Home / Romansa / Dalam Jerat Tuan Maverick / Kesalahan yang Menggoda

Share

Kesalahan yang Menggoda

Author: Ruimoraa
last update Last Updated: 2025-12-20 18:49:53

Julia menggigit bibir bawahnya, tangannya mengepal, berusaha tetap tegar. "Sepertinya ada salah paham di sini, aku bukan perempuan bayaran seperti yang kamu maksud!" ucap Julia seraya berusaha melepaskan pelukan Maverick darinya.

Maverick menghela napas pendek, ia menghirup aroma parfum dari belakang telinga Julia yang menguar samar. Terasa hangat, woody dan memabukkan.

"Aneh," ucap Maverick pelan, "Perempuan lain, ketika ada di posisi kamu saat ini, mereka akan langsung memulai permainan. Mereka suka ketika aku begini. Tapi kamu…"

Mata tajam Maverick melirik wajah Julia, menelusuri ketegangan di rahang perempuan itu, menelusuri sorot penuh amarah dan ketakutan di mata perempuan itu. ".. Kamu membuatku penasaran."

Maverick sedikit memiringkan kepala, mengamati Julia seolah mencoba membaca pikirannya. Julia kembali mencoba melepaskan diri, namun tenaganya jauh dari kata cukup.

"Aku bisa membayar dua kali, tiga kali, ah bahkan sepuluh kali lipat dari yang teman-temanku berikan, tapi..." Maverick menjeda perkataannya, ia semakin mendekat dan berbisik tepat di telinga Julia. "Tinggallah di sini malam ini," lanjutnya.

Julia menggeleng dengan cepat, suaranya terdengar serak, "Harus berapa kali aku bilang, aku bukan perempuan seperti itu! Aku pikir kamu orang baik! Lepaskan aku!!" pekik Julia seraya memberontak lebih keras.

Suasana kamar menjadi sangat hening ketika Maverick mendekap Julia lebih erat, hanya suara napas mereka yang terdengar dan berdempetan.

Julia menahan napas. Suasana kamar seolah menelan suara dan waktu. Ia bisa mendengar suara detak jantungnya sendiri, cepat dan kacau. Tubuhnya kaku, otaknya berusaha menakar segala kemungkinan, sementara tubuhnya masih berada dalam lingkaran lengan Maverick yang kuat.

Julia menggigit bibir, tubuhnya sedikit gemetar. Ia masih memikirkan bagaimana ia bisa sampai sejauh ini malam ini. Lelah, takut, dan entah mengapa terasa seperti seluruh hidupnya berubah hanya dalam satu langkah menuju kamar ini.

Maverick menunduk perlahan, membuat wajah mereka nyaris bersentuhan. Suasana di antara mereka menegang, Julia bisa merasakan napas Maverick serta aroma bir yang terasa sedikit pahit.

Dengan sekuat tenaga, Julia menyikut dada Maverick membuat laki-laki itu mengerang pelan seraya mundur satu langkah. "Arggh... sial," gumamnya, menahan nyeri.

Julia berhasil menjangkau kartu akses yang tergeletak di lantai. Dengan tangan gemetar, ia menempelkannya ke panel pintu. Senyum kecil terukir di wajah Julia ketika pintu terbuka setelah lampu berubah menjadi hijau.

Namun baru sepersekian detik sebelum ia sempat menyelinap keluar, sebuah tangan besar dan kuat menarik pergelangan tangannya dari belakang.

"Kamu pikir bisa pergi semudah itu?" Suara Maverick rendah di dekat telinganya. Pintu didorong kembali dengan bunyi keras, kartu direbut dari tangan Julia setelah pintu kembali terkunci. Maverick kembali melempar kartu itu ke sembarang arah.

"Tolong... biarkan aku pergi," ucap Julia lirih, air mata kembali jatuh ke pipinya.

Maverick tersenyum tipis seraya menggelengkan kepala pelan, seolah mengatakan bahwa ini belum berakhir. Dengan tangannya yang masih melingkar kuat di pinggang ramping Julia, Maverick berjalan bersama Julia mendekati kulkas.

