Share

Wajah yang Tak Asing

Penulis: Ruimoraa
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-20 18:54:46

Langkah Maverick memasuki lobi kantor langsung menarik perhatian semua yang ada di sana. Aura pria itu begitu dominan, seperti gelombang kekuatan yang mengalir tanpa perlu ia berteriak. Tatapan tajam dan sikap percaya diri yang nyaris mengintimidasi membuat ruangan yang luas itu seakan menyusut. Para pegawai, terutama wanita, tak bisa menahan pandangannya, terpesona sekaligus sedikit waspada.

Di belakang Maverick, Arga melangkah dengan cara yang berbeda. Aura Arga lebih hangat dan mudah didekati, namun tetap ada kekuatan di balik kelembutannya. Senyumnya yang tulus dan sikapnya yang rendah hati membuat suasana jadi sedikit lebih ringan. Ia bukan hanya sebagai ajudan, tapi juga pelindung sekaligus teman yang bisa diandalkan.

Maverick dan Arga melangkah menuju kantor presiden direktur, sebuah ruangan besar yang berada di lantai paling atas. Di dalam, ada meja kerja besar berdesain modern, kursi kulit hitam yang kokoh dan rak buku yang rapi dengan koleksi dokumen dan barang pribadi Maverick. Lampu gantung minimalis menambah kesan mewah dan profesional di ruangan itu.

Arga berdiri di samping meja besar Maverick seraya menyodorkan sebuah map berisi data diri sekretaris baru yang akan mulai bekerja hari ini. "Mav, soal struktur baru udah gue siapin, termasuk sekretaris baru lo. Orang HR bilang anaknya recommended banget. Namanya—"

Tanpa menunggu, Maverick langsung menarik berkas itu, membuka halaman depannya dan memperhatikan foto formal yang menyambutnya.

Dada Maverick terasa sedikit menegang, namun wajahnya tetap datar. "Bagus," katanya pelan. Matanya menuruni data biodata, seolah menikmati setiap detil kecilnya. Sudut bibirnya bergerak perlahan, bukan hanya sekedar senyuman, namun juga pengakuan tak bersuara bahwa semesta memang selucu itu.

"Lo kelihatan seneng," celetuk Arga, heran melihat ekspresi tipis itu di wajah Maverick.

Maverick menutup map itu perlahan. Bersamaan dengan suara datarnya, ia mengembalikan map itu pada Arga. "Suruh dia masuk kalau sudah siap."

---

Julia melangkahkan kakinya secepat yang ia bisa memasuki gedung menjulang tinggi tempatnya bekerja saat ini. Ia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya dan memastikan tidak terlambat. Langkahnya yang sedikit tertahan kini menginjakkan kaki di lobi kantor.

Wajahnya tampak tenang meski tubuhnya tak sepenuhnya mampu menyembunyikan sisa rasa dari semalam. Gerakan kakinya sedikit canggung, paha bagian dalamnya terasa ngilu setiap kali bersentuhan. Ia sudah berusaha sebisa mungkin tampil rapi dengan blouse putih dengan rok pensil hitam selutut dan rambut yang diikat dengan rapi. Namun tetap saja, rasa asing itu masih membekas. Dan ia tahu dengan pasti, tidak mungkin ia bisa izin di hari ini.

Di lobi, Arga sudah menunggu dengan ekspresi profesional namun hangat. Arga menyapa Julia dengan ramah, sedikit berbasa-basi menanyakan kabar dan kesiapan diri Julia. Setelah itu, mereka naik bersama ke lantai presdir.

Setibanya di lantai atas, sebelum langsung ke ruangan Maverick, Arga mengajak Julia ke ruang briefing kecil yang berada di dekat ruang presdir. Di sana, Arga memberi Julia pengarahan singkat mengenai tugas dan ekspektasi di hari itu, semacam overview pekerjaan sekretaris yang akan mendampingi Maverick. Briefing ini penting agar Julia tahu apa yang harus dilakukan sebelum langsung bertemu dengan Maverick. Setelah briefing, mereka kini melangkah bersama menuju ke ruang presdir.

Pintu ruangan kerja Maverick diketuk perlahan. Begitu pintu terbuka dan memperlihatkan sosok Arga dan seorang perempuan yang nampak tak asing bagi Maverick, rasanya semua berjalan lambat di kepala Maverick.

Langkah perempuan itu sedikit tertahan ketika melihat siapa yang duduk di kursi utama. Matanya membulat, napasnya terhenti sejenak.

"Tidak mungkin..." batin Julia masih tak percaya.

