Share

BAB 10

last update publish date: 2026-02-06 23:47:15

Lima belas menit kemudian, Satria keluar dari kamar tamu belakang. Rambutnya masih sedikit basah, tapi wajahnya sudah segar bugar. Dia kembali mengenakan celana jins belel dan jaket denim usangnya—karena kaos oblongnya yang robek sudah berakhir di tempat sampah. Jadi, dia terpaksa menutup ritsleting jaketnya sampai dada untuk menutupi tubuh bertelanjang dadanya di balik jaket.

Satria berjalan menuju ruang tengah dengan langkah ringan. Di sana, pemandangan pagi keluarga kaya raya tersaji di depa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Satria Idaman Wanita   BAB 131

    Kiki mengerutkan keningnya. Dia mengambil kertas itu dan mulai membaca deretan kalimat kapital yang ditulis tangan oleh Satria.Saat matanya membaca judul "SURAT PERJANJIAN ANTI TERKAMAN DAN KEAMANAN BERSAMA", sudut bibir Kiki mulai berkedut. Dia menahan tawanya sekuat tenaga agar tidak meledak di depan kakaknya yang sedang menatap garang.Kiki melanjutkan membaca pasal demi pasal. Namun, alih alih merasa terpojok atau menyesal, otak cerdik si bungsu ini malah langsung bekerja membedah kalimat demi kalimat layaknya pengacara licik yang mencari celah hukum. Kesedihannya tadi sudah menguap entah ke mana, digantikan oleh insting berburunya yang kembali menyala."Ini surat apaan sih, Kak Satria? Kayak mau sewa ruko aja pakai materai segala," komentar Kiki sambil tersenyum meremehkan. Dia meletakkan kertas itu kembali ke meja. Jari telunjuknya mengetuk ngetuk pelan permukaan kertas."Lagian ya, Kak. Ini pasalnya banyak banget bolongnya," lanjut Kiki santai, matanya menatap Satria dengan se

  • Satria Idaman Wanita   BAB 130

    Mobil Alphard hitam itu akhirnya meluncur mulus melewati gerbang besi rumah mewah di kawasan Menteng. Begitu mobil berhenti tepat di depan teras utama, Satria menarik napas panjang. Rasanya baru beberapa jam yang lalu dia melangkah keluar dari rumah ini dengan hati panas dan harga diri hancur, kini dia kembali lagi dengan status yang sama tapi dengan jaminan selembar kertas folio di tangannya.Vera turun lebih dulu, disusul oleh Satria dari pintu sebelah kiri. Saat mereka melangkah masuk melewati pintu utama, suasana rumah terasa sangat sepi. Namun, dari arah ruang keluarga, terdengar suara televisi yang menyala tanpa ditonton.Di atas sofa panjang, Kiki sedang duduk meringkuk memeluk lutut. Gadis sembilan belas tahun itu memakai piyama kebesaran dengan wajah ditekuk habis habisan. Matanya sembab dan rambutnya sedikit berantakan. Dia benar benar melancarkan aksi mogok makan dan mogok senyum sejak kakaknya mengusir Satria tadi pagi.Mendengar suara langkah kaki di lorong, Kiki menoleh

  • Satria Idaman Wanita   BAB 129

    Sesuai perintah bos besarnya, Pak Maman segera menepikan mobil Alphard hitam itu di depan sebuah ruko kecil bertuliskan "Fotokopi Sinar Terang"."Biar saya yang turun beli, Non. Takutnya kalau Nona yang turun malah dikira artis lagi syuting," ucap Satria sambil membuka pintu geser mobil.Satria berjalan cepat masuk ke dalam tempat fotokopi yang sedikit panas itu. Abang penjaga fotokopi yang lagi asyik main ponsel sampai terlonjak kaget melihat pria berbadan besar, berjaket kulit kusam, dan berwajah garang tiba tiba masuk. Bang penjaga itu mungkin mengira Satria mau menagih uang keamanan."Beli materai sepuluh ribu dua lembar, Bang. Sama kertas folio bergaris dua lembar, terus pulpen tinta hitam satu yang paling lancar buat nulis," pesan Satria dengan suara beratnya yang khas.Si abang fotokopi cuma bisa mengangguk kaku. Dia buru buru mengambilkan semua pesanan Satria tanpa banyak tanya. Preman sangar beli alat tulis untuk bikin dokumen legal rasanya bukan pemandangan yang biasa dia li

