Permaisuri Gila! Kaisar Tak Bisa Melepaskanmu
Tewas karena kerja lembur, Rania, seorang ahli strategi korporat, terbangun di tubuh Permaisuri Aurelia yang terbuang. Diasingkan oleh suaminya yang kejam, Kaisar Darrius, dan dikelilingi musuh, takdirnya adalah mati dalam kehinaan.
Tapi Rania menolak untuk menjadi korban. Dengan otaknya sebagai senjata, ia mengubah istana penjaranya menjadi 'kantor' pusat, intrik politik menjadi 'rapat dewan', dan mulai menjalankan operasi hostile takeover terhadap takdirnya sendiri.
Namun, permainannya yang dingin dan tak terduga justru menarik perhatian sang Kaisar, yang mulai melihat sosok berbahaya sekaligus memikat di dalam diri wanita yang dibencinya. Di dunia di mana pedang dan sihir berkuasa, bisakah strategi bisnis menyelamatkan nyawanya dan menaklukkan hati sang tiran?
อ่าน
Chapter: Bab 226: Saat Kau Menatap Jurang, Ayahmu Menatap BalikLOKASI: BENGKEL RAHASIA "SCRAP YARD" – DISTRIK 13Tangan bayangan raksasa itu tidak hanya mencengkeram kaki Alice; ia merembes ke dalam tekstur gaun putihnya, menodai kesucian data gadis kecil itu dengan tinta hitam pekat yang bergerak seperti minyak hidup.Alice, yang sebelumnya bermain-main dengan hukum fisika, kini memukul-mukul tangan hitam itu dengan pensil raksasanya."Lepas! Lepas! Ini kotor!" jerit Alice. Dia menggosokkan penghapusnya ke lengan bayangan itu.Wush.Bagian yang digosok menghilang menjadi putih. Tapi hanya sepersekian detik. Detik berikutnya, kegelapan itu tumbuh kembali lebih cepat, lebih pekat, dan lebih lapar."Kau tidak bisa menghapus bayangan dengan cahaya, Nak," suara Darrius menggema, berat dan parau, seolah datang dari dasar sumur terdalam. "Semakin terang kau bersinar, semakin gelap bayangannya."Tanah di depan bunker meledak. Bukan ledakan api, tapi ledakan gravitasi.Kaisar Darrius muncul.Dia tidak lagi terlihat seperti manusia. Kulitnya berwarna abu-
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-06
Chapter: Bab 227: Pangeran Gelandangan di Kota Tanpa HukumLOKASI: SEKTOR 88 – "THE NEON SLUMS" (PERBATASAN BENUA TIMUR)Langit di sini tidak pernah cerah. Awan polusi berwarna oranye menggantung rendah, meneteskan hujan asam yang mendesis saat menyentuh aspal.Di gang sempit di belakang sebuah restoran mie sintetik, udara beriak. Sebuah lubang dimensi terbuka, memuntahkan tiga sosok remaja.BRUK!Mereka tidak mendarat dengan gaya superhero. Mereka jatuh menimpa tumpukan kantong sampah basah yang baunya seperti campuran ikan busuk dan baterai bocor."Aduh..." Vee mengerang, mengusap wajahnya yang kini belepotan lumpur hitam. "Pendaratan terburuk dalam sejarah teleportasi. Rating bintang satu."Rick berguling, langsung mengecek Elara yang ada dalam pelukannya. Gadis itu masih pingsan, tapi napasnya stabil. Rick menghela napas lega, lalu mencoba duduk.Tulang punggungnya menjerit protes. Tanpa buff penyembuhan dari ibunya, rasa sakit akibat pertarungan melawan Ayahnya tadi mulai terasa nyata."Di mana kita?" tanya Rick, melihat sekeliling.Dind
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-06
Chapter: Bab 225: Jangan Hapus Adikku!LOKASI: BENGKEL RAHASIA "SCRAP YARD" – DISTRIK 13Pintu baja bunker setebal tiga puluh sentimeter itu tidak meledak. Pintu itu juga tidak meleleh.Pintu itu hanya... hilang.Satu detik pintu itu ada, detik berikutnya hanya ada lubang persegi sempurna yang menampilkan cahaya matahari sore yang menyilaukan. Dan di tengah cahaya itu, berdiri seorang gadis kecil dengan gaun putih dan tas beruang.Rick, Vee, dan Paman Krog membeku. Insting mereka berteriak bahwa predator puncak baru saja masuk ke kandang."Permisi," suara Alice lembut seperti lonceng. Dia melangkah masuk, menyeret pensil raksasanya yang berbunyi sreeet... sreeet... di lantai beton. "Aku mencari kakak-kakak nakal yang membuat server jadi panas."Vee, yang paling cepat bereaksi, langsung mengetikkan kode pertahanan di laptopnya."Firewall Lapis 10: Aktif! Turret Laser: Tembak!"Empat senapan mesin otomatis turun dari langit-langit, membidik Alice, dan melepaskan rentetan peluru laser.Alice tidak menghindar. Dia hanya mengan
