Permaisuri Gila! Kaisar Tak Bisa Melepaskanmu
Tewas karena kerja lembur, Rania, seorang ahli strategi korporat, terbangun di tubuh Permaisuri Aurelia yang terbuang. Diasingkan oleh suaminya yang kejam, Kaisar Darrius, dan dikelilingi musuh, takdirnya adalah mati dalam kehinaan.
Tapi Rania menolak untuk menjadi korban. Dengan otaknya sebagai senjata, ia mengubah istana penjaranya menjadi 'kantor' pusat, intrik politik menjadi 'rapat dewan', dan mulai menjalankan operasi hostile takeover terhadap takdirnya sendiri.
Namun, permainannya yang dingin dan tak terduga justru menarik perhatian sang Kaisar, yang mulai melihat sosok berbahaya sekaligus memikat di dalam diri wanita yang dibencinya. Di dunia di mana pedang dan sihir berkuasa, bisakah strategi bisnis menyelamatkan nyawanya dan menaklukkan hati sang tiran?
Read
Chapter: Bab 273: The Ghost Ship's Lure (Umpan Kapal Hantu)[LOKASI: RUANG KENDALI THE ARK - ZONA SEMBUNYI]"Sandi S.O.S kuno sudah siap," jari-jari Vee menari di atas keyboard holografik. Matanya memantulkan deretan kode biner berwarna hijau. "Aku menggunakan enkripsi militer Era Alpha. Bagi sensor kapal Vector, ini akan terlihat seperti suar darurat dari reaktor USS Valkyrie yang tiba-tiba aktif kembali setelah 500 tahun."Rick melipat tangannya di dada, menatap layar radar yang menampilkan formasi armada Frigate Vector di luar sabuk sampah."Buat sinyalnya berkedip tak beraturan. Seolah-olah reaktor itu hampir meledak tapi menyimpan data berharga," instruksi Rick. "Keserakahan adalah bug paling universal di otak manusia."Vee mengangguk. Dia menekan Enter.[TRANSMITTING: FAKE_DISTRESS.WAV][FREQUENCY: SECURE_BAND_7]Sinyal itu memancar menembus lautan sampah antariksa, langsung menuju ke jaring patroli Vector.Di luar angkasa, salah satu titik merah di radar—kapal Frigate bernama The Vulture—berhenti dari rute patrolinya. Kapal itu berputar
Last Updated: 2026-02-20
Chapter: Bab 272: Zero-G Skirmish (Pertempuran Gravitasi Nol)[LOKASI: RUANG HAMPA - ANTARA USS VALKYRIE DAN THE ARK]"JANGAN LEPAS BARANGNYA!" Teriak Rick lewat saluran radio yang penuh suara static.Di sekeliling mereka, kegelapan antariksa tidak lagi sunyi.Ribuan titik merah bermunculan dari balik asteroid. Seeker Drones milik Vector. Bentuknya seperti bola mata terbang dengan tentakel laser.Mereka mendeteksi ledakan dinding tadi. Sekarang mereka datang untuk pesta.Rick, Jax, dan Pip melayang di ruang hampa, menarik peti kargo raksasa berisi Oxygen Scrubber (Penyaring Udara) menggunakan kabel baja. Peti itu beratnya 2 ton di bumi, tapi di sini beratnya nol—masalahnya adalah inersia. Sekali peti itu bergerak, susah dihentikan."Mereka mengunci target!" teriak Pip panik.PEW! PEW! PEW!Hujan laser merah menghujani mereka. Laser itu tidak bersuara, tapi setiap kali mengenai peti kargo, peti itu bergetar hebat dan lapisan luarnya meleleh."Lindungi Scrubber-nya! Kalau itu hancur, kita semua mati lemas!" perintah Rick.Rick memutar tubuhnya di
Last Updated: 2026-02-20
