MasukNamaku Alina Nigel, aku berasal dari desa sudah menikah dengan suamiku selama 7 tahun. Aku dan suamiku hidup sangat bahagia, suamiku Nolan Anjasmara sangat baik dan penyayang, semua kebahagiaan itu hilang sampai seorang pebinor merusak pernikahan bahagia kami. "Bukankah Presdir Kai bisa mencari wanita yang cantik dan masih lajang?" Sebuah pertanyaan yang mengganjal dalam benakku seraya menatap wajahnya yang tampan. Presdir. Kaiden Yeshua menatapku dengan tatapan dalam, "Kamu memang seharusnya menjadi milikku Alina. Sebenarnya suamimu tidak sebaik yang kamu lihat, diam-diam dia sudah menghamili wanita lain." Aku langsung menampar Presdir Gila itu, dan pergi meninggalkannya begitu saja.
Lihat lebih banyakAlina Nigel membuka matanya, ia terkejut saat mendapati dirinya berada di tempat asing.
Kepalanya berdenyut, ia berusaha melihat dengan jelas siapa pria yang sekarang ini menindihnya, mengingat suaminya Nolan Anjasmara tidak pernah menggunakan parfum beraroma kayu yang manis. "Presdir Kai ... " celetuk Alina, setelah dirinya bisa melihat dengan jelas, tampang pria yang menindihnya. "Kenapa? Bukankah semalam kamu memintaku untuk memuaskan mu beberapa kali?" ujar Kai dengan senyuman ambigu. Alina memegang kepalanya, sontak ingatan semalam terus berputar di kepalanya. "Nggak mungkin ... " ujar Alina, tapi suaranya berganti dengan suara desahan, karena Kai dengan semangat menciumi lehernya. "Pak Presdir, tolong berhenti. Tindakan kita berdua itu salah, saya sudah punya suami dan anda sudah punya tunangan," pinta Alina dengan suara polos. Kai tersenyum tipis mendengar ucapan Alina, tak kuasa menahan geli. Dengan lembut, ia mengangkat rambut Alina, ingin memastikan tanda lahir besar di leher wanita itu. Setelah memastikan dengan jelas, Kai mencium dada Alina, lalu perlahan mengalihkan pandangannya ke seluruh tubuhnya. "Apakah selama setahun ini suamimu, Nolan, tidak pernah menyentuhmu lagi?" tanya Kai dengan senyum yang sulit ditebak. Ekspresi Alina berubah seketika. Sudah setahun terakhir, suaminya memang jarang pulang dan tak lagi menyentuhnya. Namun, Alina memilih untuk tidak terlalu berpikir negatif. Ia tahu, dirinya bekerja di perusahaan utama milik Kai, sementara Nolan sebagai asisten pribadi Kai mengemban tugas di perusahaan cabang. Jadwal suaminya di sana pun tak pernah pasti. Setelah puas menciumi seluruh tubuh Alina, Kai kembali menyentuhnya guna menuntaskan hasratnya. Kai nampak bergairah dan bersemangat, Alina sendiri sampai di buat kewalahan. Awalnya Alina berniat untuk menolak, tapi ia tahu Kai tidak akan pernah melepaskannya setelah puas. Mengingat tenaga wanita dan pria jauh berbeda, Alina memilih pasrah membiarkan Kai sendiri lelah dan melepaskan dirinya. ** Keesokan paginya, Alina bangun dengan tubuh yang remuk. Ia masih mengira jika hal yang dilakukan oleh Kai kemarin hanya mimpi, sampai suara bariton pria itu membuat kesadarannya kembali. "Sudah bangun?" tanya Kai. Sontak Alina menoleh menatap pria tinggi, besar nan kekar itu. "Presdir," celetuk Alina. Kai hanya mengangguk, lalu berkata, "Kamu pasti lapar. Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu, hari ini dan besok aku akan memberikanmu cuti." Alina menatap Kai dengan tatapan tidak percaya, pria yang biasanya bersikap sangat dingin dan irit bicara itu tiba-tiba berbicara dengan nada lembut dan perhatian padanya. Ia ingin bangkit berdiri, tapi teringat kalau dirinya sekarang ini tanpa sehelai benang. Ingatannya kembali memutarkan adegan beberapa waktu lalu dimana Presdir Gila itu dengan penuh hasrat merobek pakaiannya. Ia memilih duduk, seraya menutup bagian tubuhnya dengan selimut. Kai yang merasa Alina tidak segera bangun dari ranjang, lantas melirik sekilas ke arah wanita itu. Melihat ekspresi Alina yang masih bingung, Kai bisa menebak apa yang di pikirkan Alina sekarang ini. Kai yang sudah berpakaian rapi dengan setelan kerjanya yang mahal tanpa menatap Alina kembali