Home / Romansa / Dalam Jerat Tuan Maverick / Kamu Punya Nyali untuk Pergi?

Share

Kamu Punya Nyali untuk Pergi?

Author: Ruimoraa
last update Last Updated: 2026-02-03 10:51:34

Ruangan kerja Maverick siang itu terasa lebih hening dari biasanya. Arga duduk di seberang meja, sambil membahas laporan mingguan. Selesai urusan, Maverick sempat diam beberapa detik sebelum akhirnya bertanya pelan tanpa menoleh. "Si sekretaris baru... siang ini dia ngapain?"

Arga yang sedang berdiri sambil merapikan dokumen, menjawab dengan santai, "Siang ini gue ajak makan siang bareng. Sekalian mau gue jelasin detail kerjaannya, apa aja yang harus dia urus tiap harinya."

Maverick berhenti me
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dalam Jerat Tuan Maverick    Dalam Jangkauannya

    Besoknya di kantor, Maverick tampil seperti biasa. Gagah, berwibawa, namun dengan sorot mata yang berbeda. Tatapannya ke arah Julia terasa lebih dalam, seperti ada lapisan intensitas tak kasatmata yang hanya bisa dirasakan oleh Julia sendiri. Terkadang lelaki itu berdiri di pintu ruangannya, tampak seperti meninjau aktivitas sekitar, padahal matanya fokus hanya ke satu titik, Julia. Ia sengaja berdiri di sana lebih lama, memperhatikan cara Julia mengatur rambut, mengetik, bahkan sekadar mengambil pulpen.Julia yang duduk di meja luar ruang presdir, mengetik laporan dengan tenang, meski dadanya terasa sesak. Bukan karena tugas yang berat, namun karena ia sadar, ia sedang diawasi. Saat ia mengangkat kepala, mata mereka sering sekali bertemu. Tatapan itu membuat Julia menegang. Ia buru-buru kembali fokus ke layar komputer, pura-pura tak terganggu. Suasana kantor terasa semakin aneh bagi Julia. Maverick mungkin tak pernah terang-terangan, namun selalu hadir di radius terdekatnya. Di teng

  • Dalam Jerat Tuan Maverick    Kamu Punya Nyali untuk Pergi?

    Ruangan kerja Maverick siang itu terasa lebih hening dari biasanya. Arga duduk di seberang meja, sambil membahas laporan mingguan. Selesai urusan, Maverick sempat diam beberapa detik sebelum akhirnya bertanya pelan tanpa menoleh. "Si sekretaris baru... siang ini dia ngapain?"Arga yang sedang berdiri sambil merapikan dokumen, menjawab dengan santai, "Siang ini gue ajak makan siang bareng. Sekalian mau gue jelasin detail kerjaannya, apa aja yang harus dia urus tiap harinya."Maverick berhenti menulis. Ujung penanya terhenti di atas kertas, tidak bergerak. Nadanya datar namun ada sedikit ketegangan terselip. "Berdua doang?""Iya," jawab Arga tanpa curiga. "Biar dia ga kaku juga kerja di sini. Kasihan kan, anaknya kayaknya canggung banget."Maverick tak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan dengan ekspresinya yang tetap dingin. Namun sebenarnya, darahnya mendidih."Ngapain juga harus berdua? Emang harus sambil makan siang? Kenapa ga ngobrol di sini aja??"Mata Maverick sempat melirik jam d

  • Dalam Jerat Tuan Maverick    Jejak di Hidungku

    Lantai atas gedung Stonewell Technology selalu sunyi. Monitor menyala di meja, kode dan data real-time terus mengalir di layar, serta aroma kopi premium sudah menjadi bagian dari atmosfer. Namun hari ini, fokus Maverick terpecah oleh seseorang di luar ruangannya. Julia duduk di meja resepsionis eksekutif, tepat di depan ruang kerja Maverick. Maverick memijat pelipisnya, berpikir mengapa tak sejak lama ia mengganti tembok ruangannya dengan kaca, jika begitu ia dapat melihat Julia kapanpun ia mau. Ruang kerja yang tertutup rapat itu seakan menjadi kotak pengurung pikirannya. Biasanya fokusnya tajam, namun pagi ini entah mengapa layar monitor terasa kabur, dan tumpukan dokumen terasa lebih berat dari biasanya. Pikirannya terus melayang ke luar, ke seseorang yang kini hanya terpisah satu tembok darinya.Maverick yakin perempuan semalam itu Julia. Caranya menghindar pagi ini, diamnya, semua semakin memperkuat keyakinan itu. Tapi kenapa harus diam? Kenapa seolah tak terjadi apa-apa?Suara