Chapter: Bab 271: The Graveyard Shift (Shift Kuburan)[LOKASI: SABUK SAMPAH ORBITAL - ZONA SEMBUNYI][STATUS THE ARK: LIFE SUPPORT 58%]Hening.Di luar angkasa, tidak ada suara ledakan, tidak ada suara angin, dan tidak ada suara teriakan. Hanya ada kehampaan yang menekan gendang telinga.The Ark bersandar miring di dalam rongga perut bangkai stasiun luar angkasa kuno yang disebut "Titan's Rib". Lambung kapal yang tadinya berkilau kini penuh goresan meteorit dan sisa karbon akibat gesekan atmosfer.Di Anjungan, lampu merah berputar pelan."Oksigen turun 2% per jam," lapor Elara, memijat pelipisnya yang pening. "Sistem daur ulang udara bekerja terlalu keras. Jika kita tidak menemukan filter CO2 baru atau Scrubber kimiawi... dalam 24 jam kita semua akan mati lemas."Rick melayang di tengah anjungan. Gravitasi buatan dimatikan di sektor non-esensial untuk menghemat energi. Dia sedang makan apel sintetik sambil melihat peta hologram puing-puing di sekitar mereka."Tenang, Elara. Lihat di sana." Rick menunjuk sebuah titik hijau di peta sonar j
Last Updated: 2026-02-17
Chapter: Bab 270: Orbital Collision (Tabrakan di Orbit)[LOKASI: LOW ORBIT AETHELGARD - ZONA BLOKADE][KETINGGIAN: 300 KM DI ATAS PERMUKAAN]Langit biru telah berubah menjadi hitam pekat yang dihiasi bintang-bintang dingin.Di bawah mereka, planet Aethelgard terbentang—sebuah bola raksasa yang tertutup awan polusi abu-abu di selatan dan kerlap-kerlip lampu kota Sky Ring di utara.Tapi tidak ada waktu untuk mengagumi pemandangan.Di depan moncong The Ark, sebuah bayangan raksasa menutupi matahari.Kapal Induk The Harbinger. Bentuknya seperti mata panah hitam sepanjang 5 kilometer. Lambungnya dipenuhi ribuan meriam laser yang kini menyala merah, membidik satu titik kecil yang baru saja naik dari atmosfer: Kapal Rick.Di Anjungan Harbinger, Vector berdiri dengan tangan di belakang punggung. Wajahnya diproyeksikan ke layar utama The Ark."Selamat datang di wilayahku, Tikus Tanah," suara Vector terdengar jernih, tanpa gangguan statis. "Kalian berhasil mengalahkan mainan daratku. Tapi di sini... di ruang hampa... hukum fisika adalah milikku."Ve
Last Updated: 2026-02-17
Chapter: Bab 269: The Titan's Wrath (Kemarahan Sang Titan)[LOKASI: GERBANG UTAMA SEKTOR 88 - SUBUH]Tanah bergetar. Kerikil melompat-lompat di atas aspal retak.Di cakrawala, matahari tidak terlihat. Yang terlihat adalah dinding debu dan logam yang bergerak mendekat.Legiun Emas Kaelus.Lima puluh ribu unit. Barisan depan terdiri dari Heavy Hover-Tanks dengan meriam plasma ganda. Di belakangnya, ribuan infanteri mengenakan Exoskeleton standar militer. Di udara, Gunship (pesawat tempur) berdengung seperti lalat pembunuh.Kaelus tidak main-main. Dia membawa kiamat ke depan pintu rumah Rick.Di sisi lain, di balik barikade rongsokan yang dibangun buruh Sektor 88, hanya ada 2.000 orang.Pasukan Rick. Mereka memakai rompi dari kulit monster, memegang senapan rakitan, dan berlindung di balik bangkai bus sekolah. Mereka gemetar. Perbandingan jumlahnya 1 banding 25."Mereka banyak sekali..." bisik salah satu mantan anak buah Varg, tangannya licin oleh keringat di gagang senapan."Tenang," suara berat terdengar dari depan barisan.Darrius berdiri di
Last Updated: 2026-02-17
Chapter: Bab 268: The Sleeping Lion (Singa Tidur)[LOKASI: RUANG MEDIS VVIP - THE ARK][HARI KE-12 PENGEPUNGAN]Rick membuka matanya. Hal pertama yang dia rasakan adalah rasa sakit di sekujur tubuh, seolah-olah setiap piksel di avatarnya baru saja di-render ulang dengan resolusi rendah."Jangan bergerak," suara dingin Vee terdengar.Rick menoleh. Dia terbaring di dalam tabung regenerasi berisi cairan hijau Bacta. Di sebelahnya, Vee sedang memonitor grafik kestabilan datanya."Kau kehilangan 40% integritas kode tubuhmu saat masuk ke mesin itu," lapor Vee tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Kalau aku telat menarikmu keluar 10 detik saja, kau akan jadi file corrupt selamanya.""Tapi aku menang, kan?" Rick mencoba tersenyum, tapi bibirnya terasa kaku."Kau menang," Vee menghela napas, menekan tombol untuk menguras cairan tabung. "Dan kau dapat mainan baru."Tabung terbuka. Rick melangkah keluar, handuk otomatis mengeringkan tubuhnya. Dia memakai baju pasien."Mainan apa?"Vee melempar sebuah tablet ke arah Rick."Jax dan tim mekanik
