Chapter: O'ow“Lain kali kalo ke sawah jangan pake baju pendek!” ucap Kang Ipul sambil melepas pelukan. Eh tunggu. Dia meluk aku? Kampret! Sial kuadrad dong aku hari ini. “Emang kenapa kalo pake baju pendek?” Aku bertanya ketus sambil menepuk bajuku. Enak aja mau ngatur hidupku. “Banyak semak-semak, nanti lengan kamu kegores, perih dan gatel,terus kena sinar matahari juga nanti item, mau?” Wajahnya maju lebih dekat, membuatku segera mundur. Aku Cuma memutar bola mata. Sok perhatian banget deh. Bilang aja modus. “Lagian ngapain ke sawah, emang kamu udah sembuh beneran?”“Udah!” Aku membuang muka. Pura-pura memilih cabai yang siap di petik. Menengok kanan-kiri. Sawah ini cukup luas dengan ditamai cabai keriting dan cabai setan yang tumbuh subur dan tinggi. Lahan sebelahnya juga sebagian besar ditanami cabai. “Terus apa bisa bantu?”Diih, nyepelein dia. Nggak tau aja dia. Gini-gini juga aku nggak bisa apa-apa. “Bisalah, paling metik cabe, sepele!” ucapku sombong. Padahal nggak ngerti urusan per
Last Updated: 2026-10-02
Chapter: Drama UlatSepertinya aku sudah benar-benar pulih. Nafsu makanku bertambah. Semenjak dipanggilkan tukang pijat, badanku kerasa enakan. Perutku nggak kembung lagi. Meskipun jadi bolak-balik buang nahkn. Waktu dikerokin juga aku sampe jerit-jerit. Mana Kang Ipul disuruh nungguin sama tukang pijetnya di dalem buat pegangin aku. Kan keenakan dia lihatin aku. "Jangan sama Kang Ipul, Mbok, malu aku gak pake baju gini," ucapku pada si tukang pijat saat dia mau manggil Kang Ipul. "Lah, wong bojone kok malu, kan nanti bisa langsung plus-plus!" Wanita itu berkedip genit. Bikin aku jadi merinding. Ngeri banget kayaknya orang ini. "Pokoknya aku nggak mau! Kalo dia disuruh masuk mending aku nggak jadi pijet!" Aku bersikeras. Akhirnya wanita itu mengalah. Akupun harus tahan waktu dia kerokin biar Kang Ipul nggak disuruh megangin. ."Wes mari temenan, Nduk?" (udah sembuh beneran?) tanya Ibu mertua ramah. Aku yang ngerasa rikuh karena tiduran terus, akhirnya sok-sok an nyuci piring. Itung-itung buat pencitr
Last Updated: 2026-10-01
Chapter: Bom AtomKepalaku rasanya semakin berat. Perutku juga tambah sakit. Badanku menggigil. Kenapa ini? Mau bangun kok susah. Ini juga di dahi kaya ada benda, sepertinya kompres. "Mak ...." Perlahan kubuka mata sambil memanggil Mamak. Pasti wanita itu yang merawatku. Jadi sekarang aku di rumah. Semua yang kulewati pasti cuma mimpi. Mataku kini terbuka sepenuhnya. Pemandangan di depanku terlihat buram karena kututupan belek. Samar-samar kulihat bayangan Kang Ipul duduk sambil meletakkan kepalanya di sebelahku. Tunggu, ini pasti beleknya yang bikin aku kaya lihat dia. Kan ini di rumah Mamak sama Bapak. "Oh, kamu udah bangun." Suara berat itu bikin aku pengen semaput aja. "Kamu ngapain disini?" tanyaku ketus. Aku mau ngomong pake nada Nikki Minaj feat Celine dion, biar keras dan banter, tapi tenagaku gak ada. Jadinya yang keluar suara lirih, kaya cewek centil yang dibikin-bikin lemah gemulai. Kampret emang!Lebih kampret lagi dia diem aja sambil ngambil lap yang dikompreskan di dahiku dan sialny
Last Updated: 2026-09-29