Julia masih mencoba mempertahankan ekspresi datarnya, meskipun jelas pupil matanya membesar karena terkejut, takut dan marah berkumpul menjadi satu. Maverick menyandarkan punggungnya santai, kedua tangannya saling menggenggam di atas meja.

Tatapan Maverick masih intens menatap Julia. Ada aura dominasi dan kekuasaan yang terpancar dari dirinya, membuat siapa pun merasa kecil dan tak berdaya saat berada di dekatnya. Namun, ada sesuatu yang berbeda dalam tatapan itu, sebuah rasa penasaran yang sulit untuk disembunyikan.

Mata Maverick menelusuri sosok Julia dari atas sampai bawah dengan penuh analisis. Ia bisa melihat bahwa perempuan itu masih membawa sisa-sisa kelelahan dan trauma dari malam sebelumnya, tetapi Julia berusaha keras menyembunyikannya, menundukkan kepala, mencoba menahan perasaan yang berkecamuk di dalam dada.

"Duduklah," Maverick memerintah dengan suara tegas namun tenang.

Julia mengambil kursi di depan meja itu, mencoba mengatur napasnya. Tubuhnya sedikit tegang, terlihat dari bahunya yang tak benar-benar rileks.

Maverick menatapnya beberapa saat, kemudian berkata, "Hari ini kamu akan mulai dengan mengenal struktur perusahaan. Saya ingin kamu memahami betul apa yang saya lakukan, bagaimana saya bekerja. Sekretaris bukan cuma mencatat jadwal, tapi juga harus tahu ritme dan tujuan utama perusahaan."

"Julia." Arga membuka suara seraya menyerahkan beberapa map berisi dokumen. "Ini semua yang kamu butuhkan untuk hari ini. Mulailah pelajari dengan saksama. Jika ada yang membingungkan, jangan ragu untuk bertanya. Saya akan bantu saat briefing nanti." Julia mengangguk pelan, berusaha mengusir rasa takut dan beban yang menghimpitnya.

Arga lalu mengangguk ke arah Maverick, memberi tanda bahwa ia akan meninggalkan ruangan. Setelah pintu tertutup, suasana menjadi semakin hening dan tegang.

Maverick perlahan berdiri, suara langkah sepatunya menggema di lantai marmer, menyusup ke relung dada Julia yang berdebar cepat. Senyum tipis muncul di bibirnya, namun sorot matanya tetap tajam dan penuh arti.

"Apakah cara berjalanmu yang seperti itu karena ulahku semalam?" suara Maverick berat dan mengandung nada mengejek halus, lalu disusul tawa tipis yang dalam.

Julia merasakan detak jantungnya meningkat ketika lelaki di hadapannya mengingat siapa dirinya. Ia menelan salivanya dan berusaha tetap teguh, tak membiarkan dirinya terjerumus ke dalam ketakutan.

Maverick bersandar di depan meja, begitu dekat dengan Julia. matanya tak lepas menatap perempuan itu dengan senyum tipis penuh arti menghiasi bibirnya. "Julia, kamu benar-benar tidak ingat apa yang terjadi semalam? Atau... kamu sengaja berpura-pura tidak ingat?"

Julia menatap balik dengan tatapan yang sulit ditebak. Napasnya tertahan sejenak, ia menarik napas dalam, berusaha menguasai dirinya. "Maaf, tuan Maverick. Saya tidak tahu apa maksud Anda," ujarnya pelan, suaranya bergetar tipis namun berusaha terdengar tegas.

Maverick sedikit membungkuk, memperhatikan wajah Julia dengan saksama. "Aku tanya sekali lagi. Kamu benar-benar tidak ingat apa yang terjadi malam itu? Bagaimana bisa kamu begitu tenang setelah segala hal yang seharusnya membuatmu… terguncang?"

Maverick menatapnya lama, menelusuri setiap ekspresi di wajah itu, berusaha mencari celah. Namun Julia tetap teguh, menutup rapat apapun yang ingin dia sembunyikan. "Aku tahu kamu berusaha kuat, Julia. Tapi jangan pikir kamu bisa sembunyi dari apa yang sudah terjadi."

Julia menatapnya dengan kepala sedikit terangkat, tidak menunjukkan ketakutan, hanya tatapan kosong dan kaku. "Maaf tuan, saya benar-benar tidak mengerti apa maksud tuan."

"Oh, ya?" bibir Maverick menyeringai kecil. Tangannya terangkat seolah ingin menyentuh pipi Julia, namun berhenti beberapa inci sebelum benar-benar menyentuh karena Julia menghindar darinya. "Kamu tahu, aku suka dengan orang yang denial. Tapi kamu… kamu benar-benar menantang."