Last Updated: 2026-02-17
Chapter: Bab 32: Ranjang BerduriHujan badai kembali mengguyur Jakarta malam itu, mengubah jendela kaca kamar VVIP di lantai 12 Rumah Sakit Prawira menjadi kanvas abstrak yang kelabu. Suara guntur yang menggelegar di kejauhan seolah menjadi soundtrack bagi kepindahan sang Raja dari ruang ICU ke benteng barunya.Ruangan itu luas, lebih mirip penthouse hotel bintang lima daripada kamar rawat. Lantai marmer, sofa kulit hitam, dan sebuah ranjang pasien custom berukuran Queen Size yang diminta khusus oleh Rian demi keamanan."Pengamanan perimeter sudah siap, Tuan," lapor Rian, berdiri kaku di ujung ranjang. Matanya tidak berani menatap Luciano yang sedang berusaha duduk tegak dengan wajah pucat pasi. "Dua penembak jitu di gedung seberang. Empat pengawal di koridor. Dan sesuai protokol Darurat Level 1... Nyonya harus tetap berada dalam radius dua meter dari Tuan setiap saat."Luciano mendengus kasar. Suara napasnya terdengar berat dan basah di dadanya yang masih dibalut perban tebal."Maksudmu... aku butuh babysitter?" des
Last Updated: 2026-02-15
Chapter: Bab 31: Surat dari HantuLantai koridor VVIP rumah sakit itu seharusnya sunyi, namun kini dipenuhi ketegangan yang menyesakkan. Alya melangkah keluar dari ICU, menutup pintu di belakangnya dengan bunyi klik yang tegas. Di hadapannya, Bramantyo tidak pergi. Dia justru kembali dengan artileri yang lebih berat: Salim, pengacara senior klan Prawira yang terkenal licin seperti belut oli. "Nyonya Alya," sapa Salim dengan senyum palsu yang tidak mencapai matanya. Di tangannya, sebuah map kulit hitam terbuka. "Kami turut prihatin atas kondisi Tuan Luciano. Namun, bisnis tidak mengenal koma. Berdasarkan Anggaran Dasar Klan, kami membutuhkan tanda tangan Tuan untuk pencairan dana operasional minggu ini. Atau... penyerahan kuasa sementara kepada Tuan Bramantyo." Bramantyo berdiri di belakang Salim, menyeringai menang. Dia tahu Luciano tidak mungkin menandatangani apa pun dalam kondisi kritis. "Suamiku sedang istirahat, Pak Salim," jawab Alya tenang, meski jantungnya bergemuruh. "Dia tidak menerima tamu." "Ini bukan
Last Updated: 2026-02-15
Chapter: Bab 30: Harga Sebuah NapasBunyi monitor EKG yang tadinya stabil kini berdetak sedikit lebih cepat, seirama dengan ketegangan yang mencekik di ruang ICU VVIP itu. Tangan Luciano yang lemah namun berat masih mencengkeram pergelangan tangan Alya. Mata merahnya menatap tajam, seolah ingin meremukkan Alya hanya dengan tatapan, meski tubuhnya sendiri hancur lebur. "Singkirkan... kuku kotor-mu... dari... leherku..." Suara itu terdengar seperti parutan kasar—efek dari intubasi paksa dan dehidrasi parah. Alya tidak langsung menarik tangannya. Ia menatap mata suaminya dengan ekspresi datar yang baru. Tidak ada ketakutan. Tidak ada kepatuhan. Ia perlahan melepaskan jari-jarinya dari leher Luciano, tapi tidak mundur selangkah pun. Ia tetap berdiri di sana, menjulang di atas ranjang pasien, menciptakan bayangan yang menutupi wajah Luciano. "Kau sadar," ucap Alya dingin. "Sayang sekali. Padahal aku baru saja mulai menikmati ketenangan tanpa suaramu." Luciano mencoba mendengus, tapi gerakan kecil itu memicu rasa sakit l
Last Updated: 2026-02-15