Chapter: Balik ManingAku berkali-kali menggedor mobil agar mereka dengar. Sayangnya lagu Denny Caknan yang distel kencang membuat mereka terlena, sampai nggak denger ada cewek cantik minta tolong. Akhirnya aku pasrah sama berdoa. Semoga masnya yang nyupir ganteng, kaya dan sholeh. Jadi lumayan lah kalau diculik nggak rugi aku. Setelah beberapa menit berlalu, mobilpun berhenti. Terdengar suara gerendel besi dibuka. Aku bersiap. Nanti mau alasan apa pokoknya yang penting turun dulu. "Oh, nggih-nggih." Sepertinya laki-laki itu ada yang memanggil, sehingga dia pergi. Aku mendorong pintu perlahan dan bersyukur sudah bisa dibuka. Cepat-cepat aku turun, meski badan sempoyongan karena mabuk daratan. Tadi sempat muntah di dalam sana. Untung cuma sedikit. Aku terpaku menatap rumah bangunan model kuno dengan halaman luas. Kok ini rumah ... mertua. Kenapa aku malah disini? Jadi capek-capek kabur sampe mual muntah ternyata balik kesini lagi?Gusti Allah ... tolong.."Nahh ... itu garwone, Kang." Saat aku sedang m
Last Updated: 2026-09-29
Chapter: Bertemu Mantan Rival"Kamu anak SMA 3 kan?" tanyanya sambil mengingat-ingat. Aku menggaruk tengkuk sambil cengar-cengir. Kulihat pantulan wajahku di cermin lemari, ternyata pipiku hitam-hitam kena pantat wajan. Ya ampun! Bukannya skin care an malah make up pake arang. Kupikir tadi cuma nyenggol doang nggak masalah. Tapi ternyata disini sebagian masih memasak menggunakan tungku, makanya para pantat wajan hitam. Kayaknya besok aku jualan pemutih aja. "Kalian saling kenal?" Om Ipul terlihat heran. "Nggak kenal sih, tapi kayaknya kita pernah ketemu bener kan kamu anak SMA 3?"Aku hanya menganggukan kepala. Kita Emang pernah ketemu pada saat memalukan. Aku menolak Ingat masa itu, tapi Gadis itu malah nyerocos cerita sama kakaknya. Pertama ketemu waktu ribut sama anak SMK Bakti. Waktu itu aku cuma ikut-ikutan aja. Temanku yang bernama Sari rebutan cowok sama anak SMK Bakti. Dia mengajak teman-temannya untuk bertemu dengan perempuan yang diduga pacar dari pacarnya. Aku ingat dia karena dia yang paling mendo
Last Updated: 2026-09-29
Chapter: Penampakan"Aaa ...." Aku ikut lompat dari semak-semak dan lari ngibrit. Mahluk hitam dan doreng itu juga sama-sama menjerit. Akhirnya aku kembali lagi ke rumah mertua. "Dasar kucing kampret!" umpatku sambil ngos-ngosan. Kupikir setan jenis apa, ternyata setan anabul. Kalau aja aku nggak kaget udah kupentung mereka. Dengan napas tersengal, aku membuka pintu lirih. Sambil celingukan aku masuk rumah takut ketahuan orang."Nggak jadi kabur?" Sampai kamar, Ipul sudah duduk sambil menatapku datar. Sial! Malah ketahuan sama dia. "Nggak!" jawabku ketus. Dia hanya mengangkat bibir sebelah seperti mengejekku. Laki-laki itu lalu mengendus-endus sekitarnya. Sepertinya dia mencium sesuatu. "Kok pesing ya!" Dia mengendus selimut dan temat tidurnya. Aku segera ngacir ke kamar mandi. Jangan sampai aku ketahuan ngompol. .Mataku memicing karena terasa beban berat di perut. Aku lalu menjerit melihat wajah penuh bulu milik Ipul. Dia terkejut dan bangun. Akupun segera bangun dan mengibaskan tangan pada bajuk
Last Updated: 2026-09-29
Chapter: 50 (Ending)"Anggita, kamu pulang, Nak?" Arina--ibu Anggita menyambut kepulangan anak semata wayangnya. Seperti apapun perilakunya, ibu tetaplah ibu. Tangannya akan selalu terbuka menyambut anaknya. Anggita pulang ke rumah orang tuanya dengan wajah murung. Hatinya begitu kacau. Kariernya meredup akibat ulahnya sendiri. Dia dihujat dimana-mana, setelah klarifikasi dari Husain dan Bastian. Tapi sebenarnya dia beruntung, karena Nahswa tidak membalasnya dengan menyebarkan fotonya yang sedang berdua dengan Dirga. Sekarang Dirga pergi entah kemana. Setelah menipunya. Uang hasil kerja kerasnya mengalir ke rekeningnya. Mau dilaporkan ke polisi juga tidak bisa, karena dia memberinya dengan suka rela. Atas dasar pertemanan. Tapi ternyata laki-laki itu hanya memanfaatkannya saja. Kali ini dia menyesal. ."Mas punya kabar, tapi janji nggak boleh sedih," ucap Husain saat pulang kerja. Dia mengelus perut buncit istrinya. Usia kehamilannya memasuki delapan bulan, membuat laki-laki itu tidak mau jauh dariny
