha membahagiakannya dengan segenap jiwa dan ikhtiarku, dia malah dengan tanpa merasa berdosa justru menganggapku bukan siapa-siapa dalam kehidupannya. Walau berat dan seolah hidup dalam neraka, tapi aku mencoba bertahan, bersabar, dan tanpa lelah berdoa, semoga kelak ia menjadi istri terbaik dan calon bidadari syurga bagi aku dan anak-anaknya kelak, seperti yang kuimpi-impikan dahulu.” ***
더 보기“มานี่!”
“กรี๊ดดด! โอ้ย ปล่อยนะอีบ้า!”
เสียงกรีดร้องดังก้องด้วยความเจ็บปวดทรมานแผ่ซ่านไปทั่วทั้งหนังหัว เพราะโดนใครบางคนกระชากผมจนหน้าหงาย
มือจิกกำกลุ่มผมยาวไว้แน่นแล้วลากร่างเล็กบอบบางถูไถไปกับพื้นห้อง ชุดนักศึกษารัดรูปที่ติดกระดุมไม่เรียบร้อยเป็นทุนแหวกกว้าง กระดุมเม็ดล่างดีดผึงหลุดจากรางจนเนินเต้าขาวกับบราสีแดงทะลักออก กระโปรงทรงเอสั้นเพียงคืบร่นขึ้นเปิดหวอเผยให้เห็นเส้นจีสตริงสีแดงสดออกมาโชว์หราอล่างฉ่างไม่ต่างจากแก้มก้นอวบขาว
เพียะ!
“กรี๊ด! ปลื้มช่วยด้วย อ๊าย!”
“ช่วยงั้นเหรอ รู้รึเปล่าว่าคนที่แกเรียกร้องให้ช่วยอยู่นั่นผัวใคร!” เสียงหญิงสาวเจ้าของฝ่ามือด่ากราดพลางฟาดฝ่ามือใส่ใบหน้าหวานที่ทั้งกรีดร้องทั้งดิ้นรนจนน้ำตาไหลพรากปะปนกับเลือดสีแดงฉานที่มุมปากไม่ยั้ง
มือบางเรียวสวยขยุ้มกลุ่มผมหญิงสาวใต้ร่างแน่นแล้วกระชากรั้งใบหน้าหวานขึ้นมาตบซ้ำ ๆ สลับจิกทึ้งจนกลุ่มผมสวยหลุดติดมือมาเป็นกำ กว่าจะหยุดได้ก็ตอนที่แขนเรียวโดนชายหนุ่มเจ้าของห้องกระชากออกจนร่างบางลอยหวือมาตามแรง
“พอทีเถอะ ตะวัน!”
“ปล่อย!” ตะวันตะคอกกลับเสียงดัง พลางสองเท้ายกถีบสะเปะสะปะอย่างไม่ยอมแพ้
“หยุดบ้า!” ปรมะกัดฟันกรอด ตาคมมองสบดวงตาคู่สวยที่เดือดดาลไม่แพ้กันอย่างเอาเรื่อง แล้วลากรั้งร่างของตะวันออกจากห้องนอนตน แต่ก็ไม่วายเอ่ยเสียงเรียบกับหญิงสาวหน้าหวานที่นั่งเลือดกบปากอยู่บนพื้นห้องว่า...
“จัดการตัวเองแล้วออกไปก่อน เดี๋ยวไว้โทรหา”
“อะไรนะปลื้ม ยังจะไปโทรหามันอีกทำไม” ตะวันสะบัดมือแกร่งที่กำแขนตัวเองจนแดงเป็นรอยมือทิ้งหมายจะถลาไปคว้าผมผู้หญิงคนนั้นมาตบอีกรอบ หากก็ไม่ทันไปถึงตัวเพราะโดนปรมะคว้าเอวไว้
“ไม่อยากตายก็รีบลุกออกไปสิวะ!” เสียงทุ้มตวาดหญิงสาวที่เอาแต่ร้องไห้เพราะกลัวตะวันแต่ก็ไม่ยอมขยับไปไหนสักทีให้ออกไปอีกครั้ง
เขาช่วยได้เท่านี้ หากยังลีลาจะปล่อยตะวันให้ทำตามอำเภอใจ ไม่ห้ามอีกแล้วนะ ทำอะไรอิดออดชักช้า น่าหงุดหงิด ปรมะถอนหายใจแรง ๆ อย่างคนหัวเสียแล้วหันมามองคนในอ้อมแขนอีกครั้งก่อนจะกระแทกลมหายใจแรงกว่าเก่า
นี่ก็ด้วยอีกคน น่าหงุดหงิดฉิบหาย!