Chapter: Bab 29: Ular Berkepala DuaPintu ruang tunggu VVIP ICU terbanting terbuka. Bukan oleh musuh, tapi oleh "keluarga".Lima orang pria paruh baya berjas mahal masuk dengan langkah lebar. Aura mereka bukan aura pembunuh jalanan seperti pengawal, tapi aura predator birokrat. Di tengah mereka, berdiri Bramantyo Prawira, paman Luciano—orang yang memegang kendali keuangan klan saat Luciano "bermain perang".Alya baru saja duduk semenit setelah menutup telepon Isabella. Napasnya masih memburu. Gaun pengantinnya yang kotor dan robek membuatnya terlihat seperti gelandangan di tengah para raja minyak ini."Minggir, Nona," suara Bramantyo berat dan merendahkan. Ia bahkan tidak menatap mata Alya. "Kami mau melihat keponakanku. Dan setelah itu, kami akan membereskan kekacauan yang kau buat."Alya berdiri, menghalangi pintu kaca ICU. "Tidak ada yang boleh masuk. Itu perintah medis. Dan itu perintahku."Bramantyo berhenti. Ia akhirnya menatap Alya, lalu tertawa pendek. Sebuah tawa yang diikuti oleh seringai meremehkan dari keemp
Last Updated: 2026-02-14
Chapter: Bab 28: Detak yang Hilang"TARIK MEREKA! CEPAT!" Suara teriakan Rian terdengar seperti guntur di telinga Alya yang berdengung. Tangan-tangan kekar menarik tubuhnya dari air laut yang dingin, melemparnya ke geladak speedboat yang keras. Alya terbatuk hebat, memuntahkan air asin yang membakar tenggorokannya. Namun, matanya tidak peduli pada rasa sakitnya sendiri. Ia merangkak, menyeret gaun pengantinnya yang basah dan berat, menuju tubuh kaku yang baru saja diletakkan di sebelahnya. Luciano terbaring diam. Terlalu diam. Wajahnya pucat pasi, bibirnya membiru, dan mata elang yang biasanya mengintimidasi itu kini terpejam rapat. Tidak ada gerakan dada. Tidak ada napas. "Tuan!" Salah satu pengawal elit Luciano mengguncang bahu bosnya dengan panik. "Tuan tidak bernapas! Kita harus segera ke rumah sakit!" "MINGGIR!" Alya mendorong pengawal bertubuh besar itu dengan kekuatan yang entah datang dari mana. Ia bukan lagi gadis tawanan yang takut. Di atas kapal yang berguncang membelah ombak itu, ia adalah satu
Last Updated: 2026-01-27
Chapter: Bab 27: Jatuh ke Dalam BiruWaktu seolah membeku. Mata Alya terpaku pada tabung kaca kecil yang melayang di udara. Cahaya matahari fajar yang baru menyingsing memantul pada cairan biru neon di dalamnya, membuatnya berkilau seperti pecahan bintang yang jatuh dari langit. Tabung itu berputar lambat—sangat lambat—di atas permukaan laut yang gelap dan bergelombang. Itu adalah nyawa. Itu adalah satu-satunya hal yang bisa memisahkan mereka dari kematian. "JANGAN!" Teriakan Luciano terdengar jauh, teredam oleh deburan ombak yang menghantam tiang dermaga. Tanpa berpikir, tanpa menimbang risiko, tubuh Alya bergerak sendiri. Insting bertahan hidupnya berteriak, bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk menyelamatkan kesempatan terakhir Luciano. Alya melompat. Gaun pengantin putihnya yang berat berkibar sesaat di udara sebelum gravitasi menariknya ke bawah. BYUR! Dingin yang menusuk tulang langsung menyergap Alya begitu tubuhnya menembus permukaan air laut. Air asin masuk ke hidung dan mulutnya, rasanya perih. Namun,
Last Updated: 2026-01-21

Pelakor Pilihan Mertua
Lima tahun lalu, aku pikir menikahi Bramantyo Haryadi adalah akhir dari dongengku. Aku, Arini Widjaja, seorang arsitek dari keluarga biasa, berhasil memenangkan hati putra mahkota Haryadi Group. Kubangun rumah tangga kami di atas fondasi cinta yang kupikir kokoh, mengabaikan tatapan dingin ibu mertuaku, Lidya, yang tak pernah menganggapku pantas.
