로그인“Ya, mencintai itu memang butuh ketulusan, kesabaran, juga pengorbanan,” jerit batin Raditya Pambudi. “Tapi, ketulusan, kesabaran, serta pengorbanan seperti apa lagi yang harus aku persembahkan kepada seorang istri yang tidak memberikan hal yang sama terhadap diriku, suaminya? Memang, aku nyaris tak pernah diperlakukan selayaknya seorang suami oleh wanita yang aku nikahi dan cintai itu. Di kala aku berusaha membahagiakannya dengan segenap jiwa dan ikhtiarku, dia malah dengan tanpa merasa berdosa justru menganggapku bukan siapa-siapa dalam kehidupannya. Walau berat dan seolah hidup dalam neraka, tapi aku mencoba bertahan, bersabar, dan tanpa lelah berdoa, semoga kelak ia menjadi istri terbaik dan calon bidadari syurga bagi aku dan anak-anaknya kelak, seperti yang kuimpi-impikan dahulu.” ***
더 보기Elena mengeratkan jari- jemarinya di tali tas saat berdiri di depan gedung pencakar langit itu. Nafasnya sedikit tertahan saat membaca papan nama berwarna emas dengan tulisan besar di lobi. Quantum Vale Corp.
Elena menghembuskan napas panjang, lalu melangkah masuk. Seorang resepsionis memeriksa kartu ID-nya sebelum mempersilahkannya menuju lift. "CEO baru sudah menunggu di lantai atas," kata wanita itu dengan senyum profesional. "CEO baru," pikir elena, ia tidak tahu siapa namanya. HRD hanya mengatakan bahwa ia akan bekerja untuk seseorang yang sangat selektif. Namun, apa pun itu, Elena bertekad untuk melakukan pekerjaannya dengan sebaik mungkin, lalu masuk ke dalam lift. Pintu lift terbuka dengan bunyi halus. Elena melangkah keluar, menuju meja resepsionis eksekutif yang berada di depan pintu kayu besar. "Kamu, Elena?" Seorang wanita paruh baya bertanya. Elena mengangguk. "Silakan masuk! Tuan Alexander sudah menunggumu." Langkah Elena terhenti seketika. Nama yang disebut wanita itu tidaklah asing baginya. "Tidak mungkin. Itu pasti hanya kebetulan, kan?" Pikir Elena dan dengan hati yang tiba-tiba berdebar. Elena mengatur napasnya, lalu mengetuk pintu sebelum mendorongnya perlahan. Namun saat matanya bertemu dengan pria yang duduk di balik meja besar, tubuhnya langsung membeku. Pria itu bersandar di kursinya, mengenakan setelan hitam sempurna, dan ekspresinya dingin dan penuh kuasa. Mata kelamnya menatapnya tanpa emosi. Namun di balik tatapan itu, Elena tahu ada sesuatu yang tidak diketahui olehnya. Luka lama yang belum sepenuhnya sembuh kembali menganga. Dunia Elena seakan runtuh dalam sekejap. "Ini tidak mungkin. Dari jutaan orang di luar sana, kenapa harus dia?"pikir Elena. "Kau ...." suara Elena tercekat di tenggorokan. Alexander mengangkat alisnya, lalu bersandar ke depan. "Lama kita tidak bertemu, Elena." Suaranya terdengar dingin dan jauh seperti bukan Alexander yang dulu ia kenal. Elena menggigit bibirnya menahan gemetar di ujung jemarinya. Selama lima tahun terakhir, ia sudah berusaha keras untuk melupakan pria itu, menata kembali hidupnya setelah pria itu pergi begitu saja tanpa penjelasan. Namun, melihatnya sekarang begitu dekat dan begitu nyata, Elena tiba-tiba menyadari satu hal yang menyakitkan bahwa ia tidak pernah benar-benar bisa melupakan Alexander dan lebih buruk lagi hatinya masih berdetak untuk pria itu. "Sial!"pikir Elena. "Duduk!" perintah Alexander. Suara pria itu membuat Elena tersentak dari lamunannya. Ia menguatkan hatinya, lalu melangkah dengan kaki yang terasa kaku, kemudian duduk di kursi di seberang meja. Ia menegakkan punggung dan mencoba bersikap profesional meskipun pikirannya masih berantakan. Alexander mengamati wajah Elena terlalu lama hingga Elena harus menahan dirinya untuk tidak menghindari tatapannya. "Tidak kusangka kamu yang akan mengisi posisi ini," katanya akhirnya. Suaranya datar, tapi ada sesuatu di balik nada itu yang sama sekali tidak bisa Elena baca. Elena menelan ludah. "Aku juga tidak menyangka, Pak