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-06
Chapter: Bab 224: Logika Seorang Adik & Gadis Penghapus KotaLOKASI: BENGKEL RAHASIA "SCRAP YARD" – DISTRIK 13[TIME UNTIL REBOOT: 47:12:05]Angka merah di layar laptop Vee terus menghitung mundur, detiknya seirama dengan tetesan oli dari pipa bocor di langit-langit bunker."Hentikan waktu itu, Vee," perintah Rick. Dia duduk di tepi ranjang medis, menatap wajah pucat Elara. "Kau hacker terbaik di galaksi. Retas jamnya.""Aku tidak bisa meretas waktu server, Kak," jawab Vee tanpa menoleh dari layarnya. Jari-jarinya bergerak begitu cepat hingga terlihat kabur. "Dan berhenti berpikir kau adalah Tuhan hanya karena kau baru saja menghapus tiga satpam kroco."Vee memutar kursinya, menatap Rick dengan mata biru yang tajam—tatapan yang 100% mewarisi ketegasan Rania."Dengar. Tombol 'Delete'-mu itu hanya bekerja pada objek di dalam server. Tapi yang datang berikutnya... The Debugger... dia berasal dari luar sistem. Kau tidak bisa menghapusnya, sama seperti karakter game tidak bisa menghapus pemain yang memegang stik konsol.""Lalu kita harus apa? Menyer
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-03
Chapter: Bab 223: Retak dalam Matriks Keluarga LOKASI: RERUNTUHAN LABORATORIUM "ORIGIN" – PASCA-PEMBERSIHAN Keheningan yang menyusul setelah Rick menghapus para Sentinels terasa lebih memekakkan telinga daripada ledakan badai tadi. Salju turun dengan malas, menutupi lantai logam yang kini hangus dan pixelated. Rick masih berdiri memunggungi orang tuanya. Elara yang pingsan berada di dalam gendongannya—tubuh gadis itu terasa ringan, namun beban emosional yang dibawa Rick terasa seperti memikul seluruh planet Aethelgard. "Rick..." suara Darrius pecah. Kaisar itu mencoba melangkah maju. Tangannya yang masih memerah dan berasap akibat menahan laser tadi terulur, gemetar. "Bicaralah pada Ayah, Nak. Jangan menatap salju itu. Tatap Ayah." Rick tidak berbalik. "Untuk apa, Yah? Supaya Ayah bisa memastikan kalau 'Program' ini masih berjalan sesuai perintah?" "Hentikan omong kosong itu!" Darrius menggeram, tapi suaranya lebih terdengar seperti rintihan. "Kau bukan barisan kode bagiku! Kau adalah anak yang kupukuli bokongnya saat kau m
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-01
Chapter: Bab 222: Fragmen Memori yang MembekuLOKASI: PUNCAK FROSTBITE – GERBANG SEKTOR ZEROAngin kutub meraung, membawa serpihan es yang mampu menggores zirah baja. Di tengah badai putih yang membutakan, Rick bergerak seperti bayangan—cepat, senyap, dan penuh determinasi. Sensor panas di matanya menangkap siluet kecil yang meringkuk di balik reruntuhan pilar es.Elara.Gadis itu nyaris membeku. Rambut merahnya tertutup salju, dan napasnya pendek. Saat Rick mendarat, Elara mencoba menghunus belatinya, namun tangannya terlalu kaku untuk menggenggam hulu senjata.Tanpa sepatah kata, Rick melepas jubah pelindungnya dan membungkus tubuh Elara. Dia menarik gadis itu ke dalam dekapan dadanya yang bidang dan panas. Rick menyalurkan Mana api secara konstan, menciptakan gelembung hangat di tengah badai yang mematikan."Kau... kenapa kau ke sini?" bisik Elara, suaranya parau. "Ayahmu akan membunuhku jika dia tahu aku membawamu ke tempat terlarang ini.""Biarkan dia mencoba," jawab Rick datar. Tatapannya menatap lurus ke arah dinding gunun
ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-28
Chapter: Bab 26: Balapan dengan Fajar"Uhuk!" Suara batuk basah itu memecah keheningan kamar pengantin. Alya membekap mulutnya, namun cairan hangat merembes dari sela jari-jarinya. Ketika ia menarik tangannya, gaun pengantin putih gading itu kini ternoda oleh percikan merah yang mengerikan. Darah. Bukan darah dari luka luar, tapi darah dari dalam parunya yang mulai tergerus oleh Reflective Poison. "Alya?" Luciano terbangun seketika. Efek euforia masih menyelimuti otaknya, membuatnya merasa ringan dan bahagia, namun insting predatornya langsung menyala saat mencium bau amis darah yang keluar dari mulut istrinya. Ia bangkit, sedikit terhuyung, dan meraih bahu Alya. "Kau kenapa? Kau sakit?" Alya menatap Luciano dengan pandangan kabur. Wajah pria itu masih terlihat damai, senyum tipis masih terukir di bibirnya—efek racun yang Alya berikan. Rasa bersalah menghantam Alya lebih keras daripada rasa sakit di dadanya. "Aku... aku meracunimu, Luci," isak Alya, akhirnya pengakuan itu tumpah bersama darah di bibirnya. Tubuhnya m
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-03
Chapter: Bab 25: Malam yang MenyesatkanMalam di menara Mansion Jati terasa begitu sunyi, seolah-olah dunia di luar sana telah binasa dan hanya menyisakan ruangan megah ini sebagai satu-satunya tempat berlindung. Cahaya bulan yang dingin menembus jendela kaca raksasa, menyinari debu-debu halus yang menari di udara, memberikan kesan magis yang menipu pada kamar pengantin yang seharusnya menjadi saksi penyatuan dua jiwa. Alya berdiri di dekat jendela, masih mengenakan gaun pengantin putih gadingnya yang kini terasa seberat rantai besi. Ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berpacu kencang, bertarung dengan aroma bunga bakung yang baunya mulai memuakkan. Di belakangnya, Luciano duduk di tepi ranjang king size bersprei sutra hitam, jas tuxedo-nya sudah terlempar ke lantai dengan sembarangan. Pria itu tidak lagi berdiri seperti raksasa yang mengintimidasi. Bahunya merosot, kepalanya tertunduk, dan napasnya terdengar berat namun teratur—sebuah efek dari Euphoric Paralysis yang mulai menjalar ke pusat emosinya. "Alya..
ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-30
Chapter: Bab 24: Altar KematianLonceng kapel tua di sudut Mansion Jati berdentang lambat, suaranya menggema di antara batang-batang pohon jati yang bisu, terdengar lebih seperti lonceng perkabungan daripada lonceng pernikahan. Di dalam kapel, udara terasa begitu dingin hingga uap napas tipis keluar dari sela bibir Alya. Bau bunga bakung putih yang menghiasi setiap sudut ruangan terasa sangat mencekik, aroma kematian yang menyamar sebagai kesucian. Alya berdiri di ambang pintu besar kayu ek, gaun pengantin putih gadingnya yang menyapu lantai terasa seberat beban dosa klan Prawira yang kini harus ia pikul. Di ujung altar, Luciano berdiri tegak. Setelan jas hitamnya tampak kontras dengan latar belakang kapel yang pucat. Matanya yang tajam mengunci sosok Alya dengan pemujaan yang hampir gila—sebuah kemenangan absolut yang baru saja ia raih. Baginya, ini adalah penyatuan; bagi Alya, ini adalah eksekusi. Alya melangkah maju dengan kepala tegak. Di bawah sapuan lipstick merah yang sempurna, ia menyembunyikan lapisan for
ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-30