Selama lima tahun, aku bertahan dalam istana megah yang terasa seperti sangkar emas. Namun, surga kecil yang kubangun mulai runtuh. Bram semakin dingin, pelukannya tak lagi hangat, dan puncaknya, di malam ulang tahun pernikahan kami, aku menemukan bukti pengkhianatannya.
Bram tidak hanya mengkhianatiku, tetapi wanita itu adalah Renata Sastranegara, pilihan sempurna yang selalu disiapkan ibunya. Perselingkuhan ini bukan sekadar nafsu sesaat; ini adalah konspirasi terencana untuk menyingkirkanku. Mereka pikir aku akan hancur dan menyerah. Mereka salah. Jika pernikahan ini adalah medan perang, aku tidak akan pergi sebelum memastikan benteng yang coba mereka rebut dariku, hancur lebur bersama mereka.
Read
Chapter: BAB 23: EPILOG — ARSITEK TAKDIRNYA SENDIRIenam Bulan Kemudian.Aroma kopi yang baru digiling dan suara dengung percakapan yang hidup memenuhi udara di Kafe Skena. Tempat ini bukan lagi sekadar ruko tua yang direnovasi; ini telah menjadi jantung baru bagi komunitas kreatif Jakarta Selatan. Dan di sudut favoritku, di bawah skylight yang terbuka, aku duduk menyesap latte pagiku.Bukan sebagai Nyonya Haryadi yang menunggu suami pulang. Tapi sebagai Arini Widjaja, Pemilik dan Arsitek Utama dari AW Studio.Di layar televisi yang menggantung di dinding kafe, berita pagi sedang menayangkan liputan langsung dari Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Headline-nya mencolok dengan warna merah: VONIS DIJATUHKAN: LIDYA HARYADI DIVONIS 8 TAHUN PENJARA.Aku melihat wajah Lidya di layar itu. Rambutnya yang dulu disanggul sempurna kini tampak kusam, uban mulai terlihat di pelipisnya. Wajahnya yang angkuh telah runtuh, digantikan oleh kerutan kelelahan dan kekalahan. Ia berjalan menunduk menghindari kamera, dikawal ketat oleh polisi. Tidak ada lag
Last Updated: 2025-12-01
Chapter: BAB 22: RUNTUHNYA SEBUAH DINASTIGrand Ballroom Hotel Mulia berkilauan di bawah cahaya ribuan kristal chandelier. Ini adalah panggung yang dirancang Lidya Haryadi dengan sempurna: karpet merah tebal, rangkaian bunga lili putih yang megah, dan barisan kursi yang diduduki oleh para pemegang saham, direksi, keluarga Sastranegara, serta puluhan awak media.Di podium, Lidya berdiri tegak dalam balutan gaun sutra emas, tampak seperti ratu yang tak tersentuh. Di sampingnya, Bramantyo duduk dengan senyum kaku, sementara Renata duduk di barisan depan, tersenyum bangga sebagai calon nyonya besar.Dari balik pintu ganda di belakang ballroom, aku mengamati mereka melalui celah kecil. Jantungku berdetak tenang, setenang detak jam yang menghitung mundur kehancuran mereka."Siap?" tanya Dian di sampingku. Di belakang kami berdiri Pak Herman yang merapikan jas barunya dengan gugup, dan Pak Handoko—pria paruh baya dengan rahang tegas yang mirip sekali dengan almarhum ayah mertuaku."Ayo kita akhiri ini," jawabku.Di dalam, suara Lidy
Last Updated: 2025-12-01
Chapter: Bab 21 keheningansatu bulan berlalu. Strategi "Keheningan" kami bekerja lebih efektif daripada yang kami bayangkan.Sementara pengacara Lidya sibuk menunda-nunda sidang perceraian dengan berbagai alasan prosedural—berharap aku kehabisan uang dan mental—aku justru sibuk di tempat lain. Aku tidak muncul di TV untuk menangis. Aku tidak membalas komentar nyinyir di media sosial. Aku menghilang dari radar gosip dan muncul kembali di radar yang sama sekali berbeda: radar arsitektur.Malam ini adalah soft opening Kafe Skena.Bangunan ruko tua yang dulu kumuh di Senopati itu kini telah bertransformasi. Fasad bata eksposnya dipertahankan, dipadukan dengan kaca frameless setinggi dua lantai yang memamerkan interior industrial yang hangat. Atap skylight yang bisa dibuka kini terbuka lebar, membiarkan udara malam Jakarta masuk, menyatu dengan aroma kopi arabika yang baru digiling.Dan di tengah ruangan, mezzanine baja ringan yang kurancang benar-benar tampak melayang, dipenuhi pengunjung yang terkagum-kagum."Jen