Last Updated: 2026-09-29
Chapter: 49Husain kembali ke dalam sebelum para wartawan menemuinya. Laki-laki itu bingung menghadapi mereka. Selama ini dia bekerja di dunia broadcasting, tapi dia selalu berada di balik layar. Laki-laki itu tidak pandai berkata-kata. Lalu ketika tiba-tiba harus berada di depan layar, pasti perasannya tidak nyaman. "Kayaknya bentar lagi wajah Lo yang diedit, nih," celetuk Rio, membuat Husain memicingkan mata. "Berisik, Lo!" Husain menonjok lirih lengan Rio. Laki-laki itu mengambil tempat duduk. Lalu mencari posisi nyaman untuk menelpon istrinya. Hatinya berdebar. Dia tidak mau ada kesalahpahaman lagi soal Anggita. "Kamu dimana?" Husain langsung melempar pertanyaan saat telepon sudah diangkat. "Assalamualaikum, Mas." "Emm ... Wa'alaikum salam." Husain mengusap rambutnya. Gara-gara pikiran kalut, dia sampai lupa mengucap salam. "Kenapa si, Mas?" Nahswa bertanya dengan lembut. Suara tenang sang istri membuat hatinya adem."Kamu udah lihat berita--""Udah." Nashwa memotong ucapan suami. "Sa
Last Updated: 2026-09-28
Chapter: 48“Tapi, nikahnya sama kamu.” Husain mencubit pipi Nahswa gemas. Ekspresi istrinya yang cemberut membuat candu. Dia menyesal, kenapa dulu melewatkan wanita semanis Nashwa. Meski kecantikannya tidak mencolok seperti Anggita, tapi Nashwa manis dan tidak membosankan. Berbeda dengan Anggita yang berkulit putih bersih, seperti blasteran Eropa. Nashwa memiliki jenis kulit lebih gelap khas Indonesia. Dia memiliki senyum yang menawan. Ada lesung pipi di sebelah kanan. Ditambah matanya terpejam saat tersenyum. Membuat mata tidak merasa bosan melihatnya. Apalagi raut wajahnya selalu terlihat ramah. “Ish, kan kita udah nikah.” Wanita hitam manis itu membalikkan badan. Menyembunyikan pipinya yang merona. Salah tingkah diperlakukan semanis ini oleh sang suami. Husain memeluk Nahswa dari belakang. Tangan besarnya melingkar di perut Nashwa. Dia lalu menyandarkan dagunya pada pundak Nahswa, sehingga pipi mereka saling menempel. Ada debaran berbeda yang dirasakan mereka berdua. “Mau ya nikah sama
Last Updated: 2026-09-27
Chapter: 47“Maaf, Mbak, saya nggak ijinin Mbak Anggita dekati suami saya.” Nahswa berdiri di depan Husain. Wanita itu mengangkat tangan sebagai kode agar Anggita berhenti. Husain terkejut dengan apa yang dilakukan Nashwa. Laki-laki itu sempat panik saat melihat kedatangan Anggita. Takut akan merusak hubungannya dengan Nashwa yang baru saja membaik. Tapi reaksi Nashwa di luar dugaan. “Suami? Kamu lupa ya kalo sebentar lagi kalian bakalan cerai, pake sok-sokan harus ijin segala sama kamu, apa perlu aku ingatin lagi kalo Husain itu cuma cinta sama aku? Dia udah janji mau nikahin aku setelah cerai sama kamu!” Anggita berkata dengan percaya diri. Tangannya berkacak pinggang. “Anggita!” Husain dan Mama membentak Anggita bersamaan. Mama sangat geram. Hampir saja wanita itu menjambak rambut Anggita kalau saja tidak ditahan Papa. Sementara bapak hanya diam memperhatikan. Dia bersiap-siap jika Husain menyakiti lagi, akan membawa pulang Nahswa lagi. Tapi sepertinya Nashwa sudah telanjur cinta dengan Hu
