LOGINPintu ruang operasi terbuka setengah.
Suster meminta Viko untuk ikut masuk, wajahnya tampak serius.“Pak Viko,” ucapnya cepat. “Kami butuh keputusan anda sekarang.”Viko berdiri kaku. “Keputusan apa, Sus?”Dokter bedah menyusul keluar.Maskernya diturunkan, sorot matanya lelah tapi tegas. "Pasien mengalami perdarahan hebat," kata dokter tanpa basa-basi. “Operasi berjalan, tapi risikonya tinggi.”“Apa… apa bayinya selamat?” suara Viko parau.Pintu ruang operasi terbuka setengah.Suster meminta Viko untuk ikut masuk, wajahnya tampak serius.“Pak Viko,” ucapnya cepat. “Kami butuh keputusan anda sekarang.”Viko berdiri kaku. “Keputusan apa, Sus?”Dokter bedah menyusul keluar.Maskernya diturunkan, sorot matanya lelah tapi tegas. "Pasien mengalami perdarahan hebat," kata dokter tanpa basa-basi. “Operasi berjalan, tapi risikonya tinggi.”“Apa… apa bayinya selamat?” suara Viko parau.“Bayinya sehat,” jawab dokter. “Namun kondisi ibunya belum stabil.”Viko hendak melangkah masuk ke dalam ruangan, mengikuti dokter, tapi Levin memegangi lengannya. "Kau tidak boleh masuk, sebelum menjelaskan semuanya padaku!" "Kerabatku yang sedang melahirkan. Suaminya ada di luar negeri. Kalau tak percaya, hubungi saja keluargaku." Viko membungkusnya kata-kata kebohongannya dengan rapi."Maaf, Pak Viko harus segera masuk untuk tandatangan." Suster menatap tajam ke a
Suster keluar dari ruang bersalin. Ia menyebutkan nama pasien agar bisa bicara dengan keluarganya. "Saya keluarganya, Sus.""Jadi anda suaminya?" Suster bertanya dengan wajah tegang."Bukan, Sus. Saya adalah kerabatnya. Saudara jauhnya. Bagaimana kondisi saudara saya." Viko menggeleng, mengaku kerabat dekat."Pasien mengalami perdarahan. Dan harus ada tindakan, hari ini.""Maksudnya, Sus?" tanya Viko sedikit panik."Tindakan operasi sesar. Untuk menyelamatkan bayi dan ibunya. Jika dibiarkan, hanya salah satu dari mereka yang akan selamat."Viko tercengang. Ia tak tahu harus menjawab apa."Mari silahkan ikut saya, untuk menyelesaikan urusan administrasi." Viko berjalan di belakang mengikuti suster. Suara di kepalanya lebih berisik daripada suara keluarga pasien yang ada di lorong rumah sakit. "Celaka, uang tabunganku sudah tinggal sedikit. Karena kemarin, aku mengirimnya kepada Andrew." Viko bicara dalam hati.
Musim hujan telah tiba. Banyak orang juga mulai terserang virus flu.Sudah lima hari, mendung selalu menyelimuti Kota Pyrus. Hujan deras saat malam menjadi rutinitas cuaca di sana. Malam ini, seperti malam malam kemarin, hujan turun dengan lebatnya. Langit gelap dihiasi cahaya petir yang menyambar. Bangunan rumah Asih sudah waktunya untuk direnovasi. Bukan renovasi besar, hanya memeriksa bagian genting dan talang air. Tapi karena keterbatasan waktu, Viko tak sempat untuk melakukan semuanya itu. Ia juga lupa untuk menelepon tukang untuk membantunya menyelesaikan pekerjaan itu. Akibatnya, rumah mengalami kebocoran parah. Semalaman Asih tidak bisa tidur dengan tenang karena harus membersihkan lantai yang basah karena air hujan merembes masuk."Ahirnya semuanya selesai." Asih yang kelelahan terduduk di kursi sofa. Entah sudah berapa lama ia tertidur, hingga akhirnya ia terjaga karena perutnya kelaparan.Asih bangun, ia memasak sebenta
Ana diam mematung memandangi layar ponselnya cukup lama. Viko melirik sesekali ke arahnya, melihat ada gurat kekhawatiran di wajah istrinya. "Ada apa? Apa yang sedang kau baca?"Namun Ana memilih untuk menyembunyikan apa yang sedang mengganggu pikirannya. Ia menggeleng dengan cepat. "Tidak ada. Aku hanya baca berita saja." Mobil mereka akhirnya tiba di rumah. Rumah terasa kosong, padahal baru beberapa hari Ana tidak pulang.Viko memilih untuk menemani istrinya seharian daripada harus bekerja. Ia juga mengupayakan untuk mengirim sejumlah uang pada Andrew, agar Andrew berhenti men3rornya untuk beberapa waktu.****"Jadi ini yang akhirnya aku dapatkan? Aku diusir pulang ke desaku dengan kondisi hamil." Asih mengusap air matanya yang menetes di pipi."Asih, apa kau sudah siap?" Aurelia mengetuk pintu kamar. "Ya sebentar lagi aku selesai berkemas." Asih menjawab lemah."Baguslah! Perjalanan pergi ke desamu, membutu
"Apa sebenarnya maksudmu, Andrew?! Kenapa kau terus saja mengikuti aku? Sudah berapa kali kukatakan, aku sudah menikah." Ana mencoba memperingatkan."Pernikahan apa yang kau maksudkan? Kau menikah dan kau sekarang tinggal di rumah orang tuamu. Tapi ini yang terbaik untukmu, Ana." Andrew menatap dalam.Pintu rumah sedikit terbuka, Sandra baru saja pulang dari pasar. Salah satu pelayannya masuk lebih dulu sambil membawa barang belanjaan. Sementara Sandra, ia berhenti di ruang tamu. Wajahnya tampak tegas, terutama ketika bertemu dengan Andrew."Aku kira dia yang datang ke sini. Rupanya bukan." Sandra mengamati wajah Andrew yang melekat di ingatannya. "Kau, Andrew, kan?" Andrew mengangguk. Ia tersenyum ramah lalu menyodorkan tangan mengajak Sandra bersalaman. "Senang bisa melihatmu dengan keadaan yang jauh lebih baik daripada dulu saat pertama kali kita bertemu." Sandra menjabat tangan Andrew."Ya, aku datang ke sini untuk menjengu
Viko pulang dengan tangan kosong, ibu mertuanya menolaknya sebelum ia bertemu dengan istrinya. "Ini tidak bisa dibiarkan."Viko kembali ke rumahnya sendiri. Malam ini, ia hanya akan tidur ditemani oleh dinginnya angin malam. Belum juga matanya terpejam, sang ibu kembali menelepon dan menanyakan pertanyaan yang sama. Bagaimana keadaan Ana? Dimana dia? Viko menjawab dengan sejujurnya. Dan ia juga menceritakan bagaimana situasinya saat menjemput Ana untuk pulang."Semua ini adalah salahmu! Kau bermain api dengan wanita lain! Apa sebenarnya maumu Viko?! Kenapa kau membuat malu keluarga kita!" Aurelia semakin panik. "Aku khilaf, Ma. Dan aku sudah berusaha untuk menjelaskan pada Ana. Lagi pula, Ana masih belum tahu yang sebenarnya mengenai aku dan Asih. Dia hanya tahu, kalau Asih kembali ke rumah." "Dia hanya tahu itu, dan dia langsung pulang ke rumahnya! Bayangkan kalau dia tahu yang sebenarnya terjadi!" Aurelia mematikan sambungan telepon.







