author-banner
Ruimoraa
Ruimoraa
Author

Novels by Ruimoraa

Terjerat Takdir Tuan Saka

Terjerat Takdir Tuan Saka

Arum Hadibrata tak pernah menyangka hidupnya akan berubah drastis dalam semalam. Demi menyelamatkan ayahnya dari jeratan utang, ia menerima tawaran pernikahan dari Saka Valenbrand, Presiden Direktur Savera Holdings, pria dingin yang nyaris tak tersentuh oleh siapapun. Bagi Saka, pernikahan ini bukan soal cinta. Ini murni strategi. Arum hanyalah bagian kecil dari rencana besarnya. Namun semua menjadi rumit ketika Arum dengan segala kesederhanaan, ketulusan, dan kepolosannya perlahan merobek dinding yang sudah lama ia bangun. Di tengah panasnya dunia bisnis, ancaman kompetitor dan konflik internal, Saka dihadapkan pada satu kenyataan, bahwa perempuan yang selama ini ia pandang sebelah mata justru menjadi satu-satunya alasan mengapa ia mulai melihat rumah sebagai tempat untuk pulang. Namun, ketika masa lalu yang kelam, pengkhianatan, dan rahasia mulai terungkap, mampukah keduanya bertahan? Ataukah pernikahan ini hanya akan menjadi bagian dari strategi… yang akhirnya menjadi senjata makan tuan?
Read
Chapter: Kecurigaan yang Belum Bernama
Koridor itu kembali sunyi setelah pintu ruang kerja Saka tertutup. Lampu-lampu putih memantul di lantai marmer, dingin dan rapi, kontras dengan kepala Raka yang sedang riuh.Langkahnya melambat ketika dua sosok keluar dari ruangan itu.Nico lebih dulu, wajahnya datar namun bahunya kaku, seperti seseorang yang menahan lelah terlalu lama. Di belakangnya, Arga menyusul, jasnya rapi, tetapi sorot matanya tidak. Bukan lelah biasa, itu adalah tatapan seseorang yang baru saja membicarakan sesuatu yang terlalu serius untuk dibawa keluar ruangan.Raka berhenti sepersekian detik, alisnya bertaut. Dalam sepersekian detik itu, cukup bagi Raka untuk benar-benar mengenali siapa yang berdiri di samping Nico. "Ngapain Arga di sini?"Pertanyaan itu muncul cepat, tajam dan langsung melekat di kepalanya. Arga bukan tipe orang yang akan datang tanpa alasan. Apalagi dengan raut wajah seperti itu. Nico dan Arga sendiri berhenti berbicara saat seseorang muncul dari arah berlawanan. Seseorang dengan langkah
Last Updated: 2026-02-02
Chapter: Ketika Duka Datang Bersamaan
Beberapa jam kemudian, pintu ruang kerja kembali terbuka. Arga melangkah masuk lebih dulu, disusul Nico di belakangnya.Langkah Arga lebih lambat dari biasanya, bahunya turun, wajahnya sedikit pucat, seperti baru saja mengalami sesuatu yang mengguncang dirinya.Saka langsung mengangkat kepala. Tatapannya menajam mencari sosok yang tak kunjung masuk ke dalam ruangan. "Mana Maverick?"Pertanyaan itu keluar spontan, bahkan sebelum Arga duduk.Arga menelan ludah, wajahnya berubah sedikit sendu. Nico yang berdiri di sampingnya menepuk bahu Arga, memberi sedikit tekanan pada bahu itu untuk duduk di kursi.Untuk sepersekian detik, ketiganya terdiam dalam hening yang aneh, berat dan tidak nyaman. Suara helaan napas Arga akhirnya memecah keheningan, sebelum akhirnya ia bicara dengan suara serak, "Dia di rumah sakit, lagi nemenin Lia."Alis Saka berkerut, ada sesuatu yang langsung terasa salah. "Kenapa di rumah sakit? Emangnya udah waktunya lahiran?"Nico menoleh pada Arga dengan raut sedih, le
Last Updated: 2026-02-01
Chapter: Rumah Bukan Lagi Tempat Aman
Ruang kerja itu terasa lebih sempit dari biasanya. Udara di dalamnya berat, seolah ada sesuatu yang menggantung dan menekan dada.Nico berlari panik memasuki ruangan, langkahnya melambat saat melihat ekspresi Saka, tangan lelaki itu mengepal erat, rahangnya jelas terlihat mengeras. Nico sempat melirik pada sebuah amplop cokelat yang tergeletak di atas lalu menatap Saka. "Ada apa? Ada kiriman lagi?"Saka langsung memberikan kertas kosong itu pada Nico, wajahnya memucat. "Orang ini udah masuk rumah, Nico," suaranya rendah, nyaris datar. Namun Nico tahu, itu bukan suatu ketenangan, melainkan amarah yang ditahan mati-matian.Nico menatap kertas itu dengan kening mengernyit, ia merasa sudah tahu kertas apa ini sebelum Saka menjelaskan. Ia memiringkan kepala, tangannya refleks mengangkat kertas itu ke arah cahaya jendela. Saat itu juga, ia melihat garis-garis bayangan mulai jelas menampilkan foto Arum. "Sa, ini..."Saka yang masih berdiri di depan jendela, menatap keluar dengan mata gelap,