Last Updated: 2026-09-26
Chapter: 46"Kamu bahkan nyebut namanya tanpa embel-embel Ustadz." Husain menghela napas kasar. Raut wajahnya semakin menyiratkan kecemburuan."Ya, karena aku pernah satu sekolah sama dia, satu organisasi juga di OSIS," jawab Nashwa sambil menutup mulut. Lucu melihat ekspresi suaminya. "Oh, jadi lebih dekat sama Ilham, ya?" Husain menyimpulkan sambil menganggukkan kepala berulang. "Kok malah nanya gitu, si?" Nahswa mencubit perut Husain, membuatnya meringis. Wanita itu menggembungkan pipinya. Menatap Husain dengan sebal. "Kamu tu, kenalannya ustadz-ustadz, orang-orang sholeh, tapi kenapa malah nikahnya sama orang kaya Mas?" Husain mulai merendahkan dirinya sendiri."Berarti, jodohnya aku, Mas Husain." Nashwa menjawab dengan ringan. "Kamu nggak nyesel?" tanya Husain. Laki-laki berkemeja biru itu merasa minder. "Kalo aku nyesel, berarti aku nyesel sama takdir Allah, dong," jawab Nahswa, membuat Husain kehabisan kata-kata. Husain bingung mau bicara apa lagi. Dia menatap wajah Nashwa. Nahswa pu
Last Updated: 2026-09-25
Chapter: 45Nahswa menundukkan wajah. Malu dengan perawat yang sedang mengatar makan dan obat. Dia merutuki diri sendiri. Bisa-bisanya sampai tidak mendengar orang mengetuk pintu dan membukanya.Sang perawat juga malu. Dia sudah mengetuk pintu tiga kali, lalu masuk dengan permisi. Tapi yang di dalam tidak mendengarnya. “Maaf, Pak, Bu, saya mau mengantar makanan dan obat.” Dia meletakkan mangkuk berisi makan dan juga obat-obatan ke atas nakas. Setelah itu segera keluar keburu malu. “Mas mikirin apa, si?” tanya Nahswa sambil menyuapi Husain. Laki-laki itu terlihat celingukan sambil mencari sesuatu. “Kamu lihat tas Mas nggak, Nash, apa ilang ya?” “Tas yang mana, Mas?” “Tas slempang yang aku bawa waktu itu.” Husain berhenti mengunyah, mengingat-ingat kejadian saat dia dikeroyok, apa mungkin tasnya terlepas atau dijarah orang-orang itu. “Kalo sampe ilang ....” Husain mengesah. “Ada barang penting disana.”“Barang penting apa, Mas, file atau ....”“Bukan urusan kerjaan.”“Ini bukan?” Nahswa meng
Last Updated: 2026-02-10

Jodoh Kesasar
Abyan mengutus dua orang suruhannya untuk melamar kekasihnya di Jawa. Dia sengaja tidak memberitahu terlebih dahulu karena ingin membuat kejutan. Sampai di Desa tujuan, Joni dan Fathul--orang suruhan Abyan menunaikan tugasnya dengan baik.
Lamaran merekapun diterima dengan baik. Abyan merasa lega dan memutuskan mendatangi rumah calon istrinya itu untuk membicarakan tentang tanggal pernikahan.
Tiba di sana, Abyan disambut dengan hangat oleh Ayah dan Ibunya. Namun saat melihat anak Gadis yang keluar membawakan cangkir berisi minuman untuknya, dia bingung karena tidak mengenali gadis itu.
"Kalian nggak salah alamat kan?" tanya Abyan menginterogasi orang suruhannya itu.
"Enggak, Bos. Ini real, Namanya Nabila kan? Anaknya Ibu Sri Hartini dan Pak Agus Winarto?"
Abyan mengembuskan napas kasar, ditoyornya kepala kedua orang suruhannya itu.
"Nabila dari mana? Nadia gublok! Orang tuanya Sri Rahayu dan Agus Suwito" desis Abyan geram. Dia mengacak rambutnya dengan sedikit menariknya.
"Kenapa kalian bisa salah?"
"Loh ini catetannya dari Fathul kok, Bos." Dia menyerahkan selembar kertas.
Nabila Saraswati
Ibu Sri Hartini
Bapak Agus Winarto.
