Share

BAB 8

last update publish date: 2026-02-06 23:46:32

"Ehem," deham Kiki keras. "Sudah, dong, dramanya. Lihat,

tuh, es batunya sampai mencair gara-gara suasananya panas banget."

Laras tersentak kaget. Dia buru-buru melepaskan tangan Satria dan

menegakkan duduknya di kursi roda. Wajahnya merah padam karena malu ketahuan

bermanja-manja di depan adiknya.

"Eh, maaf... aku... aku cuma..." Laras tergagap salah tingkah.

Satria tertawa kecil melihat tingkah kakak beradik itu. "Iya, nih,

Ki. Es batunya sudah jadi air sop."

Kiki mencibir lucu, lalu kembali
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Satria Idaman Wanita   BAB 122

    Satria keluar dari kamar mandi dengan wajah dan rambut yang sudah basah oleh air keran. Segarnya air lumayan membantu mendinginkan kepalanya yang sempat mendidih gara-gara panggilan 'suami' dari Dinda barusan.Dia berjalan menghampiri karpet dan duduk bersila tepat di depan Dinda. Bungkusan daun pisang berisi nasi uduk yang masih mengepul itu sudah terbuka lebar, menampakkan lauk telur dadar iris, tempe orek, dan sambal kacang yang menggugah selera. Di depannya, Dinda juga sudah siap dengan porsinya sendiri."Makan, Sat. Gak usah sungkan. Anggap aja rumah sendiri," ucap Dinda santai sambil mulai menyuap nasi uduknya pakai tangan.Satria mengangguk pelan. "Iya, makasih ya, Din. Ngerepotin lu terus gue dari semalam."Suasana kamar kos itu sempat hening selama beberapa menit. Keduanya sibuk menikmati sarapan pagi ala anak kosan yang sederhana tapi nikmat luar biasa. Suara kunyahan dan decakan pedas dari sambal kacang menjadi satu-satunya sumber keributan.Di sela-sela suapannya, Satria m

  • Satria Idaman Wanita   BAB 121

    Cahaya matahari pagi mulai masuk menembus celah ventilasi kamar kos. Udara Jakarta masih terasa lumayan sejuk. Setelah semalaman dibuat was was dan tidak bisa tidur dengan tenang, Satria akhirnya tertidur pulas menjelang subuh. Posisi tidurnya sekarang tengkurap sambil memeluk guling dengan erat. Guling beneran kali ini, bukan Dinda.Tanpa Satria sadari, teman satu kamarnya itu ternyata sudah bangun sejak tadi.Dinda terlihat sangat santai pagi ini. Perempuan itu baru saja pulang dari depan gang. Dia tidak lagi memakai baju tidur sutra atau baju kerja yang rapi, melainkan cuma memakai daster katun selutut berwarna biru dengan motif bunga kecil. Rambut panjangnya diikat cepol asal asalan ke atas, menampilkan leher jenjangnya yang mulus. Penampilannya benar benar seperti ibu rumah tangga muda yang baru selesai belanja ke pasar.Dinda meletakkan dua bungkus daun pisang berisi nasi uduk hangat di atas karpet. Wangi nasi uduk campur bawang goreng dan sambal kacang itu langsung menyebar mem

  • Satria Idaman Wanita   BAB 120

    Satu detik. Dua detik. Tiga detik.Tiba-tiba, bahu Dinda mulai bergetar. Dan sedetik kemudian, tawa perempuan itu meledak sangat keras dan nyaring memenuhi ruangan."BWAHAHAHA! Ya ampun, Satria!" Dinda tertawa terbahak-bahak sampai harus memegangi perutnya dan terguling di atas kasur. Air mata sampai keluar dari sudut matanya saking kerasnya dia tertawa. Kakinya menendang-nendang udara kegirangan.Satria melongo. Dia menatap Dinda dengan wajah bingung bercampur kesal. Ini orang diceritain tragedi penyanderaan harga diri malah ketawa kesurupan."Lu kesurupan ya, Din?! Apanya yang lucu anjir?!" protes Satria sewot.Dinda berusaha duduk tegak, mengatur napasnya yang putus-putus karena terlalu banyak tertawa. Dia menunjuk wajah Satria yang sedang cemberut."Lu itu... aduh, sakit perut gue," Dinda mengusap air mata di sudut matanya. "Satria, Satria. Lu itu dikasih rejeki nomplok malah ngeluh panjang lebar! Adik bos lu itu cantik, kaya raya, masih muda, bening, kulitnya mulus, dan dia nawar