Last Updated: 2026-02-01
Chapter: Ancaman Tanpa Suara
Pagi itu, cuaca sedikit mendung saat Saka dan Arum baru turun dari kamar. Belum sempat mereka duduk di meja makan, terdengar suara ketukan pintu disertai suara pak Dadang yang memanggil dengan sopan.Segera, Saka dan Arum menghampiri. Begitu bertatapan dengan pak Dadang, lelaki paruh baya itu menyerahkan sebuah paket besar yang baru saja dikirim oleh kurir. Kotaknya elegan, dibungkus rapi tanpa label pengirim. Hanya nama Saka yang tertulis di bagian atasnya. Saka mengernyit, lalu menatap Arum. "Kamu pesan sesuatu?"Arum menggelengkan kepala. "Engga, kok. Ini tertulis untuk tuan, bukan tuan yang pesan?"Saka menggelengkan kepala, ia juga tak merasa memesan apapun. Ingatannya berputar pada paket sebelumnya yang datang, apakah ini berasal dari orang yang sama?Rasa penasaran itu mengalahkan rasa curiganya. Ia membawa kotak itu masuk dan membukanya perlahan di ruang tamu.Begitu tutup terbuka, aroma bunga segar langsung menyergap. Namun itu bukanlah bunga biasa. Mata Arum membesar saat m
Last Updated: 2026-02-01
Chapter: Efek Domino
Awalnya hanya hal kecil, terlalu kecil untuk disebut masalah. Namun cukup aneh untuk membuat Saka mengernyitkan keningnya.Email klien penting tiba-tiba menghilang dari server internal. Laporan keuangan yang sudah disetujui tiba-tiba berubah angka. Meeting yang seharusnya tertutup bocor ke pihak luar, lengkap dengan detail yang seharusnya hanya diketahui jajaran tertentu. Bahkan Clara sebagai sekretaris pun mengaku tidak tahu menahu tentang hal ini. Meski dia sering menghilang di saat kerja, namun dia bersumpah tidak pernah membocorkan apapun pada pihak luar."Ini bukan human error,” gumam Saka, berdiri di depan layar ruang rapat dengan rahang mengeras. Naluri manajemennya langsung berisik, pola ini terlalu rapi untuk disebut sebagai kebetulan.Kantor mulai terasa panas. Karyawan saling bisik, kepala divisi panik. Semua orang menunggu keputusan, namun sebuah keputusan tidak bisa dibuat begitu saja.Tak hanya itu, masalah terus datang beruntun. Investor meminta klarifikasi, partner huk
Last Updated: 2026-02-01
Chapter: Saat Tenang Mulai Terusik
Begitu Raka Pradipta melangkah masuk ke gedung tinggi Savera Holdings, udara dingin dari AC tak sanggup meredam panas di dadanya, jantungnya berdegup keras. Ini... adalah wilayah kekuasaan dari seorang Saka Valenbrand. Bangunan itu megah, logo perusahaan terukir angkuh di dinding resepsionis. Meski begitu, tak ada sedikit pun kebencian tergambar di wajahnya ketika Nico menyapanya. "Selamat siang. Pak Raka, ya? Saya Nico, orang kepercayaan tuan Saka. Mari saya antar ke atas." Raka tersenyum hangat, lalu menganggukkan kepalanya. "Terima kasih banyak, pak Nico. Saya sudah merepotkan." Mereka masuk ke dalam lift dan naik bersama menuju ruangan presiden direktur. Raka diam-diam mencuri pandang ke arah lantai lift yang terus naik, dan sesekali melihat pantulan dirinya dan Nico di dinding lift stainless itu. Lift berdenting, mereka tiba di lantai paling atas. Nico mempersilakan Raka masuk ke dalam ruangan presiden direktur, tempat di mana Saka sudah menunggu. Ruangan kerja Saka sian
Last Updated: 2026-02-01
Dalam Jerat Tuan Maverick

Dalam Jerat Tuan Maverick

Julia tak pernah menyangka, suatu malam yang seharusnya hanya menjadi kesalahan, membawanya pada mimpi buruk yang rasanya tak pernah berakhir. Ia tak pernah menyangka pria asing yang bersamanya malam itu adalah seorang Maverick Langston Stonewell, atasan barunya di kantor. Bagi Maverick, pertemuan itu bukanlah suatu kebetulan, melainkan sebuah takdir. Sejak malam itu, ia tak bisa menghapus bayangan Julia dari pikirannya. Ia ingin Julia. Bukan hanya di kantor, tetapi dalam hidupnya, selamanya. Sementara Julia mencoba menjaga batas, Maverick semakin sulit dikendalikan. Apa yang dimulai dari satu malam, berubah menjadi perang batin antara rasa bersalah, manipulasi dan cinta yang berbalut obsesi. Karena bagi Maverick, jika ia telah menyentuhmu sekali, maka kamu tak akan pernah bisa lepas dari jangkauannya.