ชายหนุ่มอุ้มกระเตงร่างบอบบางของตะวันเดินผ่านส่วนโถงกว้างที่มีสมาชิกอีกหลายชีวิตนั่งเสนอหน้ากันอยู่ตรงโซฟาเข้ามาในห้องนอนอีกห้องที่อยู่ฝั่งตรงกันข้าม ก่อนจะผลักร่างตะวันให้หงายหลังล้มบนเตียง
“เธอทำบ้าอะไร!” ปรมะกัดฟันถามอย่างหงุดหงิด ตัวก็เล็กเท่าลูกหมาทว่าอาละวาดทีพากันบรรลัย แรงก็เยอะ โกรธทีเหมือนหมาบ้าน่ารำคาญ แผลงฤทธิ์และสำแดงเดชไม่เว้นแต่ละวันจนเขาปวดกบาลแทบบ้าตายอยู่แล้ว
ปรมะขยี้ผมตัวเองลวก ๆ แล้วยืนพิงหลังกับประตูกันตะวันออกไปทึ้งหัวผู้หญิงคนนั้นอีกครั้ง จนกว่าจะได้ยินเสียงประตูห้องคอนโดปิดกระแทกเสียงดังบ่งบอกว่าหญิงสาวคนนั้นหอบสังขารออกไปแล้วเขาถึงพรูลมหายใจโล่งอก ต่างกับตะวันที่มองค้อนเขาอย่างเอาเรื่อง
“ปลื้มนั่นแหละทำบ้าอะไร! ช่วยไว้หน้าตะวันบ้างได้ไหม!” ตะวันที่กึ่งนั่งกึ่งนอนหอบหายใจอยู่บนเตียงเพราะความเหนื่อยจากการใช้พลังงานในการอาละวาดไปเยอะตะคอกปรมะกลับ
“แค่เอาขำ ๆ ปะวะ” เจ้าของห้องกลอกตา
“แต่ตะวันไม่ขำ!” ดวงตาคู่สวยที่แข็งกร้าวไหวระริกด้วยความเจ็บช้ำ
ไม่ใช่ไม่เจ็บไม่เสียใจ แต่ไม่รู้ว่าชิน ชา หรือเพราะอะไรน้ำตาเธอถึงไม่ไหลออกมาให้เขาเห็นสักหยด เพราะนี่ไม่ใช่ครั้งแรกที่เขาทำ!
Atas pengangkatannya sebagai orang nomor dua di konglomerasi PT. Jaya Semesta Group, Ningrum menyukurinya dengan mengadakan kenduri kecil-kecilan dan pengajian sebagai rasa syukur di beberapa hari kemjudian. Dalam acara itu Radit juga hadir. Bagi sang presiden direktur muda itu, Ningrum beserta keluarganya sudah dianggapnya sebagai keluarga keduanya. Acaranya walaupun menggunakan konsep sederhana, namun suasana demikian meriah. Warga komplek nyaris semuanya hadir, baik dalam acara kenduri maupun pada acara pengajian di malam harinya. Selesai acara, Edwin tak langsung pulang. Ia dan Ningrum menyempatkan diri untuk duduk mengobrol berdua di halaman belakang rumah di samping kolam renang sembari membuat api unggun kecil. Pada kesempatan yang santai penuh keakraban itu keduanya membicarakan banyak hal, dari tentang pekerjaan, tentang kondisi terakhirnya, dan juga perkembangan kondisi Noni. Radit juga membahas tentang nasib rumah tangganya. Radit mengatakan, untuk
Dengan berbagai pertimbangan, Nagita pun memutuskan untuk mengajak Radit untuk bicara. Akan tetapi, ketika ia hendak membuka mulutnya, laki-laki yang telah berstatus sebagai mantan suaminya itu tiba-tiba membalikkan tubuhnya, dan tidur miring memeluk guling dengan posisi membelakangi Noni dan dirinya. Nagita menghela nafasnya lalu mengecilnya nyala lampu tidur. Selanjutnya ia berusaha untuk memejamkan matanya. Saat itu jarum jam dinding telah menunjukkan pukul 00.22. Namun pada keesokan harinya ia masih memikirkan tentang rencananya itu. Setelah memikirkannya secara berulang-ulang, Nagita pun memutuskan untuk menelepon Radit. Ia menyampaikan keinginannya untuk bicara itu dengan sangat hati-hati. “Ya silakan bicara saja, insha Allah aku akan mendengarkannya?” sahut Radit. Saat itu kebetulan ia baru saja selesai melakukan pengecekan terhadap file-file laporan yang masuk pada hari itu yang tertera pada layar laptop di hadapannya. “Aku ingin bicara empat mata d
