تسجيل الدخولPak Darmawan tertawa pelan, geleng geleng kepala meremehkan. "Maklum saja, perusahaan rintisan tanpa modal kuat dari orang tua ya begini. Kadang cash flow nya seret. Beda kelas sama kita kita ini."Dada Vera naik turun menahan amarah yang sudah memuncak sampai ke ubun ubun. Dipermalukan mentah mentah di depan relasi bisnis penting adalah hal yang paling menghancurkan harga dirinya. Tangannya mengepal kuat memegangi gelas minumannya sampai buku buku jarinya memutih. Dia benar benar mati kutu karena fakta bahwa dia memang tidak membawa persiapan dana segar hari ini.Namun sebelum kelompok itu kembali melempar makian, Satria tiba tiba mengambil langkah panjang ke depan. Pemuda berbadan besar itu berdiri tepat di samping Vera. Bahunya yang lebar seakan menjadi tameng hidup yang menghalangi Vera dari tatapan merendahkan kelompok sombong tersebut.Satria menatap langsung ke arah mata Siska dan ayahnya secara bergantian dengan sorot mata preman yang mematikan, bersiap membalikkan keadaan di
Setibanya di ballroom Hotel Mulia, suasana elegan yang dipenuhi lampu kristal raksasa langsung menyambut mereka. Para tamu yang datang rata rata memakai setelan desainer ternama dan perhiasan berkilau.Satria berjalan tegap tepat di belakang sebelah kiri Vera. Wajah premannya disetel sedatar mungkin. Setelan jas biru malam yang pas di tubuh kekarnya sukses membuat Satria terlihat seperti pengawal VVIP profesional, bukan lagi preman pasar yang sering nongkrong di terminal.Baru saja Vera mengambil segelas minuman dari nampan pelayan yang lewat, sekelompok orang berjalan menghampiri mereka. Ada tiga wanita seumuran Vera yang memakai gaun mencolok. Ketiganya datang didampingi oleh pria pria paruh baya berjas rapi yang merupakan ayah mereka. Mereka adalah komplotan saingan bisnis Vera yang sejak dulu selalu iri dengan pencapaian wanita muda tersebut."Wah, lihat siapa yang datang. Nona Vera kita yang selalu sok sibuk," sapa seorang wanita bergaun merah menyala bernama Siska. Senyumnya dit
Begitu pesanan datang, Satria langsung makan dengan sangat lahap. Dia berusaha menahan diri untuk tidak makan berantakan karena sadar sedang memakai jas mahal, tapi kelaparannya jelas tidak bisa disembunyikan.Vera menyesap kopinya pelan sambil terus memperhatikan asistennya itu. Otak bisnis sang CEO mulai menyusun sebuah rencana baru di kepalanya. Dia butuh Satria untuk lebih dari sekadar berdiri di belakangnya. Dia butuh pengawal yang mobilitasnya tinggi."Satria," panggil Vera dengan nada serius setelah asistennya itu menghabiskan suapan terakhir nasi uduknya."Iya, Non?" Satria menenggak air putihnya sampai tandas lalu menatap bosnya. "Ada tugas berantem di acara amal nanti? Nona tenang aja, tenaga saya udah full seratus persen sekarang.""Bukan berantem," potong Vera cepat. Wanita itu meletakkan cangkir kopinya dan melipat kedua tangan di atas meja. Sorot matanya mengunci pandangan Satria. "Mulai besok pagi, saya minta kamu mulai belajar nyetir mobil."Uhuk! Satria yang baru saja
Sepuluh menit yang diberikan Nona Vera benar benar dimanfaatkan Satria dengan kecepatan kilat. Pemuda itu keluar dari paviliun belakang dengan napas sedikit memburu. Jaket kulit kusamnya sudah berganti dengan setelan jas berwarna biru malam yang jahitannya sangat pas memeluk tubuh besarnya. Kemeja putih di dalamnya tampak rapi tanpa dasi, dengan dua kancing atas sengaja dibiarkan terbuka supaya dia masih bisa bernapas.Bagi Satria, memakai jas mahal ini rasanya seperti dibungkus pakai karung goni basah yang super ketat. Gerakannya jadi kaku. Dia berjalan menuju mobil Alphard dengan langkah hati hati, takut kalau kalau celana kain mahalnya robek di bagian jahitan tengah.Pak Maman dengan sigap membukakan pintu penumpang. Satria masuk dan duduk di sebelah Vera yang sedang sibuk mengecek tablet kerjanya. Wangi parfum mewah langsung menyambut hidung Satria, menenggelamkan wangi nasi goreng udang yang masih terbayang bayang di kepalanya.Vera melirik sekilas dari balik layar tabletnya. Mat