Julia mengalihkan pandangan, matanya mulai berkaca-kaca. "Saya mohon, tuan. Jika tidak ada urusan pekerjaan, izinkan saya kembali ke meja saya."

Maverick menghela napas berat. "Kenapa kamu bersikap seolah aku tak pernah ada? Padahal kamu yang menggeliat di bawahku semalam… menatapku seperti aku adalah segalanya." Suaranya mulai dingin, nyaris menyakitkan.

Julia menggeleng pelan. "Saya tidak tahu apa yang Anda maksud. Mungkin Anda salah orang."

Kalimat itu menghujam seperti tamparan. Maverick menatapnya lama dalam diam. Senyumnya memudar, berubah menjadi raut yang lebih serius dan tak terbaca. "Kamu luar biasa, Julia. Tapi percayalah, kalau kamu terus berpura-pura seperti ini… aku akan membuatmu mengingatnya."

"Mohon maaf, tuan. Tapi saya harus kembali ke meja saya," ucap Julia dengan cepat, karena rasanya ia sudah tak sanggup berada di sana lebih lama lagi. Ia berdiri, menundukkan kepala lalu dengan cepat berbalik dan keluar dari ruangan.

Maverick tak menghentikannya. Tapi begitu punggung Julia menjauh, matanya tak lepas mengawasi. Bukan sebagai atasan, namun sebagai lelaki yang mulai terobsesi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dalam Jerat Tuan Maverick    Dalam Jangkauannya

    Besoknya di kantor, Maverick tampil seperti biasa. Gagah, berwibawa, namun dengan sorot mata yang berbeda. Tatapannya ke arah Julia terasa lebih dalam, seperti ada lapisan intensitas tak kasatmata yang hanya bisa dirasakan oleh Julia sendiri. Terkadang lelaki itu berdiri di pintu ruangannya, tampak seperti meninjau aktivitas sekitar, padahal matanya fokus hanya ke satu titik, Julia. Ia sengaja berdiri di sana lebih lama, memperhatikan cara Julia mengatur rambut, mengetik, bahkan sekadar mengambil pulpen.Julia yang duduk di meja luar ruang presdir, mengetik laporan dengan tenang, meski dadanya terasa sesak. Bukan karena tugas yang berat, namun karena ia sadar, ia sedang diawasi. Saat ia mengangkat kepala, mata mereka sering sekali bertemu. Tatapan itu membuat Julia menegang. Ia buru-buru kembali fokus ke layar komputer, pura-pura tak terganggu. Suasana kantor terasa semakin aneh bagi Julia. Maverick mungkin tak pernah terang-terangan, namun selalu hadir di radius terdekatnya. Di teng

  • Dalam Jerat Tuan Maverick    Kamu Punya Nyali untuk Pergi?

    Ruangan kerja Maverick siang itu terasa lebih hening dari biasanya. Arga duduk di seberang meja, sambil membahas laporan mingguan. Selesai urusan, Maverick sempat diam beberapa detik sebelum akhirnya bertanya pelan tanpa menoleh. "Si sekretaris baru... siang ini dia ngapain?"Arga yang sedang berdiri sambil merapikan dokumen, menjawab dengan santai, "Siang ini gue ajak makan siang bareng. Sekalian mau gue jelasin detail kerjaannya, apa aja yang harus dia urus tiap harinya."Maverick berhenti menulis. Ujung penanya terhenti di atas kertas, tidak bergerak. Nadanya datar namun ada sedikit ketegangan terselip. "Berdua doang?""Iya," jawab Arga tanpa curiga. "Biar dia ga kaku juga kerja di sini. Kasihan kan, anaknya kayaknya canggung banget."Maverick tak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan dengan ekspresinya yang tetap dingin. Namun sebenarnya, darahnya mendidih."Ngapain juga harus berdua? Emang harus sambil makan siang? Kenapa ga ngobrol di sini aja??"Mata Maverick sempat melirik jam d

