Chapter: Aku PergiViola duduk di dalam kamarnya. Anaknya masih berada di dalam pelukannya. Sementara Adrian, ia sudah pergi dari sana dengan kondisi babak belur. "Adrian beruntung, aku tidak membun*hnya," ucap Steven. Viola menoleh, menatap Steven tanpa rasa takut sedikit pun."Jika kau berani pergi dari sini, aku tak akan segan segan untuk menyakitimu juga!" Steven memperingatkan dengan tegas. "Jika kau mau, lakukan saja. Lagi pula aku juga sudah bosan hidup di dunia ini." Viola malah menantang. "Viola!" Steven melotot sambil berteriak. "Oeee!" Suara lantang Steven menggema di udara. Membuat Alvaro yang berada dalam gendongan Viola menangis karena kaget. Viola pun kembali ke kamarnya. Ia meredakan tangisan anaknya. "Tenang sayang, cepat atau lambat kita akan pergi dari sini." *****Perempuan setengah baya kembali ke dalam ruangan sempit. Mayang mengamati wajahnya yang terlihat kelelahan. "Kau bicara men
Last Updated: 2026-04-12
Chapter: Swastika Brenda KiranaMobil putih berhenti dan membunyikan klakson. Anak buah Steven menghampiri. Pemilik mobil putih menurunkan kaca jendela. "Apa aku harus menelepon Kakakku agar bisa masuk ke dalam?" Ternyata yang datang adalah Adrian. "Tidak perlu." Anak buah Steven langsung membuka pintu pagar. Pintu pagar terbuka lebar. Adrian memarkirkan mobilnya di halaman. Andrian turun dari mobil. "Dimana kakakku?" tanyanya pada salah satu pengawal yang berdiri di depan pintu utama. "Masih menghadiri rapat," katanya. "Bagus sekali! Ini kesempatan ku untuk mengeluarkan Viola dari sini." Adrian membatin. Adrian masuk ke dalam rumah. Ia melihat ke arah sekelilingnya seperti sedang mencari dimana keberadaan Viola. "Viola, dimana dia? Haruskah aku memeriksa semua kamar yang ada di sini." Adrian bergumam dalam hati. Seorang pelayan mendatanginya. "Apa anda ingin makan atau minum?" "Ya, jus jeruk di sore hari rasanya me
Last Updated: 2026-04-11
Chapter: Wanita MisteriusFrans yakin benar jika suara lelaki yang didengarnya sekarang ini adalah suara Steven. "Tap! Tap!" Suara sepatu terdengar mendekat. Steven berjalan melihat sayuran yang ada di atas mobil pick up. Dan dengan cepat, Steven menoleh ke arah Frans. Detik itu juga, Frans mengangkat kardus berukuran lumayan besar hingga menutupi sebagian wajahnya. "Kau orang baru ya?" ucapnya pada Frans. Frans mengangguk pelan."Taruh kardus itu di dalam. Aku ingin sebagian sayur dipisah!" Frans mengangguk lagi. Kali ini, mata mereka saling bertemu. Mereka menatap untuk beberapa saat. Untung nya Steven tak mengenali Frans. Steven langsung berjalan masuk, kembali ke ruang tengah. Frans menarik nafas lega. "Untunglah dia tidak mengenaliku," ucapnya. ****Dona berjalan cepat di lorong dapur. Ia pergi menuju ruang tengah. Matanya memindai sekeliling. Ia juga memperhatikan semua kamera pengawas yang ada di sana, tak hanya it
Last Updated: 2026-04-10
Chapter: Rumah AsingMatahari sudah terbit. Mayang masih menutup matanya. Entah karena benar benar menikmati tidurnya di tempat itu atau karena tubuhnya mulai kelelahan. "SpLash!" Wajahnya terasa dingin karena disiram air. Mayang gelagapan. Ia membuka mata dengan panik. Terlihat bayangan samar seorang wanita sedang berdiri tepat di depannya. "Nasibmu ternyata tak jauh berbeda denganku." Wanita itu berdiri sambil berkacak pinggang. "Yas—min?" ucap Mayang agak ragu. "Ya ini aku, Yasmin. Aku kira kau sudah melupakan aku.""Yasmin, kau benar benar Yasmin pengasuh Elisa?" Mayang mengkonfirmasi sekali lagi. Yasmin tersenyum kecut melihat reaksi Mayang. "Yasmin, ini tempat apa? Kita ada dimana?" Mayang bangkit berdiri. Ia memegang tangan Yasmin dengan erat. Yasmin menarik tangannya. Ia bahkan menjauhkan dirinya dari Mayang. "Yasmin, kita harus pergi dari sini. Jika kau bisa mengantarkan aku pulang ke rumah orang