berkata, "Aku sudah membelikan setelan baju untukmu. Kamu bisa mengambilnya, ada disisi ranjang sebelah kiri." Setelah mengatakan hal itu, Kai duduk dengan tenang di kursi makan yang ada di dalam kamar itu. Ia dengan tenang makan disana tanpa memperdulikan Alina yang berguling kesana kemari untuk menuju paperbag yang berada lumayan jauh dari jarak ia duduk. Setelah bisa mengambil paper bag itu tanpa memperlihatkan bagian dalam tubuhnya, Alina ingin bangkit menuju kamar mandi. Tapi sayang, tidak ada handuk atau pun kain yang bisa ia gunakan untuk menutupi tubuhnya. Hanya ada selimut tebal yang membungkus tubuhnya, misalkan dia berjalan menuju kamar mandi dengan membungkus tubuhnya dengan selimut itu. Tentu saja itu bukanlah rencana yang baik, karena selain membuatnya kesulitan berjalan takutnya ia akan terjatuh jika kakinya tak sengaja menginjak ujung selimut itu, bukankah hal itu malah akan membuatnya semakin terlihat konyol? Saat Alina sedang berpikir keras, bagaimana caranya berjalan menuju kamar mandi. Kai berkata dengan tenang, "Aku sudah melihat seluruh bagian tubuhmu. Nggak ada yang perlu kamu tutupi!?" Alina sontak tersenyum canggung seraya menatap Kai. Kai mengabaikannya, tanpa mengucapkan sepatah kata, Alina berlari menuju kamar mandi tanpa sehelai benang. Setelah 15 menit berlalu, Alina menekan rasa malunya dan berusaha bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Ia duduk di kursi didepan Kai, seraya berkata dengan nada yang begitu rendah. "Terimakasih banyak Pak presdir, tanpa bantuan anda kemarin. Mungkin saya bisa mati karena obat perangsang dosis tinggi itu." Kai hanya menjawab dengan deheman, lalu menyerahkan obat kepada Alina. "Makan ini, lalu minum obatnya setelah makan." Alina menerima obat itu, setelah membacanya sekilas. Ia mengembalikan obatnya lagi pada Kai. "Saya tidak butuh ini. Saya yakin saya tidak akan hamil," ujarnya. Lalu ia mulai menyendok dan memasukkan makanan didepannya tanpa rasa canggung. Mata Kai menyipit tajam. "Apakah kamu berniat menceraikan Nolan dan mengandung anakku?" Alina mendongakkan kepala, tersenyum canggung ke arah Kai. "Pak Presdir, sepertinya anda berpikiran terlalu jauh." Setelah itu, wajah Alina nampak menunjukkan ekspresi serius. "Saya memang tidak mungkin hamil, meski belum pernah periksa. Tapi saya tahu suami saya sudah memeriksakan dirinya. Seratus persen dia normal. Setelah tujuh tahun menikah, kami belum dikaruniai anak." "Tapi Nolan tidak masalah dengan kondisiku. Anak bukan prioritas utama. Jadi tenang saja, Pak Presdir! Saya tidak mungkin hamil anakmu." "Anggap saja apa yang terjadi kemarin hanya sebuah kesalahan. Saya harap kamu tidak akan mengungkitnya lagi." Setelah berkata demikian, Alina bangkit dan bergegas pergi. Tapi saat langkahnya sudah sampai di pintu, tiba-tiba tangannya di tarik dan tubuhnya di dorong lembut ke dinding. "Sayangnya aku akan terus mengungkitnya, kamu sudah mengambil keperjakaan ku, dan kamu harus bertanggung jawab," ujar Kai dengan nada serius. Alina menatap bola mata biru Kai, ia ingin melihat sorot bercanda dari sana. Tapi atasannya itu memang serius. Ia berusaha mencairkan suasana dan berbicara dengan nada bercanda, "Pak Presdir, tolong jangan bercanda. Saya sudah menikah, jangan melakukan hal di luar moral." Kai menatap Alina dengan tatapan serius. "Sayangnya aku nggak bercanda." Pupil mata Alina membulat sempurna. Ia sangat terkejut dengan jawaban Kai. "Bukankah Presdir Kai bisa mencari wanita yang cantik dan masih lajang?" Sebuah pertanyaan yang mengganjal dalam benak Alina, tatapanya terus menatap wajah Kai yang tampan, bahkan lebih tampan dari suaminya. Kaiden Yeshua melanjutkan ucapannya, "Kamu memang seharusnya menjadi milikku Alina. Sebenarnya suamimu tidak sebaik yang kamu lihat, diam-diam dia sudah menghamili wanita lain." Ucapan Kai bagaikan petir di siang bolong bagi Alina.Jika Risma nampak terpukul dengan kematian ibunya, hal berbeda dengan Nolan. Ia