Share

BAB 9

Penulis: Inspirasi Kopi
last update Tanggal publikasi: 2026-02-06 23:46:50

"Satria, sudah bangun?"

Itu suara wanita. Bukan suara cempreng Kiki ataupun suara lembut Laras.

Suara ini terdengar alto, sedikit serak khas orang baru bangun tidur namun

tetap dominan.

Satria tersentak kaget hingga langsung duduk tegak di kasur. Dia

mengucek matanya yang masih lengket karena kotoran mata. Nyawanya belum

terkumpul sepenuhnya.

"I-iya! Sebentar!" seru Satria panik.

Dia melihat ke bawah ke arah tubuhnya sendiri. Untungnya dia masih

memakai celana jinsnya meski kaosnya yang sobek s
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Satria Idaman Wanita   BAB 120

    Satu detik. Dua detik. Tiga detik.Tiba-tiba, bahu Dinda mulai bergetar. Dan sedetik kemudian, tawa perempuan itu meledak sangat keras dan nyaring memenuhi ruangan."BWAHAHAHA! Ya ampun, Satria!" Dinda tertawa terbahak-bahak sampai harus memegangi perutnya dan terguling di atas kasur. Air mata sampai keluar dari sudut matanya saking kerasnya dia tertawa. Kakinya menendang-nendang udara kegirangan.Satria melongo. Dia menatap Dinda dengan wajah bingung bercampur kesal. Ini orang diceritain tragedi penyanderaan harga diri malah ketawa kesurupan."Lu kesurupan ya, Din?! Apanya yang lucu anjir?!" protes Satria sewot.Dinda berusaha duduk tegak, mengatur napasnya yang putus-putus karena terlalu banyak tertawa. Dia menunjuk wajah Satria yang sedang cemberut."Lu itu... aduh, sakit perut gue," Dinda mengusap air mata di sudut matanya. "Satria, Satria. Lu itu dikasih rejeki nomplok malah ngeluh panjang lebar! Adik bos lu itu cantik, kaya raya, masih muda, bening, kulitnya mulus, dan dia nawar

  • Satria Idaman Wanita   BAB 119

    "Jujur aja sama gue," Dinda mencondongkan badannya ke depan, menatap tepat ke manik mata Satria. "Pipi lu yang merah itu pasti ditampar sama Nona Vera kan? Bos lu marah besar karena lu ketahuan berbuat macam macam di rumahnya. Lu godain pembantu di sana ya? Atau... lu nekat godain Nona Vera sendiri terus dia nampar lu?!"Mendengar rentetan tuduhan itu, mata Satria langsung melotot. Harga dirinya jelas tersinggung kalau dituduh menggoda perempuan duluan."Sembarangan lu kalau ngomong! Laras itu asisten rumah tangga yang pakai kursi roda, mana mungkin gue godain dia! Apalagi godain Nona Vera, yang ada gue langsung dibacok pakai berkas kontrak miliaran!" bantah Satria cepat dengan nada tinggi.Dinda tersenyum penuh kemenangan. Umpannya berhasil dimakan."Oh, jadi bukan Laras, dan bukan Nona Vera," gumam Dinda pelan sambil mengangguk angguk mengerti. Matanya menyipit, menatap Satria dengan seringai penuh teka teki."Terus kalau bukan pembantu dan bukan bos lu... di rumah mewah itu ada sia

  • Satria Idaman Wanita   BAB 118

    Namun, di tengah kepanikan Satria menahan iman, sebuah bencana yang jauh lebih besar sedang mengintai.Saat Dinda menggesekkan wajahnya mencari posisi yang lebih pas, ujung hidungnya tanpa sengaja menyentuh kerah kaus oblong hitam yang dipakai Satria. Kain kaus itu sedikit tertarik ke bawah, mengekspos bagian kanan leher Satria yang sedikit ke bawah.Dinda yang tadinya memejamkan mata karena nyaman, perlahan membuka kelopak matanya saat merasakan ada tekstur kulit yang sedikit berbeda di sana.Pandangan Dinda yang awalnya sayu mengantuk, mendadak berubah fokus. Jarak matanya hanya beberapa sentimeter dari kulit leher Satria. Di sana, tercetak dengan sangat jelas sebuah noda merah kebiruan seukuran koin yang bentuknya sangat familiar bagi orang dewasa mana pun.Tubuh Dinda yang tadinya menempel rileks mendadak kaku.Pelan-pelan, Dinda menarik wajahnya dari ceruk leher Satria. Dia mengangkat kepalanya dan menopang tubuhnya dengan satu siku, menatap lurus ke arah leher pemuda itu dengan