Maverick mengeluarkan botol bir dari dalam kulkas, lalu menyodorkannya ke arah Julia. Matanya mengamati wajah tegang gadis itu, lalu senyum tipis muncul di bibirnya. Bukan senyum ramah, melainkan senyum puas, senyum predator yang tahu bagaimana cara menjatuhkan buruannya.

"Minum," ujarnya ringan, nada suara mabuk dan malas bercampur menjadi satu.

Julia menggelengkan kepalanya, tetap berusaha menjaga jarak dengan Maverick. "Aku ga minum."

Maverick tertawa pelan, tawa rendah yang menulari hawa ruangan dengan tekanan aneh, cukup untuk membuat Julia semakin merasa takut. "Kamu ini beda ya… Perempuan lain biasanya udah nyodorin diri mereka sebelum aku sempat ngomong. Tapi kamu malah nolak terus."

Tawanya semakin dalam, lalu dengan tenang ia menyentuhkan leher botol dingin itu ke bibir Julia. Julia memalingkan wajahnya, namun tangan Maverick menyentuh dagunya dan membuatnya tetap menatap Maverick. "Ayo. Kamu ga akan mati cuma karena seteguk bir."

Julia menepis tangan Maverick, namun gerakannya kalah cepat. Lelaki itu bukan hanya mabuk, namun juga penuh kendali. Napasnya terdengar berat, dan tatapannya seolah ingin membongkar seluruh pertahanan Julia.

Julia terdiam. Ia tahu dirinya terjebak. Napasnya mulai tak beraturan, bukan hanya karena takut, tapi juga karena tekanan yang makin mendekat.

Maverick mendekatkan lagi botol birnya, kini ia tak menyentuhkan botol itu ke bibir Julia, namun ke dagunya, sedikit mengangkat wajah gadis itu. "Coba saja sedikit, agar kamu tahu bagaimana rasanya duniaku," bisik Maverick.

Julia memejamkan mata sejenak, mencoba tetap tenang. Botol dingin itu masih menyentuh dagunya, dan tekanan Maverick tak kunjung surut. Tangannya mengepal di sisi tubuh, mencoba mengabaikan degup jantungnya yang kacau.

Dengan ragu, ia mencondongkan wajah sedikit, menyerah pada keadaan. Bibirnya menyentuh leher botol yang dingin, dan dalam satu tarikan pendek, ia membiarkan cairan pahit itu menyentuh lidahnya.

Begitu masuk ke tenggorokan, tubuhnya sontak bereaksi. Julia tersedak kecil, batuk sekali, lalu buru-buru memalingkan wajah. Matanya mengerjap pelan karena perih. Rasanya aneh, pahit, menyengat dan membakar sedikit di dada.

Maverick mengamati Julia dengan senyum penuh kemenangan. "Rasanya baru, ya?"

Maverick meneguk bir dari botol yang sama dengan Julia seraya tetap menatap Julia yang kini terlihat limbung. Mata gadis itu mulai berkabut, bukan karena mabuk, tapi karena campuran panik, marah dan bingung. Ia menatap Maverick dengan tatapan tajam.

"Kamu cantik sekali saat tersedak. Mungkin... sebentar lagi aku akan membuatmu tersedak dengan hal lain," goda Maverick dengan senyum miring, sengaja menambah tekanan.

Maverick kembali mendorong botol itu ke mulut Julia. "Minum lagi, aku ingin tahu kamu bisa tahan sampai mana."

---

Setelah menghabiskan dua botol bir bersama, tubuh Julia mulai melemah, namun masih bertahan menjaga kesadaran. Satu tangan Maverick meraih rambut panjang perempuan itu, membelainya lembut namun mengandung tekanan yang membuat Julia menegang.