Last Updated: 2026-04-09
Chapter: Dibiarkan MatiMayang melangkah tertatih tatih. Kakinya nyaris tak kuat menopang tubuhnya. Namun ia tetap berjalan. Satu langkah. Dua langkah. Meski arah tidak jelas karena gelap menelan segalanya. Ia tidak berhenti. Ia tetap berusaha mencari jalan keluar. Karena berhenti… berarti kalah. Setelah lebih dari 15 menit ia berjalan, di kejauhan, terlihat samar cahaya kecil. Seperti lampu teras sebuah rumah atau hanya bayangan kunang-kunang yang menyala saat malam. Mayang menyipitkan mata. Harapan kecil muncul di dalam dadanya. Ia mempercepat langkah. Meski tubuhnya hampir roboh. "Aku tidak akan mati di sini…" gumamnya pelan. ***** Di dalam kamar, Viola duduk diam. Alvaro sudah tertidur di pelukannya. Namun ia sendiri masih terjaga. Menatap kosong ke depan. Entah kenapa, dadanya terasa sesak. Seperti ada sesuatu yang b
Last Updated: 2026-04-08
Chapter: Dibuang Begitu Saja"Maaf." Suara pengawal terdengar berat. Mayang memejamkan mata. Tubuhnya gemetaran hebat. Ia sudah bersiap menerima keadaan yang terburuk sekali pun. "BUK!" Pukulan keras mendarat di tengkuknya.Pandangan Mayang langsung gelap.Tubuhnya ambruk ke tanah.Saat ini hanya ada suara angin yang berdesir di antara rumput liar.Beberapa menit kemudian, Mayang mengerang pelan. Kesadarannya kembali perlahan. Kepalanya berdenyut hebat. Penglihatannya masih buram.Ia mencoba bergerak, udara dingin membuatnya hampir menggigil. Tubuhnya terbaring di tanah.Saat ini, ia sendirian. Mobil itu sudah tidak ada."Uh…" Mayang memegangi kepalanya.Lalu perlahan duduk. Matanya menyapu sekeliling.Suasana sangat sepi. Bahkan suara binatang malam pun tidak terdengar olehnya. Sepanjang mata memandang hanya ada kegelapan yang menemani. Tidak ada siapa pun di sana. Air matanya pun jatuh."Steven, kau s
Last Updated: 2026-04-07
Chapter: Warisan PengkhianatanSuara seorang pria membuat Viko menoleh. Langkah kaki terdengar mantap memasuki ruangan.Seorang pria berdiri di ambang pintu.Tegap. Tenang. Tatapannya lurus, dia lah Andrew. Mata Viko langsung menyipit. "Kau…?" suaranya penuh curiga.Ana tidak menoleh. Namun bahunya sedikit mengendur. Seakan kehadiran pria itu… memberi kekuatan.“Ayo, Ana,” ucap Andrew lagi, kali ini lebih tegas. "Kita tidak perlu membuang waktu di tempat seperti ini.” Kata-katanya dingin terasa menusuk.Johan langsung melangkah maju.“Andrew, kau benar benar licik! Kau menekan kami untuk menyerahkan saham milik Viko!” bentaknya.Andrew menatapnya sekilas." Pak Johan yang terhormat, kebenaran sudah terbongkar. Dan sekarang, anda ada pada posisi yang salah. Anda mendukung perbuatan zinah yang dilakukan oleh anak anda!" Andrew menjawab spontan. Kalimat itu membuat suasana semakin panas.Viko mengepalkan tangan. "Ana," suaranya menekan
Last Updated: 2026-04-04