  • Dalam Jerat Tuan Maverick    Jejak di Hidungku

    Lantai atas gedung Stonewell Technology selalu sunyi. Monitor menyala di meja, kode dan data real-time terus mengalir di layar, serta aroma kopi premium sudah menjadi bagian dari atmosfer. Namun hari ini, fokus Maverick terpecah oleh seseorang di luar ruangannya. Julia duduk di meja resepsionis eksekutif, tepat di depan ruang kerja Maverick. Maverick memijat pelipisnya, berpikir mengapa tak sejak lama ia mengganti tembok ruangannya dengan kaca, jika begitu ia dapat melihat Julia kapanpun ia mau. Ruang kerja yang tertutup rapat itu seakan menjadi kotak pengurung pikirannya. Biasanya fokusnya tajam, namun pagi ini entah mengapa layar monitor terasa kabur, dan tumpukan dokumen terasa lebih berat dari biasanya. Pikirannya terus melayang ke luar, ke seseorang yang kini hanya terpisah satu tembok darinya.Maverick yakin perempuan semalam itu Julia. Caranya menghindar pagi ini, diamnya, semua semakin memperkuat keyakinan itu. Tapi kenapa harus diam? Kenapa seolah tak terjadi apa-apa?Suara

  • Dalam Jerat Tuan Maverick    Wajah yang Tak Asing

    Langkah Maverick memasuki lobi kantor langsung menarik perhatian semua yang ada di sana. Aura pria itu begitu dominan, seperti gelombang kekuatan yang mengalir tanpa perlu ia berteriak. Tatapan tajam dan sikap percaya diri yang nyaris mengintimidasi membuat ruangan yang luas itu seakan menyusut. Para pegawai, terutama wanita, tak bisa menahan pandangannya, terpesona sekaligus sedikit waspada.Di belakang Maverick, Arga melangkah dengan cara yang berbeda. Aura Arga lebih hangat dan mudah didekati, namun tetap ada kekuatan di balik kelembutannya. Senyumnya yang tulus dan sikapnya yang rendah hati membuat suasana jadi sedikit lebih ringan. Ia bukan hanya sebagai ajudan, tapi juga pelindung sekaligus teman yang bisa diandalkan.Maverick dan Arga melangkah menuju kantor presiden direktur, sebuah ruangan besar yang berada di lantai paling atas. Di dalam, ada meja kerja besar berdesain modern, kursi kulit hitam yang kokoh dan rak buku yang rapi dengan koleksi dokumen dan barang pribadi Maver

  • Dalam Jerat Tuan Maverick    Malam yang Mengubah Segalanya

    "Ohh... God... Kenapa mereka ga pernah bilang rasanya bisa senikmat ini," erang Maverick, menyadari betapa nikmatnya penyatuan yang ia rasakan saat ini.Julia mencengkeram punggung Maverick dengan kuat, air mata dan keringat bercampur menjadi satu membasahi wajahnya. Maverick mengangkat kepalanya, lalu mengecup ujung mata Julia yang berair. Laki-laki itu dengan santai mengibas-ngibaskan rambutnya yang mulai lembab, membiarkan helaian gelap itu terurai bebas.Maverick menyandarkan dahinya ke pundak Julia, napasnya masih terasa berat dan panas, namun ada senyum tipis di bibirnya. "Panggil namaku, Lia…" bisiknya rendah, serak dan dalam.Julia yang masih setengah sadar dan terbuai, menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya memanggil. ".. Martin…"Maverick menghentikan gerakan pinggulnya, ia mengangkat kepalanya dan menatap Julia dengan tajam, rahangnya mengeras."Apa?" Julia membuka matanya perlahan ketika suara itu terdengar dingin, tegas dan menekan."Maverick," ucap Maverick terdengar

  • Dalam Jerat Tuan Maverick    Kesalahan yang Menggoda

    Julia menggigit bibir bawahnya, tangannya mengepal, berusaha tetap tegar. "Sepertinya ada salah paham di sini, aku bukan perempuan bayaran seperti yang kamu maksud!" ucap Julia seraya berusaha melepaskan pelukan Maverick darinya.Maverick menghela napas pendek, ia menghirup aroma parfum dari belakang telinga Julia yang menguar samar. Terasa hangat, woody dan memabukkan. "Aneh," ucap Maverick pelan, "Perempuan lain, ketika ada di posisi kamu saat ini, mereka akan langsung memulai permainan. Mereka suka ketika aku begini. Tapi kamu…"Mata tajam Maverick melirik wajah Julia, menelusuri ketegangan di rahang perempuan itu, menelusuri sorot penuh amarah dan ketakutan di mata perempuan itu. ".. Kamu membuatku penasaran."Maverick sedikit memiringkan kepala, mengamati Julia seolah mencoba membaca pikirannya. Julia kembali mencoba melepaskan diri, namun tenaganya jauh dari kata cukup."Aku bisa membayar dua kali, tiga kali, ah bahkan sepuluh kali lipat dari yang teman-temanku berikan, tapi...

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status