Julia berusaha bangkit dan menjauh dari pangkuan Maverick, namun lututnya sudah tak sekuat sebelumnya, ia kembali terjatuh ke pangkuan lelaki itu. Napasnya memburu, tubuhnya terasa berat. Bir yang diminumnya mulai bekerja perlahan, membuat semua suara di sekelilingnya seakan bergema. Namun ia tetap mencoba melawan.

"Aku bukan... perempuan seperti yang kamu pikir," desisnya terbata namun tegas.

Maverick mendengus mendengar perkataan itu. "Masih bisa bicara?" Maverick kembali tersenyum, senyum berbahaya.

Maverick menarik Julia semakin dekat dengannya, membuat wajah keduanya hampir bertabrakan. Julia berusaha mendorong dada bidang itu, namun tubuhnya terlalu berat.

Maverick menatap mata Julia lekat-lekat. Namun di balik itu, ada sesuatu yang membuatnya penasaran, ingin mengenal lebih jauh sosok yang tampak begitu berbeda dari semua yang pernah ia temui. Maverick merendahkan suara dan membisikkan, "Kalau kamu perempuan lain, kamu pasti sudah jatuh cinta padaku malam ini."

Julia menggelengkan kepalanya, lalu memalingkan wajah. "Aku bahkan gak tahu siapa kamu..."

Maverick tertawa pelan. "Bahkan kamu gak tahu siapa aku? Luar biasa," gumamnya, nyaris terdengar geli.

"Siapa nama kamu? Aku juga belum mendengar nama kamu," tanya Maverick penasaran.

".. Julia," balas Julia lirih, kesadarannya semakin menipis.

"Nama yang cantik. Kamu bisa memanggilku Maverick, ingat itu, Maverick." Julia dengan mata setengah terpejam mengangguk-anggukkan kepalanya.

Jari-jari Maverick memutar batang rokok itu pelan, lalu menyelipkannya ke antara bibir sambil sesekali melirik wajah Julia yang mengerut karena pusing. Lalu dengan sengaja Maverick membungkuk, mendekat ke arah wajah Julia.

"Baru segini udah lemas?" gumamnya kecil setelah menyemburkan asap rokok pelan-pelan ke wajah Julia.

Maverick tertawa begitu melihat Julia refleks mengerjap, lalu batuk kecil. Tubuh perempuan itu bergerak resah, mencoba menjauh.

"Ayolah, kamu masih belum melihat sisi terburukku, lho," katanya sambil mencolek dagu Julia dengan santai.

Julia akhirnya berhasil mendorong diri turun dari pangkuan Maverick, berdiri sempoyongan dan berusaha menjauh, tangannya memegangi sandaran sofa untuk membantunya dapat tetap berjalan walau perlahan.

Maverick tak tinggal diam, ia mengangkat tubuhnya dari sofa, menaruh rokok yang masih menyala di asbak, lalu menyusul langkah juntai Julia. Ia meraih pinggang mungil itu agar tak pergi kemana-mana. Namun pergerakan Julia tiba-tiba terhenti, membuat bokong perempuan itu bertabrakan dengan bagian kejantanan Maverick. Maverick sedikit mundur, memejamkan matanya dengan desahan kecil yang sempat keluar dari mulutnya.

Maverick membuka matanya perlahan, matanya menyusuri setiap lekuk tubuh Julia yang masih setengah berdiri di hadapannya. Niat awalnya yang hanya ingin mempermainkan perempuan itu perlahan sirna, tergantikan dengan hasrat yang tiba-tiba membara.

Julia menyingkirkan tangan Maverick darinya sekuat yang ia bisa, lalu kembali berjalan dengan bertumpu pada tembok. Maverick kembali melangkah dan berhasil menangkap tubuh Julia tepat waktu ketika perempuan itu hampir saja terjatuh. Dan entah kenapa, tangan yang memegang bahu Julia malah bergerak perlahan ke rahang, memutar wajah perempuan itu agar menatapnya. Julia dengan ketakutan samar di matanya menatap Maverick yang perlahan mulai sedikit mencondongkan tubuhnya. Dalam sekejap, bibir pria itu menempel di bibirnya membuat rasa panas terasa menjalar dari leher ke tubuhnya.