Baru saja Satria mau menyuap sendok kelimanya, suara ketukan sepatu hak tinggi yang tajam dan berirama cepat terdengar mendekat dari arah tangga utama. Suara itu terdengar sangat tidak sabar, memecah suasana tenang dan manis yang sedang dibangun susah payah oleh Kiki di ruang makan.Nona Vera muncul dengan penampilan yang luar biasa memukau. Dia memakai gaun malam formal berwarna biru dongker yang elegan dengan potongan kerah tinggi. Rambutnya disanggul rapi, menonjolkan anting berlian yang berkilauan di telinganya. Wajahnya cantik, tapi ada guratan kesal yang sangat jelas terlihat di dahinya.Vera berhenti tepat di samping meja makan. Matanya melirik sinis ke arah nasi goreng udang di piring Satria, lalu beralih menatap tajam ke arah Kiki yang masih memakai celemek bunga-bunganya."Bagus ya. Pagi-pagi bukannya langsung siap-siap, malah main masak-masakan di sini," sindir Vera dengan nada dingin yang menusuk.Kiki yang tadi sedang tersenyum manis langsung cemberut. Bahunya merosot sek
Matahari pagi menyinari garasi dan paviliun belakang rumah mewah di Menteng itu. Satria terbangun dengan perasaan yang luar biasa segar. Tidurnya semalam benar benar pulas tanpa ada gangguan sama sekali. Pintu kamarnya kini juga sudah dipasangi gembok besar dari dalam, membuatnya merasa seaman pejabat negara di dalam bungker.Setelah mandi dan memakai seragam asistennya yang rapi, kemeja rapi dan celana bahan, Satria melangkah keluar paviliun menuju rumah utama. Perutnya sudah keroncongan minta diisi. Biasanya jam segini Laras atau Bi Inah sudah menyiapkan sarapan di meja makan.Begitu pintu dapur kotor didorong, hidung Satria langsung disambut aroma harum bawang putih dan mentega yang ditumis. Wanginya sangat menggugah selera. Satria berjalan santai melewati dapur bersih menuju ruang makan.Langkah Satria mendadak berhenti kaku tepat di ambang pintu ruang makan. Matanya mengerjap beberapa kali, mencoba memastikan kalau dia tidak sedang berhalusinasi atau masih tertidur.Di depan meja
Sementara itu, di sisi lain Jakarta yang nggak kalah panas.Bastian banting pintu mobilnya dengan keras pas sampai di parkiran depan rumah gedongannya. Wajahnya merah padam, penuh amarah, dendam, dan rasa malu yang nggak bisa ilang gitu aja dari otaknya. Gimana nggak? Malam itu harga dirinya diinja
"Bodo amat!" balas Vera ketus, terus menariknya keluar dari area warung, melewati para tukang yang sedang bekerja.Para tukang bangunan yang melihat kejadian itu bersiul-siul menggoda."Wuidih! Diculik bidadari tuh Bang Jagoan!" celetuk salah satu tukang."Hati-hati, Bang! Jangan sampe lecet!" timp
Lima belas menit kemudian, Satria keluar dari kamar tamu belakang. Rambutnya masih sedikit basah, tapi wajahnya sudah segar bugar. Dia kembali mengenakan celana jins belel dan jaket denim usangnya—karena kaos oblongnya yang robek sudah berakhir di tempat sampah. Jadi, dia terpaksa menutup ritsletin
Tanpa membuang waktu, Kiki meletakkan bantal sofa itu di pangkuanSatria, menutupi tenda yang sedang berdiri tegak itu dengan sempurna daripandangan Vera dan Laras."Nih, pakai bantal biar anget ya, Kak," ucap Kiki manis.Namun, di balik bantal itu, terjadi sesuatu yang membuat Satria nyaristerlo