Chapter: Bab 23: Gaun Putih di Atas Noda DarahFajar di Mansion Jati tidak pernah terasa seindah ini, sekaligus semengerikan ini. Cahaya matahari yang pucat menyinari sisa-sisa kekacauan semalam—pecahan kaca yang sudah dibersihkan, namun noda darah yang seolah telah meresap permanen ke dalam pori-pori lantai marmer.Alya berdiri mematung di tengah kamar utama yang kini terasa seperti altar pengorbanan. Di sekelilingnya, empat orang wanita berpakaian hitam dengan wajah kaku bergerak seperti robot. Mereka bukan pelayan biasa; mereka adalah perias dan penjahit pribadi klan Prawira yang dikirim langsung oleh Luciano."Nona, tolong angkat dagu Anda sedikit," ucap salah satu wanita dengan suara tanpa nada.Alya mematuhinya. Bukan karena dia takut, tapi karena dia terlalu lelah untuk berdebat soal fisik. Di cermin besar di depannya, ia melihat sosok yang hampir tidak ia kenali. Gaun pengantin berwarna putih gading yang terbuat dari sutra terbaik membalut tubuhnya yang masih pucat. Gaun itu sangat indah, dengan sulaman perak yang membentu
ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-30
Chapter: Bab 22: Hutang Nyawa dan DarahLantai kamar itu terasa sedingin es, namun tubuh Luciano yang bersandar di pelukan Alya justru terasa seperti bara api yang siap meledak. Napas pria itu pendek, tersengal, dan setiap ototnya berkedut liar akibat serangan stimulan yang menghancurkan sistem sarafnya. Alya menatap wajah Luciano. Pria ini—putra dari orang yang merenggut segalanya darinya—kini berada di titik paling rapuh. Alya bisa saja membiarkannya. Ia bisa saja berdiri, melangkah pergi, dan membiarkan jantung Luciano berhenti berdetak di depan makam ibunya sendiri. Namun, bayangan foto polaroid tua dan tulisan tangan ibunya kembali terlintas. "Ibu akan menciptakan dunia di mana kau tidak perlu membunuh untuk hidup." "Kau berhutang nyawa padaku lagi, Luci," bisik Alya dengan suara yang dingin, hampir mati rasa. Alya tidak bisa menggunakan jarum. Setiap gesekan logam akan memicu kejang hebat pada saraf Luciano yang sedang hyper-sensitive. Ia menarik napas panjang, lalu mulai melakukan satu-satunya cara yang ia tahu: M
ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-30
Chapter: Bab 21: Di Ambang BatasKeheningan yang menyusul setelah pintu kamar dibanting dan dikunci otomatis terasa lebih menyesakkan daripada suara tembakan tadi. Bau mesiu dan darah masih menggantung tipis di udara, bercampur dengan aroma pembersih kimia yang baru saja disemprotkan oleh anak buah Luciano untuk melenyapkan jejak kematian di lantai marmer. Hanya ada mereka berdua. Di dalam sangkar emas yang kini terkunci rapat dari dunia luar. "Tuan... biarkan aku memeriksa lukamu," bisik Alya. Suaranya gemetar, namun insting perawatnya tetap mencoba berdiri tegak di tengah reruntuhan emosinya. Luciano tidak menjawab. Pria itu berdiri membelakangi Alya, tangannya mencengkeram pinggiran meja rias hingga kayu jati itu berderit protes. Punggungnya yang luas dan telanjang tampak berkeringat, otot-ototnya menegang seperti kawat baja yang ditarik hingga titik putus. "Tuan?" Alya mendekat selangkah. Tiba-tiba, Luciano berbalik dengan gerakan yang begitu cepat hingga Alya tidak sempat berkedip. Dalam sekejap, Lucian
ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-30

Pelakor Pilihan Mertua
Lima tahun lalu, aku pikir menikahi Bramantyo Haryadi adalah akhir dari dongengku. Aku, Arini Widjaja, seorang arsitek dari keluarga biasa, berhasil memenangkan hati putra mahkota Haryadi Group. Kubangun rumah tangga kami di atas fondasi cinta yang kupikir kokoh, mengabaikan tatapan dingin ibu mertuaku, Lidya, yang tak pernah menganggapku pantas.