Maverick merasakan semacam tekanan hangat menyebar di dadanya, perlahan turun ke perut. Napasnya memburu. Mulutnya menempel terlalu lama, tangannya terlalu nyaman menggenggam pinggang Julia.

Maverick membiarkan Julia kembali bertopang pada tembok, ia menatap Julia sekali lagi, lebih tepatnya tubuh perempuan itu yang kini terlihat begitu menarik baginya.

".. Bagaimana kalau kita coba sedikit? Sedikit saja... Aku hanya ingin tahu bagaimana rasanya. Hanya bergesekan, tidak lebih...." batin Maverick setelah rasa penasaran mulai menggerogotinya.

Maverick memegang pinggul di hadapannya dengan erat, ia maju perlahan dan mulai menggesekkan bagian kejantanannya pada Julia. Seakan menolak, tangan Julia bergerak, menyentuh tangan Maverick dan berusaha menjauh dari lelaki yang saat ini tengah mendesah di belakang tubuhnya.

Rasa penasaran itu kini menjadi dorongan yang lebih dalam ketika tubuhnya mengenali rasa itu. Dan di situlah Maverick tahu, ia salah menilai permainan ini. Yang biasanya ia anggap hanya hiburan, kini mengguncang pikirannya sendiri. Ia ingin berhenti, namun tubuhnya menolak. Karena di balik segala kekacauan itu, tubuhnya bicara lebih jujur dari yang ia sangka.

Maverick mengangkat dress satin dusty pink yang membungkus tubuh Julia hingga ke pinggang, dengan gerakan cepat ia menarik celana pendek yang ada di dalamnya meskipun Julia berusaha memberontak.

"Apa yang mau kamu lakukan?! Menjauh dariku!!" bentak Julia, namun Maverick tak mempedulikannya.

Maverick mendorong bahu Julia agar perempuan itu tetap menghadap ke tembok. Tangan yang lain segera membuka resleting celananya dan membebaskan bagian kejantanannya yang sudah menegang.

Maverick menarik kaki Julia agar sedikit terbuka, lalu mulai menggesek-gesekkan bagian kejantanannya langsung di bagian sensitif Julia. Logikanya kacau seketika saat mendengar desahan pelan yang keluar dari mulut Julia.

Maverick mulai bergerak lebih dekat, berusaha mencari jalan untuk memasuki tubuh perempuan itu. "Hentikan..." larang Julia, meski tetap tak Maverick pedulikan.

Julia mengerang kesakitan ketika Maverick mendorong pinggulnya hingga berhasil menerobos inti tubuh Julia, merobek selaput keperawanan perempuan itu. Tangannya bergerak menarik dress Julia, tak peduli meski tangan kecil perempuan itu mencegahnya, ia tetap menarik dress itu hingga memperlihatkan dada yang saat ini bergoyang akibat gerakan pinggul Maverick.

Julia hanya bisa menangis sembari menutup mulutnya dengan tangan ketika dada bidang Maverick menyentuh punggungnya, tangan lelaki itu kini memainkan payudaranya dan meremasnya dengan kuat.

"Berteriaklah, mendesahlah sekeras apapun yang kamu mau... Ruangan ini kedap suara, jangan khawatir," bisik Maverick tepat di telinga Julia.

Napas Julia mulai tersengal disusul suara desahan setelah Maverick menghentakkan pinggulnya dan bergerak semakin cepat. Desahan keduanya seakan saling menyahuti, suara benturan dua kelamin memenuhi ruangan yang terasa sunyi itu.

Maverick mengangkat tubuh Julia yang lemas, menggendongnya dan berjalan mendekati ranjang. Ia merebahkan perempuan itu di tengah ranjang, lalu perlahan naik ke atas tubuh itu.

Maverick mencondongkan wajahnya lebih dekat, ia memagut bibir ranum di hadapannya tanpa ragu, membuat Julia menggeliat berusaha melawan.

