로그인Jika hatinya sebuah rumah, maka aku hanyalah tamu dan Inara pemilik sebenarnya. Aku tamu yang di undang, dan Inara pemilik rumah yang tak diharapkan
더 보기(Jika hatinya sebuah rumah, maka aku hanyalah tamu, dan Inara adalah pemilik sebenarnya.
Aku tamu yang diundang, sedangkan Inara pemilik rumah yang tak diharapkan)
Namaku Gendhis. Orang bilang kulitku hitam, perawakanku agak berisi. Dan ingat, aku hanya sedikit berisi. Tubuhku lebih pendek beberapa senti dari teman-teman sebayaku.
Kalau kalian bertanya, apa kelebihanku? Kelebihanku adalah aku tak pandai berbohong. Kejujuran juga yang membawaku pada kisah ini. Kisah tentang aku dan cintaku. Cinta pilihan Bapak.
Usiaku dua puluh tahun, dan aku sudah bersuami. Ya, sebulan yang lalu aku menikah dengan pemuda tampan pilihan Bapak.
Witing tresno jalaran soko kulino, begitu pepatah jawa bilang. Cinta tumbuh karena terbiasa.
Aku sekarang sedang mencoba untuk 'kulino'. Terbiasa.
Terbiasa dengan diamnya suamiku. Terbiasa dengan sosoknya yang tiap malam tidur di sampingku. Tidur dalam arti sebenarnya. Karena madu pernikahan belum pernah sekalipun ku kecap.
Ini kisahku. Kisah tentang cintaku. Tentang waktu. Tentang bentangan jarak pemisah hati yang memang seharusnya tak bersatu.
Rasa tak percaya diri muncul. Apa bentuk tubuhku berubah mengerikan? Apa lemak yang mengiringi kehamilanku membuat hasratnya lebur?Lagi-lagi aku patah.Kuputuskan untuk mengunci pintu, dan menangis diam-diam. Berusaha meredam amarah agar tak salah arah.Duduk diam dan membiarkan air mata mengalir begitu saja.Hampir tengah malam seseorang mencoba membuka pintu. Aku tetap diam. Tak berusaha bangun untuk membukanya.Saat ini aku ingin sendiri. Berdamai dengan rasa yang menyakitiku.***"Kenapa p
Hari-hari selanjutnya kulalui dengan normal. Tidak ada yang mengusikku, selain Mas Bayu.Lelaki itu nyaris setiap saat memintaku kembali ke rumah. Sayangnya aku masih merasa nyaman disini. Rumah Diana yang sudah dibeli suamiku dengan harga fantastis.Diana bahkan mampu membeli rumah lain yang lebih besar dan juga liburan ke luar kota. Aku tidak akan melupakan saat Mas Bayu juga menjanjikan sebuah toko kue lengkap dengan karyawan untuknya.Entahlah, aku tak tahu apa yang ada di dalam pikiran suamiku itu. Terlalu mudah menghamburkan uang.Sepertinya setelah kepergianku, dia berubah bekerja keras hingga lupa waktu. Mungkin itu caranya untuk melupakan aku. Menurut Inara, harta Mas Bayu tak akan
"Kamu mau makan apa?" tanya Mas Bayu. Tatapannya tak beralih dari jalan raya yang padat ileh kendaraan."Tidak," jawabku pelan."Anakku, apa dia tidak lapar?" Kali ini Mas Bayu menatapku sebentar.Rasa hangat kembali memenuhi dadaku. Aku tersenyum. Semudah itu membuatku bahagia."Kenapa?""Hmm? Kenapa apanya?" Aku menoleh. Mengamati tangan kekarnya yang memegang setir."Kamu, senyum-senyum begitu.""Nggak boleh?" rajukku.Mas Ba
Tidak apa?" Aku masih mencoba mencari kepastian.Mas Bayu masih berdiri tegak. Tak menoleh, juga tak menyahut. Dengan cepat kulempar bantal ke arahnya.Hanya terdengar helaan nafas darinya. Aku hampir putus asa. Sikapnya semakin mambuatku yakin pada apa yang kupikirkan. Pak Mahmud telah meninggal."Aku ikut," putusku cepat.Ternyata ucapanku kali ini menimbulkan reaksi. Dia berbalik dan memandangku. Aku berdiri dan segera meraih jaket untuk menutupi piyama yang kukenakan. Selanjutnya aku menabrak lengannya untuk keluar menuju kamar mandi."Ndhis!"Seruannya tak kuhiraukan. Dengan cepat aku mencuci muka dan menggosok gigi. Tak lupa kuikat rambut menyerupai gaya ekor kuda."Ayo," ajakku."Kamu di rumah saja." Dia masih berusaha membujuk."Tidak. Aku ikut atau kamu tidak akan pernah bisa menemukanku lagi. Aku akan pergi," ancamku."Bagaimana bisa kamu pergi, sedangkan dun
Tanganku gemetar, banyak tanya menumpuk di pikiranku. Bagaimana bisa bapak menyimpan foto Dilara? Apa hubungan bapak dengan ibu Inara?Siapa saudara kembar Dilara? Apa dia … ibu?
Dari awal aku menapaki tangga yang rapuh. Walau berjuta keindahan melambai di tingkat teratas, aku seakan tak cukup mampu untuk terus merangkak naik.Sikap mas Bayu terlalu sering berubah-ubah beberapa hari
"Jangan pergi, Nara …," ucap Mas Bayu di tengah tidurnya.Bahkan dalam keadaan tidur pun Inara masih selalu bergentayangan di pikirannya!
Mas Bayu mencekal tanganku dan menarik masuk ke kamar. Sesampainya di kamar, tubuhku didorongnya ke tempat tidur. Aku yang tidak menduga mendapat perlakuan seperti itu tentu saja hilang keseimbangan. Apalagi Mas Bayu yang berbadan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
평점
리뷰더 하기