"Siapa yang nyatet ini?" tanya Abyan geram.
"Fathul, Bos." jawab Joni.
"Sini kamu Fathul, saya bilang Nadia Sasmita, Ibu Sri Rahayu dan Bapak Agus Suwito, kenapa bisa salah?" Abyan sangat geram, ingin sekali memaki mereka dengan keras tapi dia menyadari sedang bertamu di rumah orang.Sementara yang dimarahi hanya garuk-garuk kepala kaya orang bingung.
Ditengah kemarahannya, Joni menepuk lirih lengan Abyan.
"Pak, Bapak lupa ya, kan si Fathul rada budeg."
Read
Chapter: EndingAllah punya cara sendiri dalam menjodohkan ummatnya. Ada banyak cara unik Allah dalam menemukan jodoh, seperti halnya aku dan Mas Abi, yang berjodoh dengan cara nyasar.Kalau dipikir-pikir memang tidak nalar. Tapi beginilah jalannya. Dan meski begitu, pada akhirnya kami bisa saling mencintai dan saling melengkapi.***“Papa ....” Bocah kecil itu tertatih menghampiri Mas Abi yang baru pulang kerja.“Hay Putri.” Mas Abi menyambutnya dengan membuka kedua tangannya dan Faza langsung meraih tubuhnya dengan langkah tertatih karena belum lancar berjalan.“Sini sama mama dulu, Papa baru pulang, masih capek.” Aku bermaksud memindahkan Faza ke gendonganku tapi dia menggeleng cepat malah bersembunyi di leher Mas Abi.“Udah nggak apa-apa, bikinin teh aja ya,” pinta Mas Abi. Dia lalu mengangkat tubuh Faza tinggi-tinggi membuatnya tertawa.Aku segera membuatkan teh dan menyiapkan air untuk Mas Abi. Setelah air siap, aku membawakan secangkir teh ke ruang tengah, tapi di sana tidak ada. Kuletakkan sa
Last Updated: 2025-11-03
Chapter: Obat HatiSudah tiga hari aku kembali ke rumah, selama itu pula aku tidak pernah menyentuh Faza kecuali saat memberinya ASI, itupun karena Mas Abi yang meminta, memerah ASI-pun karena bengkak dan sakit sehingga terpaksa aku melakukan pumping...“Kamu kenapa?” Mas Abi merebahkan diri di belakangku, tangan besarnya melingkar di perutku.“Nabila,” panggilnya lagi karena aku masih bergeming.Dia lalu mengangkat tubuhku membuatku duduk dan berhadapan dengannya.“Sini cerita sama saya,” ucapnya sambil menatapku dalam. Bahkan saking dalamnya, aku sampai takut tenggelam.“Hey!” Dia mengangkat daguku karena tetunduk.“Aku ... Aku ... Huwaaa ....” Bukannya berbicara, aku malah gegerungan persis anak kecil minta mainan. Entah kenapa perasaanku begitu aneh. Seperti ada sesuatu yang menghimpit di dada.Dia menarikku ke dalam pelukannya, membuatku merasa nyaman dan semakin menumpahkan tangis di sana.“Sudah bisa cerita?” tanyanya setelah aku puas menangis. Dia merenggangkan pelukan dan mengusap air mataku
Last Updated: 2025-10-25
Chapter: Baby Blues SyndromeAku membuka mata perlahan, memandang ruangan yang di dominasi warna putih.“Nabila, kamu sudah sadar?” Mas Abi yang berada di sampingku mendekatkan wajahnya.“Memangnya aku pingsan?” tanyaku balik dengan lirih. Entah kenapa tenagaku seperti habis terkuras.“Alhamdulillah,” lirihnya. Dia lalu menghujaniku dengan ciuman.“Terimakasih sudah berjuang,” ucapnya lagi sambil mengecup jemariku.Berjuang? Apa aku habis perang melawan penjajah?“Sebentar saya panggilkan dokter.” Dia lalu keluar dan kembali lagi dengan seorang dokter laki-laki.“Alhamdulillah, sudah bisa pindah ke ruang perawatan,” kata dokter muda itu setelah memeriksaku.“Alhamdulillah,” ucap Mas Abi masih tetap menggenggam erat jemariku.Aku lalu pindah ruangan. Brankar di dorong oleh beberapa petugas. Selama perjalanan, Mas Abi tidak melepas genggamannya. “Nabila ... Alhamdulillah, Nduk.” Mamak tergopoh-gopoh memasuki ruanganku. Dia memelukku penuh haru. Begitupun Bapak, yang tak henti mengusap kepalaku.“Laper, Mak,” renge