Julia mendorong Maverick menjauh dengan sekuat tenaga, membuat aktivitas itu terhenti untuk sepersekian detik. Tangan Maverick menyentuh tengkuk Julia dan memaksanya untuk kembali mendekat, laki-laki itu kembali melumat bibir merah Julia dengan penuh gairah.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dalam Jerat Tuan Maverick    Dalam Jangkauannya

    Besoknya di kantor, Maverick tampil seperti biasa. Gagah, berwibawa, namun dengan sorot mata yang berbeda. Tatapannya ke arah Julia terasa lebih dalam, seperti ada lapisan intensitas tak kasatmata yang hanya bisa dirasakan oleh Julia sendiri. Terkadang lelaki itu berdiri di pintu ruangannya, tampak seperti meninjau aktivitas sekitar, padahal matanya fokus hanya ke satu titik, Julia. Ia sengaja berdiri di sana lebih lama, memperhatikan cara Julia mengatur rambut, mengetik, bahkan sekadar mengambil pulpen.Julia yang duduk di meja luar ruang presdir, mengetik laporan dengan tenang, meski dadanya terasa sesak. Bukan karena tugas yang berat, namun karena ia sadar, ia sedang diawasi. Saat ia mengangkat kepala, mata mereka sering sekali bertemu. Tatapan itu membuat Julia menegang. Ia buru-buru kembali fokus ke layar komputer, pura-pura tak terganggu. Suasana kantor terasa semakin aneh bagi Julia. Maverick mungkin tak pernah terang-terangan, namun selalu hadir di radius terdekatnya. Di teng

  • Dalam Jerat Tuan Maverick    Kamu Punya Nyali untuk Pergi?

    Ruangan kerja Maverick siang itu terasa lebih hening dari biasanya. Arga duduk di seberang meja, sambil membahas laporan mingguan. Selesai urusan, Maverick sempat diam beberapa detik sebelum akhirnya bertanya pelan tanpa menoleh. "Si sekretaris baru... siang ini dia ngapain?"Arga yang sedang berdiri sambil merapikan dokumen, menjawab dengan santai, "Siang ini gue ajak makan siang bareng. Sekalian mau gue jelasin detail kerjaannya, apa aja yang harus dia urus tiap harinya."Maverick berhenti menulis. Ujung penanya terhenti di atas kertas, tidak bergerak. Nadanya datar namun ada sedikit ketegangan terselip. "Berdua doang?""Iya," jawab Arga tanpa curiga. "Biar dia ga kaku juga kerja di sini. Kasihan kan, anaknya kayaknya canggung banget."Maverick tak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan dengan ekspresinya yang tetap dingin. Namun sebenarnya, darahnya mendidih."Ngapain juga harus berdua? Emang harus sambil makan siang? Kenapa ga ngobrol di sini aja??"Mata Maverick sempat melirik jam d

  • Dalam Jerat Tuan Maverick    Jejak di Hidungku

    Lantai atas gedung Stonewell Technology selalu sunyi. Monitor menyala di meja, kode dan data real-time terus mengalir di layar, serta aroma kopi premium sudah menjadi bagian dari atmosfer. Namun hari ini, fokus Maverick terpecah oleh seseorang di luar ruangannya. Julia duduk di meja resepsionis eksekutif, tepat di depan ruang kerja Maverick. Maverick memijat pelipisnya, berpikir mengapa tak sejak lama ia mengganti tembok ruangannya dengan kaca, jika begitu ia dapat melihat Julia kapanpun ia mau. Ruang kerja yang tertutup rapat itu seakan menjadi kotak pengurung pikirannya. Biasanya fokusnya tajam, namun pagi ini entah mengapa layar monitor terasa kabur, dan tumpukan dokumen terasa lebih berat dari biasanya. Pikirannya terus melayang ke luar, ke seseorang yang kini hanya terpisah satu tembok darinya.Maverick yakin perempuan semalam itu Julia. Caranya menghindar pagi ini, diamnya, semua semakin memperkuat keyakinan itu. Tapi kenapa harus diam? Kenapa seolah tak terjadi apa-apa?Suara