  • Satria Idaman Wanita   BAB 128

    Kabin mobil mewah itu masih hening menunggu jawaban Satria. Vera menatap asistennya dengan mata yang masih merah dan penuh harap. Wanita itu sudah siap mengeluarkan cek kosong berapa pun nominalnya asalkan Satria mau kembali dan mengurus kekacauan di rumahnya.Satria membuang napas panjang. Otaknya berputar cepat menimbang nimbang tawaran ini. Gaji dua kali lipat jelas sangat menggoda buat orang yang baru beberapa jam jadi pengangguran. Tapi memori soal Kiki yang menguncinya di kamar dan menggodanya habis habisan masih menempel kuat di kepalanya. Belum lagi urusan Dinda di kosan yang juga mulai berani macam macam pagi ini. Kalau dia terus di luar, bisa bisa dia malah jadi korban perempuan lain."Oke, Non," jawab Satria pelan. Suaranya akhirnya memecah keheningan. "Saya mau balik kerja di rumah Nona."Wajah Vera langsung cerah seketika. Senyum lega mengembang lebar di bibirnya. Dia buru buru menghapus sisa air matanya pakai tisu."Syukurlah, Satria. Makasih banyak. Kamu mau minta fasil

  • Satria Idaman Wanita   BAB 127

    Kabin Alphard itu mendadak sunyi senyap. Deru mesin mobil dan suara klakson jalanan Sudirman sama sekali tidak bisa menembus kaca tebal tersebut. Satria masih menyandarkan punggungnya dengan lemas, menunggu hukuman atau makian apa lagi yang bakal keluar dari mulut bos besarnya ini.Namun, sesuatu yang sama sekali tidak pernah Satria bayangkan malah terjadi.Vera perlahan menundukkan kepalanya. Bahu wanita karier yang biasanya selalu tegak penuh wibawa itu kini terlihat merosot. Vera memijat pangkal hidungnya pelan, lalu membuang napas yang terdengar sangat panjang dan berat. Segala aura intimidasi dan kemarahannya menguap begitu saja, digantikan oleh raut wajah yang sangat lelah dan penuh rasa bersalah.Saat Vera kembali mengangkat wajahnya dan menatap Satria, mata tajam itu kini terlihat sedikit berkaca kaca."Maafin saya, Satria," ucap Vera dengan suara yang sangat pelan dan nyaris bergetar.Satria langsung melongo. Matanya mengerjap beberapa kali. Dia menatap Vera dari atas sampai

  • Satria Idaman Wanita   BAB 126

    "Alasan!" potong Vera cepat, matanya sedikit berkaca kaca karena campuran marah dan frustrasi. "Laki laki berbadan besar kayak kamu, jago berantem ngelawan belasan preman, masa bisa jadi korban anak umur sembilan belas tahun? Logika kamu di mana, Satria?! Kalau kamu emang gak ada niat buruk, kamu bisa aja dorong dia. Kamu bisa aja lari atau teriak minta tolong sama orang rumah. Tapi nyatanya kamu malah nikmatin kan?! Kamu biarin aja dia ngelakuin itu ke kamu sampai ninggalin bekas menjijikkan di leher kamu itu!"Kata kata Vera itu menohok tepat di titik kelemahan Satria. Memang benar, Satria punya tenaga untuk mendorong Kiki. Tapi waktu itu Kiki mengancam akan berteriak dilecehkan kalau Satria kabur. Dan sialnya, insting kelaki lakian Satria pada akhirnya memang kalah oleh godaan agresif si bungsu malam itu.Satria menunduk sejenak. Dia mengusap wajahnya dengan kedua tangan yang sedikit gemetar. Dia sadar dia juga salah karena pada akhirnya merespons godaan itu, tapi dia tetap tidak t

  • Satria Idaman Wanita   BAB 13

    Lima menit berlalu sejak Vera memberikan perintah tegas kepada Pak Darto untuk melanjutkan pekerjaan. Suasana proyek yang tadinya mati suri kini mulai menggeliat hidup. Deru mesin molen pengaduk semen kembali meraung, bersahutan dengan teriakan para tukang yang mengangkut bata hebel. Debu merah kem

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • Satria Idaman Wanita   BAB 12

    Suasana di warung tenda itu menegang hingga titik nadir. Udara panas Jakarta yang bercampur debu proyek terasa semakin menyesakkan, seolah oksigen di sekitar mereka tersedot habis oleh aura permusuhan yang kental.Bang Jago, preman botak yang merasa harga dirinya diinjak-injak di depan anak buahnya

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • Satria Idaman Wanita   BAB 17

    Sementara Satria sedang menikmati Wagyu A5 yang meleleh di mulutnya di restoran Jepang yang sejuk, situasi yang sangat kontras terjadi di belahan lain kota Jakarta.Di sebuah gedung perkantoran mewah di kawasan Kuningan, tepatnya di lantai 40 yang merupakan penthouse pribadi, suasana terasa begitu

    last updateLast Updated : 2026-03-19
  • Satria Idaman Wanita   BAB 14

    "Bodo amat!" balas Vera ketus, terus menariknya keluar dari area warung, melewati para tukang yang sedang bekerja.Para tukang bangunan yang melihat kejadian itu bersiul-siul menggoda."Wuidih! Diculik bidadari tuh Bang Jagoan!" celetuk salah satu tukang."Hati-hati, Bang! Jangan sampe lecet!" timp

    last updateLast Updated : 2026-03-18
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status