Chapter: Balas DendamKalimat itu menggantung di udara.“Tentang anak Viko dari mantan pembantu anda!”Senyum di wajah Aurelia perlahan menghilang.Wajahnya memucat.“A-apa maksudmu, Ana?” suaranya bergetar, berusaha terdengar tenang.Ana menolak untuk duduk apalagi berbasa basi. Ia tetap berdiri.Tatapannya lurus, tajam, tanpa ragu.“Jangan berpura-pura tidak tahu, Ma,” ucapnya pelan.Nada suara Ana terdengarrendah… tapi menusuk. "Aku sudah melihatnya sendiri. Di rumah sakit. Asih… dan anaknya."Suasana menegang. Detik jam terasa lambat. Aurelia menelan ludah.“Itu tidak seperti yang kamu pikirkan—"“Kalimat itu terlalu sering dipakai untuk menutupi kebohongan,” potong Ana. Ia melangkah maju satu langkah.“Yang ingin aku tahu sekarang cuma satu.” Tatapannya mengeras. “Sejak kapan Mama tahu hubungan Viko dan pembantu itu?”Pertanyaan itu jatuh seperti palu. Membuat Aurelia terdiam. Bibirnya terbuka… tapi tak ada kata yang keluar
Last Updated: 2026-04-03
Chapter: Mama Mertuaku adalah PengkhianatSandra menelepon Levin, anak tertuanya. Ia mengatakan persis seperti dengan apa yang dikatakan oleh Ana. "Jadi Ana ingin bercerai dengan Viko?" sahut Levin dari sebrang telepon. "Iya! Tapi entah apa yang terjadi di antara mereka berdua. Mama juga tidak tahu. Levin, tolong pergi temui adikmu. Mama juga akan ke sana sebentar lagi. Perceraian di saat hamil, itu konyol sekali!" Sandra menggenggam erat ponselnya. "Hmm! Baik lah. Aku akan ke rumah Ana." Levin mengakhiri pembicaraan. Sandra turun ke bawah. Ia meminta asisten rumah tangganya untuk memasak. Setelah itu, ia pergi dengan supir. *****Levin sudah tiba di rumah Ana. Security rumah menyapanya. Tapi orang yang dia cari ternyata tidak ada di rumah. "Ana belum pulang?" Levin mengerutkan kening. "Belum, Pak. Bu Ana pergi pagi-pagi sekali. Dan sampai sekarang belum kembali.""Kemana Ana pergi?" "Saya juga tidak tahu, Pak. Bu Ana tidak men
Last Updated: 2026-04-02
Chapter: Anak Itu Milik SuamikuPagi itu terasa berbeda. Biasanya Ana akan menyibukkan dirinya di dapur untuk memasak menu makan siang dan makan makan malam. Tapi sekarang, ia hanya duduk diam di ruang makan, secangkir teh di depannya sudah dingin tanpa tersentuh. Tatapannya kosong, namun pikirannya bekerja tanpa henti."Tagihan rumah sakit itu sebenarnya milik siapa?" Ana bermonolog. Deretan angka yang ada di lembar tagihan itu terus berputar di kepalanya.Bukan angka kecil. Bukan angka untuk luka ringan. Itu adalah angka… untuk sesuatu yang besar.Ana menarik napas panjang, lalu berdiri. Ia berjalan menuju kamar, mengambil tasnya, dan bersiap tanpa banyak suara."Aku harus tahu semuanya." Hari ini, ia tidak akan menunggu, ia akan mencari tahu.****Rumah Sakit Royal Pyruz tampak megah dari luar. Bersih dan juga tenang. Ana berdiri beberapa detik di depan pintu masuk, menatap bangunan itu dengan perasaan campur aduk."Ini temp
Last Updated: 2026-04-01
Chapter: Rahasia yang Dijaga Mati-Matian"Untuk apa aku harus menjawab pertanyaan dari orang asing?” Asih melengos, membuang muka ke arah lain.“Kau wanita yang tidak punya hati! Kau merusak kehidupan pernikahan wanita lain! Dan sekarang kau berlagak seperti orang suci!” Levin tersulut emosi.Suster tiba-tiba masuk ke dalam kamar, membuat Levin menghentikan kata-katanya.“Maaf, pasien harus beristirahat sekarang,” ucapnya singkat, namun cukup jelas—itu adalah bentuk pengusiran yang halus.Levin tak ingin membuat keributan di rumah sakit. Ia pun keluar dari ruangan Asih.Begitu langkah Levin menghilang, Asih segera mengirim pesan teks pada Viko. Ia menuliskan bahwa ada seorang lelaki asing yang masuk ke kamarnya dan mempertanyakan hubungan mereka.Namun sayang, ponsel Viko sedang mati. Pesan itu tak pernah terbaca.Di tempat lain, Viko baru saja tiba di rumah. Ana menyambutnya dengan wajah berseri.“Kenapa pulang terlambat? Aku sudah menunggumu sejak tadi,” prote