  • Dalam Jerat Tuan Maverick    Wajah yang Tak Asing

    Langkah Maverick memasuki lobi kantor langsung menarik perhatian semua yang ada di sana. Aura pria itu begitu dominan, seperti gelombang kekuatan yang mengalir tanpa perlu ia berteriak. Tatapan tajam dan sikap percaya diri yang nyaris mengintimidasi membuat ruangan yang luas itu seakan menyusut. Para pegawai, terutama wanita, tak bisa menahan pandangannya, terpesona sekaligus sedikit waspada.Di belakang Maverick, Arga melangkah dengan cara yang berbeda. Aura Arga lebih hangat dan mudah didekati, namun tetap ada kekuatan di balik kelembutannya. Senyumnya yang tulus dan sikapnya yang rendah hati membuat suasana jadi sedikit lebih ringan. Ia bukan hanya sebagai ajudan, tapi juga pelindung sekaligus teman yang bisa diandalkan.Maverick dan Arga melangkah menuju kantor presiden direktur, sebuah ruangan besar yang berada di lantai paling atas. Di dalam, ada meja kerja besar berdesain modern, kursi kulit hitam yang kokoh dan rak buku yang rapi dengan koleksi dokumen dan barang pribadi Maver

  • Dalam Jerat Tuan Maverick    Malam yang Mengubah Segalanya

    "Ohh... God... Kenapa mereka ga pernah bilang rasanya bisa senikmat ini," erang Maverick, menyadari betapa nikmatnya penyatuan yang ia rasakan saat ini.Julia mencengkeram punggung Maverick dengan kuat, air mata dan keringat bercampur menjadi satu membasahi wajahnya. Maverick mengangkat kepalanya, lalu mengecup ujung mata Julia yang berair. Laki-laki itu dengan santai mengibas-ngibaskan rambutnya yang mulai lembab, membiarkan helaian gelap itu terurai bebas.Maverick menyandarkan dahinya ke pundak Julia, napasnya masih terasa berat dan panas, namun ada senyum tipis di bibirnya. "Panggil namaku, Lia…" bisiknya rendah, serak dan dalam.Julia yang masih setengah sadar dan terbuai, menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya memanggil. ".. Martin…"Maverick menghentikan gerakan pinggulnya, ia mengangkat kepalanya dan menatap Julia dengan tajam, rahangnya mengeras."Apa?" Julia membuka matanya perlahan ketika suara itu terdengar dingin, tegas dan menekan."Maverick," ucap Maverick terdengar

  • Dalam Jerat Tuan Maverick    Kesalahan yang Menggoda

    Julia menggigit bibir bawahnya, tangannya mengepal, berusaha tetap tegar. "Sepertinya ada salah paham di sini, aku bukan perempuan bayaran seperti yang kamu maksud!" ucap Julia seraya berusaha melepaskan pelukan Maverick darinya.Maverick menghela napas pendek, ia menghirup aroma parfum dari belakang telinga Julia yang menguar samar. Terasa hangat, woody dan memabukkan. "Aneh," ucap Maverick pelan, "Perempuan lain, ketika ada di posisi kamu saat ini, mereka akan langsung memulai permainan. Mereka suka ketika aku begini. Tapi kamu…"Mata tajam Maverick melirik wajah Julia, menelusuri ketegangan di rahang perempuan itu, menelusuri sorot penuh amarah dan ketakutan di mata perempuan itu. ".. Kamu membuatku penasaran."Maverick sedikit memiringkan kepala, mengamati Julia seolah mencoba membaca pikirannya. Julia kembali mencoba melepaskan diri, namun tenaganya jauh dari kata cukup."Aku bisa membayar dua kali, tiga kali, ah bahkan sepuluh kali lipat dari yang teman-temanku berikan, tapi...

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status