  • Satria Idaman Wanita   BAB 117

    Lima belas menit berlalu, tapi bagi Satria rasanya seperti lima belas tahun. Matanya terpejam sangat rapat, tapi otaknya malah berputar seratus kilometer per jam. Bagaimana mau tidur nyenyak kalau di sebelahnya ada perempuan cantik yang aroma vanillanya terus menerus menyiksa hidung?Satria mencoba mengatur napasnya sepelan mungkin supaya kelihatan sudah tidur pulas. Dada bidangnya naik turun dengan ritme yang sengaja dibuat sangat teratur. Tapi dia lupa satu hal penting. Dinda itu bukan anak kemarin sore yang gampang dibohongi pakai trik receh.Dinda yang masih berbaring miring menatap wajah Satria dengan senyum tertahan. Dia bisa melihat jelas kelopak mata Satria yang sedikit berkedut kedut menahan gugup. Belum lagi rahang pemuda itu yang sesekali mengeras."Sok sokan pules lu, Sat," batin Dinda geli. "Napas lu aja masih kaku gitu."Dinda memutuskan kalau godaannya siang ini harus dituntaskan sampai level maksimal. Tanpa aba aba sama sekali, Dinda langsung memajukan tubuhnya.Hap!K

  • Satria Idaman Wanita   BAB 116

    Dinda sama sekali tidak peduli dengan wajah Satria yang memerah panik. Perempuan cantik itu malah bergeser sedikit ke arah tembok, merapatkan tubuhnya untuk menyisakan ruang kosong di kasur. Ruang itu jelas cuma pas pasan buat badan Satria yang kekar dan besar.Tangan Dinda mulai menepuk nepuk bantal kosong di sebelahnya dengan ritme pelan tapi sangat menuntut."Sini buruan," panggil Dinda santai. "Gak usah banyak mikir. Lu dari semalam pasti belum tidur benar kan? Muka lu udah kusut banget kayak kanebo kering. Rebahan sini sebelah gue."Satria masih berdiri kaku memeluk handuknya. Dia menatap kasur itu seperti menatap jurang maut."Din, lu beneran gak waras ya. Gue ini cowok normal lho," protes Satria dengan suara yang agak serak. "Kasur lu kecil banget ukurannya. Entar kalau gue ketiduran terus gak sengaja meluk lu gimana? Gue kalau tidur kadang suka sembarangan geraknya."Mendengar alasan Satria yang setengah panik itu, Dinda malah makin tersenyum usil. Matanya mengerling jahil."P

  • Satria Idaman Wanita   BAB 115

    Di dalam kamar mandi yang ukurannya cuma sepetak itu, Satria menyandarkan punggungnya ke pintu. Dia membuang napas panjang. Udara di dalam kamar mandi ini ternyata sama saja, dipenuhi wangi sabun stroberi dan sampo bunga yang biasa dipakai Dinda.Satria menatap handuk biru muda di tangannya. Entah kenapa, ucapan jahil Dinda tadi malah terus terngiang ngiang di kepalanya, bikin otaknya traveling ke mana mana. Satria buru buru menggelengkan kepalanya dengan kuat untuk mengusir pikiran kotor yang mulai datang gara gara cewek usil di luar sana."Astaga naga. Bisa gila gue lama lama kalau begini ceritanya," gumam Satria sendirian sambil menyalakan keran air shower buat mendinginkan kepala dan badannya yang mulai kepanasan.Sementara itu di luar, Dinda kembali duduk di atas kasurnya. Dia mendengarkan suara gemericik air dari dalam kamar mandi sambil senyum senyum sendiri. Rencananya buat bikin preman kaku itu salah tingkah berjalan sangat sukses siang ini.Suara gemericik air dari dalam kam

  • Satria Idaman Wanita   BAB 70

    Satria mendengus geli mendengar alasan konyol itu. Dia mencondongkan badannya sedikit ke depan, menatap lurus ke mata si gondrong."Bastian nyuruh kalian ngapain aja malam ini? Gue tahu dia nyuruh kalian bikin gue cacat. Tapi masa bayar preman sebanyak ini cuma buat ngurusin satu asisten kayak gue?

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-02
  • Satria Idaman Wanita   BAB 74

    Mesin motor bebek butut Satria dimatikan tepat di depan garasi rumah mewah keluarga Mahameru. Suasana rumah sangat sepi. Lampu taman menyala terang, tapi sebagian besar lampu di lantai dua sudah diredupkan. Jam di ponsel Satria sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam.Satria turun dari mot

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-03
  • Satria Idaman Wanita   BAB 62

    Satria masih berdiri mematung dengan kedua tangan mengambang di udara. Napasnya tertahan. Dia benar-benar tidak berani bergerak sedikit pun saat Kiki memeluknya erat. Otaknya terus berdoa supaya tidak ada orang rumah yang tiba-tiba lewat lorong belakang atau mengetuk pintu kamarnya pagi ini.Setela

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-30
  • Satria Idaman Wanita   BAB 68

    Teriakan marah menggema di halaman pabrik tua itu. Puluhan preman beringas langsung berhamburan maju layaknya kawanan anjing lapar yang siap mencabik mangsa. Debu beterbangan dari kerikil yang dipijak sepatu bot mereka.Si botak bertato naga berada di barisan paling depan. Dia mengayunkan pipa besi

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-01
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status