Read
Chapter: Dalam Jangkauannya
Besoknya di kantor, Maverick tampil seperti biasa. Gagah, berwibawa, namun dengan sorot mata yang berbeda. Tatapannya ke arah Julia terasa lebih dalam, seperti ada lapisan intensitas tak kasatmata yang hanya bisa dirasakan oleh Julia sendiri. Terkadang lelaki itu berdiri di pintu ruangannya, tampak seperti meninjau aktivitas sekitar, padahal matanya fokus hanya ke satu titik, Julia. Ia sengaja berdiri di sana lebih lama, memperhatikan cara Julia mengatur rambut, mengetik, bahkan sekadar mengambil pulpen.Julia yang duduk di meja luar ruang presdir, mengetik laporan dengan tenang, meski dadanya terasa sesak. Bukan karena tugas yang berat, namun karena ia sadar, ia sedang diawasi. Saat ia mengangkat kepala, mata mereka sering sekali bertemu. Tatapan itu membuat Julia menegang. Ia buru-buru kembali fokus ke layar komputer, pura-pura tak terganggu. Suasana kantor terasa semakin aneh bagi Julia. Maverick mungkin tak pernah terang-terangan, namun selalu hadir di radius terdekatnya. Di teng
Last Updated: 2026-02-03
Chapter: Kamu Punya Nyali untuk Pergi?
Ruangan kerja Maverick siang itu terasa lebih hening dari biasanya. Arga duduk di seberang meja, sambil membahas laporan mingguan. Selesai urusan, Maverick sempat diam beberapa detik sebelum akhirnya bertanya pelan tanpa menoleh. "Si sekretaris baru... siang ini dia ngapain?"Arga yang sedang berdiri sambil merapikan dokumen, menjawab dengan santai, "Siang ini gue ajak makan siang bareng. Sekalian mau gue jelasin detail kerjaannya, apa aja yang harus dia urus tiap harinya."Maverick berhenti menulis. Ujung penanya terhenti di atas kertas, tidak bergerak. Nadanya datar namun ada sedikit ketegangan terselip. "Berdua doang?""Iya," jawab Arga tanpa curiga. "Biar dia ga kaku juga kerja di sini. Kasihan kan, anaknya kayaknya canggung banget."Maverick tak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan dengan ekspresinya yang tetap dingin. Namun sebenarnya, darahnya mendidih."Ngapain juga harus berdua? Emang harus sambil makan siang? Kenapa ga ngobrol di sini aja??"Mata Maverick sempat melirik jam d
Last Updated: 2026-02-03
Chapter: Jejak di Hidungku
Lantai atas gedung Stonewell Technology selalu sunyi. Monitor menyala di meja, kode dan data real-time terus mengalir di layar, serta aroma kopi premium sudah menjadi bagian dari atmosfer. Namun hari ini, fokus Maverick terpecah oleh seseorang di luar ruangannya. Julia duduk di meja resepsionis eksekutif, tepat di depan ruang kerja Maverick. Maverick memijat pelipisnya, berpikir mengapa tak sejak lama ia mengganti tembok ruangannya dengan kaca, jika begitu ia dapat melihat Julia kapanpun ia mau. Ruang kerja yang tertutup rapat itu seakan menjadi kotak pengurung pikirannya. Biasanya fokusnya tajam, namun pagi ini entah mengapa layar monitor terasa kabur, dan tumpukan dokumen terasa lebih berat dari biasanya. Pikirannya terus melayang ke luar, ke seseorang yang kini hanya terpisah satu tembok darinya.Maverick yakin perempuan semalam itu Julia. Caranya menghindar pagi ini, diamnya, semua semakin memperkuat keyakinan itu. Tapi kenapa harus diam? Kenapa seolah tak terjadi apa-apa?Suara
Last Updated: 2025-12-20
Chapter: Wajah yang Tak Asing