Selama lima tahun, aku bertahan dalam istana megah yang terasa seperti sangkar emas. Namun, surga kecil yang kubangun mulai runtuh. Bram semakin dingin, pelukannya tak lagi hangat, dan puncaknya, di malam ulang tahun pernikahan kami, aku menemukan bukti pengkhianatannya.
Bram tidak hanya mengkhianatiku, tetapi wanita itu adalah Renata Sastranegara, pilihan sempurna yang selalu disiapkan ibunya. Perselingkuhan ini bukan sekadar nafsu sesaat; ini adalah konspirasi terencana untuk menyingkirkanku. Mereka pikir aku akan hancur dan menyerah. Mereka salah. Jika pernikahan ini adalah medan perang, aku tidak akan pergi sebelum memastikan benteng yang coba mereka rebut dariku, hancur lebur bersama mereka.
อ่าน
Chapter: BAB 23: EPILOG — ARSITEK TAKDIRNYA SENDIRIenam Bulan Kemudian.Aroma kopi yang baru digiling dan suara dengung percakapan yang hidup memenuhi udara di Kafe Skena. Tempat ini bukan lagi sekadar ruko tua yang direnovasi; ini telah menjadi jantung baru bagi komunitas kreatif Jakarta Selatan. Dan di sudut favoritku, di bawah skylight yang terbuka, aku duduk menyesap latte pagiku.Bukan sebagai Nyonya Haryadi yang menunggu suami pulang. Tapi sebagai Arini Widjaja, Pemilik dan Arsitek Utama dari AW Studio.Di layar televisi yang menggantung di dinding kafe, berita pagi sedang menayangkan liputan langsung dari Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Headline-nya mencolok dengan warna merah: VONIS DIJATUHKAN: LIDYA HARYADI DIVONIS 8 TAHUN PENJARA.Aku melihat wajah Lidya di layar itu. Rambutnya yang dulu disanggul sempurna kini tampak kusam, uban mulai terlihat di pelipisnya. Wajahnya yang angkuh telah runtuh, digantikan oleh kerutan kelelahan dan kekalahan. Ia berjalan menunduk menghindari kamera, dikawal ketat oleh polisi. Tidak ada lag
ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-01
Chapter: BAB 22: RUNTUHNYA SEBUAH DINASTIGrand Ballroom Hotel Mulia berkilauan di bawah cahaya ribuan kristal chandelier. Ini adalah panggung yang dirancang Lidya Haryadi dengan sempurna: karpet merah tebal, rangkaian bunga lili putih yang megah, dan barisan kursi yang diduduki oleh para pemegang saham, direksi, keluarga Sastranegara, serta puluhan awak media.Di podium, Lidya berdiri tegak dalam balutan gaun sutra emas, tampak seperti ratu yang tak tersentuh. Di sampingnya, Bramantyo duduk dengan senyum kaku, sementara Renata duduk di barisan depan, tersenyum bangga sebagai calon nyonya besar.Dari balik pintu ganda di belakang ballroom, aku mengamati mereka melalui celah kecil. Jantungku berdetak tenang, setenang detak jam yang menghitung mundur kehancuran mereka."Siap?" tanya Dian di sampingku. Di belakang kami berdiri Pak Herman yang merapikan jas barunya dengan gugup, dan Pak Handoko—pria paruh baya dengan rahang tegas yang mirip sekali dengan almarhum ayah mertuaku."Ayo kita akhiri ini," jawabku.Di dalam, suara Lidy
ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-01
Chapter: Bab 21 keheningansatu bulan berlalu. Strategi "Keheningan" kami bekerja lebih efektif daripada yang kami bayangkan.Sementara pengacara Lidya sibuk menunda-nunda sidang perceraian dengan berbagai alasan prosedural—berharap aku kehabisan uang dan mental—aku justru sibuk di tempat lain. Aku tidak muncul di TV untuk menangis. Aku tidak membalas komentar nyinyir di media sosial. Aku menghilang dari radar gosip dan muncul kembali di radar yang sama sekali berbeda: radar arsitektur.Malam ini adalah soft opening Kafe Skena.Bangunan ruko tua yang dulu kumuh di Senopati itu kini telah bertransformasi. Fasad bata eksposnya dipertahankan, dipadukan dengan kaca frameless setinggi dua lantai yang memamerkan interior industrial yang hangat. Atap skylight yang bisa dibuka kini terbuka lebar, membiarkan udara malam Jakarta masuk, menyatu dengan aroma kopi arabika yang baru digiling.Dan di tengah ruangan, mezzanine baja ringan yang kurancang benar-benar tampak melayang, dipenuhi pengunjung yang terkagum-kagum."Jen
ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-01
Chapter: BAB 20: DURI DI BALIK BERITAKemarahanku sedingin baja.Aku berhasil mempertahankan ketenanganku di depan Reza. Kami menghabiskan satu jam berikutnya—yang terasa seperti selamanya—membahas detail teknis renovasi kafe. Aku memaksakan otakku untuk fokus pada denah, material, dan struktur baja ringan. Setiap kali bayangan foto pertunangan itu melintas di benakku—Bram yang tersenyum palsu, Renata yang menang, Lidya yang angkuh—aku menariknya kembali dengan paksa. Aku tidak akan memberi Lidya kepuasan dengan hancur di saat aku baru memulai langkah pertamaku.Aku tidak ingat bagaimana aku mengucapkan selamat tinggal pada Reza. Aku hanya ingat berjalan kaku menuju mobilku, buku sketsa dan pensil di tanganku terasa seperti timah yang berat. Begitu pintu mobil tertutup, aku tidak langsung menyalakan mesin. Aku duduk diam di dalam keheningan yang memekakkan, menatap setir.Ini bukan lagi perzinaan. Ini adalah eksekusi publik.Tanganku mulai gemetar, getaran kecil yang merambat dari jemariku ke lengan, lalu ke seluruh tubuh
ปรับปรุงล่าสุด: 2025-10-29
Chapter: BAB 19: PROYEK KOPI SKENASesuai janjiku pada Reza, dua hari kemudian aku berada di Senopati. Bukan di restoran mewah, tapi di depan sebuah ruko tua berlantai dua yang tampak kumuh. Catnya mengelupas, jendelanya kotor, dan terasnya dipenuhi gulma. Ini adalah lokasi kafe "ikonik" yang dimaksud Reza. Mimpi buruk sekaligus kanvas yang sempurna.Aku menarik napas dalam-dalam, mencium aroma debu, cat lama, dan tanah basah. Anehnya, aku merasa hidup. Aku mengeluarkan meteran dari tasku, buku sketsaku, dan sebuah pensil. Selama lima tahun, tanganku hanya menyentuh layar tablet untuk mendesain paviliun atau merenovasi kamar tamu di istana Lidya. Ini adalah pekerjaan lapangan pertamaku yang sesungguhnya.Aku sedang mengukur lebar fasad depan, mencatat struktur bata ekspos yang tersembunyi di balik plester yang hancur, ketika sebuah suara familier terdengar dari belakangku."Kukira Nyonya Haryadi sudah lupa cara memegang meteran."Aku berbalik tanpa tersenyum. Reza Adhitama bersandar di mobil Jeep Rubicon-nya yang gagah
ปรับปรุงล่าสุด: 2025-10-29
Chapter: BAB 18: REAKSI SANG RATU DAN PIONNYADi puncak Haryadi Tower, di dalam kantor CEO yang dilapisi panel kayu mahoni dan kaca, Bramantyo Haryadi menatap amplop cokelat besar di mejanya seolah itu adalah seekor ular berbisa. Stempel dari firma hukum Dian terpampang jelas di sudut kiri atas.Ia membukanya dengan tangan yang sedikit gemetar.Beberapa lembar kertas ia keluarkan. Matanya memindai baris demi baris kalimat hukum yang kaku. Semakin ia membaca, semakin pucat wajahnya.*Perzinaan...**...dengan pihak ketiga bernama Renata Sastranegara...**...upaya penggelapan aset pernikahan...**...griya tawang di SCBD atas nama Lidya Haryadi...*"Sialan!" teriaknya, menyapu kertas-kertas itu dari mejanya. Gelas kristal di sudut meja ikut tersenggol dan jatuh ke lantai karpet tebal, isinya yang tersisa tumpah tanpa suara.Dia pikir Arini hanya pergi untuk "menenangkan diri". Dia pikir ini adalah pertengkaran suami-istri biasa yang akan selesai dengan permintaan maaf dan hadiah mahal. Dia tidak pernah menyangka Arini akan *berani* m
ปรับปรุงล่าสุด: 2025-10-29