malah merasa lega, akhirnya ibunya yang hidup penuh beban dan tidak memiliki pilihan memilih mengakhiri hidupnya. Nolan adalah saksi hidup untuk semua penderitaan yang di alami ibunya, dulu Nolan pernah menawarkan ibunya untuk pergi meninggalkan keluarga Anjasmara. Tapi kakek Tora mengancam akan menyakiti Risma, dan akan membuat Rita menjadi kambing hitam atas semua masalah pelik yang terjadi di keluarga Anjasmara. Rita akan menanggung semua konsekuensi atas meninggalnya kedua orang tua Alina, Rita tentu saja tidak bisa menanggung semua itu. Karena dirinya sendiri memiliki tanggung jawab untuk membesarkan Nolan dan Rita. Dalam kehidupan ini, semua orang mencari aman. Hanya bisa mengambinghitamkan orang yang lemah. Sementara itu, di tempat lain. Alina terdiam di pelukan Dika, tubuhnya terbalut dalam gelap yang remang-remang dari lampu landasan. Posisi tubuhnya seperti karung beras, tak berdaya dan
Vino tahu benjolan itu tumbuh di titik rahim yang sulit untuk dioperasi. Karena itu, ia tidak menjawab ucapan Kaiden. Sebagai dokter kandungan, Vino paham bahwa peluang Risma untuk selamat atau bisa hamil lagi setelah operasi sangat kecil. Jika rahimnya diangkat, operasi dengan tingkat keberhasilan lebih tinggi, Vino ragu istrinya mau menerima keputusan itu, mengingat Risma adalah sosok yang keras kepala. Tak lama kemudian, Nolan keluar dari ruangan dengan ekspresi wajah yang begitu sedih. Kaiden menatap Vino seolah bertanya, apakah Nolan sedih karena mengetahui penyakit Risma, ataukah karena hal lain seperti Alina.Namun Vino hanya mengangkat bahu, karena ia tidak tahu apa yang sedang dibicarakan kakak beradik itu.Nolan menatap Kaiden dengan mata yang penuh pergulatan. Ia masih tidak mempercayai semua kenyataan ini, atau mimpi buruk yang tak kunjung usai? Kaiden, yang selama ini dianggapnya temannya sendiri, ternyata menjadi sosok yang merusak rumah tangganya sebagai selingku
Kaiden melangkah tergesa-gesa menaiki tangga menuju lantai paling atas rumah sakit, napasnya memburu dan dada sesak oleh kekhawatiran yang membakar. Setiap detik terasa seperti jarum tajam menusuk hati ketika namanya terucap lirih, "Alina …" Suaranya bergetar, menyiratkan ketakutan yang jarang tampak di balik sosok tegas dan dinginnya. Begitu langkahnya mendekati ruangan Alina, pemandangan yang dia temui membuat darahnya hampir membeku. Empat bodyguard andalannya tergeletak tak berdaya di sudut ruangan, wajah mereka berkerut menahan sakit, sementara keenam bodyguard yang bersembunyi lenyap tanpa jejak, meninggalkan ruang sunyi yang tak beraturan. Kaiden melangkah cepat ke arah ranjang, harapan terakhirnya menatap sosok Alina yang selalu jadi alasan di balik segala keberaniannya. Namun yang tersisa hanyalah kasur kosong dan sunyi yang membelit dada. Kepalan tangannya mengepal kuat, suara geram keluar dari bibirnya, "Sial!" Matanya menyala penuh kemarahan sekaligus ketakutan
"Ah ... " Desah Alina. Dika menjambak rambut Alina, lalu berbisik, "teruslah mendesah. Akhirnya kamu menunjukan wajah aslimu yang binal itu." Kesadaran Alina kembali, walupun sedikit. Ia mengigit bibirnya keras-keras, walaupun hanya kesadaran samar. Ia tetap harus mempertahankannya. "Kaiden tolong aku!" Gumam Alina tanpa sadar. Untungnya Dika tidak mendengarnya. Alina merasakan denyut yang semakin kuat di seluruh tubuhnya setelah berusaha menahannya, suntikan perangsang dari Dika memiliki efek lain. Semakin di tahan, akan semakin terangsang. Napasnya memburu, matanya berkaca-kaca, dan tangan-tangannya gemetar saat ia hampir melepas kancing bajunya yang putih tipis. Namun, tepat saat jarinya menyentuh kancing itu, tangan Dika tiba-tiba menahan gerakannya dengan kuat. Tatapan Dika berubah tajam, penuh kewaspadaan, lalu ia mengalihkan pandangannya ke arah kursi depan dengan wajah tegang. "Hentikan mobilnya, kalian keluar dulu!" perintah Dika tanpa kompromi. Putra dan A






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan