Home / Mafia / Jerat Obsesi Tuan Mafia / Bab 27: Jatuh ke Dalam Biru

Share

Bab 27: Jatuh ke Dalam Biru

Author: Murufu
last update Last Updated: 2026-01-21 21:23:30
Waktu seolah membeku.

Mata Alya terpaku pada tabung kaca kecil yang melayang di udara. Cahaya matahari fajar yang baru menyingsing memantul pada cairan biru neon di dalamnya, membuatnya berkilau seperti pecahan bintang yang jatuh dari langit. Tabung itu berputar lambat—sangat lambat—di atas permukaan laut yang gelap dan bergelombang.

Itu adalah nyawa. Itu adalah satu-satunya hal yang bisa memisahkan mereka dari kematian.

"JANGAN!" Teriakan Luciano terdengar jauh, teredam oleh deburan ombak ya
Murufu

Author Note: Halo... aku ngetik ini sambil nahan napas beneran. 😭 Adegan underwater kiss itu... sumpah, itu adegan paling intim yang pernah aku tulis. Luciano rela mati demi Alya nelen obat itu. Dan sekarang jantungnya berhenti?! 🚑 Tapi pertanyaannya: Setelah mati suri ini, apakah Luciano yang bangun nanti masih Luciano yang sama? Atau kerusakan otaknya bikin dia lupa segalanya? Atau malah jadi lebih gila? Komentar dong: Kalian Tim Luciano Amnesia atau Tim Luciano Balas Dendam? 👇

| Like
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 28: Detak yang Hilang

    "TARIK MEREKA! CEPAT!" Suara teriakan Rian terdengar seperti guntur di telinga Alya yang berdengung. Tangan-tangan kekar menarik tubuhnya dari air laut yang dingin, melemparnya ke geladak speedboat yang keras. Alya terbatuk hebat, memuntahkan air asin yang membakar tenggorokannya. Namun, matanya tidak peduli pada rasa sakitnya sendiri. Ia merangkak, menyeret gaun pengantinnya yang basah dan berat, menuju tubuh kaku yang baru saja diletakkan di sebelahnya. Luciano terbaring diam. Terlalu diam. Wajahnya pucat pasi, bibirnya membiru, dan mata elang yang biasanya mengintimidasi itu kini terpejam rapat. Tidak ada gerakan dada. Tidak ada napas. "Tuan!" Salah satu pengawal elit Luciano mengguncang bahu bosnya dengan panik. "Tuan tidak bernapas! Kita harus segera ke rumah sakit!" "MINGGIR!" Alya mendorong pengawal bertubuh besar itu dengan kekuatan yang entah datang dari mana. Ia bukan lagi gadis tawanan yang takut. Di atas kapal yang berguncang membelah ombak itu, ia adalah satu

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 27: Jatuh ke Dalam Biru

    Waktu seolah membeku. Mata Alya terpaku pada tabung kaca kecil yang melayang di udara. Cahaya matahari fajar yang baru menyingsing memantul pada cairan biru neon di dalamnya, membuatnya berkilau seperti pecahan bintang yang jatuh dari langit. Tabung itu berputar lambat—sangat lambat—di atas permukaan laut yang gelap dan bergelombang. Itu adalah nyawa. Itu adalah satu-satunya hal yang bisa memisahkan mereka dari kematian. "JANGAN!" Teriakan Luciano terdengar jauh, teredam oleh deburan ombak yang menghantam tiang dermaga. Tanpa berpikir, tanpa menimbang risiko, tubuh Alya bergerak sendiri. Insting bertahan hidupnya berteriak, bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk menyelamatkan kesempatan terakhir Luciano. Alya melompat. Gaun pengantin putihnya yang berat berkibar sesaat di udara sebelum gravitasi menariknya ke bawah. BYUR! Dingin yang menusuk tulang langsung menyergap Alya begitu tubuhnya menembus permukaan air laut. Air asin masuk ke hidung dan mulutnya, rasanya perih. Namun,

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 26: Balapan dengan Fajar

    "Uhuk!" Suara batuk basah itu memecah keheningan kamar pengantin. Alya membekap mulutnya, namun cairan hangat merembes dari sela jari-jarinya. Ketika ia menarik tangannya, gaun pengantin putih gading itu kini ternoda oleh percikan merah yang mengerikan. Darah. Bukan darah dari luka luar, tapi darah dari dalam parunya yang mulai tergerus oleh Reflective Poison. "Alya?" Luciano terbangun seketika. Efek euforia masih menyelimuti otaknya, membuatnya merasa ringan dan bahagia, namun insting predatornya langsung menyala saat mencium bau amis darah yang keluar dari mulut istrinya. Ia bangkit, sedikit terhuyung, dan meraih bahu Alya. "Kau kenapa? Kau sakit?" Alya menatap Luciano dengan pandangan kabur. Wajah pria itu masih terlihat damai, senyum tipis masih terukir di bibirnya—efek racun yang Alya berikan. Rasa bersalah menghantam Alya lebih keras daripada rasa sakit di dadanya. "Aku... aku meracunimu, Luci," isak Alya, akhirnya pengakuan itu tumpah bersama darah di bibirnya. Tubuhnya m

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 25: Malam yang Menyesatkan

    Malam di menara Mansion Jati terasa begitu sunyi, seolah-olah dunia di luar sana telah binasa dan hanya menyisakan ruangan megah ini sebagai satu-satunya tempat berlindung. Cahaya bulan yang dingin menembus jendela kaca raksasa, menyinari debu-debu halus yang menari di udara, memberikan kesan magis yang menipu pada kamar pengantin yang seharusnya menjadi saksi penyatuan dua jiwa. Alya berdiri di dekat jendela, masih mengenakan gaun pengantin putih gadingnya yang kini terasa seberat rantai besi. Ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berpacu kencang, bertarung dengan aroma bunga bakung yang baunya mulai memuakkan. Di belakangnya, Luciano duduk di tepi ranjang king size bersprei sutra hitam, jas tuxedo-nya sudah terlempar ke lantai dengan sembarangan. Pria itu tidak lagi berdiri seperti raksasa yang mengintimidasi. Bahunya merosot, kepalanya tertunduk, dan napasnya terdengar berat namun teratur—sebuah efek dari Euphoric Paralysis yang mulai menjalar ke pusat emosinya. "Alya..

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 24: Altar Kematian

    Lonceng kapel tua di sudut Mansion Jati berdentang lambat, suaranya menggema di antara batang-batang pohon jati yang bisu, terdengar lebih seperti lonceng perkabungan daripada lonceng pernikahan. Di dalam kapel, udara terasa begitu dingin hingga uap napas tipis keluar dari sela bibir Alya. Bau bunga bakung putih yang menghiasi setiap sudut ruangan terasa sangat mencekik, aroma kematian yang menyamar sebagai kesucian. Alya berdiri di ambang pintu besar kayu ek, gaun pengantin putih gadingnya yang menyapu lantai terasa seberat beban dosa klan Prawira yang kini harus ia pikul. Di ujung altar, Luciano berdiri tegak. Setelan jas hitamnya tampak kontras dengan latar belakang kapel yang pucat. Matanya yang tajam mengunci sosok Alya dengan pemujaan yang hampir gila—sebuah kemenangan absolut yang baru saja ia raih. Baginya, ini adalah penyatuan; bagi Alya, ini adalah eksekusi. Alya melangkah maju dengan kepala tegak. Di bawah sapuan lipstick merah yang sempurna, ia menyembunyikan lapisan for

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 23: Gaun Putih di Atas Noda Darah

    Fajar di Mansion Jati tidak pernah terasa seindah ini, sekaligus semengerikan ini. Cahaya matahari yang pucat menyinari sisa-sisa kekacauan semalam—pecahan kaca yang sudah dibersihkan, namun noda darah yang seolah telah meresap permanen ke dalam pori-pori lantai marmer.Alya berdiri mematung di tengah kamar utama yang kini terasa seperti altar pengorbanan. Di sekelilingnya, empat orang wanita berpakaian hitam dengan wajah kaku bergerak seperti robot. Mereka bukan pelayan biasa; mereka adalah perias dan penjahit pribadi klan Prawira yang dikirim langsung oleh Luciano."Nona, tolong angkat dagu Anda sedikit," ucap salah satu wanita dengan suara tanpa nada.Alya mematuhinya. Bukan karena dia takut, tapi karena dia terlalu lelah untuk berdebat soal fisik. Di cermin besar di depannya, ia melihat sosok yang hampir tidak ia kenali. Gaun pengantin berwarna putih gading yang terbuat dari sutra terbaik membalut tubuhnya yang masih pucat. Gaun itu sangat indah, dengan sulaman perak yang membentu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status