Last Updated: 2025-12-01
Chapter: BAB 20: DURI DI BALIK BERITAKemarahanku sedingin baja.Aku berhasil mempertahankan ketenanganku di depan Reza. Kami menghabiskan satu jam berikutnya—yang terasa seperti selamanya—membahas detail teknis renovasi kafe. Aku memaksakan otakku untuk fokus pada denah, material, dan struktur baja ringan. Setiap kali bayangan foto pertunangan itu melintas di benakku—Bram yang tersenyum palsu, Renata yang menang, Lidya yang angkuh—aku menariknya kembali dengan paksa. Aku tidak akan memberi Lidya kepuasan dengan hancur di saat aku baru memulai langkah pertamaku.Aku tidak ingat bagaimana aku mengucapkan selamat tinggal pada Reza. Aku hanya ingat berjalan kaku menuju mobilku, buku sketsa dan pensil di tanganku terasa seperti timah yang berat. Begitu pintu mobil tertutup, aku tidak langsung menyalakan mesin. Aku duduk diam di dalam keheningan yang memekakkan, menatap setir.Ini bukan lagi perzinaan. Ini adalah eksekusi publik.Tanganku mulai gemetar, getaran kecil yang merambat dari jemariku ke lengan, lalu ke seluruh tubuh
Last Updated: 2025-10-29
Chapter: BAB 19: PROYEK KOPI SKENASesuai janjiku pada Reza, dua hari kemudian aku berada di Senopati. Bukan di restoran mewah, tapi di depan sebuah ruko tua berlantai dua yang tampak kumuh. Catnya mengelupas, jendelanya kotor, dan terasnya dipenuhi gulma. Ini adalah lokasi kafe "ikonik" yang dimaksud Reza. Mimpi buruk sekaligus kanvas yang sempurna.Aku menarik napas dalam-dalam, mencium aroma debu, cat lama, dan tanah basah. Anehnya, aku merasa hidup. Aku mengeluarkan meteran dari tasku, buku sketsaku, dan sebuah pensil. Selama lima tahun, tanganku hanya menyentuh layar tablet untuk mendesain paviliun atau merenovasi kamar tamu di istana Lidya. Ini adalah pekerjaan lapangan pertamaku yang sesungguhnya.Aku sedang mengukur lebar fasad depan, mencatat struktur bata ekspos yang tersembunyi di balik plester yang hancur, ketika sebuah suara familier terdengar dari belakangku."Kukira Nyonya Haryadi sudah lupa cara memegang meteran."Aku berbalik tanpa tersenyum. Reza Adhitama bersandar di mobil Jeep Rubicon-nya yang gagah
Last Updated: 2025-10-29
Chapter: BAB 18: REAKSI SANG RATU DAN PIONNYADi puncak Haryadi Tower, di dalam kantor CEO yang dilapisi panel kayu mahoni dan kaca, Bramantyo Haryadi menatap amplop cokelat besar di mejanya seolah itu adalah seekor ular berbisa. Stempel dari firma hukum Dian terpampang jelas di sudut kiri atas.Ia membukanya dengan tangan yang sedikit gemetar.Beberapa lembar kertas ia keluarkan. Matanya memindai baris demi baris kalimat hukum yang kaku. Semakin ia membaca, semakin pucat wajahnya.*Perzinaan...**...dengan pihak ketiga bernama Renata Sastranegara...**...upaya penggelapan aset pernikahan...**...griya tawang di SCBD atas nama Lidya Haryadi...*"Sialan!" teriaknya, menyapu kertas-kertas itu dari mejanya. Gelas kristal di sudut meja ikut tersenggol dan jatuh ke lantai karpet tebal, isinya yang tersisa tumpah tanpa suara.Dia pikir Arini hanya pergi untuk "menenangkan diri". Dia pikir ini adalah pertengkaran suami-istri biasa yang akan selesai dengan permintaan maaf dan hadiah mahal. Dia tidak pernah menyangka Arini akan *berani* m
Last Updated: 2025-10-29