Last Updated: 2026-03-31
Chapter: Sisa Cinta di Tengah Luka"Lakukan saja apa yang kau mau! Tes DNA atau apa pun itu! Aku tidak takut.”Suara Viko menggema lantang. Tatapannya tajam, sama sekali tak menunjukkan rasa gentar.“Dan jika hasilnya tidak sesuai dengan tuduhanmu barusan, aku akan menuntutmu atas pencemaran nama baik!”Levin terdiam. Keragu-raguan mulai menyusup ke benaknya. Namun bukti bahwa Viko adalah penanggung jawab Asih masih tak terbantahkan.Atau… apakah dia hanya menolong Asih atas dasar kemanusiaan semata? batin Levin.“DRrrt!”Ponsel Levin bergetar. Satu panggilan masuk—dari orang tuanya.“Levin! Kau pergi ke mana? Kenapa belum kembali ke sini? Mamamu mencarimu sejak tadi!” suara Arya terdengar tegas dari seberang telepon.“Iya, Dad. Aku akan ke sana. Tidak usah khawatir. Aku tadi cuma ke kantin,” jawab Levin beralasan.Viko melirik tajam ke arahnya.“Siapa yang sedang dirawat di sini?” tanyanya curiga.“Bukan urusanmu!” balas Levin ketus. Ia l
Last Updated: 2026-03-30
Chapter: Ending Bagas menyodorkan selembar tissue ke arah Senja. Senja pun lantas melihat ke arah Bagas."Jangan menangis. Aku ada di sini. Entah kau mau menerimanya atau tidak, tapi aku akan tetap ada di dekatmu." Bagas bicara sembari menatap Senja, lekat lekat.Senja melihat ke arah Ethan yang tertidur lelap dalam dekapan Bagas."Dia sudah tertidur, kau juga sebaiknya pergi tidur. Jaga kesehatanmu. Anak anak membutuhkan dirimu. Aku pun sama!" seru Bagas.Mendengar hal ini, perasaan Senja jadi tak karuan. Antara senang dan juga ragu, bercampur jadi satu dalam benaknya.Senja pergi keluar dari kamar anaknya. Ia tidur di kamarnya sendiri.*****Malam ini, Lily duduk terdiam menatap ke arah pintu keluar penjara. Ia sedang meratapi nasibnya.Suasana terasa begitu sepi. Tak ada suara yang terdengar. Polisi yang bertugas untuk menjaga penjara, semuanya sedang tertidur pulas. Narapidana lain juga tampak tertidur pulas."Bisa bisanya mereka tidur senyenyak itu!" Lily menatap benci ke arah para Polisi. Wani
Last Updated: 2024-03-05
Chapter: Wasiat SuamiSetelah hampir tiga jam mereka menunggu di depan ruangan operasi, akhirnya Dokter keluar."Bagaimana keadaan Dafa?" Ayu bertanya dengan wajah panik."Kami minta maaf. Kami telah melakukan yang terbaik untuk pasien. Tapi kondisi pasien, masih tak ada perubahan dan semakin memburuk."Senja melongo hingga terjatuh ke lantai. Ayu pun sama kagetnya dengan Senja. Dunianya seakan berhenti ketika mendengar penjelasan dari Dokter."Mama. Senja. Kalian harus kuat!" Bagas mencoba untuk menenangkan mereka berdua."Pak Bagas, harapan hidup pasien sangat tipis. Alat bantu bernafas, jika tidak begitu membantu. Jadi semua peralatan medis yang menunjang kehidupan pasien, akan kami lepas.""Tidak!" Ayu berteriak."Jangan! Berapapun biayanya akan aku bayar! Jangan lepas selang infus atau apapun dari tubuh Dafa. Aku yakin, Dafa akan sehat! Dia akan kembali pulih!" Ayu melanjutkan ucapannya."Baik Bu. Tenanglah. Anda harus kuat dan tabah. Semuanya hanya bisa kita pasrahkan kepada sang pemberi kehidupan."