Beberapa bulan kemudian Noni sudah menemukan kembali keceriaannya. Pihak tim dokter yang menanganinya sudah memperbolehkan ia untuk check out dari rumah sakit. Artinya sudah diperbolehkan untuk dibawa pulang ke Indonesia. Hanya saja, gadis kecil itu selanjutnya masih harus menjalani terapi-terapi khusus di rumah sakit Indonesia secara berkala, terutama untuk mengetahui perkembangan dari kondisi penyakitnya. Namun dokter di Beijing itu berpendapat, bahwa Noni akan mendapatkan kesehatan kesehatannya secara optimal seiring waktu. Setelah di Indonesia, gadis itu lebih banyak tidur bersama kedua orang tuanya, Radit dan Nagita. Ia sangat bahagia karena ia bisa kembali tidur di antara kedua orang yang paling disayanginya. Ia memang selalu rindu pada dongeng-dongeng yang selalu dituturkan oleh kedua orang tuanya itu untuk mengantarkannya ke dunia mimpi. “Oh ya, Sayang,” ucap Radit suatu malam pada Noni, sebelum ia menuturkan sebuah dongeng pada sang putrinya, “sembari menungg
Beberapa menit kemudian terdengar ketukan di pintu. “Ya, silakan masuk,” ucap Radit. “Selamat siang, Mas,” salam Ningrum sembari menutup kembali pintunya. “Silakan duduk.” “Terima kasih.” Raditya menatap wajah wanita di depannya dan tersenyum. “Bagaimana keadaanmu hari ini?” tanya Raditya. “Alhamdulillah baik, Mas.” “Tadi malam Ning punya mimpi apa?” “Mimpi?” Kedua Ningrum saling merapat. Terasa ada semacam kejanggalan yang ia rasakan dalam pertanyaan itu. “Malah aku nggak sempet mimpi kayaknya, Mas. Tidur saja baru jam dua dini hari baru bisa terlelap, trus bangun subuh. Kenapa, Mas?” “Ntar kujawab pertanyaanmu, aku ingin lanjut bertanya dulu,” ucap Radit. “Kenapa tidurnya terlambat?” “Hm, nggak tau juga, Mas. Terasa gelisah saja, padahal aku sedang tidak memikirkan sesuatu apa pun yang sifatnya berat.” “Hm, berarti itu pengganti mimpinya!” celetuk Radit. “Maksud, Mas?” “Begini, tadi papaku video ca
Kondisi Raditya sudah dinyatakan pulih seratus persen setelah beberapa bulan pasca operasi transplantasi. Kondisi Noni pun makin mengarah ke kemajuan. Hanya saja ia masih terus menjalani siklus kemoterasi. Namun tim dokter memprediksi, bahwa kesembuhan Noni bisa lebih cepat dari yang diperk
“Duh, ceritanya harus dimulai dari mana, ya?” jawab Bu Ratri seperti kebingungan. “Tapi yang jelas, Ibu dengan papamu itu dulu adalah teman kuliah, satu jurusan, dan kami ... berteman dekat. Gitu ya, Pak Karim?” “Ya, ya, benar itu,” tandas Pak Abdul Karim lalu tertawa. “Dulunya itu Bu R
Walaupun perasaan senang itu kembali mengalir dalam hatinya, namun terasa ada yang mengganjal dalam ruang batinnya, yaitu rasa menyesal, berdosa, dan juga tentu rasa sungkan pada Radit. Rasa menyesal dan berdosa itu semakin kuat lagi tatkala perhatian yang diberikan oleh laki-laki itu seolah-o
“Iya, Mas. Saya telah menarik kembali, itu seminggu yang lalu,” ucap Nagita dengan suara pelan seolah-olah kepada jari jemari tangan yang sedang dimaininya. “Alasannya?” “Tak tahu, Mas. Tapi yang jelas bukan karena aku berharap rumah tangga kita utuh kembali, sebab aku tahu, itu tak m






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
리뷰더 보기