Last Updated: 2025-10-25
Chapter: LelahPak Santoso, adalah driver taksi yang sudah disiapkan Mas Abi untuk keadaan darurat. Akhir-akhir ini Mas Abi sering tugas di luar kampus, jadi dia mem-booking Pak Santoso agar siap siaga kapanpun dibutuhkan..."Baru pemukaan tiga, sabar dulu ya, Mbak. Nanti setengah jam lagi kita cek lagi. Tidurnya miring ke kiri," ucap seorang bidan yang menanganiku."Masih lama nggak?""Nanti tunggu pembukaan sepuluh, sabar ya."Haduh. Pembukaan sepuluh, sedangkan ini baru pembukaan tiga saja sudah sesakit ini. Bagaimana kalau sampai sepuluh, apa aku akan kuat."Mak, panggilin Mas Abi. Aku mau Mas Abi sekarang!""Iya-iya." Mamak mengambil ponsel dan menelepon Mas Abi."Maakk ...." Setengah menjerit aku memanggil Mamak karena perut rasanya seperti ditekan."Sabar, Bila. Banyakin berdoa biar bayi kamu keluar dengan selamat dan kamu juga selamat--""Argggh ...." Aku mengerang, saat ini aku tidak butuh nasehat, aku cuma butuh Mas Abi di sampingku."Jangan ngeden dulu ya, Mbak, ini sudah pembukaan tuju
Last Updated: 2025-10-24
Chapter: Welcom Baby"Kamu kenapa cengar-cengir gitu, Bil?" Mamak menatapku khawatir menyadariku bertingkah tidak biasa. Sejak pagi, aku merasa perutku mengencang, rasanya mau buang air besar, tapi saat ke kamar mandi rasa mulas hilang."Nggak apa-apa, Mak. Perut Bila cuma agak kenceng aja," jawabku. Aku tidak mau membuat Mamak khawatir, apalagi sekarang Mas Abi sedang mengisi seminar, jadi aku tidak bisa bermanja-manja.Tetap kupaksakan diri ke laundry, meski perut sebentar kencang sebentar tidak. Aku tetap mau pergi agar tidak terlalu merasakan sakit. Tapi sepertinya Mamak bisa menangkap gelagatku yang sering menahan sakit."Kami tetap mau ke Loundry, Bil? Rumah aja lah, Mamak kuwatir kamu lairan di sana.""Ya kalo kerasa nanti kan tinggal berangkat ke rumah sakit, Mak," elakku."Nggak-nggak! Kamu tetep rumah aja, udah siapin keperluan yang mau dibawa buat lahiran?" tanya Mamak seolah-olah aku sudah mau lahiran."Udah si, Mak.""Baju ganti kamu, terus perlengkapan bayi udah belom?""Udah." Aku ingat nas
Last Updated: 2025-10-24
Chapter: Love sekebon"Ya sama kampungku, Mas, emang sama siapa?" "Bukan sama seseorang yang ada di kampung?""Mas apaan, sih posesif gitu." Aku merengut. Padahal kan aku benar-benar rindu dengan suasana kampung...Sesuai perkiraan Mas Abi, hari ini Mamak dan Bapak sampai. Jam lima sore, mereka sudah sampai di rumah. Aku menyambutnya dengan pelukan hangat. Rindu sekali dengan Mamak yang bawel, dan Bapak yang apa adanya."Nabila, kamu tuh udah hamil segede itu malah jingkrak-jingkrak, nyeri Bapak lihat perutmu mentul-mentul," ucap Bapak. "Ho'oh, weteng wes gede ngono, egen pecicilan wae, Bil Bil." Mamak turut menimpali. "Kangen banget, Mak. Kan Bila seneng, akhirnya Mamak nemenin Bila disini, besok Bila ajakin jalan-jalan ke Mall, Mak." Aku memeluk Mamak lagi. Bapak melihatku sambil geleng-geleng kepala.Aku lalu mengajak mereka ke kamar yang sudah di persiapkan. Ruangan kosong yang sebelumnya dijadikan gudang, disulap jadi ruang kerja, sedangkan ruang kerja yang awalnya memang kamar tamu, dijadikan ka
Last Updated: 2025-10-22