  • Dalam Jerat Tuan Maverick    Wajah yang Tak Asing

    Langkah Maverick memasuki lobi kantor langsung menarik perhatian semua yang ada di sana. Aura pria itu begitu dominan, seperti gelombang kekuatan yang mengalir tanpa perlu ia berteriak. Tatapan tajam dan sikap percaya diri yang nyaris mengintimidasi membuat ruangan yang luas itu seakan menyusut. Para pegawai, terutama wanita, tak bisa menahan pandangannya, terpesona sekaligus sedikit waspada.Di belakang Maverick, Arga melangkah dengan cara yang berbeda. Aura Arga lebih hangat dan mudah didekati, namun tetap ada kekuatan di balik kelembutannya. Senyumnya yang tulus dan sikapnya yang rendah hati membuat suasana jadi sedikit lebih ringan. Ia bukan hanya sebagai ajudan, tapi juga pelindung sekaligus teman yang bisa diandalkan.Maverick dan Arga melangkah menuju kantor presiden direktur, sebuah ruangan besar yang berada di lantai paling atas. Di dalam, ada meja kerja besar berdesain modern, kursi kulit hitam yang kokoh dan rak buku yang rapi dengan koleksi dokumen dan barang pribadi Maver

  • Dalam Jerat Tuan Maverick    Malam yang Mengubah Segalanya

    "Ohh... God... Kenapa mereka ga pernah bilang rasanya bisa senikmat ini," erang Maverick, menyadari betapa nikmatnya penyatuan yang ia rasakan saat ini.Julia mencengkeram punggung Maverick dengan kuat, air mata dan keringat bercampur menjadi satu membasahi wajahnya. Maverick mengangkat kepalanya, lalu mengecup ujung mata Julia yang berair. Laki-laki itu dengan santai mengibas-ngibaskan rambutnya yang mulai lembab, membiarkan helaian gelap itu terurai bebas.Maverick menyandarkan dahinya ke pundak Julia, napasnya masih terasa berat dan panas, namun ada senyum tipis di bibirnya. "Panggil namaku, Lia…" bisiknya rendah, serak dan dalam.Julia yang masih setengah sadar dan terbuai, menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya memanggil. ".. Martin…"Maverick menghentikan gerakan pinggulnya, ia mengangkat kepalanya dan menatap Julia dengan tajam, rahangnya mengeras."Apa?" Julia membuka matanya perlahan ketika suara itu terdengar dingin, tegas dan menekan."Maverick," ucap Maverick terdengar

  • Dalam Jerat Tuan Maverick    Kesalahan yang Menggoda

    Julia menggigit bibir bawahnya, tangannya mengepal, berusaha tetap tegar. "Sepertinya ada salah paham di sini, aku bukan perempuan bayaran seperti yang kamu maksud!" ucap Julia seraya berusaha melepaskan pelukan Maverick darinya.Maverick menghela napas pendek, ia menghirup aroma parfum dari belakang telinga Julia yang menguar samar. Terasa hangat, woody dan memabukkan. "Aneh," ucap Maverick pelan, "Perempuan lain, ketika ada di posisi kamu saat ini, mereka akan langsung memulai permainan. Mereka suka ketika aku begini. Tapi kamu…"Mata tajam Maverick melirik wajah Julia, menelusuri ketegangan di rahang perempuan itu, menelusuri sorot penuh amarah dan ketakutan di mata perempuan itu. ".. Kamu membuatku penasaran."Maverick sedikit memiringkan kepala, mengamati Julia seolah mencoba membaca pikirannya. Julia kembali mencoba melepaskan diri, namun tenaganya jauh dari kata cukup."Aku bisa membayar dua kali, tiga kali, ah bahkan sepuluh kali lipat dari yang teman-temanku berikan, tapi...

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status