Alexander." Ada kilatan aneh di mata pria itu saat mendengar panggilan formal itu. Dulu nama itu selalu terdengar lebih hangat di bibirnya dan sekarang semuanya sudah berbeda. Alexander bersandar di kursinya dan jemarinya saling bertaut. "Lima tahun berlalu, tapi kamu masih menghindari menatapku lebih dari tiga detik." Elena merasakan hawa panas menjalari tengkuknya. Ia mengangkat dagunya sedikit lebih tinggi. "Aku hanya ingin bersikap profesional." Alexander tersenyum kecil, senyum yang tidak sampai ke matanya. "Profesional, ya?" Ia mengetuk meja berkali-kali dengan jarinya, lalu mencondongkan tubuh sedikit ke depan. "Bagaimana jika aku bilang aku tidak ingin kamu bekerja di sini?" Elena terkesiap. "Apa?" Jantungnya mencelos. "Apa itu berarti ia akan langsung dipecat?" pikir Elena. Alexander tidak menjawab hanya menatapnya dalam-dalam seakan sedang menimbang sesuatu. Lana menekan jemarinya ke pahanya dan berusaha meredam kegugupan yang sedang melandanya. Ia tidak bisa kehilangan pekerjaan ini setelah susah payah mendapatkannya. Ia akhirnya berkata dengan suara yang lebih tegas dari yang ia perkirakan, "Kalau memang Anda tidak ingin aku ada di sini, kenapa aku dipanggil?" Alexander tersenyum kecil. "Sederhana saja." Ia berdiri dari kursinya, lalu berjalan mengitari meja hingga berdiri di hadapannya. Elena menahan napas saat pria itu bersandar ke meja dan menatapnya dari atas. "Aku hanya ingin tahu, apakah aku masih bisa membuatmu gemetar seperti ini." Elena tercekat. "Bajingan," batin Elena. Alexander tahu bagaimana kehadirannya masih mempengaruhi Elena. Ia juga tahu bagaimana suara dan tatapannya masih bisa membuat hati wanita itu resah, tapi Elena menolak untuk kalah. Elena mendongak dan membalas tatapan pria itu dengan mata yang tidak ingin menunjukkan kelemahannya. "Aku di sini untuk bekerja, Pak Alexander." Ia menekankan panggilan formal itu. "Dan perasaanku atau perasaan Anda tidak ada hubungannya dengan profesionalisme." Mata Alexander menyipit, lalu bibirnya melengkung dalam senyuman tipis yang penuh arti. "Baiklah!" katanya akhirnya. "Kita lihat seberapa lama kamu bisa bertahan." Elena keluar dari ruangan itu dengan kaki yang sedikit gemetar. Ia hampir saja bisa merasakan napas yang selama ini ia tahan akhirnya keluar saat ia berdiri di koridor dan mencoba menenangkan dirinya. Alexander bukan hanya cinta pertamanya, tapi ia juga adalah luka terbesar yang pernah ia miliki dan sekarang ia harus bekerja di bawah pria itu sehari-hari tanpa bisa menghindar. Ia sekarang benar-benar dalam masalah besar.Atas pengangkatannya sebagai orang nomor dua di konglomerasi PT. Jaya Semesta Group, Ningrum menyukurinya dengan mengadakan kenduri kecil-kecilan dan pengajian sebagai rasa syukur di beberapa hari kemjudian. Dalam acara itu Radit juga hadir. Bagi sang presiden direktur muda itu, Ningrum beserta keluarganya sudah dianggapnya sebagai keluarga keduanya. Acaranya walaupun menggunakan konsep sederhana, namun suasana demikian meriah. Warga komplek nyaris semuanya hadir, baik dalam acara kenduri maupun pada acara pengajian di malam harinya. Selesai acara, Edwin tak langsung pulang. Ia dan Ningrum menyempatkan diri untuk duduk mengobrol berdua di halaman belakang rumah di samping kolam renang sembari membuat api unggun kecil. Pada kesempatan yang santai penuh keakraban itu keduanya membicarakan banyak hal, dari tentang pekerjaan, tentang kondisi terakhirnya, dan juga perkembangan kondisi Noni. Radit juga membahas tentang nasib rumah tangganya. Radit mengatakan, untuk