Langkah Maverick memasuki lobi kantor langsung menarik perhatian semua yang ada di sana. Aura pria itu begitu dominan, seperti gelombang kekuatan yang mengalir tanpa perlu ia berteriak. Tatapan tajam dan sikap percaya diri yang nyaris mengintimidasi membuat ruangan yang luas itu seakan menyusut. Para pegawai, terutama wanita, tak bisa menahan pandangannya, terpesona sekaligus sedikit waspada.Di belakang Maverick, Arga melangkah dengan cara yang berbeda. Aura Arga lebih hangat dan mudah didekati, namun tetap ada kekuatan di balik kelembutannya. Senyumnya yang tulus dan sikapnya yang rendah hati membuat suasana jadi sedikit lebih ringan. Ia bukan hanya sebagai ajudan, tapi juga pelindung sekaligus teman yang bisa diandalkan.Maverick dan Arga melangkah menuju kantor presiden direktur, sebuah ruangan besar yang berada di lantai paling atas. Di dalam, ada meja kerja besar berdesain modern, kursi kulit hitam yang kokoh dan rak buku yang rapi dengan koleksi dokumen dan barang pribadi Maver
Last Updated: 2025-12-20
Chapter: Malam yang Mengubah Segalanya
"Ohh... God... Kenapa mereka ga pernah bilang rasanya bisa senikmat ini," erang Maverick, menyadari betapa nikmatnya penyatuan yang ia rasakan saat ini.Julia mencengkeram punggung Maverick dengan kuat, air mata dan keringat bercampur menjadi satu membasahi wajahnya. Maverick mengangkat kepalanya, lalu mengecup ujung mata Julia yang berair. Laki-laki itu dengan santai mengibas-ngibaskan rambutnya yang mulai lembab, membiarkan helaian gelap itu terurai bebas.Maverick menyandarkan dahinya ke pundak Julia, napasnya masih terasa berat dan panas, namun ada senyum tipis di bibirnya. "Panggil namaku, Lia…" bisiknya rendah, serak dan dalam.Julia yang masih setengah sadar dan terbuai, menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya memanggil. ".. Martin…"Maverick menghentikan gerakan pinggulnya, ia mengangkat kepalanya dan menatap Julia dengan tajam, rahangnya mengeras."Apa?" Julia membuka matanya perlahan ketika suara itu terdengar dingin, tegas dan menekan."Maverick," ucap Maverick terdengar
Last Updated: 2025-12-20
Chapter: Kesalahan yang Menggoda
Julia menggigit bibir bawahnya, tangannya mengepal, berusaha tetap tegar. "Sepertinya ada salah paham di sini, aku bukan perempuan bayaran seperti yang kamu maksud!" ucap Julia seraya berusaha melepaskan pelukan Maverick darinya.Maverick menghela napas pendek, ia menghirup aroma parfum dari belakang telinga Julia yang menguar samar. Terasa hangat, woody dan memabukkan. "Aneh," ucap Maverick pelan, "Perempuan lain, ketika ada di posisi kamu saat ini, mereka akan langsung memulai permainan. Mereka suka ketika aku begini. Tapi kamu…"Mata tajam Maverick melirik wajah Julia, menelusuri ketegangan di rahang perempuan itu, menelusuri sorot penuh amarah dan ketakutan di mata perempuan itu. ".. Kamu membuatku penasaran."Maverick sedikit memiringkan kepala, mengamati Julia seolah mencoba membaca pikirannya. Julia kembali mencoba melepaskan diri, namun tenaganya jauh dari kata cukup."Aku bisa membayar dua kali, tiga kali, ah bahkan sepuluh kali lipat dari yang teman-temanku berikan, tapi...
Last Updated: 2025-12-20
You may also like
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status