Last Updated: 2024-03-04
Chapter: Jalan BuntuWilly baru saja sampai di kantor polisi. Ia bahkan belum memarkirkan mobilnya, tapi seorang kawannya yang berprofesi sebagai seorang Polisi sudah mendatangi dirinya."Pak! Lily ditangkap!""Saya tahu itu! Makanya saya datang ke sini. Kenapa hal ini bisa terjadi? Apa kamu nggak bisa mengatur bawahan kamu?" Willy bicara sembari menyetir pelan dan memarkirkan mobil miliknya.Willy keluar dari mobil. "Saya bisa apa Pak? Mereka mengikuti Lily dan menangkap basah Lily melakukan tindakan pidana." Willy tak banyak bicara. Ia menyerahkan sejumlah uang kepada teman Polisinya tersebut."Ambil uang itu. Mintalah berapapun yang kamu inginkan. Tapi pastikan Lily lolos dari kasus hukum!" "Saya tidak berani berjanji. Tapi saya akan mengusahakannya.""Ingat! Awak media jangan sampai memberitakan mengenai masalah ini!""Sampai sekarang, kami tak mengizinkan awak media masuk ke sini.""Kalau kamu gagal membela anak saya, maka saya akan temui kolega saya yang jabatannya jauh di atas kamu! Dan saya aka
Last Updated: 2024-03-03
Chapter: Darah TerpercikBagas akhirnya melepaskan Lily. Ia berjalan menjauh. Sementara itu, Irwan sudah memanggil ambulans.Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk menunggu, mobil ambulans sudah terdengar. Dafa dan Senja masuk ke dalam mobil ambulans. Begitu juga dengan Bagas. Tangan Bagas terus mengeluarkan darah. Darah juga merembes dari dada Dafa."Maafkan aku. Gara gara aku, kalian berdua jadi terluka." "Tidak ini bukanlah salahmu!" sahut Dafa.Setelah mengatakan hal ini, Dafa pingsan tak sadarkan diri.****Mobil ambulans akhirnya sampai di rumah sakit. Dafa dibawa ke ruangan ICU. Bagas dibawa ke UGD. Semuanya sedang mendapatkan perawatan medis.Sementara itu, Irwan menghubungi rekan kerjanya yang lain untuk membantunya mengamankan lokasi serta membantunya membawa mobil milik para korban dan tersangka.Irwan tak lupa menghubungi Ayu dan mengabarkan kejadian buruk ini."Apa! Dimana? Kenapa bisa seperti itu!" Ayu berteriak karena kaget ketika Irwan menceritakan kronologi yang terjadi."Mereka sudah dibaw
Last Updated: 2024-03-01
Chapter: Terkapar Tak BerdayaKelima lelaki yang berdiri di hadapan Senja, mulai melepas pakaian mereka lalu disusul dengan celana yang mereka kenakan. Kelimanya menyeringai dan tertawa tak jelas melihat Senja yang ketakutan.Sementara itu, Bagas masih ada di luar. Saat ia mengendap masuk ke dalam, seseorang berdiri di belakangnya."PRak!" Lelaki asing itu memukul Bagas menggunakan kayu.Bagas memegangi kepalanya. Ia meringis kesakitan sembari menoleh ke belakang dan menatap wajah si pria."Siapa kau!" si pria berteriak dengan marah."Hai ada penyusup di sini!" si pria memanggil teman temannya yang ada di dalam gudang.Lily yang ada di dalam gudang dan mendengar teriakan si pria, segera keluar dari gudang, untuk memeriksa apa yang terjadi.Namun Bagas tak kalah cekatan dengan si pria. Belum satu orang pun datang ke tempat itu, Bagas meraih balik kayu dari tangan si pria. Ia mengayunkan balik kayu ke kepala si pria."BRak! PRak!" Si pria mengaduh kesakitan. Bagas mengambil pisau kecil yang menyembul di dekat saku
Last Updated: 2024-03-01
Chapter: Gudang Tua Dari kejauhan, Bagas yang baru saja keluar dari rumah sakit sesuai menjenguk temannya, terperanjat melihat Lily dan beberapa laki laki yang berdiri menghadap ke arah sebuah mobil."Apa yang mereka lakukan? Kenapa Lily ada di sini? Pasti ada yang tidak beres!" Bagas bicara dalam hati. Ia bersembunyi di balik dinding dan mengamati pembicaraan mereka dengan seksama."Cepat bawa dia ke gudang tembakau kita yang ada di perbatasan kota!" Lily memerintahkan anak buahnya."Siapa yang akan dia bawa ke sana?" Bagas bicara dalam hati.Dua orang lelaki masuk ke dalam mobil. Mereka memindahkan tubuh Senja ke kursi belakang kemudi. "Kami berangkat sekarang!" Dua anak buahnya pamit."Aku akan menyusul!" Lily menjawab.Mobil hitam melaju tepat di hadapan Bagas. Bagas melongo kaget karena ia tersadar jika mobil yang baru saja lewat adalah milik Dafa."Apakah yang di dalam mobil adalah Senja?" Bagas pun berinisiatif untuk mengikuti mobil itu.Ia masuk ke dalam mobil dan dengan lihai mengikuti mobil
Last Updated: 2024-02-29