  • Satria Idaman Wanita   BAB 119

    "Jujur aja sama gue," Dinda mencondongkan badannya ke depan, menatap tepat ke manik mata Satria. "Pipi lu yang merah itu pasti ditampar sama Nona Vera kan? Bos lu marah besar karena lu ketahuan berbuat macam macam di rumahnya. Lu godain pembantu di sana ya? Atau... lu nekat godain Nona Vera sendiri terus dia nampar lu?!"Mendengar rentetan tuduhan itu, mata Satria langsung melotot. Harga dirinya jelas tersinggung kalau dituduh menggoda perempuan duluan."Sembarangan lu kalau ngomong! Laras itu asisten rumah tangga yang pakai kursi roda, mana mungkin gue godain dia! Apalagi godain Nona Vera, yang ada gue langsung dibacok pakai berkas kontrak miliaran!" bantah Satria cepat dengan nada tinggi.Dinda tersenyum penuh kemenangan. Umpannya berhasil dimakan."Oh, jadi bukan Laras, dan bukan Nona Vera," gumam Dinda pelan sambil mengangguk angguk mengerti. Matanya menyipit, menatap Satria dengan seringai penuh teka teki."Terus kalau bukan pembantu dan bukan bos lu... di rumah mewah itu ada sia

  • Satria Idaman Wanita   BAB 118

    Namun, di tengah kepanikan Satria menahan iman, sebuah bencana yang jauh lebih besar sedang mengintai.Saat Dinda menggesekkan wajahnya mencari posisi yang lebih pas, ujung hidungnya tanpa sengaja menyentuh kerah kaus oblong hitam yang dipakai Satria. Kain kaus itu sedikit tertarik ke bawah, mengekspos bagian kanan leher Satria yang sedikit ke bawah.Dinda yang tadinya memejamkan mata karena nyaman, perlahan membuka kelopak matanya saat merasakan ada tekstur kulit yang sedikit berbeda di sana.Pandangan Dinda yang awalnya sayu mengantuk, mendadak berubah fokus. Jarak matanya hanya beberapa sentimeter dari kulit leher Satria. Di sana, tercetak dengan sangat jelas sebuah noda merah kebiruan seukuran koin yang bentuknya sangat familiar bagi orang dewasa mana pun.Tubuh Dinda yang tadinya menempel rileks mendadak kaku.Pelan-pelan, Dinda menarik wajahnya dari ceruk leher Satria. Dia mengangkat kepalanya dan menopang tubuhnya dengan satu siku, menatap lurus ke arah leher pemuda itu dengan

  • Satria Idaman Wanita   BAB 117

    Lima belas menit berlalu, tapi bagi Satria rasanya seperti lima belas tahun. Matanya terpejam sangat rapat, tapi otaknya malah berputar seratus kilometer per jam. Bagaimana mau tidur nyenyak kalau di sebelahnya ada perempuan cantik yang aroma vanillanya terus menerus menyiksa hidung?Satria mencoba mengatur napasnya sepelan mungkin supaya kelihatan sudah tidur pulas. Dada bidangnya naik turun dengan ritme yang sengaja dibuat sangat teratur. Tapi dia lupa satu hal penting. Dinda itu bukan anak kemarin sore yang gampang dibohongi pakai trik receh.Dinda yang masih berbaring miring menatap wajah Satria dengan senyum tertahan. Dia bisa melihat jelas kelopak mata Satria yang sedikit berkedut kedut menahan gugup. Belum lagi rahang pemuda itu yang sesekali mengeras."Sok sokan pules lu, Sat," batin Dinda geli. "Napas lu aja masih kaku gitu."Dinda memutuskan kalau godaannya siang ini harus dituntaskan sampai level maksimal. Tanpa aba aba sama sekali, Dinda langsung memajukan tubuhnya.Hap!K

  • Satria Idaman Wanita   BAB 33

    Hening sejenak. Dinda mencerna kata-kata Satria dengan mata terbelalak."Kamu ... tinggal di sana?" suara Dinda bergetar, nada suaranya berubah menjadi sangat rendah dan berbahaya. "Di rumah gedongan itu? Sama tiga cewek kaya yang cantik-cantik itu setiap hari? Pagi, siang, malam?!""Iya, tapi kan

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • Satria Idaman Wanita   BAB 37

    Udara dingin dari pendingin ruangan di kamar tamu belakang itu seolah kehilangan fungsinya. Hawa panas menguar kuat dari dua tubuh yang saling membelit di atas kasur empuk tersebut. Akal sehat Satria sudah sepenuhnya menguap, terkalahkan oleh ancaman pemecatan dan gairah darah muda yang meledak aki

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • Satria Idaman Wanita   BAB 34

    Satria perlahan memejamkan matanya. Tangan kanannya yang tadinya mengambang di udara kini turun, bertengger ragu-ragu di pinggang ramping Dinda. Merasakan sentuhan itu, Dinda semakin berani. Gadis itu mengalungkan kedua lengannya ke leher Satria, menarik tubuh pemuda itu agar semakin rapat denganny

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • Satria Idaman Wanita   BAB 28

    Secara perlahan, Kiki menurunkan kedua tangannya dari wajah. Rasa malunya memudar, digantikan oleh pemikiran lain yang jauh lebih licik dan menarik. Sudut bibir Kiki perlahan terangkat, membentuk sebuah senyuman jahil yang sangat berbahaya."Tunggu dulu," pikir Kiki. "Kalau Kak Satria denger dan li

    last updateLast Updated : 2026-03-22
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status