Dengan berbagai pertimbangan, Nagita pun memutuskan untuk mengajak Radit untuk bicara. Akan tetapi, ketika ia hendak membuka mulutnya, laki-laki yang telah berstatus sebagai mantan suaminya itu tiba-tiba membalikkan tubuhnya, dan tidur miring memeluk guling dengan posisi membelakangi Noni dan dirinya. Nagita menghela nafasnya lalu mengecilnya nyala lampu tidur. Selanjutnya ia berusaha untuk memejamkan matanya. Saat itu jarum jam dinding telah menunjukkan pukul 00.22. Namun pada keesokan harinya ia masih memikirkan tentang rencananya itu. Setelah memikirkannya secara berulang-ulang, Nagita pun memutuskan untuk menelepon Radit. Ia menyampaikan keinginannya untuk bicara itu dengan sangat hati-hati. “Ya silakan bicara saja, insha Allah aku akan mendengarkannya?” sahut Radit. Saat itu kebetulan ia baru saja selesai melakukan pengecekan terhadap file-file laporan yang masuk pada hari itu yang tertera pada layar laptop di hadapannya. “Aku ingin bicara empat mata d
Beberapa bulan kemudian Noni sudah menemukan kembali keceriaannya. Pihak tim dokter yang menanganinya sudah memperbolehkan ia untuk check out dari rumah sakit. Artinya sudah diperbolehkan untuk dibawa pulang ke Indonesia. Hanya saja, gadis kecil itu selanjutnya masih harus menjalani terapi-terapi khusus di rumah sakit Indonesia secara berkala, terutama untuk mengetahui perkembangan dari kondisi penyakitnya. Namun dokter di Beijing itu berpendapat, bahwa Noni akan mendapatkan kesehatan kesehatannya secara optimal seiring waktu. Setelah di Indonesia, gadis itu lebih banyak tidur bersama kedua orang tuanya, Radit dan Nagita. Ia sangat bahagia karena ia bisa kembali tidur di antara kedua orang yang paling disayanginya. Ia memang selalu rindu pada dongeng-dongeng yang selalu dituturkan oleh kedua orang tuanya itu untuk mengantarkannya ke dunia mimpi. “Oh ya, Sayang,” ucap Radit suatu malam pada Noni, sebelum ia menuturkan sebuah dongeng pada sang putrinya, “sembari menungg
Beberapa menit kemudian terdengar ketukan di pintu. “Ya, silakan masuk,” ucap Radit. “Selamat siang, Mas,” salam Ningrum sembari menutup kembali pintunya. “Silakan duduk.” “Terima kasih.” Raditya menatap wajah wanita di depannya dan tersenyum. “Bagaimana keadaanmu hari ini?” tanya Raditya. “Alhamdulillah baik, Mas.” “Tadi malam Ning punya mimpi apa?” “Mimpi?” Kedua Ningrum saling merapat. Terasa ada semacam kejanggalan yang ia rasakan dalam pertanyaan itu. “Malah aku nggak sempet mimpi kayaknya, Mas. Tidur saja baru jam dua dini hari baru bisa terlelap, trus bangun subuh. Kenapa, Mas?” “Ntar kujawab pertanyaanmu, aku ingin lanjut bertanya dulu,” ucap Radit. “Kenapa tidurnya terlambat?” “Hm, nggak tau juga, Mas. Terasa gelisah saja, padahal aku sedang tidak memikirkan sesuatu apa pun yang sifatnya berat.” “Hm, berarti itu pengganti mimpinya!” celetuk Radit. “Maksud, Mas?” “Begini, tadi papaku video ca
“Iya, Mas. Saya telah menarik kembali, itu seminggu yang lalu,” ucap Nagita dengan suara pelan seolah-olah kepada jari jemari tangan yang sedang dimaininya. “Alasannya?” “Tak tahu, Mas. Tapi yang jelas bukan karena aku berharap rumah tangga kita utuh kembali, sebab aku tahu, itu tak m
“Aku itu hanya punya satu dambaan, Bu, yaitu ingin memiliki rumah tangga yang mawadah wa rahmah, dan wanita yang kunikahi menjadi bidadari di dunia hingga akherat bagi saya,” lanjut Radit lagi. “Namun nampaknya, apa yang saya raih justru sangat jauh dari yang saya dambakan. Dambaan wanita yan
“Oh iya benar, Pak RT. Perkenalkan, nama saya Radit, Raditya Pambudi,” sahut Radit sembari menyalami warga lain satu persatu. “Lalu, kira-kira kapan Pak Radit pindah ke mari?” tanya Pak RT lagi. “Maunya secepatnya, Pak. Tapi ini perabotannya belum ditata,” sahut Radit. “Kira-kira di sek
Baru kali ini Bu Ratri melihat Radit emosi seperti itu. Selama ini sang menantu itu selalu tenang dan sabar menghadapi sikap Nagita yang terkadang memang suka semena-mena terhadapnya. Ia tentu tidak bisa menafikan sifat baik sang menantu itu. Jika ia sampai emosi begitu, berarti kebenarannya t






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
리뷰더 보기